Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
38


__ADS_3

David pulang ke Indonesia dia datang menemui Rey, pria itu sudah menemukan mayat yang pas untuk dijadikan pengganti Lita.


"Kau sudah menemukannya kan? Tidak ada keluarganya kan?" ucap David di ruangan Rey.


"Aku pastikan tidak, tapi kau serius melakukan rencana ini. Ini penipuan David" ucap Rey agar David bisa berubah pikiran.


"Aku tidak perduli penipuan atau tidak yang penting adikku tidak ditemukan siapapun" pungkas David dengan tegas.


"Sudah kau suruh orang untuk menghanyutkannya di dekat lokasi yang aku suruh kan?" tambah David melihat Rey.


Rey mengangguk pelan menanggapinya,


"Bagus, sekarang aku harus pulang aku tidak mau keluargaku atau yang lain curiga soal ini" ucap David.


"Hemm," jawab Rey, dia sebenarnya enggan melakukan hal ini tapi mau bagaimana lagi.


David langsung berdiri dan akan pergi tapi Rey berbicara padanya.


"Kau kembali ke Indonesia lalu Lita bagaimana di sana?" ucap Rey.


"Dia dengan pacarku, dan aku juga tidak akan lama di sini. Aku mengurus masalah ini dulu baru aku kembali lagi ke Amerika" jawab David.


"Aku pergi," tambahnya dan langsung berjalan keluar dari ruangan Rey.


…………………


Fahri buru-buru menyetir mobil dengan kecepatan kencang baru saja dia ditelpon oleh pihak SAR kalau mereka menemukan tubuh Lita.


"Tidak, tidak itu pasti bukan dirimu kan?" ucap Fahri meyakinkan dirinya sendiri.


"Tuhan aku mohon semoga itu bukan Lita, aku mohon" ucap Fahri terus berdoa didalam mobil sangat berharap kalau itu bukanlah istrinya tapi orang lain.


Beberapa saat setelah dia menyetir mobilnya itu sampai juga ditempat penemuan jasad Lita, harapannya yang tadi begitu besar kini seakan perlahan mulai menghilang tak kala dia melihat kedua mertuanya ada disitu menangis dan saling menguatkan satu sama lain.


"Pa,." panggil Fahri pada Aryo yang tengah memeluk Nafa.


"Fahri,." lirih Aryo melepas pelukannya pada Nafa.

__ADS_1


Dia berjalan mendekati Fahri yang melihat sekeliling dimana banyak wartawan dan para petugas SAR.


"Ini tidak benarkan Pa?" ucap Fahri meminta penjelasan.


"Fahri kamu harus kuat ya, ikhlas kan Lita. Biar dia tenang" ucap Aryo memegang pundak Fahri.


"Nggak Pa, ini pasti tidak benar." Fahri langsung berlari kearah kerumunan dan garis polisi dia akan memastikan sendiri kalau itu Lita atau bukan.


"Minggir, Minggir dari sini minggir" sentaknya mengusir semua orang yang mengelilingi jasad yang diduga Lita.


Dia langsung bagaikan patung yang tak bernyawa tubuhnya kaku melihat itu. Dari tubuhnya mirip sekali dengan Lita, mayatnya juga sudah agak membusuk sehingga tidak bis dikenali dan juga dipenuhi oleh lumpur di sekujur tubuh itu.


Fahri langsung terduduk didepan jasad itu,


"Nggak, Nggak ini bukan kamu, ini buka Lita" tangisnya pecah matanya begitu merah mengeluarkan air mata.


Dia membersihkan lumpur-lumpur itu dari tubuh jasad tersebut ia ingin benar-benar memastikan kalau itu Lita.


"Ini bukan kamu kan ini bukan.." matanya langsung terpaku melihat baju yang dikenakan jasad itu. Itu, itu baju Lita saat dia melompat dari atas jembatan.


Tangis Fahri langsung menjadi, jadi benar ini Lita. Lita istrinya,.


"Nggak, ini nggak mungkin, kenapa..kenapa kamu melakukan itu.." ucap Fahri menangis terisak sambil menggoyang-goyangkan jasad yang sudah membusuk itu.


"Fahri, dia sudah membusuk jangan kau begitukan" ucap Polisi tersebut.


