
Vina sudah kembali ke kodim dengan diantar oleh dua ajudannya, Chaca dan juga Nanda. Vina masih sedikit syok karena apa yang barusan menimpa dirinya, dia duduk di sofa sambil terus memegangi dadanya dan juga pandangannya yang lurus ke depan.
“Ya ampun, untuk tadi kamu sigap Cha. Coba kalau nggak ibu udah celaka sama barang-barang ibu pasti sudah raip” Vina menghela nafas lega sambil melihat Chaca yang berdiri didepannya.
“Makasih ya Cha” ucap Vina lagi pada
“Iya bu sama-sama, ibu ada yang dibutuhkan atau apa. biar saya yang ambilkan” ucap Chaca menatap sang atasan.
“Nggak ada kok Cha, kamu kalau mau istirahat, istirahat saja tapi nanti malem ke rumah ya. Ibu mau ada yang dibicarakan sama kamu” pungkas Vina meminta Chaca untuk kerumahnya.
“Iya bu, kalau begitu saja permisi dulu” pamit Chaca yang akan pergi, dia juga perlu mengobati lukanya yang tak diketahui atasannya itu.
“iya, tapi kamu tadi serius nggak kenapa-kenapa kan?” tanya Vina pada ajudannya, dia cemas kalau misalkan Chaca terluka karena dirinya.
“Nggak kok bu, ibu nggak usah khawatir. Kalau begitu saya permisi bu” Chaca langsung berjalan keluar saat di angguki oleh Vina. Dia berjalan pergi meninggalkan rumah dinas atasannya itu.
“aku harus mengobati lukaku, kalau ibu atau bapak tahu mereka pasti malah cemas dan merasa bersalah juga” pikir Chaca dan buru-buru pergi dari depan situ.
...................................................
Rendi saat ini sedang berada di kantornya, dia baru saja keluar dari ruangan sang atasan melaporkan jadwal patroli timnya. Saat dia baru saja berjalan mendekati meja kerjanya ponsel yang berada disaku celananya tampak bergetar membuat dia yang merasakan itu langsung menghentikan langkah kakinya. Tangannya segera merogoh saku celana itu mengambil ponsel didalamnya.
Dia melihat nomor siapa yang tertera di layar ponselnya itu, nomor yang tak ada namanya dan juga itu panggilan dari luar negeri membuatnya sedikit bertanya-tanya siapakah gerangan yang menelponnya saat ini.
Meskipun dia bertanya-tanya siapa itu, tapi dia tetap mengangkatnya siapa tahu itu temannya yang ada di luar negeri.
“Ya halo, maaf ini siapa?” tanyanya dengan lugas.
“Adikmu, kau tidak menyimpan nomorku. Kakak macam apa dirimu?” ucap suara perempuan di seberang sana.
Rendi langsung menatap jengah layar ponselnya, dia sekarang tahu siapa pemilik nomor ini. ternyata itu nomor anak mamanya.
“Ada apa kau meneleponku?” tanya Rendi malas. Sambil berbicara Rendi kembali berjalan menuju kursi tunggu yang berada tak jauh darinya.
“Kau masih belum menganggap ku adik, tega sekali dirimu. Aku pikir kau sudah biasa saja dengan masalah Mama.” Ucap Jessy yang terus berbicara.
“Aku sibuk, kalau tidak ada yang penting lebih baik kau matikan saja” tukas rendi tajam.
“Sebentar, aku cuman ingin bicara soal kakak tertuaku. Kalian berdua tega ya tidak mengabari mama disaat dia mau menikah. Seharusnya kakakmu itu mengabari mamaku yang sudah membesarkannya bukannya malah membenci mama dan papaku” Jessy terus berbicara menyatakan ketidakterimaan dirinya akan sika kakak-kakaknya itu.
“Kalian siapa harus kami beritahu soal masalah keluarga kami, kalian tidak ada hubungannya dengan kami mengerti” tegas Rendi.
