
“Apa?” Rendi tampak terkejut mendengar semua itu, masa iya Thalia yang melakukan itu. dia yang membiayai pengobatan melody.
“jangan bercanda kenapa juga Thalia membantu Melody?” lanjut Rendy masih tidak percaya dengan ucapan Fahri barusan.
“Aku tidak bercanda, aku serius. Thalia yang membantu pengobatan Melody saat ini. dia yang membawa Melody ke Inggris” ucap fahri mencoba membuat Rendi yakin dengannya.
“Alasannya apa membawa Melody ke Inggris dan tanpa memberitahuku soal ini?” Rendi terlihat heran kenapa juga Thalia harus membawa Melody ke Inggris dan tanpa memberitahukan padanya. Apa mungkin Thalia takut kehilangan dirinya jadinya dia membuat Melody pergi, pikir Rendi.
“Ya jelas alasannya ingin Meldoy sembuh, dia ingin membuat melody sembuh dan dia ingin tahu perasaanmu sebenarnya untuk siapa?” jelas fahri.
“Tidak masuk akal,” sinis Rendi yang tampak tak percaya.
“Rendi kau jangan marah dengan Thalia, seharusnya kau bersyukur istrimu berhati mulai ingin menyembuhkan tunangan mu.
“Ya kenapa dia harus menyembuhkan Melody, kenapa dia ikut campur soal kesembuhan Melody” tukas rendi yang sedikit kecewa mendengar ini.
“Ren, kau tenanglah dulu. Thalia punya maksud baik soal itu, kau tidak usah marah dengannya. Kau diam saja dan pura-pura tidak tahu oke. Kalau kau bilang dan bertanya padanya nanti Lita juga tahu soal ini. bisa-bisa dia marah denganku” ucap Fahri menasehati Rendi.
“Aku pulang dulu,” Rendi bukannya menjawab ucapan Fahri dia malah pamit pulang
“Ren, aku mohon padamu kau jangan marah dnegan Thalia, kau harusnya bersyukur istrimu membiayai Melody hingga sembuh” Fahri menahan tangan rendi agar tidak pergi.
“Itu urusanku marah atau tidak” Rendi melepaskan tangan Fahri dan dia langsung pergi.
“Anak itu, aku masih belum selesai bicara dia sudah pergi begitu saja. Semoga saja dia tidak marah dengan Thalia. Kalau misalnya ada apa-apa dengan rumah tangga mereka aku siap tanggung jawab, karena ini salahku yang malah bilang pada Rendi” lirih Fahri sambil memperhatikan Rendi yang berjalan keluar Cafe.
.......................................
Thalia baru saja selesai mandi saat ini, dia juga sudah hari sudah semakin sore tetapi Rendi yang keluar sekitar dua jam tadi sampai sekarang belum juga kembali padahal tadi bilangnya dia hanya ingin bertemu dengan rekan kerjanya tapi saat ini belum kembali juga.
“Dia kemana sih belum balik juga sampai sekarang, sudah tahu istrinya pesan es kirm dianya malah belum balik juga” keluh Thalia menaruh handuknya di gantungan dan dia segera berjalan keluar kamarnya saat ini.
“Aku beli eskrim sendiri saja, dia pikir aku tidak bisa beli sendiri” ucap Thalia yang kesal karena Rendi pulangnya lama sekali saat ini.
Thalia memutuskan keluar dari apartemen untuk mencari eskrim sendiri, percuma juga dia titip dengan Rendi pria itu malah tak kunjung kembali sampai saat ini.
Thalia menutup pintu apartemennya perlahan, dia saat ini sudah berada di luar apartemen miliknya. Dia memang sedari tadi ingin makan eskrim dan berusaha untuk menahannya sampai rendi kembali. Tapi pria itu tak kembali, kembali juga hingga saat ini.
“kamu mau kemana?” tanya Rendi yang tiba-tiba berada di depan Thalia saat ini sambil menenteng kantung kresek berwarna hitam di tangannya.
“Beli eskrim” jawab Thalia singkat dan langsung pergi melewati Rendi, tapi belum juga dia berjalan jauh rendi sudah menahan tangannya.
“Tidak usah beli, ini aku sudah belikan untukmu. Ayo pulang sudah mau magrib” ucap Rendi menggandeng tangan thalia mengajaknya kembali masuk kedalam Apartemen.
__ADS_1
Thalia hanya menurut saja dan berjalan mengikuti Rendi yang menggandeng tangannya.
“kamu kemana sih alma banget? Nggak ikhlas aku titi es krim. Kalau mau main main aja, aku nggak perduli. Tapi ngomong jangan bilangnya cuman sebentar” ucap Thalia meluapkan kekesalannya pada Rendi.
“Aku minta maaf, tadi ada urusan mendadak” ucap Rendi melihat wajah Thalia.
“Apa?” tanya Thalia penasaran.
“Ada pokoknya, ayo duduk. Mau makan es krim kan” tanya Rendi dan mengajak Thalia ke ruang tengah duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.
“Ini eskrim, mau yang maan dipilih aja. Aku yang bukain” ucap rendi saat dia dan Thalia sudah duduk di sofa itu.
Thalia melihat kedalam kantung plastik itu dan memilih eskrim mana yang akan dia makan saat ini.
“Yang ini” ucap Thalia setelah mengambilnya dari dalam plastik.
Rendi langsung mengambil es krim tersebut dari tangan Thalia dan membukakannya untuk sang istri.
“Nih sudah” ucap Rendi menyodorkannya kembali pada Thalia.
