
“Sudahlah biarkan saja, nanti biar orang-orang yang aku suruh membereskan apartemen. Kamu beresin saja baju kita,” ucap Rendi yang menghampiri Thalia yang sedang membersihkan dapur yang habis dia gunakan tadi.
“Aku yang memakainya kenapa orang yang harus membersihkannya. Sudah biar aku saja, habis ini kita langsung pergi kan?” tanya Thalia.
“Iya, kita mandi dulu baru pergi ke rumah baru kita” jawab Rendi yang mengambil duduk didepan Thalia yang tengah membersihkan bar makan.
Mereka berdua memang hari ini berencana untuk pindah rumah ke rumah baru yang sudah mereka lihat beberapa hari lalu.
“Sebenarnya aku sedih pindah dari apartemen ini. tapi itu sudah keputusanmu, mau bagaimana lagi” ucap Thalia yang sudah merapikan meja bar dan dia langsung duduk di kursi yang berada didepan Rendi.
“Aku juga sedih kita harus pindah dari apartemen ini, tapi mau bagaimana lagi. Kita tidak hanya berdua sebentar lagi juga ank kita akan lahir. Jadi tidak mungkin kita tinggal disini terus, apartemen tidak baik untuk tumbuh kembang anak” ucap Rendi mencoba membuat Thalia lebih mengerti lagi alsan dirinya untu pindah.
“Ya,” lirih Thalia terasa berat untuk berucap.
“aku minta maaf, kalau misalkan kamu kecewa” ucap Rendi memegang tangan Thalia.
“Nggak, aku nggak kecewa. Keputusanmu memang baik untuk keluarga kecil kita” ucap Thalia.
“Kamu sudah memulangkan uang yang dipinjamkan orang tua Fahri?” tanya Thalia soal hal itu pada suaminya.
“Sudah kemarin saat uang apartemen ini mereka kirim ke rekeningku, aku langsung mengirimkannya ke Papa Sasongko” jawab Rendi
“Syukur kalau kamu sudah mengirimkannya”
“Kamu sudah selesai kan beres-beres dapur, sana kamu mandi dulu baru aku habis itu kita langsung pergi ke rumah kita” perintah Rendi pada sang istri.
“Oke, aku mandi dulu” ucap Thalia dan langsung berdiri dari duduknya, tapi baru saja dia berdiri tangannya ditahan oleh Rendi.
“Kenapa?” tanya Thalia bingung.
“Kita mandi bersama saja bagaimana? Biar cepat” ucap Rendi yang ikut berdiri sambil menatap sang istri.
“Ya sudah ayok” ucap Thalia pada akhirnya setelah sempat diam menatap Rendi.
Seulas senyum langsung mengembang dibibir Rendi saat Thalia mengiyakan ajakannya barusan.
Rendi yang masih memegang tangan Thalia mengitari meja bar sambil menuntun sang istri.
“Kamu ikhlaskan mengiyakannya, tidak terpaksa atau apa?” tanya Rendi pada Thalia.
“Tidak,” jawab Thalia.
Rendi tanpa aba-aba langsung mengangkat Thalia dengan perlahan, dan dia membawa istrinya itu menuju kamar mandi, mereka berdua tersenyum satu sama lain. Keduanya sudah sepakat untuk saling percaya dan tidak saling menutupi masalah masing-masing agar tidak terjadi ke salah pahaman yang berlanjut seperti kemarin-kemarin.
................................................
“Apa? mana mungkin bocah itu sudah kembali ke negaranya. Aku sudah mem-blacklist semua yang berhubungan dengannya agar dia tidak bisa kembali ke Negaranya saat ini” ucap David yang menerima telpon dari seseorang tampak terkejut saat mendengar Nicholas sudah kembali ke Negaranya sedari tiga hari yang lalu.
“Ya salahmu sendiri, cara kau memberi hukuman pada pria itu yang kurang keras. Kau pikir dengan membuatnya seperti gelandangan di negara kita membuat dia menderita, seharusnya kalau kau ingin balas dendam karena dia mengganggu adikmu. Langsung saja kau pukul atau kau bunuh sekali seperti yang kau lakukan pada adik ipar mu dulu yang kau hajar habis-habisan” ucap teman David dari seberang sana menceramahi sang teman.
