
Pagi-pagi Thalia sudah menggendong anaknya saat ini, dia sedari semalam hanay tidur ayam karena sang anak terus rewel. Entah mengapa Relia rewel padahal tidak biasanya anaknya itu tengah malam menangis, Rendi saat ini tengah tidur karena semalaman juga menemani dirinya menenangkan Relia.
Bayi itu sendiri saat ini sudah tidur juga tapi saat di letakkan dia kasur kembali menangis membuat Thalia bingung sendiri harus apa. jadi dia memilih untuk terus berdiri sambil menggendong sang anak agar bisa diam.
“kenapa kamu rewel begini sih Relia, mama kan pengen tidur nak” ucap Thalia lirih taku mengganggu sang anak yang sudah tidur itu.
Dia melihat kearah tempat tidur dimana suaminya yang tidur membelakangi dirinya saat ini,
“Oh iya Rendi berangkat kerja nggak ya?” ucap Thalia yang menyadari soal Rendi yang masih tidur dan belum bangun. Kira-kira suaminya itu berangkat bekerja atau tidak.
Segera saja Thalia berjalan kearah box bayi relia, dia akan menidurkan anaknya dengan perlahan disitu.
“Semoga aja kamu nggak bangun nak,” lirih Thalia penuh harap perlahan menaruh anaknya di box bayi.
Dirasa Relia tidak akan bangun Thalia langsung berjalan ke kasur membangunkan sang suami yang masih tidur.
“Sayang, bangun kamu kerja nggak” panggil Thalia sambil menarik tangan suaminya.
“Apa sih sayang, aku masih ngantuk” ucap Rendi.
“kamu kerja nggak sih, buruan bangun kalau kerja. Pakai baju yang mana aku siapin” tukas Thalia meminta Rendi untuk segera bangun.
“kerja” jawab rendi perlahan membuka matanya.
“Kalau kerja buruan bangun,”
Rendi langsung mendudukkan dirinya dengan mata yang sesekali masih memejam menahan rasa kantuk.
“Aku pakai kaos yang warna biru” jawab rendi sambil sesekali menguap.
“Oh iya Relia udah tidur?” tanya Rendi saat melihat istrinya tak menggendong sang anak.
“Udah, barusan aku tidurkan di boxnya” jawab Thalia sambil berjalan kearah lemari untuk mengambilkan baju yang sesuai apa yang dikatakan tadi.
“Kok pakai kaos nggak pakai baju dinas?” lanjut Thalia.
“Iya, nanti aku ada tugas keluar”
“Oh” Thalia segera mengambilkan baju Rendi tersebut dari dalam lemari.
“Nanti aku boleh ijin keluar nggak?” tanya Thalia sambil melihat kearah suaminya yang masih duduk di tempat tidur sambil melihat ponselnya.
“keluar kemana? Nggak usah” Rendi yang tadinya fokus melihat kearah ponselnya langsung melihat kearah Thalia saat ini.
__ADS_1
“Aku cuman mau ke rumah Putri aja, aku juga ajak relia kok. Boleh ya?” ucap Thalia yang begitu ingin keluar.
“Sayang, aku bilang nggak ya nggak. Udah di rumah aja, ngapain main ke rumah teman kamu”
“Nyebelin banget sih keluar bentar aja nggak boleh” sungut Thalia yang kesal menghentakkan kakinya dan langsung pergi.
“Bukannya aku nggak ngebolehin kamu pergi, tahu sendiri semalem kamu nggak tidur kan. relia rewel kan semalem, udah istirahat aja di rumah nggak usah kemana-mana” ucap Rendi sambil turun dari tempat tidur, dia berjalan mendekati sang istri yang terlihat diam tak menjawabnya. Dia tahu istrinya pasti kesal karena dia melarangnya untuk pergi.
“Marah sama aku” tanya rendi saat dia sudah ada didepan Thalia.
“Nggak” jawab Thalia singkat dan akan berlalu pergi.
Rendi segera menahan tangan sang istri agar tidak berjalan pergi dari hadapannya
“Nggak usah marah, besok kita kan mau jalan-jalan ke Padang. Kalau pengen keluar besok aja kita habis-habiskan waktu bertiga di Padang” ucap rendi sambil melihat istrinya yang langsung melihat kearahnya.
“Ke Padang ngapain?”