“Kata siapa tidak ada hubungan, mamaku mama kalian kan. dan kalian anak-anaknya, okelah kau marah dengan Papaku karena merebut mama dan sikap mama yang tidak baik. Tapi setidaknya kalian mengabarinya, bukannya mama juga sudah bilang dia minta maaf soal masa lalu dan soal kejadian yang menimpa istrimu. Kenapa kalian keras kepala sekali, tuhan saja maha pemaaf kenapa kalian tidak. Papa kalian juga memaafkan Mama, dialah yang memberitahu mama soal Revan yang menikah tapi kenapa kalian berdua tidak melakukannya” Jessy tampak meluapkan kekesalannya, rasa kesalnya akan ketidakterimaan dirinya tentang mamanya yang diperlakukan bak orang asing.
“Apa? kau bilang apa tadi. Papaku yang mengabari Mamamu soal Revan yang akan menikah?” Rendi yang mendengar itu terlihat terkejut mendengarnya. Dia tak menyangka sang papa lah yang memberitahu mamanya soal rencana pernikahan revan.
“Ya Papamu sendiri yang memberitahu mama, kau dengarkan apa yang aku bilang kakakku. Papamu yang disakiti saja memaafkan mama tapi kenapa kau tidak memaafkannya hah” pungkas Jessy dari seberang sana.
“Sudahkan kau bicaranya, aku tutup” Rendi langsung mematikan sepihak saja panggilan itu. dia tak habis pikir kenapa papanya malah mengabari hal itu pada mamanya.
Dia belum bisa menerima semua ini, entah mamanya benar sudah bertobat atau belum yang jelas untuk memaafkan sang mama rasanya sulit. Mamanya memberikan luka bukan hanya sekali tapi dua kali dan yang terakhir adalah hal yang fatal sampai membuat anaknya pergi.
Rendi tampak memukulkan tangannya yang menggenggam kuat ponsel ke kursi besi itu, sehingga menimbulkan suara membuat perhatian orang-orang yang berjalan maupun duduk di sekitarnya melihat padanya saat ini.
“Ada apa inspektur Rendi?” tanya seorang polisi yang memberanikan diri untuk bertanya.
“Tidak ada” jawab rendi singkat dan langsung berdiri begitu saja, ia langsung berjalan menuju meja kerjanya saat ini. dan ucapan Jessy tadi sesekali masuk dalam pikirannya, haruskah dia benar-benar menerima mamanya lagi. Tapi rasanya sulit apa lagi saat melihat jessy dan Joe yang sombong itu membuat kepalanya mendidih saja dan bayangan masa lalu langsung muncul di kepalanya. Bayangan diaman dia menangis mengejar dan memohon-mohon pada mamanya untuk tak pergi.
__ADS_1
.................................................
Rendi ayng banyak pikiran memutuskan untuk pulang lebih awal, dia masuk kedalam rumahnya dan langsung mencari keberadaan anak dan istrinya. Siapa tahu saat dia melihat anak dan istrinya membuat pikirannya lebih fresh karena katanya saat penat seorang ayah akan kembali segar saat melihat sang anak yang menggemaskan.
“Loh, kok tumben jam segini udah pulang?” kebetulan saat dia baru saja masuk Thalia yang berjala keluar dari dapur melihat kedatangan rendi yang akan menaiki tangga.
“Kamu disini, aku kira di atas” pandangan rendi langsung beralih pada sang istri yang menggendong anaknya.
“Iya, aku barusan memanaskan dot nya relia. Kamu tumben pulang jam segini, bukannya tadi pagi bilang mau pulang malem” heran Thalia saat melihat suaminya sudah pulang dari dinas padahal tadi pagi saat habis melakukan aktifitas panas mereka di tempat tidur Rendi bilang akan pulang malam.
“Iya, aku ijin pulang awal. Sini Relia aku yang gendong” ucap rendi dan akan mengambil alih sang anak yang tengah digendong istrinya.
“Cuci tangan dulu” Thalia langsung sedikit menjauh saat Rendi akan menggendong relia.