“Ingin ku begitu, tapi karena aku punya hutang budi dengannya. Membuatku merasa bersalah kalau diriku langsung memukuli bocah itu. Ya sudah kalau begitu biarkan saja dia di negaranya, tapi pantau dia terus jangan sampai dia membuat ulah atau mengganggu Rendi atau Thalia” ucap David.
“Ya, pasti ku awasi. Sudah dulu kalau begitu, aku matikan” ucap orang tersebut.
__ADS_1
“Tunggu dulu, kau tidak bilang siapa yang membantu bocah itu melarikan diri, siapa yang membantunya. Akan aku berikan ancaman agar dia tidak membantu Nicholas lagi”
“Kau serius, mau memberikan dia ancaman.?”
“Iya kenapa tidak, kau tidak tahu siapa aku”
“Kalau aku bilang yang membantunya adikmu sendiri, kau mau bilang apa?”
“Apa? adikku sendiri, siapa maksudmu?”
“Thalia yang membantunya”
“APA? kenapa Thalia membantunya. Dia sudah gila apa, pria yang ingin menghancurkan rumah tangganya malah dia bantu lolos dariku” ucap David yang tak percaya jika adiknya yang membantu Nicholas.
“Aku juga tidak tahu kenapa dia membantunya, yang jelas Nicholas berangkat dari bandara dengan tiket atas nama Thalia. Adikmu menggunakan koneksinya pada pihak bandara agar meloloskan Nicholas agar kembali ke negaranya”
“Bocah, itu sudah gila atau apa” geram David.
“Ya sudah aku matikan” ucapnya lagi dan langsung mematikan panggilannya saat ini.
David tak habis pikir dengan Thalia kenapa dengan adiknya itu yang mau membantu Nicholas kabur. Padahal ini bukanlah sifat Thalia yang membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Nanti saja dia temui Thalia untuk membicarakan hal ini.
.......................................................
Thalia bersama dnegan Rendi saat ini sudah dalam perjalanan menuju ke rumah mereka yang letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen yang mereka tinggali dulu. mungkin kurang lebih setengah jam mereka sampai di rumah baru. Mereka pindah rumah aslinya beberapa bulan lagi tapi karena Rendi akan tugas di luar kota beberapa bulan jadi pria itu memutuskan secepatnya untuk menempati rumah itu dan rumah belum di cat sesuai permintaan Thalia. Tapi Thalia tidak mempermasalahkan hal itu, dia menurut saja apa yang dikatakan Rendi.
Drttt, Drrtt
Tertera nama Lita disitu, dan Thalia langsung mengangkatnya.
“Siapa?” tanya Rendi sambil sesekali melihat kearah Thalia karena saat ini dia tengah menyetir mobil.
“Lita” jawab Thalia.
“halo kenapa?” ucapnya saat sudah mengangkat panggilan dari sang kakak.
“kamu dimana? Hari ini aku hari ini sama Fahri main ke apartemen ya, boleh nitip Darren nggak? Soalnya aku mau pergi sebentar sama Fahri” ucap Lita dari seberang sana.
“Aku pindah rumah, tidak di apartemen lagi. Hari ini pindahan, jadi aku tidak bisa kau titipin anak. Kau menitipkan Darren padaku, lalu Axel kau taruh dimana? Kau ajak? Kenapa tidak sekalian kau ajak anakmu yang bayi” ucap Thalia pada Lita.
“Axel nggak aku ajak, dia masih di rumah Mama mertua. Kalau Darren aku taruh di sana kasihan mama mertuaku kerepotan harus jaga dua bocah” ucap Lita.
“Ya kalau nggak taruh di rumah papa, biar Mama yang urus Darren” ucap Thalia menyarankan agar Lita menitipkan Axel di rumah orang tua mereka.
“mama kan lagi ngurus anaknya mbak Naya, aku nggak enak kalau harus nitipin Darren ke Mama juga. ya sudah kalau kamu tidak bisa, aku ajak Darren saja. Eh iya tadi kau bilang apa tidak bisa menjaga anakku karena apa?” ucap Lita yang seperti tidak fokus mendengarkan tadi.
“Kau ini tuli atau apa sih, cantik-cantik tapi lemot” ucap Thalia yang harus mengulangi ucapannya, dia memang selalu kesal kalau Lita tidak mendengarkannya.
