
Rendi masuk kedalam kantor polisi saat ini saat berjalan dia berpapasan dengan Jovan yang entah ingin kemana bahkan pria itu tak melihat kearah Rendi. Saat Rendi memanggilnya barulah Jouvan menoleh menatap rekan kerjanya tersebut.
“Mau kemana?” tanya Rendi pada rekannya itu.
“Keluar sebentar” jawab Jouvan terdengar sedikit ketus membuat Rendi sedikit terkejut tetapi dia tak begitu nampak memperlihatkan keterkejutannya.
Rendi hanya menatap kepergian Jouvan yang terkesan buru-buru, entah mau kemana pria itu sampai buru-buru seperti itu bahkan tak menegor sama sekali.
“Loh Ren, sudah berangkat aja. Bukannya kau cuti seminggu?” tanya Hardi yang terkejut melihat Rendi ada di kantor.
“Iya mau ketemu komandan, kau tahu soal penugasan ku ke Amerika?” tanya Rendi pada Hardi yang datang-datang sambil menepuk bahunya itu.
“Kau ditugaskan ke Amerika? Serius? Aku nggak tahu soal itu” Hardi tampak kaget mendengar apa yang dikatakan Rendi barusan. Bagaimana bisa dia tak tahu saat Rekannya akan di tugaskan ke Amerika.
Rendi mengerutkan dahinya, menatap aneh pada Hardi. Bagaimana bisa Hardi tidak tahu kalau dia akan di perbantukan di Amerika, tidak seperti biasanya rekan-rekannya tak tahu kalau akan ada yang ditugaskan ke sana, pikir Rendi heran.
“Kau serius tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu?” tanya Rendi memastikan bahwa Hardi tak tahu mengenai hal ini.
“Aku serius tidak tahu” jawab Hardi jujur.
“Andre juga tidak tahu?” pungkas Rendi penasaran.
“Aku rasa” tukas Hardi.
“Ya sudah, aku menemui komandan dulu”
“Oke, oh sebentar Ren” ucap Hardi saat Rendi akan pergi otomatis itu membuat langkah Rendi terhenti dan kembali melihat kearah rekannya tersebut.
“Ada apa?” Rendi menatap Hardi.
“kantor kita ketambahan tim”
“Tim? Tim apa?”
“Tim untuk menanggulangi *******,”
“Oh, memang itu kan sudah direncakan. Dan tempat mereka di ruangan belakang”
“Sudah tahu? aku kira belum tahu” ucap Hardi.
“Ya sudah sana pergi” lanjut Hardi pada Rendi.
“Aku pergi dulu” pamit Rendi yang langsung berjalan pergi meninggalkan Hardi, yang juga langsung pergi ke mejanya saat ini.
..........................................................
Chaca baru keluar dari kamar saat ini dengan pakaian tentara yang begitu rapi sambil menenteng sepatunya menuju keluar rumah. Dan saat dia sudah berada di luar ia melihat kearah Revan yang duduk di kursi yang terdapat didepan rumah mereka saat ini.
__ADS_1
“Bang Revan sarapannya sudah aku siapkan di meja, aku berangkat dinas dulu” ucap Chaca sambil duduk di lantai untuk memakai sepatunya.
“Kau sudah mulai kerja hari ini?” tanya Revan sambil melihat Chaca yang duduk di lantai.
“Iya bang,”
“cepat banget” heran Revan.
“Aku tidak mengambil cuti bang, jadi hari ini aku harus berangkat dinas” jawab Chaca sambil sesekali melihat Revan menatap pria itu sedikit aneh.
“Besok ambil cuti seminggu” pinta Revan pada perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.
Chaca yang tak begitu fokus karena dia mengenakan sepatu menatap kearah Revan saat ini.
“Iya bang gimana?” tanya Chaca berharap Revan mau mengulangi ucapan yang sempat tak dia dengar.
“Aku bilang besok ambil cuti seminggu” pungkas revan mengulangi lagi ucapannya.
