Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Rp 145 (Season 2)


__ADS_3

Rendi berjalan menghampiri istirnya yang tengah menunggunya saat ini bersama dengan rekannya Hardi.


“Tuh suami kamu” ucap Andre saat sudah ada didepan Thalia saat ini.


Thalia langsung menoleh kearah Rendi yang berjalan menghampiri dirinya, dia tersenyum menyambut kedatangan suaminya. Tapi berbeda dengan wajah Rendi yang menatap datar sang istri saat ini.


“kamu ngapain disini?” tukas Rendi saat sudah didepan istrinya.


“Ya mau ngenterin barang kamu lah” ucap Thalia sambil mengulurkan berkas yang diminta oleh suaminya.


“Kan aku udah bilang suruh orang lain aja, kenapa malah kamu yang kesini” balas Rendi sambil mengambil barang miliknya dari tangan sang istri.


“nggak ada orang yang nganterin, lagian kenapa sih kalau aku yang anter. Kamu punya cewek lain ya disini, makanya aku nggak boleh nemuin kamu” tukas Thalia terkesan menuduh suaminya.


“Kamu ini ngomong apa, aneh” pungkas Rendi.


“Kayaknya mau ada perang nih, pergi aja yuk Har” pungkas Andre sabil mengajak pergi Hardi dari hadapan Thalia dan juga Rendi.


“Bener, kita pergi aja yok. Ini urusan mereka” tukas Hardi yang setuju dengan ucapan Andre.


“sayang kamu pulang aja sekarang, aku mau masuk lagi. Jangan kemana-mana di rumah aja” pinta Rendi pada sang istri.


“Iya nggak kamu nasehati juga aku di rumah terus jagain Relia, kenapa sih kamu ngelarang banget aku keluar.” Ucap Thalia yang sedikit kesal karena suaminya mulai melarang dirinya lagi saat ini.


“Aku bukannya ngelarang kamu, kamu habis lahiran katanya perutmu masih sakit. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa” pungkas rendi menatap istrinya.


“Cie, teman kita yang dulunya datar kayak triplek romantis juga sama istirnya” goda Andre dan Hardi yang memang belum berjalan pergi meninggalkan suami istri didepannya.


“Bukannya kalian tadi bilang mau pergi, kenapa masih disini. nguping aja omongan orang” sinis Thalia menatap kedua rekan suaminya.


“Ayo Ndre pergi aja, macan betinanya mulai ngamuk lagi” ajak Hardi pada Andre.


“Ayuk ah, pak bos kita pergi dulu ya bini lo marah” ucap Andre dan langsung berjalan pergi bersama dengan Hardi.


“Sini,” ucap Rendi dan langsung menarik tangan istrinya saat kedua temannya sudah pergi.


Seketika Thalia langsung tertarik dan jaraknya lebih dekat pada suaminya itu. Rendi langsung memegang wajah Thalia dan mengecup kening sang istri.


Thalia tentu saja terpaku, dia pikir suaminya masih marah dan menyebalkan ternyata dia malah mencium keningnya saat ini.


“Pura-pura cuek didepan temanmu, tapi nyosor juga” cibir Thalia saat Rendi sudah selesai mencium keningnya.


“Nggak boleh,”


“Boleh”


“Ya sudah sana sayang kamu pulang nanti Relia nangis mau minum susu kamu nggak di rumah, hati-hati kalau nyetir. Sampai rumah telpon aku” pungkas Rendi menyuruh istrinya pulang dan mengingatkan sang istri kalau sampai rumah harus menelponnya.


“Iya suami polisi ku, makin cerewet aja ya kamu” ucap Thalia.

__ADS_1


“Aku cerewet juga demi kebaikan kamu, ya udah sana” ucap rendi seakan mengusir istrinya.


“Anterin ke mobil” ucap Thalia manja.


“Manja banget sih kamu” rendi tersenyum mendengar ucapan manja sang istri.


“Nggak mau?”


“Ayo aku anterin” ucap Rendi yang langsung menggandeng tangan istrinya mengantarkan perempuannya itu ke mobil saat ini.


“Inget kataku tadi hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut” pungkas Rendi lagi memperingatkan sang istri.


“Iya..” jawab Thalia sambil berjalan disebelah suaminya saat ini.


..........................................


Dalam diri pasti memiliki sebuah pertanyaan yang selalu membuat bingung jika tak sesuai dnegan apa yang dilihat dan di dengar. Kebingungan langsung muncul dan membutuhkan jawaban pasti akan itu.


Revan sendiri saat ini tengah bingung, dia harus melakukan apa dengan permintaan sang Papa. Dan kenapa juga Chaca tiba-tiba saja mau menikah dengannya saat ini, dia sungguh masih menaruh kecewa yang teramat untuk perempuan itu yang bilang hanya memanfaatkan dirinya. Rasanya hatinya tak terima dnegan ucapan tersebut.


