
Thalia sudah siap mengenakan dress berwarna navy pakaian itu terlihat sedikit formal, rambut perempuan itu juga di gelung keatas membuat cepol. Dia tak lupa menenteng tas kecil.
Tak berselang rama Rendi juga keluar dari kamar dia mengakan jas yang memiliki warna yang serupa dnegan milik Thalia. Mereka berdua terlihat begitu serasi dengan baju pasangan seperti ini.
Rendi Sedikit membenarkan jasnya dan melihat kearah Thalia yang berdiri di depannya.
“Sudah siapa? Ayo berangkat” ucap Rendi pada Thalia, mereka berdua hari ini akan ke pernikahan Rey. Mereka di undang jadi tidak mungkin kalau tidak datang,
“Ayo,” Thalia langsung mengaitkan tangannya di lengan Rendi.
“Kamu cantik” puji Rendi sambil tersenyum melihat istrinya.
“Aku kan memang cantik, baru nyadar kamu.” Ucap Thalia dnegan percaya dirinya.
“Iya aku abru sadar kalau kamu sangat cantik dan aku sekarang tidak ingin kecantikan istriku di lihat orang lain.” Jawab Rendi dan dia mengecup leher Thalia bukan mengecup saja tapi dia menggigit leher itu dan sedikit menghisapnya.
“Argh,.” Thalia mendesah dengan perbuatan Rendi,
“Augh, sakit. Kamu vampire, main gigit aja” keluh Thalia saat dia kesakitan karena apa yang dilakukan Rendi dia menatap kesal suaminya.
“Aku baru saja memberi bekas di lehermu, agar kamu malu saat dilihat orang. Maka turunkan rambutmu jangan di kucir begitu” ucap Rendi melepaskan kunciran Thalia agar rambut sepanjang bahu itu terurai.
“Apaan sih nggak jelas deh kamu,” tukas Thalia
“Sudah turuti saja,.” Rendi sedikit mengabaikan omelan Thalia, dia malah merapikan rambut sang istri agar terurai dnegan rapi.
Thalia hanya cemberut melihat Rendi yang menurutnya terlalu tidak jelas,
“Kita di sana tidak usah lama-lama ya, habis bertemu dnegan Rey kita pulang” ucap Thalia sambil memperhatikan Rendi.
“kenapa hanya sebentar? Kamu tidak ikhlas mantanmu yang sangat kamu cintai menikah dengan orang lain”
“Kamu ngomong apa sih, ya nggak lah. Ngapain aku nggak ikhlas aku kan sudah ada suami yang tampan yang so sweet. Aww, pokoknya kamu lengkap” pungkas Thalia, dan memeluk Rendi sambil mencium bibir sang suami dengan gemas.
“Aku tidak mau lama di sana karena ada kak David, malas aku bertemu dengan orang itu” lanjut Thalia sesudah melepaskan ciumannya.
“Kenapa malas bertemu dnegan kakakmu sendiri” heran Rendi.
“Tahu lah, nggak usah di bahas. Ayo berangkat, penampilanku sudah tidak ada masalah lagi kan buatmu” ucap Thalia sebelum menarik tangan sang suami.
“Sudah, tidak ada. Aku suka kalau kamu tampil tidak terllau seksi” pungkas Rendi perlahan menggenggam jemari Thalia.
__ADS_1
“kita berangkat,” ucapnya lagi sambil melihat sang istri, perempuan itu mengangguk. Mereka berdua langsung berjalan pergi mengarah keluar apartemen.
..........................
Rendi sudah turun dari mobilnya yang berhenti tepat di depan gedung pernikahan. Dia beralih mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi sang istri.
Dia langsung membuka pintu tersebut, Thalia langsung keluar dari dalam mobil sambil memberikan senyum manis untuk Rendi. Tapi senyumnya langsung pudar dan menatap serius pada pria di sebelahnya tersebut.
“Ayo, jalan kita masuk kedalam” ucap Rendi yang suah menggandeng tangan Thalia.
“tunggu, aku mau tanya sama kamu” ucap Thalia tetap berdiri di tempatnya saat rendi akan mengajaknya untuk berjalan.
Rendi yang akan berjalan langsung berhenti dan melihat Thalia tak mengerti, apa yang ingin ditanyakan perempuan tersebut padanya.
“kamu mau tanya apa? Tidak bisa nanti saat kita di dalam. Lita dan juga Fahri sudah menunggu kita di dalam” jawab Rendi melihat Thalia penasaran.
“kamu juga berlaku manis seperti ini dengan Melody? Kamu sering membukakan pintu untuknya juga?” tanya Thalia, entah mengapa dia ingin tahu sekali soal hal itu.
Rendi menjadi diam, dia mengamati wajah Thalia yang terlihat begitu menantikan jawabannya.
“kenapa kamu bertanya seperti itu, itu masa lalu. Tidak perlu kamu tanyakan” ucap Rendi.