“Aku bersih sayang” pungkas Rendi.
“Ya kan nggak tahu, namanya dari luar pasti banyak debu. Anak kecil kata mama nggak boleh kena debu takut ada bakteri yang menempel” tukas Thalia mengingat perkataan mamanya.
“ya sudah aku cuci tangan dulu” ucap rendi mengalah, dia langsung berjalan ke dapur untuk mencuci tangannya.
Thalia juga ikut berjalan mengikuti suaminya yang pergi ke dapur, buka karena apa yang karena dia ingin saja mengikuti suaminya. Ia masih penasaran saja kenapa Rendi pulang awal tak sesuai ucapannya tadi pagi.
Rendi mencuci tangannya sambil melihat istrinya yang berjalan mengikutinya ke dapur,
“kenapa kamu ngikutin aku?” tanya Rendi sambil sekilas melihat sang istri.
“Nggak pa-pa, nggak boleh” pungkas Thalia.
Rendi hanay diam saja sambil mencuci tangannya, dan dia langsung mematikan kran air, baru setelah itu dia mengusap tangannya dengan tisu yang berada di atas kulkas.
“Mana Relia” ucapnya sambil berjalan mendekati sang istri.
“Kamu kenapa sih ngelihatin aku begitu, ada yang aneh di wajahku” tanya rendi pada istrinya yang tak lepas menatapnya saat ini.
“Nggak” jawab Thalia dan dia sedikit menjauh.
“Kamu ada masalah ya?’ tanya Thalia lagi.
“Nggak ada sayang, kamu kenapa sih kayaknya penasaran banget” pungkas Rendi sambil berjalan melewati sang istri yang menatapnya terus-terusan.
“Ya kamu aneh, bukannya tadi kamu bilang mau pulang malem tapi kenapa jam segini udah pulang” ucap Thalia yang masih saja penasaran.
“Kamu nggak seneng aku pulang cepet? Mau keluar nggak bisa bisa gitu” tukas Rendi berbalik sambil melihat istrinya ayng berdiri dibelakangnya saat ini.
“Ya nggak, bukan gitu juga. siapa juga yang mau keluar” ucap Thalia sambil cemberut saat Rendi menuduhnya seperti itu.
“aku pulang ya karena pengen ketemu kamu sama Reli, nggak ada yang lain.” Pungkas Rendi sambil kembali berjalan ke ruang tengah.
“Cup, cup anak papa” ucap rendi pada anaknya yang akan menangis.
“Oh,” Thalia hanya bisa ber oh saja mendengar ucapan suaminya, dia tak berani berbicara lagi takut sang suami malah marah dengannya.
Mereka berdua berjalan menuju ke ruang tengah saat ini, hanay ada keheningan dan sesekali rendi membuka suaranya untuk menghibur sang anak.
....................................................
Chaca sudah berada di rumah sang atasan, dia tak sendiri melainkan juga ada Revan disitu. mereka berdua memang diminta untuk datang bersama agar pembicaraan mengenai pernikahan mereka berjalan lancar.
__ADS_1
Rino baru saja keluar dari dalam sambil membawa paper bag kecil di tangganya entah didalam situ berisi apa. dia langsung duduk di sebelah sang istri tepatnya didepan Revan dan juga Chaca yang sudah menunggunya.
“begini Papa menyuruh kalian ke rumah karena untuk memberitahu kalian soal undangan pernikahan kalian yang sudah jadi, Papa juga mau bicara sama kamu Cha” ucap Rino membuka suaranya.
“Iya pak mau bicara apa?” ucap Chaca, dan dia memanggil Rino masih dnegan sebutan bapak padahal kemarin Rino sudah menyuruhnya untuk memanggil papa seperti Revan memanggilnya.
“Soal itu nanti Papa bicarakan. Papa ingin memberikan ini dulu pada kalian, dan bunda juga mau memberitahukan sesuatu sama kamu Cha” pungkas Rino.
