Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 135 (Season 2)


__ADS_3

Rendi bangun dari tidurnya, dia melihat istrinya yang berada di dekapannya saat ini masih tertidur pulas. Mereka berdua tidur di ranjang rumah sakit yang kecil itu, Rendi terpaksa tidur di situ karena Thalia tak bisa tidur perempuan itu terus menangis dan memaksa ingin bertemu anak mereka yang berada di inkubator.


Hari sudah pagi dan pintu ruang rawat Thalia terbuka dari luar ada orang yang masuk. Itu Fahri dan juga Lita yang baru saja datang mereka langsung diam saat melihat Rendi yang melihat kearah pintu dan Thalia yang masih tidur memeluk suaminya.


“Thalia masih tidur?” tanya Lita lirih sambil berjalan pelan mendekati sepasang suami istri yang masih berada di ranjang rumah sakit.


“Iya” jawab Rendi lirih dan melepaskan pelukan Thalia padanya, dia berniat turun dari ranjang saat ini.


“Kamu pulang kapan Ren?” tanya Fahri yang baru saja menutup pintu dan ikut mendekat bersama istrinya.


“Kemarin, kalian duduklah” jawab Rendi dan mempersilahkan tamunya itu untuk duduk di sofa yang berada diruang perawatan Thalia. Dia sendiri sudah turun dari ranjang dan berjalan kearah sofa juga.


“Mama mu kenapa sih kenapa dia tidak ada rasa kemanusiaannya sama sekali,”gerutu Lita sambil melihat kearah Thalia yang masih tampak pucat dan matanya yang sembab meskipun perempuan itu memejamkan matanya tapi Lita bisa melihatnya.


Rendi hanya diam saja mendengar hal itu, dia hanya sesekali memperhatikan Thalia yang tidur.


“Aku semalam dapat kabar dari kak David, makanya kita pagi ini langsung kesini. Mama sama Papa juga katanya hari ini mereka pulang dari Inggris, karena baru dapat tiket” ucap Fahri, Mama Papa yang ia maksud adalah mertuanya alias orang tua istrinya dan juga Thalia yang memang sedang berada di Inggris untuk melakukan pekerjaan mereka di sana.


“Iya semalam Papa juga sudah nelpon, belum bisa pulang kemarin” balas Rendi.


“Kita turut berduka cita ya ren atas meninggalnya satu anakmu,” pungkas Fahri dan juga Lita mengutarakan kesedihan mereka.


“Iya”


“aku benar-benar nggak nyangka bakal begini, coba aku kemarin di rumah Thalia pasti ini nggak bakal begini” sesal Lita yang tidak bisa ke rumah adiknya karena dia berada di Bandung.


‘Sudah tidak apa-apa, mungkin ini memang takdirnya” tukas Rendi.


“Oh iya Lita, nanti aku titip Thalia sebentar. Aku harus ke kantor polisi dulu” tambah Rendi berpesan pada Lita untuk menjaga istrinya sebentar. Karena dia harus laporan kalau dia pulang sebelum waktu tugasnya berakhir, dan juga selain itu dia akan melihat Mamanya yang sudah di tangkap polisi semalam.


“Iya kamu tenang saja, aku bakal disini menjaga adikku. Nanti Mbak Naya juga mau kesini, kamu tidak usah mengkhawatirkan Thalia” ucap Lita.


“terimakasih”


“Fahri aku minta tolong juga padamu?”


“Minta tolong apa Ren?”


“Tolong jangan beritahu Mama dan Papamu soal Thalia yang masuk rumah sakit”

__ADS_1


“kenapa?” terlihat lipatan-lipatan kecil di dahi Fahri menatap bingung Rendi yang meminta dirinya untuk tidak memberitahu pada orang tuanya soal Thalia.


“Ya aku tidak enak sama Mama, dia pasti khawatir soal Thalia.”


“Maaf Ren tapi aku sudah memberitahu mereka tadi, mungkin nanti mereka juga kesini”


“Ya sudah kalau memang terlanjur”


“anakmu yang satunya dimana Ren? aku boleh melihatnya?” tanya Lita pada adik iparnya tersebut.


“Dia di inkubator sekarang”


“Laki-laki atau perempuan?” sahut Fahri.


“Perempuan”


“Yang satunya?”


“laki-laki” lirih Rendi saat menjawab laki-laki, anaknya yang tiada sebelum di lahir kan adalah laki-laki. Sedikit rasa sedih dihatinya karena calon Rendi junior sudah tiada.


“Yang sabar ya ren” ucap Fahri sambil memegang pundak sahabatnya menguatkan ayah muda itu.


