
Kehamilan Thalia sudah menginjak bulan kelima, atau ini sudah dua bulan sejak mereka pergi ke Padang dua bulan lalu. Hubungan Thalia dan Rendi juga semakin hangat tetapi Thalia semakin gelisah karena Melody semakin menunjukkan tanda-tanda kalau perempuan itu akan sadar.
Dan karena hal itu beberapa minggu ini Thalia juga sering melamun sendiri, entah apa yang akan dia pikirkan, hal itu saja membuat Rendi bingung sendiri kenapa Thalia seperti melamun terus-terusan.
“Aku hari ini ijin pergi ya?” ucap Thalia pada Rendi yang sedang mengenakan sepatu dinas di sofa ruang tengah mereka.
Rendi sendiri langsung melihat kearah Thalia, setelah memakai sepatu miliknya tersebut dia menatap sang istrinya.
“kamu mau kemana?” tanya Rendi
“Aku mau bertemu Jane dan juga Putri” jawab Thalia.
“Suruh mereka kesini saja, kamu jangan keluar-keluar. Kamu sedang hamil besar begini, lihat perutmu besar” Rendi berdiri di sebelah Thalia saat ini. dia memegang perut istrinya tersebut. Perut Thalia memang sangat besar meskipun hamil lima bulan saat ini.
“Sebentar saja, aku tidak lama kok” rengek Thalia yang bersikeras ingin pergi.
“Sayang, aku bilang jangan ya jangan. Di rumah saja suruh mereka yang kesini” ucap rendi tetap pada pendiriannya.
“Kenapa sih? Aku dir umah terus sudah dua bulan loh. Kamu selama ini nyuruh aku di rumah terus aku patuh kan. kali ini aja..” ucap Thalia, dia merasa keberatan dengan penolakan Rendi barusan.
Dua bulan memang dia selalu di rumah saja tidak pergi kemana-mana, Rendi menyuruhnya untuk di rumah dan dia menuruti perintah suaminya tersebut. Tetapi kali ini rasanya berat untuk menurut, dia merasa dua bulan terkurung di rumah dan dia butuh tempat curhat saat ini. dirinya gelisah dan baru kali ini dia takut akan sesuatu hal.
“ya sudah kalau kamu tidak mengijinkan ku keluar, pantas kamu polisi dan sekarang kau memenjarakan aku” cibir Thalia dan dia langsung melepaskan tangan rendi yang melingkar di pinggangnya.
“Kok kamu ngomong gitu sih sayang, aku lakuin semua ini demi kebaikan kamu sama anak kita loh” ucap Rendi.
“Ya terus aku mau ngomong apa, memang kenyatankan kamu penjarain aku di apartemen. Dua bulan kamu nggak bolehin aku keluar aku nurut. Sekarang aku cuman ijin bentar kamu nggak bolehin” sinis Thalia menatap Rendi kecewa.
“Aku nggak menjarain kamu sayang, kamu selama ini keluarkan sama aku kalau aku libur”
“Iya keluar tapi sama kamu, aku nggak pernah keluar sendiri jalan sama teman. Mau ketemu teman nggak kamu bolehin.”
“Ya karena aku takut kamu kenapa-kenapa nantinya, kamu bisa ngertiin aku nggak sih. Aku khawatir sama kamu, aku takut teman-teman kamu ngajak aneh-aneh” tukas Rendi.
“terserah kamu lah, aku mau ke kamar. Kamu sudah sarapan kan” ucap Thalia langsung pergi, dia kecewa tidak di bolehkan keluar oleh Rendi saat ini.
“Thalia, tolong jangan marah” ucap Rendi dan mengejar Thalia ke kamar
Thalia sudah duduk di tepi tempat tidur, dia diam saja melihat kearah lantai. Dia benar-benar kesal dan kecewa tapi dia tidak bisa apa-apa sekarang.
“Kamu marah sama aku?” tanya rendi yang mendekat pada Thalia.
__ADS_1
Thalia hanya diam saja tanpa menatap kearah Rendi, dia benar-benar sudah tidak habis pikir dengan pria itu yang menurutnya terlalu berlebihan. Dia tidak bisa di kurung begini terus,
“Ya sudah ayo aku antar menemui temanmu, Tapi aku nanti tidak bisa menjemputmu, kamu tidak apa-apa?” ucap Rendi pada Thalia
“Hem,” thalia langsung berdiri mengabaikan Rendi yang melihatnya sambil duduk.
“Jangan cemberut gitu dong,” ucap Rendi sambil berdiri dan memegang wajah istrinya
“Tidak usah menggodaku, ayo pergi” ucap Thalia ketus, dan langsung pergi meninggalkan Rendi yang sedikit kecewa karena Thalia marah padanya.