“Apa yang harus aku lakukan, apa aku terima saja perjodohan ini.” gumam Revan yang duduk didalam mobilnya saat ini. dia baru saja dari rumah Deo untuk membicarakan keberangkatan mereka ke Kalimantan untuk mengurus pekerjaan yang ada di sana.


“Ya lebih baik temui Chaca dan bilang pada perempuan itu maksudnya apa menerima perjodohan yang jelas-jelas dia tidak mau” putus Revan berniat untuk menemui Chaca untuk menanyakan alasan perempuan itu.


Revan langsung menyalakan mobilnya saat ini untuk pergi ke Kodim menemui Chaca, mobil putih itu langsung meninggalkan depan rumah Revan saat ini.


Revan yang mengemudikan mobil, sesekali memikirkan soal hal itu. semoga langkahnya tak salah. Dia harus tegas menyikapi hal ini, dia tak ingin membuat hubungan yang rumit lagi.


“Oh bang Revan, mau nemuin bapak ya?” ucap salah satu tentara yang berada disitu.


“Bukan kok fik, saya mau nemuin Serda Chaca ada nggak ya di kantor?”


“Serda Chaca bang? Kayaknya dia hari ini nggak dinas bang. Dia lagi nemenin ibunya cek kesehatan” jawab tentara bernama Taufik.


“Oh, nggak ada di kantor ya. Ya sudah fik saya pergi dulu ya” ucap revan yang masuk kedalam mobilnya lagi. Tapi sebelum benar-benar masuk dia melihat kearah Taufik lagi.


“Oh iya fik, kamu tahu rumahnya dimana?” tanya Revan.


“Tahu bang,”


“Ya sudah saya minta alamatnya” pungkas tama.


“rumahnya deket bang dari sini, bang revan ke polres yang nggak jauh dari sini terus belok kanan bang. Maju dikit ada rumah minimalis modern warna coklat sama ada pohon mangga nya bang. Itu rumah Serda Chaca” jelas Taufik memberitahukan alamat rumah Chaca.


“Makasih ya fik, kalau begitu saya pergi dulu.” ucap Revan yang langsung masuk kedalam mobilnya.


“Iya bang sama-sama” balas Taufik yang melambaikan tangannya pada Revan yang menurunkan kaca mobilnya saat ini.


Revan langsung memutar balikkan mobilnya, dia harus ke rumah chaca dan bilang pada perempuan itu kalau dia tidak menerima perjodohan ini dan menanyakan alasan Chaca mau menerima hal ini.

__ADS_1


......................................................


Saat Thalia pulang ke rumah ternyata dirumahnya sudah ada Jane dan juga Putri dua sahabatnya sedari dulu setelah sekian lama tak bertemu dengannya.


“Kalian,.” Seru Thalia tapak girang melihat kedua temannya yang duduk di sofa ruang tamunya saat ini.


“woii, lo darimana sih. Kita nunggu lo dari tadi tahu” pungkas Jane dan juga Putri yang langsung berdiri saat melihat temannya tersebut.


“Nganter berkas suami, tumben kesini. Ada apa?” tukas Thalia mendekati kedua temannya itu.


Mereka bertiga langsung saling memeluk satu sama lain saat ini menyalurkan ke rinduan satu sama lain.


“Nggak pa-pa main aja, kita kesini mau lihat keponakan. Dimana anak lo?” jawab Putri setelah memeluk Thalia.


“Loh dari tadi belum ketemu sama Relia?” tukas Thalia yang heran.


“Belum,”


“Oalah, ya udah aku ke kamar dulu buat ambil Relia dulu ya. Bentar oke” ucap Thalia meminta kedua temannya itu untuk menunggu.


“Iya.”


“Maaf Bi Jumi Relia dimana ya?” tanya Thalia saat berpapasan dengan asisten rumah tangganya yang selalu ia titipi Relia.


“Itu non Thalia, non Relia diajak ibunya den Fahri kerumahnya soalnya tadi nangis”


“Oh dibawa mama Wulan, ya udah kalau gitu”


“Yah gagal buat ketemu ponakan” seru kedua orang tersebut.


“Maaf ya, anak gue dibawah ibunya kakak ipar gue” ucap Thalia yang langsung berjalan mendekati temannya kembali.


“Iya nggak pa-pa”


“Tapi kok ibunya kakak ipar lo bisa bawa anak lo” heran Putri.


“Iya ibunya Fahri suaminya Lita itu udah kayak ibu kandungnya Rendi” jelas Thalia pada kedua temannya


“Oh”


“Kalian mau minum apa?” tanya Thalia pada keduanya.


“Apa aja yang dibuatin tuan rumah” jawab Jane


“Bi Jumi, tolong buatin jus mangga tiga ya” perintah Thalia pada bi Jumi yang kebetulan tidak jauh dari tempatnya.


“Iya non” jawab Bi Jumi dan meninggalkan pekerjaannya mengelap meja didekat tembok dan langsung berjalan ke dapur.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2