......................................................


Revan saat ini sedang duduk di pos jaga para tentara yang ada di kodim tempat ayahnya berdinas. Dia memang kenal beberapa tentara disitu karena anak buah Papanya dan ternyata ada yang saudaranya juga dari pihak bundanya.


Salah satunya Kahfi yang merupakan keponakan bundanya, dia sudah dekat dengan pemuda itu saat ini mereka berdua mengobrol di pos sambil sesekali memakan cemilan yang ada di meja kecil disitu.


Di pos bukan hanya ada mereka berdua tetapi ada dua orang tentara lain yang duduk tidak jauh dari mereka.


Revan sendiri ada di pos itu untuk menunggu ayahnya yang katanya sebentar lagi akan menemui dia tapi tak kunjung datang juga.


“Bang Kahfi, ayah masih ada tamu atau gimana? Kok saya dari tadi nunggu belum dateng juga ya?” tanya Revan pada Kahfi.


“Nggak ayah kamu nggak ada tamu kok mungkin masih nyuruh ajudannya buat nyiram tanaman tunggu aja bentar” jawab Kahfi pemuda yang usianya dua tahun lebih dewasa dari Revan.


Revan hanya mengangguk-angguk saja sambil memakan donat yang baru saja dia ambil dari piring didepannya.


Bertepatan dengan itu ponselnya berbunyi membuatnya langsung mengambil benda pipih tersebut dari atas meja, dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya nama Melody yang tertulis di layar tersebut.

__ADS_1


“kenapa lagi ini orang” gumamnya setengah kesal melihat nama itu saja.


Revan memutuskan untuk tidak mengangkatnya, dia tidak ingin berurusan lagi dengan masa lalu yang membuatnya pusing.


“Siapa? Kenapa jadi bete begitu mukamu?” tanya Kahfi kepo dengan eskpresi yang ditunjukkan pria disebelahnya.


“Nggak bang,”


“Revan..” panggilan bersuara tegas mengalihkan pandangan revan dan juga tiga tentara yang bersama dengannya.


Ketiga tentara itu langsung berdiri dari duduknya dan memberi hormat pada ayah revan yang baru saja datang.


“kenapa Pa?” jawab Revan sambil berdiri untuk menghampiri sang ayah yang berada di luar pos.


“Itu kamu ke Jakarta sekarang Mama kamu ditahan polisi” tukas ayah dari revan.


“Mama ditahan polisi? Papa tahu darimana?”


“Dari teman Papa dulu yang jadi polis”


“Males untuk apa ke Jakarta, itu bukan urusanku Pa” tolak Revan yang malas untuk menemui Mamanya yang katanya ditangkap polisi.


“Papa nyuruh kamu ke Jakarta bukan nyuruh kamu buat ketemu Mama kamu tapi buat nasehatin Rendi yang sudah menjebloskan Mama kamu ke penjara. Bagaimana pun itu Mama kalian”


“Apa? Rendi yang menjebloskan Mama ke penjara? Kenapa?” Revan tampak terkejut mendengar hal itu. Rendi yang menjebloskan Mama mereka, apa yang sudah dilakukan Mamanya sampai rendi menjebloskan perempuan itu. setahunya Rendi se benci apapun pada Mamanya tapi dia tidak mau berurusan dan terkesan cuek.


“Papa nggak tahu masalahnya apa, Papa coba hubungi Rendi tapi ponselnya nggak aktif. Tapi kata teman Papa tadi mama kamu kena pasal percobaan pembunuhan” jelas Papa Revan.


“Apa? bagaimana bisa? Astaga itu emak-emak kenapa cari masalah. Meskipun begitu aku malas pa ke Jakarta. Biarkan saja dia mendekam di penjara dan itu urusan Rendi Pa”


“revan jangan begitu, bagaimanapun itu Mama kalian”


“Pa, memang itu mama kami tapi dia tidak mencerminkan layaknya seorang Mama. Kalau Papa cuman mau ngomong itu aku pergi Pa, aku juga tidak ada waktu buat ke Jakarta. Aku besok harus pergi ke Kalimantan lagi melihat bisnis ku di sana. Aku permisi Pa. Mari bang-abang” pamit revan langsung pergi dari hadapan papanya dan juga tiga tentara yang lain.


Papa hanya bisa menghela panjang saja , dia memang tidak bisa memaksa begitu saja anak-anaknya sudah besar dan tahu soal bagaimana sifat mantan istrinya itu yang tidak layak disebut sebagai seorang ibu bagi mereka.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2