“Jadi kamu pernah, melakukan hal manis begini dengannnya”
“Namanya kita dulu pernah pacaran. Jelas aku pernah melakukan hal seperi itu. kamu tidak usah khawatir itu masa lalu ku. Sekarang aku dengan mu kan, kamu masa depanku” ucap Rendi mengeratkan genggamannya pada Thalia.
“Sudah ayo masuk, yang lain sudah menunggu kita” ucap Rendi pada Thalia.
“Hemm,.” Thalia hanya berdehem saja, mendengar itu membuatnya tidak rela dan kecewa kalau Rendi pernah melakukan hal manis juga pada Melody. Hatinya menjadi gelisah berarti dulu Melody sangat berharga untuk Rendi.
Rendi yang berjalan di sebelah Thalia sambil menggenggam tangannya, merasa penasaran dengan pikiran Thalia sekarang. Sebenarnya apa yang di pikirkan istrinya. Masa dia cemburu soal hal itu padahal itu masa lalunya dan sedari beberapa hari lalu dia juga terang-terangan mengatakan mencintai Thalia masa tidka percaya juga dengan ucapannya.
Rendi mencoba mengabaikan hal itu, dia dan juga thalia melangkah masuk kedalam gedung pernikahan Rey dan juga istri pria itu.
...........................
“Wah pengantin baru, sudah datang” seru Fahri yang duduk di meja bundar yang besar. Disitu bukan hanya ada Fahri tetapi juga ada David dan juga Naya yang hamil besar, begitu juga Lita yang tengah hamil anak keduanya.
“maaf kita telat ,” tukas Rendi sembari menarikkan kursi Thalia yang duduk di sebelah Naya.
Thalia sendiri hanya diam, dia malas bergabung dnegan keluarganya. Tahu sendiri hubungan dirinya dnegan kakaknya David tidak baik mereka selalu saja berdebat dan David tahu sendiri sering marah dengannya.
__ADS_1
“Tidak apa, kita maklum dnegan pengantin baru iya kan kak” pungkas Fahri dia sambil melihat kearah David yang duduk di sebelah Naya dan juga Lita.
“hemm,” jawab David sembari melihat sekilas kearah Thalia yang mengabaikan dirinya.
Rendi sendiri duduk di sebelah Fahri,
“Kamu tidak ingin bicara dnegan mereka, setidaknya sapa kakak-kakakmu” bisik rendi di telinga Thalia.
Thalia langsung melihat kearah Rendi tidak sepakat dnegan ucapan suaminya tersebut,
“malas,.” Ucap Thalia kearah Rendi.
“Kamu kenapa Thalia, sedari tadi diam saja tidak menyapa diriku atau kak David dan juga mbak Naya” ucap Lita membuka suaranya melihat sekilas kearah sang adik.
“Kan aku sering menyapamu, di telpon” tukas Thalia pada Lita.
“Ya itu di telpon, disini kamu tidak ingin basa basi dnegan kita semua” lirih Lita.
“Tidak, aku sedang tidka mood. Sudah tidak usah bicara denganku lagi. Aku hari ini ingin diam saja” ucapan nyeleneh Thalia membuat Rendi langsung menggenggam tangan istrinya sedikit menekan tangan sang istri agar lebih sopan lagi.
“Apa sih sakit, ayo kita pergi. Sapa Rey terus kita pulang. Kamu juga tidak nyaman kan di sini,” ucap Thalia mengajak Rendi pergi.
‘Haduh, anak ini masih saja sama. Ya sabar ngadepin dia ya bro.” Ucap Fahri menepuk bahu Rendi.
“kenapa suami gue ahrus sabar sama gue, dasar kakak ipar nggak jelas lu”
“Ayo pergi, keburu si es batu super marah.” Ajak Thalia, dia memaksa Rendi untuk berdiri.
David sedari hanay diam saja karena tangannya terus di genggam Naya agar tidak emosi, sebenarnya dia sedikit emosi dnegan ulah Thalia yang masih ke kanak-kanakan. Makanya untuk menghindari emosinya dia memilih diam meskipun sudah muak dnegan adiknya tersebut
“Sapa dulu kakakmu” pinta Rendi agar Thalia menyapa David.
“Ayolah kita pergi, sudah malas aku disni” ucap Thalia begitu memaksa, bahkan dia sudah berdiri sambil menarik-narik Rendi bak anak kecil
“Sudah sana kau pergi bawa istrimu yang kekanakan itu, membuatku emosi saja dia disini” pungkas David membuka suara untuk pertama kalinya.
Thalia diam saja dikatakan begitu, dia malah membuang muka malas menanggapi sang kakak. Dia memang masih emosi dnegan kakaknya. dia terus ingat tamparan-tamparan yang diberikan David padanya.
Rendi merasa bingung sendiri, dia melihat Thalia sekilas yang membuang muka. Padahal ini kesempatan dia untuk memperbaiki hubungan Thalia dan David tapi Thalia malah tetap keras kepal dan david juga begitu.
“Kalau begitu kita pergi dulu semua,” pamit Rendi, dia langsung menggandeng tangan Thalia setelah berpamitan pada semuanya.
__ADS_1
°°°
T.B.C