Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 158 (Season 2)


__ADS_3

Rendi sedang menyisihkan diri ke bagian lain agar suaranya terdengar di seberang sana, dia saat ini tengah melakukan pembicaraan dengan seseorang melalui telponnya. Dia sendiri sekarang masih berada di acara pernikahan Revan. Pernikahan sendiri sudah berlangsung dnegan lancar Revan tetap melanjutkan pernikahannya dan mengucapkan ijab qobul tanpa hambatan.


“Berapa hari saya harus di Amerika nanti?” tanya Rendi pada orang yang diseberang sana.


“Kurang lebih seminggu, tapi belum tahu juga bisa lebih dari itu tergantung kasusnya cepat diselesaikan atau tidak” ucap seseorang diseberang sana yang kemungkinan rekan Rendi.


“kenapa bisa kurang lebih, yang pastinya berapa hari” tukas Rendi dengan tegas.


“Ya aku nggak tahu Ndan, itu dari Interpol.”


“Ya meskipun dari Interpol, komandan kan tahu berapa hari aku harus ditugaskan, tenggat waktunya minimal berapa hari, masa kau tidak tahu van”


“Ya itu minimal seminggu kau di sana,”


“Kenapa harus aku, kenapa tidak yang lain saja. Banyak lebih baik dariku sepertinya? Dan banyak junior-junior yang lebih berwawasan” heran Rendi yang tak terima dengan perintah itu.


“Ya aku nggak tahu soal itu, lebih jelasnya kau tanya komandan saja. Aku hanya melihat surat keputusan saja sekilas” pungkas Jouvan yang ada diseberang sana. Dia memang tidak tahu alasan Rendi yang di tugaskan ke Amerika, dia tadi hanya melihat surat putusan peminjaman anggota dan Rendi yang akan di tugaskan di sana.


“Mungkin karena kau sudah pernah menjadi bagian Interpol makanya, mereka ingin kau yang membantu mereka”


“Kau juga pernah menjadi bagian di sana kan, lalu kenapa bukan kau saja” ucap Rendi yang membalikan omongan.


“Ya mana aku tahu Ren, sudahlah. Kau sepertinya sensi membicarakan ini, sudah dulu kalau begitu. Kau juga sepertinya sedang sibuk, besok kalau kau pulang ke Jakarta langsung temui komandan saja. Aku tidak tahu soal ini”


“Ya sudah terimakasih infonya” ucap Rendi dan langsung mematikan ponselnya, ia segera memasukkan ponsel tersebut kedalam saku celananya kembali.


Ia langsung melihat kebelakang, dimana banyak orang yang berdatangan saat ini, dia kembali masuk kembali ke gedung pernikahan untuk menghampiri istrinya kembali. Kepalanya pusing saat ini beberapa hari lagi dia harus kembali ke Jakarta karena ada pekerjaan, sedangkan dia janji pada Thalia untuk liburan seminggu di Padang.


..............................................


Thalia bersama dengan mertua perempuannya sedang berada di ruang ganti pengantin, dia disitu dengan Chaca yang sudah resmi menjadi istri dari kakak iparnya yang sekaligus Chaca juga menjadi kakak iparnya saat ini.


“Kamu disini dulu ya Thalia temani Chaca, bunda mau ke depan dulu” ucap Vina pada Thalia.


“Iya bun, kalau begitu Relia biar aku yang gedong” pungkas Thalia dan akan mengambil anaknya dari gendongan sang mertua.


“Nggak usah, bar bunda aja yang gendong.” Tolak Vina yang masih ingin terus menggendong Relia.


“Serius bun?” Thalia seperti tak yakin bila mertuanya terus menggendong Relia. Bukan apa-apa tapi karena banyak tamu masa mertuanya menggendong bayi. Apa kata tamunya nanti, malah anaknya nanti dikira anak mertuanya.


“Iya bunda serius, teman-teman bunda nggak percaya kalau bunda punya cucu. Jadi relia biar bunda gendong aja, mereka pengen tahu anak kamu”


“Ya sudah kalau gitu”

__ADS_1


Vina langsung berjalan keluar meninggalkan Thalia dan juga Chaca, Chaca sendiri tidak ikut dalam pembicaraan karena dia tengah dirias saat ini.


“Kau cantik, dirias begini” ucap Thalia yang memuji Chaca saat dirias.


Chaca hanya tersenyum mendengarnya sambil melihat Thalia dari kaca didepannya,


“Sudah mbak,” ucap perias itu pada Chaca.


“Terimakasih ya” jawab Chaca pada perempuan yang bisa merias dirinya.


