Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 121 (Season 2)


__ADS_3

David datang langsung ke rumah Thalia, dia akan bertanya secara langsung dengan adiknya apa maksud Thalia membantu Nicholas. Jelas-jelas dia melakukan ini untuk Thalia tapi Thalia malah membebaskan pria itu begitu saja.


David turun dari mobilnya saat sudah sampai di alamat yang dikirimkan Thalia padanya, dia melihat rumah berlantai dua yang bercat kuning keemasan tersebut serta ada taman kecil di didepannya.


“Ini rumah mereka sekarang” lirih David saat melihat rumah itu,


“bukannya ini satu komplek dengan rumah orang tua Fahri,” ucap David sambil melihat sekeliling saat dia menyadari lokasi rumah Thalia sekarang tidak jauh dari rumah orang tua Fahri.


Setelah melihat sekeliling David langsung beralih kembali melihat rumah tersebut dimana di depan rumah ada dua orang pria yang tampak membenarkan sesuatu.


David langsung berjalan menuju pintu rumah itu sekaligus menghampiri dua orang tersebut yang tampak sibuk dengan kegiatannya. Siang ini matahari bersinar begitu teriknya, David semakin mempercepat langkahnya ke teras rumah.


“Maaf pak, boleh saya bertanya?” ucap David pada dua orang tersebut.


Dua orang itu yang sedang membenarkan engsel pintu langsung mendongak melihat orang yang berbicara dengan mereka saat ini.


“Oh, iya pak. Ada apa ya” ucap salah satunya dan berdiri didepan David meninggalkan kegiatannya.


“Ini rumah Rendi bukan?” tanya David.


“Iya pak ini rumah pak Rendi, orangnya ada kok pak di dalam. Dia juga barusan di luar tadi” ucap sang pekerja itu.


“Ya sudah kalau begitu saya masuk kedalam. Saya kakak iparnya,” ucap david sebelum masuk kedalam dia mengatakan kalau ia kakak ipar Rendi meskipun orang itu tidak bertanya padanya. Dia melakukan itu agar orang tersebut tidak menuduhnya orang asing.


“Iya pak masuk saja” ucap pekerja itu.


David tanpa bicara lagi langsung masuk kedalam sambil memasukkan tangannya di saku celana. Matanya tak lepas melihat sekeliling ruangan yang dia masuki. Rumahnya cukup bagus dan interiornya juga bagus batinnya melihat itu semua.


“Kak David,” ucap Rendi terkejut saat baru saja keluar dari kamar dengan celana pendek berwarna Army serta baju abu-abu polos.


“Dimana Thalia?” tanya David langsung menanyakan adiknya.


“Dia masih tidur kak, ada perlu apa? kenapa kak David bisa ada disini?” jawab Rendi dan balik bertanya alsan David datang


“Aku perlu bicara dengan Thalia, maksudnya apa memberikan tiket pada Nicholas yang jelas-jelas brengsek begitu” ucap david yang sedikit meninggi.


“Duduk dulu kak, bicara saja denganku. Dia masih istirahat, mungkin sebentar lagi bangun” pungkas Rendi pada kakak iparnya itu.


David langsung berjalan duduk ke sofa yang tidak jauh dari mereka berdiri saat ini, Rendi langsung mengikuti kakak iparnya tersebut.


“Alasanmu pindah tanpa memberitahu ku kenapa?” tukas David sambil menyilang kan kakinya menatap adik iparnya itu yang sudah duduk.


‘Bukannya aku tidak ingin memberitahumu kak, bukan kakak saja yang belum kita beritahu tapi semuanya juga belum. Dan alasan kita berdua pindah karena apartemen tidak cocok untuk tumbuh kembang anak menurutku. Jadi aku membicarakannya dengan Thalia dan dia menyetujui kita pindah rumah” jelas Rendi memberikan pengertian untuk kakak iparnya.

__ADS_1


David hanya diam saja, tapi batinnya menyetujui apa yang dilakukan Rendi sekarang dan pria itu menurutnya pria yang memikirkannya dnegan matang.


“Tadi kak David mau bicara dengan Thalia karena ingin membahas soal Nicholas kan? kalau soal itu biar aku saja yang mengatakannya” ucap Rendi menatap sang kakak ipar.


“Ini bukan urusanmu, Ini urusanku dengan Thalia. Nanti saja aku bicarakan lagi dengannya kalau dia sudah bangun” ucap David yang tidak mau membahas Nicholas dengan Rendi. Karena Rendi tidak tahu masalah soal Nicholas.


“Denganku saja tidak pa-pa, aku tahu soal yang kak David lakukan dan yang Thalia lakukan aku juga tahu” pungkas Rendi mengungkapkan apa yang dia ketahui .


“Kau tahu? berarti kau tahu soal Thalia yang membelikan tiket atas namanya?”


“Iya aku tahu itu, aku juga ikut mengantarkan Thalia memberikan tiket itu pada Nicholas”


“Apa? kau juga ikut andil semua ini. apa-apaan kalian membantunya, bukankah dia musuh mu?”


