
Thalia sudah di bawah ke rumah sakit oleh Bi Warsih dan juga Mama dari Rendi kedua orang itu saat ini berjalan mondar-mandi dengan gelisah menunggu dokter yang memeriksa Thalia.
“ya allah hamba mohon tolong selamatkan non Thalia dan juga bayinya” ucap Bi Warsih menggenggam kedua tangannya mengadah memohon pertolongan dari yang di atas.
Mama Rendi yang berada disitu hanya melihatnya sekilas, dia jadi gelisah dan juga takut bagaimana kalau Rendi marah dengannya apa yang harus dia lakukan nanti.
“Apa aku pergi saja dari sini ya” batinnya, dan melihat sekilas kearah asisten rumah tangga anaknya yang tak menatap kearahnya saat ini.
“Ya lebih baik aku pergi, aku..aku kembali saja ke Amerika daripada aku disini rendi pasti mengejar ku” batinnya dan langsung berjalan pergi tanpa pamit kepada Bi Warsih yang langsung melihat kearahnya.
“Ya ampun kok ada orang tua macam itu” heran BI Warsih yang melihat Mama dari rendi yang berjalan cepat meninggalkannya.
“Maaf anda keluarga dari pasien?” tanya seorang dokter pria yang baru saja keluar dari ruangan Thalia ditangani.
“I...iya dok saya asisten rumah tangganya. Majikan saya tidak apa-apa kan?” gugup Bi Warsih bercampur cemas mengenai kondisi Thalia.
“Begini kondisi pasien sangat mengkhawatirkan dan kandungannya mengalami pendarahan yang cukup parah makanya dengan terpaksa saya ingin menyampaikan hal yang kemungkinan akan membuat anda sedih”
“Apa dok, saya mohon selamatkan majikan saya dan anaknya dok. Saya mohon” ucap BI Warsih memohon pada sang dokter, tangisnya sudah pecah saat dokter itu mengatakan hal itu.
“Saya pasti akan mengusahakannya, tapi pilihan sulit harus saya lakukan. Kalau boleh tahu dimana suami dari pasien saya perlu bicara dengannya”
“Su..suaminya sedang ada di Sumatera dok,”
“Kalau begitu keluarganya ya...”
“BI Warsih,” seru beberapa orang yang baru saja datang. Disitu ada David, dan Naya yang berlari mendekati Bi Warsih.
“Thalia bagaimana bi, dia tidak apa-apa kan?” tanya david dengan cemas, dia taku adiknya kenapa-kenapa.
“Non..Non Thalia..” ucap Bi Warsih yang tidak bisa melanjutkannya dia sudah menangis terlebih dulu.
“Thalia kenapa bi jawab” tegas David sambil memegang bahu asisten rumah tangga itu.
“David, David tenang dulu” ucap naya mencoba menenengkan suaminya yang tampak emosi.
“Maaf kalau boleh tahu anda siapanya pasien?” tanya dokter itu saat melihat David.
“Saya kakaknya, bagaimana kondisi adik saya dok” tanya David beralih menatap sang dokter.
“Begini kondisi Pasien saat ini begitu mengkhawatirkan dan kandungannya mengalami pendarahan yang cukup parah. Jadi saya meminta persetujuan dari suami dan keluarga pasien untuk mengeluarkan bayinya dari dalam perut pasien”
“Apa? kenapa harus dikeluarkan. Calon anak adik saya belum saatnya lahir”
“Tapi ini memang jalan terbaiknya tuan, kalau bayi tidak segera di keluarkan maka kemungkinan bukan bayinya saja yang dalam bahaya tapi nyawa ibunya juga”
“Astaga” David mengusap wajahnya kasar begitu juga dengan Naya yang tampak syok mendengar ini.
__ADS_1
“baiklah kalau begitu lakukan yang terbaik menurut anda. Tapi apakah ada kemungkinan bayi yang di kandung adik saya selamat nanti?”
“kita berdoa saja tuan, yang penting nyawa ibunya bisa tertolong”
“Tu..tuan David, tu..tuan Rendi belum sa..saya beritahu soal ini” ucap Bi Warsih takut-takut.
“Kau belum memberitahu Rendi, bagaimana bisa bi.” Tukas David kembali emosi mendengar itu.
Jelas emosi dia sudah mengambil keputusan tanpa Rendi tahu,
.....................................................
Rendi duduk di kursi yang ada di luar ruangan interogasi dia baru saja menyerahkan pelaku-pelaku yang dia tangkap tadi. Dia merasa heran dengan dirinya saat ini kenapa hatinya semakin gelisah tak menentu membuatnya begitu cemas tanpa sebab.
“Lapor Ndan” ucap seorang pria berseragam polisi berdiri di depan Rendi saat ini.
“Iya, kenapa?” jawab Rendi sambil melihat kearah rekannya itu.
“Pak Imron menyuruh saya untuk mengobati luka di lengan komandan, mari Ndan ikut saya keruang kesehatan” ucap polisi itu pada Rendi.