“kalau begitu saya keluar dulu ya mbak-mbak nya” pamit perempuan yang sudah merias Chaca.


“Iya,” jawab Thalia dan Chaca serempak.


“Aku lihat-lihat kamu tidak semangat, padahal ini pernikahanmu. Kamu ada masalah? Kalau ada cerita saja denganku” ucap Thalia mencoba bersahabat dengan Chaca.


“Nggak kok kak, aku tidak ada masalah apa-apa” jawab Chaca sambil tersenyum tipis.


“Kamu tidak usah takut menikah dengan revan akan seperti apa, aku yakin dia bukan pria yang buruk. Dia orang baik, percaya padaku” Chaca sedikit terkejut mendengar Thalia yang tiba-tiba saja berkata begitu. Perempuan yang berdiri di sebelahnya seakan tahu apa yang dia pikirkan.


“Maaf kak kenapa kakak bisa bicara begitu?”


“jangan panggil kak lah, panggil nama saja” ucap Thalia.


“ya sudah aku panggil nama saja, maaf tadi kenapa kamu bilang begitu padaku Thalia?”


“Ya karena ku pernah melihat pernikahan yang seperti ini, tanpa ada rasa cinta. Dan aku lihat Revan bukan orang jahat,?”


“Kenapa kau yakin begitu?”


“Ya karena Revan tipe orang yang jahat didepan jadi dia bisa di baca kedepannya,” jelas Thalia.


“Aku harap ucapan mu memang benar, ya sudah kalau begitu ayo kita keluar” pungkas Chaca mengajak Thalia untuk keluar dari ruangan itu.


“Oke, ayo” ucap Thalia mengiyakan dan dia langsung berjalan di belakang Chaca yang berjalan lebih dulu di depannya.


.................................................................


Thalia menaruh perlahan Relia di tempat tidur sambil melihat rendi yang duduk di kursi dekat jendela, suaminya terlihat aneh sedari tadi diam dan sibuk memainkan ponselnya.


“Kamu nggak ganti baju?” tanya Thalia sesudah menaruh Relia di tempat tidur.


“Nanti sayang” jawab Rendi sambil sekilas melihat istrinya, dan dia sibuk kembali melihat ponselnya saat ada pesan yang masuk.

__ADS_1


Thalia menatap penasaran, kenapa Rendi akhir-akhir ini selalu sibuk dengan ponselnya. Padahal mereka sedang liburan meskipun tak sepenuhnya liburan.


“Ganti baju dulu baru main ponsel” tukas Thalia meminta suaminya untuk segera ganti baju.


“Aku curiga deh sama kamu, kamu akhir-akhir ini lebih sibuk lihat ponsel kamu daripada lihat anak kamu” tukas Thalia yang langsung terus terang dan berjalan menghampiri suaminya.


Rendi langsung mematikan ponselnya saat sang istri berbicara begitu, dan dia berdiri dari tempat duduknya saat ini.


“Kenapa? Kamu mau aku perhatikan?” tanya Rendi


“Nggak, aku curiga aja kamu main dibelakang ku”


“Curiga kenapa, aku nggak ngapa-ngapain” pungkas Rendi sambil memegang bahu Thalia.


“Ya kamu mainan Hp, nggak merhatiin aku atau reli dari tadi”


“Ya aku minta maaf soal itu, aku ada kerjaan sayang. Aku juga mau bilang sama kamu soal, tapi kamu jangan marah”


“Mau ngomong apa?”


Kau janji dulu jangan marah sama aku?”


“Nggaklah, untuk apa juga aku marah” tukas Thalia.


“besok kita pulang ke Jakarta ya?” ucap Rendi pada istrinya.


“kenapa, kamu bilangnya kita liburan kan?”


“Aku ada tugas, dan harus nemuin komandan”


“Tugas terus, bukannya kamu cuti sekarang”


“Ya gimana lagi, aku ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama komandan, nggak pa-pa ya kita pulang ke Jakarta”


“Ya udah nggak pa-pa, tapi kita nanti jalan-jalan di jakarta. Kamu harus nurutin apa yang aku mau”


“Oke sayangku” ucap Rendi dan langsung menarik Thalia mendekat dan memberikan kecupan di kening sang istri.


Rendi sedikit merasa lega karena Thalia tidak marah kalau mereka harus pulang ke Jakarta, tapi nantinya dia tidka tahu Thalia marah atau tidak kalau istrinya tahu dia akan bertugas beberapa hari di Amerika. Ia saja bingung harus menjelaskan bagaimana pada sang istri.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2