Thalia langsung mengambilnya dengan antusias, dan dia memakan eskrim itu dengan lahapnya.
Rendi yang duduk di depan Thalia hanya memperhatikannya saja dengan wajah yang tidak bisa di artikan. Dia masih bingung soal apa yang dikatakan fahri mengenai Thalia yang membantu pemulihan Meldoy dan apa tujuan Thalia melakukan itu.
Thalia menghentikan kegiatannya dan dia melihat kearah suaminya saat ini. pria itu menatapnya tanpa eskpresi dan membuatnya heran sekarang.
“Ada apa/” tanya Thalia yang tak mengerti.
“kamu ada yang ingin dibicarakan denganku atau tidak?”
“Apa yang ingin ku bicarakan? Tidak ada. Kenapa kau tanya begitu padaku ada apa?” tanya Thalia penasaran karena sikap Rendi yang aneh menurutnya.
“Kau serius tidak ada yang ingin kau katakan padaku, aku tidak akan marah padamu ?” ucap Rendi yang sepertinya ingin Thalia untuk berkata jujur dengannya.
“Nggak Ada, kenapa sih aneh deh, sudahlah jangan ganggu aku makan eskrim. Anakmu ini pengen dari tadi tapi kamu nya nggak dateng-dateng juga” kesal Thalia dan langsung memakan eskrim nya.
“Anak kamu juga bukan anakku saja” ucap rendi mengusap perut Thalia dan dia tiba-tiba menarik Thalia untuk duduk di depannya sementara dia duduk di belakang sang istri sambil mengusap perutnya.
“kenapa sih aneh banget kamu” heran Thalia melihat sekilas Rendi yang duduk di belakang tubuhnya.
“Nggak pa-pa, aku hanya penasaran saja denganmu” jawab Rendi.
“penasaran denganku, soal apa?”
__ADS_1
“Soal ketidakjujuran mu padaku” jawab Rendi.
Seketika Thalia langsung terdiam, dan melihat kebelakang. Kenapa mendengar ucapan Rendi tersebut seakan menyentil dirinya.
“kamu ini ngomong apa, kalau ngomong yang jelas” ucap Thalia pada Rendi.
“nggak, aku bercanda” ucap Rendi dan malah memeluk Thalia sekarang.
Dia akan pura-pura tidak tahu saja soal ini, dia memang kecewa dengan Thalia yang tidak jujur dengannya soal melody dan dia juga penasaran kenapa Thalia menyembunyikan Fakta ini. perlu di garis bawahi juga dia tidka marah dnegan istrinya hanya sedikit kecewa saja mengenai hal ini, dan dia juga tidak lagi mengurusi hidup Melody. Dia mantab dengan hidupnya sekarang melody masa lalunya dan Thalia masa depannya.
Pura-pura tidak tahu saat ini adalah cara lebih baik, dia juga tidak diam saja soal Thalia yang menyembunyikan semua ini. dia bisa membaca pikiran istrinya itu pasti Thalia berpikiran kalau dia masih ragu dalam mencintai Thalia tapi semua itu tidak benar. Dia memang sudah mencintai Thalia dan soal Melody sadar atau tidak dia tidak perduli lagi soal itu.
Meskipun begitu sepertinya Thalia memang belum yakin dnegan dirinya, entah apa yang membuat perempuan itu belum yakin dnegan cintanya yang sudah berubah sampai-sampai membuat keputusan seperti ini. apsti ada rencana yang akan dilakukan thalia untuk melihat keseriusan dirinya.
‘Lepasin, aku ambil tisu” tukas Thalia meminta Rendi untuk melepaskan pelukannya.
Rendi tadi yang sedikit melamun memikirkan soal tujuan Thalia dan keraguan Thalia dengannya langsung tersadar saat istrinya itu bicara.
“kamu bilang apa tadi?” tanya Rendi
“Aku bilang lepasin, aku mau ambil tisu. Mulutku belepotan ini” tukas Thalia
“mana?” ucap Rendi dan melihat bibir Thalia yang belepotan bekas eskrim.
“Nggak usah pakai tisu, aku yang bersihin” ucap rendi.
“Kamu? gimana?, kotor tangan kamu nanti. Udah minggir” ucap Thalia pada Rendi. Sekali lagi dia menyuruh suaminya itu untuk melepaskan dirinya saat ini.
“begini,” ucap Rendi dan langsung mencium bibir Thalia, dia ******* bibir sang istri. Bukan ********** saja tapi dia menghisapnya cukup dalam.
Rendi perlahan berdiri dari duduknya dengan masih mencium Thalia, Thalia sendiri membalas ciuman itu. dia juga menginginkannya karena sudah dua bulan mereka tidak ciuman begitu dalam seperti ini.
Dan bukan hanya ciuman saja tetapi dia menginginkan lebih, maklum hormon ibu hamilnya sering naik turun kadang-kadang dia ingin dan kadang tidak. Dan dia kadang-kadang merasa bersalah pada Rendi yang menginginkannya tapi harus diurungkan karena dia tidka mau dan terpaksa membuat rendi melampiaskannya di kamar mandi.
Rendi langsung menggendong Thalia, dan tentu saja dia masih mencium bibir sang istri. Saat ini dia sudah menggendong istrinya tersebut, dia melepaskannya untuk mengambil nafas terlebih dahulu. Dirinya dan thalia sama-sama terengah-engah saat ini.
“Aku mau lebih,” ucap Thalia memintanya lebih dulu.
“Aku juga,” lirih Rendi dan kembali mencium bibir manis Thalia, dia terus mencium sang istri sambil menggendongnya membawa ke kamar mereka saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1