.....................................
“Dimana teman-temanmu?” tanya Rendi saat mobilnya sudah berhenti di depan sebuah cafe.
“Itu mereka” tunjuk Thalia pada dua temannya yang berada di dalam cafe tersebut.
“Kamu pergilah, terimakasih sudah mengantarku” lanjut Thalia dan akan turun dari mobil tetapi Rendi menahannya.
“kenapa lagi?” tanya Thalia menatap rendi, dia sudah begitu kesal dnegan pria tersebut
“Ayo aku sampai ke sana, aku juga mau bicara dengan Jane serta Putri” ucap rendi dan dia langsung turun dari mobil untuk membukakan pintu untuk Thalia.
“Kamu kerja aja sana, ngapain sih pakai ngomong sama mereka. Kamu juga selama ini nggak mau kan berurusan dengan teman-temanku. Kau bilang temanku buruk semua” tukas Thalia pada Rendi.
“Ya aku ingin memberitahu mereka untuk tidak mengajakmu aneh-aneh, dan menyuruh mereka untuk mengantarmu pulang nanti” ucap rendi.
“Nggak usah, ucapan mu bakal membuat mereka sakit hati nantinya. Mereka bukan orang yang seperti yang pikirkan” ucap Thalia.
“Aku nggak bakal buat mereka sakit hati, aku masuk ya?” ucap rendi membujuk thalia.
“Aku bilang nggak usah, udah sana berangkat” pinta Thalia pada Rendi dan dia langsung berjalan masuk meninggalkan suaminya tersebut.
Rendi menghela nafasnya sambil menatap Thalia yang berjalan masuk kedalam Cafe meninggalkan dirinya disitu.
.........................................
Thalia duduk bersama dengan kedua sahabatnya di dalam cafe, dia sesekali menarik nafas sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba saja keram.
Jane dan Putri menatap temannya tersebut sedikit cemas,
“Kau tidak apa-apa?” tanya Putri pada Thalia.
__ADS_1
“Tidak,”
“Mikirin apa sih? Bilang sama kita”
“Ya memang gue kesini pengen bilang sesuatu sama kalian?”
“Nah gitu dong, dua bulan ini lo sama sekali nggak ada curhat sama kita. Ngobrol bertiga begini juga nggak pernah. Cuman sekali waktu itu di ulang tahun Lita, itu saja ada suami lo” pungkas Putri.
“Suami lo ngelarang lo buat ketemu kita ya?” tebak Jane menatap Thalia begitu juga dengan Putri.
“Iya.” Lirih Thalia.
“beneran? Gila gue kira gue cuman asal tebak aja” ucap Jane menatap Thalia tak percaya.
“Alasannya apa suami lo ngelarang kita ketemu, parah tuh orang” sahut putri yang merasa tidak terima.
“Dia pikir lo yang buat gue dulu sering minum sam hal nggak jelas lainnya”
“Gila, dia bilang begitu. Memang lo nggak bilang kalau bukan kita” ucap Putri yang masih tidak terima dia disangka seperti itu oleh suami Thalia.
“Sudah, gue sudah bilang sama dia. tapi dia mikir semua teman gue sama nggak bener. Aneh kan dia” adu Thalia.
“Udah biarin, mungkin itu cara suami lo, buat protek lo agar nggak ngulang kayak dulu. itu tandanya perduli sama lo” ucap jane lebih bijak dari putri.
“Bahas hal lain aja, nggak usah bahas suami lo. Itu urusan rumah tangga lo Lia. Kita nggak mau ikut campur, takutnya malah bikin runyam” lanjut Jane.
“Ya udahlah, itu masalah rumah tangga lo kita nggak pa-pa kok kalau suami lo nganggap kita buruk. Tapi kenyataannya kan nggak” ucap Putri.
“Lo mau curhat apa? Curhat aja” ucap Jane.
“Gue mau curhat masalah tunangan suami gue”
“cewek itu? kenapa?” ucap kedua teman Thalia bersamaan.
“Dia bentar lagi sadar, gue harus apa?” tanya Thalia pada keduanya.
“Ya nggak ngapa-pain. Rendi kan udah jadi suami lo”
“Iya dia jadi suami gue tapi kalau dia ketemu cewek itu gimana? Cewek itu gue denger sering nyebut nama Rendi” jelas Thalia pada keduanya.
“Apa?” mata Jane dan Putri terperanjat mendengar ucapan Thalia tersebut.
__ADS_1
°°°
T.B.C