Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 85 (Season 2)


__ADS_3

Rendi masuk kedalam resort miliknya, hari sudah mulai malam dan lampu kamarnya juga sudah di matikan berarti saat ini Thalia tengah tidur. Perlahan dia masuk ke kamar dan bisa melihat istrinya itu memang sudah tidur lebih dulu.


Perlahan langkah Rendi mendekat kearah tempat tidur, dia menyibak selimut dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur Thalia. Dia sebenarnya sudah selesai dari tadi tetapi ia lebih memilih untuk mengobrol dengan rekan-rekannya yang lain dari kedinasan masing-masing.


Dia melakukan itu karena untuk menghindari Thalia, agar mereka tidak berdebat berdua. Ia lebih memilih mengalah agar Thalia merenungkan hal bodoh yang telah perempuan itu lakukan. Jujur dirinya kecewa dengan apa yang Thalia lakukan, perempuan itu seakan tidak mempercayai dirinya.


Rendi yang sudah berada di atas tempat tidur sekilas melihat Thalia yang tengah membelakangi dirinya saat ini. perlahan dia membalikkan tubuh Thalia agar menghadapnya. Perempuan itu sedikit terganggu dengan apa yang dia lakukan tetapi masih dalam keadaan tidur saat ini.


Rendi membaringkan dirinya dan menarik pelan tangan Thalia agar lebih dekat lagi padanya, dia ingin mendekat sang istri yang tengah terlelap.


“Kenapa kau masih saja meragukan cintaku, harus berapa kali aku bilang kalau aku tidak mencintai Melody lagi” gumam Rendi sambil mendekap sang istri. Dia mengecup kening Thalia lembut dan penuh sayang.


“Kalau itu yang kamu inginkan, akan aku tunjukkan kalau aku tidak ada perasaan lagi dengan Melody. Atur sesuai keringanan mu untuk mempertemukan ku dengan Melody, aku buktikan padamu” batin Rendi sambil tangannya perlahan ia turunkan untuk mengusap perut Thalia saat ini.


.......................................


“Aduh, Aduh sayang..” ucap Lita memukul-mukul Fahri yang tidur disebelahnya saat ini. perutnya terasa sakit membuat dia memegangi nya sekarang.


“Kau kenapa?” tanya Fahri menyalakan lampu di nakas mejanya.


“Perutku sakit, sepertinya aku melahirkan” ucap Lita pada suaminya.


“Apa? Kau serius sayang.” Mendengar itu membuat Fahri terkejut seketika, wajahnya berubah menjadi sangat cemas.


“Arkhh, sakit, arkkhh” rintih Lita sambil memegangi perutnya yang terasa begitu sakit.


“Sebentar, sebentar” Fahri langsung turun dari tempat tidur dan dia berlari ke sebelah istrinya yang merintih kesakitan sekarang.


“Arkhh, sakit sayang.” Keluh Lita yang kesakitan dengan perutnya.


“Iya sabar,” fahri langsung menggendong Lita, dia harus segera membawa istrinya ke rumah sakit saat ini. anak keduanya sebentar lagi akan lahir.


“Telpon Mama sayang, aku mau ditemani Mama” ucap Lita di gendongan fahri.


“Mama siapa? Mama Nafa atau Mama ku” bingung Fahri bercampur gelisah serta cemas. Meskipun ini istrinya akan melahirkan untuk kedua kalinya tetapi dia gelisah sendiri dia takut terjadi apa-apa dengan Lita.

__ADS_1


“Mama Nafa, arkkhh. Buruan” ucap Lita sambil menarik rambut Fahri untuk melampiaskan rasa sakitnya.


“Argghh, sakit sayang. Jangan main tari rambut segala. Sebentar kenapa?” ucap fahri menahan sakit akibat rambutnya yang ditarik oleh Lita.


“Ya kamu lama banget buruan” ucap Lita yang berusaha menahan sakitnya dnegan menggigit bibir bawahnya saat ini.


“Sabar sih sayang, ini lagi turun tangga. Kalau kita jatuh gimana” ucap Fahri berusaha untuk membuat istrinya tenang.


“OH iya, Thalia juga dikabari ya. Dia katanya pengen lihat aku melahirkan. Nanti kabari dia ya sayang” pinta Lita untuk mengabari Thalia juga.


“ya, nanti aku kabari dia. udah kamu diem aja, aku keberatan ini bawa kamu turun tangga begini. jangan berisik dulu ya sayang, aku gugup sendiri” ucap Fahri.


“kamu keberatan” lirih Lita,


“Nggak, argghh” belum sempat Fahri menjawab Lita sudah menarik rambutnya kembali.