Hal itu membuat Chaca bingung sekaligus bertanya-tanya dalam benaknya, Reva juga merasa penasaran dia melihat kedua orang tuanya dan sesekali melihat kearah Chaca yang tampak penasaran.
“Ini undangan kalian, Papa berikan untuk kalian dan jika ada teman yang ingin kalian undang berikan undangan ini” ucap Rino menyerahkan undangan itu pada Revan.
“Tapi aku disini nggak ada teman pa, kenapa harus buat undangan segala” protes Revan.
“Ya kalau kamu tidak ada teman kan ada teman Papa, Papa yang bakal mengundang mereka” pungkas Rino.
“Lagi pula Chaca juga banyak teman mana mungkin mereka tidak di undang” ucap Rino lagi.
Revan tampak tak suka, pernikahannya berarti diadakan secara besar-besaran dan banyak orang yang tahu pasti nantinya.
“Ini setengah undangannya buat kamu Cha, kamu kan banyak temen disini. dan teman-teman kamu di kesatuan yang dulu juga banyak kan. Berikan pada mereka” ucap Vina memberitahu Chaca.
“Iya bu” jawab Chaca singkat.
‘’Kenapa harus besar-besaran sih pah pernikahan ini, kenapa tidak sederhana saja” ucap revan.
“Ya gimana mau sederhana van, istri kamu seorang tentara temannya banyak nggak enak kalau nggak diberitahu yang lainnya” ucap Rino berusaha membuat Revan mengerti.
Revan hanay bisa diam mendengarnya, dia malas untuk bicara lagi.
“Cha, ini yang ibu beli kemarin sama kamu. ini buat kamu Cha” ucap Vina yang menyodorkan sekota perhiasan di meja.
“Ngga usah bu, kok dikasih ke saya. Saya sudah dapat dari bang revan, kenapa saya dapat lagi” heran Chaca.
“Kamu sudah dibelikan Revan? Papa kira Revan tidak mau membelikannya. Makanya Papa nyuruh bunda buat belikan buat kamu” ucap Rino yang sedikit terkejut mendengarnya karena dia pikir Revan belum membelikannya karena waktu dia menyuruh Revan, anaknya itu tidak mau membelikan apapun pada Chaca makanya dia berinisiatif dialah yang memberikannya.
“Iya pak,s aya sudah dibelikan oleh bang Revan, jadi maaf pak saya tidak bisa menerimanya”
“Tinggal terima saja apa susahnya sih, jual mahal banget” sindir Revan sambil melihat kearah Chaca.
Chaca seketika langsung melihat Revan yang menatapnya sinis.
“revan kenapa kau bicara begitu dnegan calon istrimu” tegur Rino.
Revan diam lagi tak bersuara,
“Udah Cha terima aja, bunda sama Papa ikhlas kasih ni ke kamu. lagi pula tadi ibu pertahankan ini juga buat kamu Cha. Kamu juga berkorban kan buat pertahankan perhiasan ini dari rampok. Sampai-sampai tangan kamu terluka” ucap Vina bersikeras memaksa Chaca untuk menerima itu.
“Kemarin kamu ke rampokan bun?” ucap Rino yang terkejut mendengarnya begitu juag Revan.
“Hampir Pa, tapi untuk Chaca sigap nolong bunda. Terus dia yang lawan perampoknya sampai tangannya terluka. Tapi dia malah bilangnya nggak pa-pa” jelas Vina pada kedua pria didepannya.
“Memang nggak pa-pa bu” jawab Chaca.
“Ngga pa-pa giman Cha, kata nanda sampai luka tangan kamu, terus bengkak kan sekarang” ucap Vina pada Chaca yang berusaha menutupi hal itu.
Revan yang mendengar hal tersebut melihat kearah Chaca yang sesekali terlihat gugup, Chaca yang menyadari Revan tengah menatapnya melihat kearah pria itu dan dia langsung memalingkan wajahnya saat Revan tak berkedip melihatnya.
__ADS_1
°°°
T.B.C