“Revan kan mau menikah”
“Oh iya aku lupa, tapi kamu nggak bohong kan kalau kita mau jalan-jalan di sana. Aku bosen tahu di rumah terus. Kamu ngelarang aku kemana-mana. ibu melahirkan tuh butuh refreshing nggak di rumah aja” gerutu Thalia didepan suaminya.
“Iya sayangku Mamanya Relia, udah nggak usah cemberut sama marah nggak baik marah sama suami” ucap Rendi sambil memegang wajah Thalia.
“Udah, aku mandi dulu. kamu kalau mau tidur, tidur aja nggak usah temenin aku sarapan” ucap rendi mengecup kening istrinya lebih dulu baru dia berjalan kearah kamar mandi.
“Ya,” jawab Thalia sambil melihat kearah Rendi yang sudah berjalan ke kamar mandi,dia sendiri langsung berjalan ke tempat tidur. Tah sendiri matanya begitu mengantuk saat ini.
........................................
Rendi baru saja selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya tengah tidur saat ini membuat dia hanya bisa tersenyum melihatnya. Thalia pasti mengantuk karena menidurkan Relia yang susah untuk tidur.
Saat rendi akan berjalan mengambil bajunya di ranjang ponsel Thalia yang berada di meja berbunyi membuat Rendi segera mengambilnya takut kalau relia terbangun.
“Rey,” gumam Rendi saat melihat nama siapa yang tertera di layar ponsel istrinya.
“Halo,” ucap rendi saat mengangkat panggilan itu.
“Oh kau ren yang mengangkatnya, Thalia diaman?” tanya Rendi.
“dia masih tidur, kenapa kau menelpon istriku?” tukas Rendi.
“Aku cuman ingin bilang, aku kiri kado buat anak kalian. Aku dan istriku belum bisa melihat anakmu, jadi kadonya duluan” ucap Rey di seberang sana.
__ADS_1
“terima kasih kadonya”
“Sama-sama”
“sudahkan? Tidak ada yang ingin kamu katakan lagi pada istriku?”
“sebentar Ren, aku cuman ingin tanya Lita bagaimana ya kondisinya?” tanya Rey yang tiba-tiba menanyakan soal Lita kakak dari Thalia.
“kenapa kau menanyakan soal Lita, aku tidak tahu. kau tanya sendiri saja dengannya”
“Aku tidak bisa menelponnya, nomornya tiba-tiba saja tidak bisa aku hubungi” jawab Rey yang terlihat cemas.
“Kalau dia tidak bisa kau hubungi telpon saja suaminya, kenapa kau malah menelpon istri orang” cibir Rendi yang tak suka dengan rey.
“Aku juga tidak bisa menghubungi Fahri entah mengapa aku dan istriku tak bisa menghubungi mereka” jelas Rey.
Rendi diam sejenak, dia mengingat beberapa hari lalu dia habis menghubungi fahri dan bisa kenapa rey tidak bisa menghubungi Fahri ataupun Lita.
“Mungkin mereka sibuk, coba lagi beberapa hari atau apa”
“Ya sudah kalau begitu” ucap Rey.
“Bentar, aku tanya padamu kenapa kau masih menanyakan soal Lita. Lita sudah memilik suami dan kau pun juga sudah menikah. Aku dengar istrimu sedang hamil lalu kenapa kau menanyakan Lita?” cercar Rendi.
Rey hanya bisa diam, tak ada jawaban dari seberang sana.
“Itu urusanmu sih, tapi aku hanya memperingatkan saja. Lupakan istri orang dan rawatlah istrimu sendiri. kalau misalkan ada apa-apa dengan rumah tangga Fahri dan Lita pasti kau sendiri yang akan menyesalkan. Sudah dua tahun lebih berlalu kau masih belum melupakan Lita”
“Aku tidak ada hubungan dengan Lita, aku hanya mencemaskan dia saja layaknya seorang kakak ke adiknya”
“Ya terserah dirimu, sudah dulu aku harus berangkat kerja”
“Ya sudah, aku matikan. Salam buat Thalia”
“Ya” jawab rendi singkat dan panggilan langsung terputus.
“Orang ini memang aneh, sudah punya istri menanyakan istri orang” pungkas Rendi sambil melihat ponsel sang istri yang masih dia genggam.
Ia lalu melihat sekilas ke tempat tidur dimana istrinya yang masih tidur, perlahan dia meletakkan kembali ponsel itu ke tempatnya.
°°°
T.B.C
__ADS_1