“Tidak perlu, luka saya hanya luka ringan” tolak Rendi.
“Tapi Ndan,..” ucapnya terhenti saat Rendi mengangkat tangannya tanda tidak perlu melanjutkan lagi ucapannya itu.
“Saya bilang saya tidak apa-apa” lirih Rendi.
“Kak david?” gumamnya saat melihat nama sang kakak ipar di situ.
“Kau boleh pergi” ucap Rendi sebelum mengangkat panggilannya.
“baik Ndan, kalau begitu saya permisi” ucap Polisi itu dengan terpaksa, karena mau bagaimana lagi Rendi menolak untuk di obati.
“Halo kak,.” Jawab Rendi saat dirinya sudah mengangkat panggilan tersebut.
“Kamu dimana sekarang?”
“Aku di kantor polisi kenapa?”
“Thalia masuk rumah sakit, kau pulanglah bisa tidak bisa kau harus pulang istrimu ..” David tak bisa melanjutkan ucapannya.
Deg,
Mendengar itu rasanya kekhawatiran Rendi semakin nyata,
“Thalia kenapa kak, kenapa dengan istriku” ucap rendi yang langsung berdiri dengan cemas.
“Istrimu di rumah sakit saat ini dan dokter memberitahuku untuk memilih salah satunya anak kalian atau Thalia. Apa yang harus aku lakukan”
__ADS_1
“Ini nggak bohong kan, ini serius kak. Bagaimana bisa begini, dan kenapa Thalia bisa masuk rumah sakit”
“Aku tidak tahu kejadiannya bagaiman yang jelas dia mengalami pendarahan saat ini Ren, tentukan pilihanmu kau memilih istri atau anakmu”
Mendengar itu membuat Rendi terkulai lemas terduduk dilantai, sungguh ini pilihan sulit untuknya.
“Aku pilih Thalia, tolong jaga istriku kak. Jaga sampai aku kembali aku titip dia”
“Baiklah, aku tadi sudah bilang pada dokter untuk memilih Thalia tapi aku coba tanyakan lagi padamu ternyata pilihanmu sama denganku. Terimakasih telah memilih adikku, kau cepatlah pulang Thalia pasti membutuhkanmu” ucap David di seberang sana.
“Pasti, pasti aku akan pulang.” Rendi mengusap setes air matanya yangs empat jatuh dan dia langsung berdiri saat ini. ia harus ijin atasannya dulu sebelum pulang. Boleh atau tidak dia haus pulang istrinya membutuhkannya saat ini.
“Tuhan tolong selamatkan istri dan anakku, meskipun tadi akau memilih Thalia tapi aku juga berharap anakku bisa selamat” ucap rendi didalam hatinya sambil berlari kearah ruangan atasannya
.......................................
Beberapa jam berlalu akhirnya Rendi sudah tiba di rumah sakit tempat Thalia di rawat saat ini, dia berlari di koridor rumah sakit dnegan begitu tergesa-gesa. Ia ingin segera melihat istrinya, dia begitu ingi tahu kondisi istrinya saat ini. harapannya semoga terwujud istrinya baik-baik saja.
Setelah dia berlari cukup lama akhirnya dia melihat kakak iparnya dan juga asisten rumah tangganya saat ini.
“Kak david,” panggil Rendi sambil berlari mendekati David yang berdiri melihatnya.
“Rendi,” ucap David dan juga Naya bersamaan, mereka reflek berdiri sambil melihat kearah Rendi yang berlari mendekati mereka.
“Thalia, bagaimana kondisi Thalia” Rendi begitu takut untuk bertanya tapi dia berusaha untuk melawan ketakutannya itu.
David terlihat diam menunduk begitu juga dengan Naya, hal itu tak lepas dari Rendi dia langsung mencengkram bahu kaka iparnya.
“Aku tanya bagaimana Thalia?” tegasnya dengan sorot mata tajam.
“Tha..Thalia belum sadar sampai sekarang tapi operasinya berjalan lancar” jawab David.
Mendengar itu membuat Rendi menghembuskan nafas sedikit lega mendengar, dia perlahan memundurkan dirinya. Tapi kemudian dia langsung memegang kembali bahu kakak iparnya.
“La..lalu anakku selamat atau tidak” tanyanya lagi.
“Anak kamu selamat, ta..tapi hanya satu” ucap naya mewakili david yang menjawabnya.
“Maksudnya, anakku kan memang satu yang di kandung Thalia”
“Nggak Anakmu kembar tapi tapi satunya tidak selamat dan anakmu yang satunya lagi masi di dalam inkubator karena belum saatnya lahir dia sudah terpaksa di keluarkan” jelas David
Mendengar itu membuat Rendi berjalan mundur dan mendudukkan dirinya perlahan ke kursi,kenapa bisa begini, batinnya terasa sakit. Tapi dia juga bersyukur anak dan istrinya selamat meskipun Thalia belum sadar dan kehilangan satu anaknya. Setidaknya tuhan masih memberikan pertolongan untuk keluarganya saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1