"Maaf, maafkan aku, ini semua salahku. ini salahku, Bripka Hanan tangkap aku, aku yang bersalah aku yang membunuhnya, tangakap aku, tangkap" ucap Fahri memegangi tangan Hanan untuk menangkapnya.


"Fahri tenanglah, jangan kau bicara begitu. Disini banyak media, mereka bisa menjatuhkan mu dengan satu artikel" ucap Aryo pelan sambil menenangkan Fahri.


"Pa Lita Pa Lita, a..aku minta maaf, aku minta maaf" Fahri menangis sejadinya dia rasanya tak sanggup menahan rasa sakit ini hidupnya seakan telah berhenti mengetahui kenyataan ini. Lita pergi benar-benar pergi sesuai keinginannya.


"Thalita,..." histerisnya didepan jasad itu.


Dia menangsi memeluk jasad yang basah dan dipenuhi lumpur tersebut. Bagaimana dia hidup dengan penyesalan ini nantinya, rasa bencinya sendiri saat ini menghilang menguap entah kemana.


Dan kenapa hatinya begitu terikat nama Thalita daripada Dira. Mungkinkah hatinya telah berganti nama, dan jika iya kenapa terlambat sekali dia mengakui perasaannya. Thalita wanita baik nan tulus yang mencintainya, kini benar-benar pergi.

__ADS_1


"Tuhan kenapa kau memberikan rasa ini saat dia sudah tiada, kenapa?" teriaknya mendongak ke langit yang begitu terang.


………………


Lita duduk bersama dengan pacar dari David seorang wanita Indonesia yang sudah tinggal lama di Amerika. Perempuan bernama Naya itu sudah menjalin kasih dengan David cukup lama tapi memang David belum mengenalkan dia pada siapapun termasuk keluarga pria itu. Setiap kali dia bertanya apa alasan dirinya belum dikenalkan dengan keluarga David.


Pria yang terlihat begitu misterius itu selalu menjawab tunggu waktu yang tepat. "Aku tidak mau kau diburu wartawan karena masuk ke keluarga ku" begitulah selalu jawaban Davis.


Walaupun begitu dia menghargai keputusan David untuk merahasiakan hubungan mereka. Itu juga demi keluarganya, dia yang berasal dari keluarga biasa jelas mendapat kritik dari orang-orang soal bersanding dengan anak dari keluarga konglomerat bukan konglomerat lagi tapi keluarga yang teramat kaya.


Naya memperhatikan Lita yang diam dengan cemilan serta minuman perempuan itu yang masih utuh tak tersentuh.


"Lita,." ucapnya memegang tangan Lita membuyarkan pandangan kosong lIta.


"Ah iya kak," ucap Lita tersadar dari lamunannya dan melihat kearah Naya.


"Mbak sudah pernah bilang, panggil mbak saja Lita mbak orang jawa enak dipanggil mbak daripada kak." ucap Naya masih memegang tangan Lita.


"Ah maaf kak, eh maksudnya mbak" pungkas Lita lirih tak bersemangat.


"Kamu ngelamunin apa? cerita sama mbak Lita" ucap Naya mencoba menjadi teman curhat Lita.


Lita menggeleng pelan, seakan ingin mengatakan tapi dia tidak sanggup. dia tidak sanggup menceritakannya, rasanya dia ingin menangis. Matanya saja saat ini sudah berkaca-kaca saat Naya terus melihatnya.


"Mbak tahu loh, kamu sedang banyak pikiran. Udah nggak Pa-pa bilang sama mbak" ucap Naya menggenggam tangan Lita semakin kuat seakan memberikan energi untuk adik dari pacarnya.


"Aku bingung mau cerita darimana mbak" ucap Lita sedih.


"Cerita aja, jangan kamu pendem sendiri. Rasanya malah tambah nyesek, luapin aja. Kalau mau nangis ya nangis, nggak usah ditahan dek"


"Mbak, kenapa hidupku seperti ini?Kenapa semua orang benci padaku, kenapa mbak? kenapa semua orang begini padaku" pecah sudah tangis Lita, pecah sudah dia menangis terisak menggenggam erat tangan perempuan yang kemungkinan menjadi kakak iparnya itu.


"Nggak Pa-pa nangis saja Lita, luapin semua" ucap Naya, dia juga ikut merasa pilu sekaligus sakit melihat Lita apalagi mendengar kisah perempuan ini. Dia sudah tahu semua dari David, David menceritakan semua padanya soal Lita.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2