“Hushh, jangan begitu sayang. Nggak boleh, dia kakak kamu” tegur Rendi pada sang istri.
“Ya habisnya dia sih, perasaan aku tadi uda ngomong alasan aku nggak bisa kenapa” tukas Thalia melihat Rendi sekilas.
“Halo, ya maaf aku tadi sambil mengemas baju Darren di tas. Jadi tidak fokus, kenapa tadi kau pindah rumah?” ucap Lita.
__ADS_1
“Ya aku pindah rumah, denger nggak?”
“Kok pindah rumah, kamu kenapa nggak bilang sama aku.” tukas Lita terkejut mendengarnya kalau Thalia pindah rumah.
“Aku belum memberitahu siapa-siapa, bukan Cuma dirimu yang belum aku beri tahu” ucap Thalia.
“Berarti kau belum memberitahu Papa atau mama dan kak David”
“belum, mereka semua belum aku beritahu. Nanti saja aku beritahu kalau aku sudah tinggal di rumah baru ku. Sudah kan tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, kalau tidak ada aku matikan” pungkas Thalia.
“sebentar jangan dimatikan dulu aku mau ngomong sesuatu. Kamu hati-hati jangan kecapekan. Banyak makan buah dan vitamin, jaga kandungan mu” ucap Lita menasehati Thalia.
“Kenapa nada bicaramu kelihatan cemas begitu?” tanya Thalia yang merasa aneh dengan Lita yang tiba-tiba menasehatinya begitu.
“Aku mimpi kamu keguguran, jadi aku takut kamu kenapa-kenapa atau kamu teledor. Pokoknya kamu hati-hati, jangan teledor” ucap Lita.
“Mimpi itu bunga tidur, kenapa juga aku harus teledor. Nggak usah dipikir, aku baik-baik saja. Sudah kan, aku tutup” ucap Thalia pada Lita.
“Ya sudah, pokoknya hati-hati dengarkan ucapan ku tadi” ucap Lita sebelum mematikan panggilan telponnya dari seberang sana.
“Hemm,” jawab Thalia dan panggilan langsung terputus.
“Ada apa? Lita bicara apa padamu?” tanya Rendi penasaran.
“Dia tidak mau menitipkan anaknya tapi aku bilang pindah rumah hari ini jadi dia tidak jadi, masa dia tadi juga bilang kalau mimpi aku keguguran aneh anak itu mimpi di percaya” ucap Thalia.
Ckitttt,
Rendi langsung mengerem mobilnya secara tiba-tiba membuat Thalia hampir terdorong ke depan.
“Kamu apa-apaan sih mau berhenti begini” tukas Thalia menatap tak mengerti kearah Rendi yang langsung melihat kearahnya.
“Kamu tidak apa-apa? aku minta maaf kalau berhenti tiba-tiba” jawab Rendi tampak cemas melihat Thalia.
Tin..
Tinnn
Klakson mobil begitu nyaring terdengar dari belakang mobil Rendi saat ini, di belakang sudah banyak mobil yang antri untuk berjalan.
Rendi langsung meminggirkan mobilnya, bisa-bisa dia di maki oleh pengguna jalan yang lain.
“Lita tadi mimpi apa?” ucap Redi yang tampak gelisah menanti jawaban Thalia soal mimpi yang Lita alami.
“Dia aneh, mimpi aku keguguran di percaya. Dia tadi sampai suruh aku banyak minum vitamin, jangan capek dan jangan sampai teledor.”
“Kamu dengarkan apa yang dia bilang, kamu harus jaga kandungan kamu. jangan sampai anak kita kenapa-kenapa, aku takut kalau kamu atau anak kita kenapa-kenapa. Aku tidak sanggup, aku tidak ingin kalian berdua kenapa-kenapa nantinya” uap Rendi ayng terlihat begitu takut dan khawatir soal Thalia. Dan dia heran kenapa Lita bisa mimpi seperti apa yang dia sempat lamun kan beberapa hari lalu.
Rendi yang gelisah nan cemas langsung mengusap wajahnya kasar sambil melihat kearah thalia yang menatap aneh padanya saat ini. semoga itu semua tidak terjadi pada Thalia, dia tidak ingin kehilangan anaknya.
°°°
T.B.C
__ADS_1