“Astaga,” keluh Fahri dan dia buru-buru menuruni tangga dan menghampiri kamar tamu dimana Mamanya dan papanya tidur di situ. Mereka memang stay di rumahnya berjaga-jaga kalau Lita melahirkan. Karena bagaimanapun dia tidak bisa sendiri dalam menghadapi orang yang mau melahirkan meskipun ini anak keduanya.


................................................


“Siapa sih yang main buka tirai, nggak lihat apa aku masih ngantuk” kesal Thalia perlahan mengucek matanya dan mendudukkan dirinya sendiri. dia melihat ke sebelahnya yang sudah kosong membuat dirinya bingung sendiri soal semalam dia tidur sendiri atau dengan Rendi kenapa pria itu tidak ada di kamar saat ini.


“Kamu mencari ku sayang” ucap suara khas yang membuka pintu sambil membawa sepiring nasi goreng yang dihias dengan cukup indah di piring tersebut.


Thalia hanya menatap dalam diam Rendi yang berjalan mendekati dirinya saat ini, pria itu bahkan melemparkan senyum manis di pagi hari membuat dirinya merasa aneh dengan sikap Rendi yang beda dari kemarin. Kemarin pria itu terlihat marah dan kecewa dengannya tapi kenapa sekarang malah hangat begini terhadapnya.


“Kenapa kamu menatapku begitu?” heran Rendi dan dia duduk pinggir ranjang sebelah istrinya.


“Geser sedikit sayang, sempit” ucapnya meminta sang istri untuk sedikit bergeser.


“Kamu siapa?” tanya Thalia menatap Rendi.


Mendengar pertanyaan Thalia itu membuat Rendi mengerutkan dahinya menatap aneh sang istri.


“Ya ini aku Rendi suami kamu, kenapa kamu tanya begitu padaku?”

__ADS_1


“Kau serius Rendi?” ucap Thalia seperti tidak yakin dengan suaminya.


“Iya, siapa lagi kalau bukan aku”


“Kamu tidak marah denganku lagi? Sedang mimpi apa kamu membuatkan ku nasi goreng begini” heran Thalia pada suaminya.


“Bukannya aku sering membuatkan mu makanan, kenapa kamu tanya begit? Soal aku marah atau tidak. Perlu digaris bawahi aku tidak marah denganmu, aku hanya kecewa padamu kemarin” ucap rendi.


“Sudah, tidak usah dibahas lagi. Cepat makan habis ini kita kembali ke Jakarta” ucap Rendi pada Thalia.


“Balik Jakarta? Kenapa buru-buru. Bukannya kau bilang mau disini lama kalau urusanmu selesai, kau ingin menghabiskan waktu lama denganku kenapa sudah mau pulang. Kau ingin bertemu dengan tu..” belum juga Thalia menyelesaikan ucapannya Rendi sudah menciumnya lebih dulu.


“Nggak usah mikir aneh-aneh, aku mengajak pulang lebih awal karena kakakmu melahirkan semalam. Kau tidak ingin melihatnya, bukannya kau sendiri yang bilang ingin melihat dia melahirkan” lanjut Rendi setelah mencium istrinya itu.


“Siapa maksudmu, Lita? Lita sudah melahirkan.? Kenapa dia nggak nelpon aku semalam” ucap Thalia.


“Semalam memang kamu ngaktifkan ponsel. Ponselnya kamu matikan kan?” ucap Rendi menatap istrinya.


Dan Thalia merasa bodoh sendiri, memang semalam ponselnya dia matikan karena kesal saja karena Rey semuanya terbongkar dan dia bertengkar dengan Rendi.


“Hehhe iya, puas” tukas Thalia.


“Ya sudah buruan makan, aku suapi. Habis ini kita mandi terus berangkat ke bandara” pinta Rendi dan akan menyuapi Thalia tetapi Thalia menahannya.


“Kenapa?” tanya Rendi heran.


“Kamu juga makan sepiring denganku” pungkas Thalia.


“Iya, suapan pertama kamu duluan” ucap Rendi dan akan menyuapkan makanan ke mulut Thalia. Perempuan itu membuka mulutnya lebar, dan dai sedikit senang karena Rendi tidak marah dengannya. Ia merasa lega suaminya sudah tidak kecewa atau marah padanya lagi.


Begitu juga dnegan Rendi dia juga tersenyum melihat Thalia yang mengunyah makanan, tak lupa dia juga menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya sendiri.


Keduanya saling tersenyum simpul, saling menatap penuh cinta satu sama lainnya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2