“Bukannya aku membantunya, aku ingin permasalah soal dia cepat selesai dan dia bisa pergi dari negara agar tidak menghubungi istriku lagi. Beberapa hari dia selalu menghubungi Thalia dan aku tidak suka soal itu” tukas Rendi mengungkapkan semuanya.


“Tapi aku belum puas memberinya pelajaran, seharusnya kau dan Thalia tidak perlu membantunya. Karena itu akibat dari apa yang dia perbuat. Kalian tidak takut jika membiarkannya begitu saja, bagaimana kalau dia malah membuat kalian berpisah atau semacamnya” ucap David mencemaskan soal rumah tangga adiknya ke depan kalau Nicholas dilepas begitu saja. Dia takut Nicholas akan berbuat ulah dan menghancurkan rumah tangga Thalia.


“Kau tidak usah khawatir soal itu kak, aku tidak akan diam saja kalau dia begitu.” Ucap Rendi menenangkan sang kakak ipar.


“Oh iya mau minum apa kak?” tanya Rendi menawari kakak iparnya itu minum.


“apa saja yang ada di rumah ini, kau baru pindahan hari ini kan. pasti tidak ada apa-apa di rumahmu” pungkas David.


Rendi tersenyum kecil dengan ucapan kakak iparnya,


“Dia siap siaga juga ternyata” gumam David sambil tersenyum bangga pada Rendi yang siap semuanya.


.................................................


Thalia baru saja bangun dari tidur, dia langsung melangkah turun dari tempat tidur dan bertepatan dengan itu Rendi masuk kedalam.


“Kamu sudah bangun?” tanyanya pada sang istri.


“hemmm, darimana kamu?” tanya Thalia pada suaminya itu.


“Dari luar ngobrol sama kak David” jawab Rendi.


“Kak David kesini, mana orangnya?”


“Udah pulang barusan”


“Kok udah pulang, bukannya tadi siang dia bilang mau bicara denganku saat di telpon. Lalu kenapa nggak nunggu aku bangun” heran Thalia pada kakaknya.

__ADS_1


“Katanya dia ada perlu, tadi juga dia sudah bicara padaku,”


“Dia ingin bicara apa sih sebenarnya, kayak penting banget”


“Cuman masalah Nicholas, katanya kenapa kamu membelikan tiket pesawat”


“Oh, cuman soal itu. aku kira apa?”


Thalia langsung melangkah mendekati Rendi dan dia langsung merengkuh begitu saja di lengan sang suami.


Rendi yang melihat itu menatap aneh istrinya,


“Ada apa?” tanya Rendi menatap istrinya tersebut.


“Sayang, aku mau jalan-jalan dong” ucap Thalia dan nada suaranya dibuat manja.


“Jalan-jalan? jalan-jalan kemana?” tukas Rendi melihat sekilas kearah Thalia.


Terserah kemana? Ini sore-sore kan enaknya kemana gitu. Selagi kamu nggak kerja kita me time kemana gitu” ucap Thalia.


“Ya udah, ayo jalan kalau mau jalan. ke mall dulu gimana baru habis itu kita ke pantai lihat sunset” ucap Rendi.


“Iya nggak pa-pa, yang penting kita jalan-jalan. aku bosen dikamar terus. Aku mau keluar,” ucap Thalia.


“Eh, keluar ketemu teman-temanmu juga nggak pa-pa aku mau, aku pengen ketemu itu dua rekanmu yang tidak jelas” ucap Thalia yang entah tiba-tiba ingin saja bertemu dengan dua rekan Rendi.


“Siapa? Andre sama Hardi?”


“nah iya dua orang itu, sudah lama aku tidak bertemu mereka. Kita bertemu mereka saja, tidak usah ke pantai jauh. Aku capek” ucap Thalia.


“kenapa ketemu mereka, kamu ngidam pengen ketemu mereka?”


“Nggak tahu, pengen aja. Ya, ya, kita ketemu mereka nanti” ucap Thalia merengek bak anak kecil.


“Iya, apa yang nggak buat kamu. ya udah nyanyi kita ketemu mereka berdua, mereka juga lagi cuti di rumah.” Pungkas Rendi menuruti sang istri yang ingin bertemu dengan kedua temannya.


“Oke, kalau begitu aku mandi dulu” ucap Thalia dan dia sebelum pergi mengecup pipi suaminya itu.


Hal itu membuat Rendi terdiam, karena sifat Thalia yang menciumnya begitu saja seperti dulu sepertinya sudah kembali lagi. Karena beberapa bulan ini Thalia tidak pernah langsung memulai dulu hal romantis kalau bukan dirinya yang mengawali.


“Selagi kamu mandi aku, manasin mobil dulu ya sayang” seru Rendi pada istrinya yang sudah masuk kedalam kamar mandi.


“Ya,.” Jawab Thalia dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2