“Tapi kenapa aku harus mengambil cuti bang?” heran Chaca tak mengerti kenapa Revan menyuruhnya. Padahal dia memang sengaja tak mengambil cuti agar tidak terlalu dekat dengan Revan karena sepertinya pria itu masih tidak ingin begitu dekat dengannya.
“Tidak usah banyak tanya tinggal turuti saja apa yang aku suruh” tegas Revan.
“Tapi bang, kalau aku harus mengambil cuti itu ada alasannya. Dan aku tidak ada alasan untuk cuti”
“Bilang saja ingin kemana, kau bukan bocah yang harus di ajari kan.” tukas Revan.
“Oh iya, perhiasan yang aku belikan itu bukan untuk di museum kan tapi untuk di pakai” lanjut Revan sebelum benar-benar pergi meninggalkan Chaca yang keheranan dengan sikap Revan di pagi hari ini.
.............................................
Thalia berjalan ke ruang tamu sambil membawa dua minuman kaleng dan menaruhnya dengan kasar didepan Rey saat ini. benar Rey datang bertamu seorang diri ke rumah Thalia, dia menatap heran perempuan itu yang terlihat kesal padanya.
“diminum” tukas Thalia sambil duduk di sofa.
“ya terimakasih, kau ada masalah?” tanya Rey penasaran karena dia seakan menjadi pelampiasan.
“Ya aku ada masalah denganmu” pungkas Thalia sesekali menatap mantan pacarnya tersebut.
“Denganku? Apa salahku. Aku tidak pernah bertemu denganmu, lalu kapan aku membuat salah denganmu” heran Rey tak habis pikir pada Thalia.
“Istrimu mana? kenapa tidak kau ajak kemari” pungkas Thalia.
“Dia sedang hamil, mual-mual jadi tidak aku ajak kesini” tutur Rey.
“Kau belum menjawab ku aku ada salah apa denganmu?” lanjut Rey yang masih tak mengerti kenapa Thalia ada masalah dengannya.
“Bukan denganku, tapi dengan Fahri” ucap Thalia sambil menyesap minuman kaleng yang ada di tangannya.
__ADS_1
“Fahri?” Rey semakin tak mengerti dengan ucapan Thalia.
“Nggak usah pura-pura bego, gara-gara dirimu Lita dalam masalah mengerti”
“Lita,? Lita kenapa? Fahri melakukan kesalahan lagi pada Lita”
Thalia menatap sinis pria didepannya itu.
“Bukan urusanku sih kalau kau masih mencintai Lita atau apa? tapi jaga perasaan istrimu. Dan juga pikirkan soal rumah tangga Lita, bukannya kau dulu tidak ingin membuat Lita menderita makanya kau menikah kan. lalu kenapa setelah menikah kau malah mulai mengacau lagi” tukas Thalia menatap Rey.
“Aku sudah tidak mencintai Lita, jangan mengarah Thalia”
“kalau kau sudah tidak mencintai Lita lalu kenapa kau menelpon Lita, jelas-jelas dia sudah punya suami”
“Ya.ya aku menelpon karena ingin tahu soal kehamilan. Karena istriku sedang hamil” jawab Rey sedikit terbata.
“Bohong, kau pikir aku bodoh. Istrimu seorang dokter kandungan. jelas dia tahu” ucap Thalia sambil tersenyum sinis.
“aku harap sih kau tidak lagi menelpon Lita, kalau kau masih melakukannya kemungkinan hidup Lita tidak bahagia. Kau tahu sendiri suaminya bodoh dan pencemburu berat. Kau pasti tahu kalau apa yang kau lakukan akan membuat penderitaan pada Lita” ucap Thalia menceramahi Rey untuk membuka pikiran pria tersebut.
“Ya aku tahu aku salah,” lirih Rey yang menyadari apa yang dia lakukan telah salah menghubungi istri orang.
“Aku harap itu bukan hanya ucapan dari mulutmu”
“Aku janji tidak akan mengganggu Lita lagi,”
“Semoga saja kau menepati janjimu”
“Diminum, kau tidak menghargai tuan rumah” pungkas Thalia lagi mencairkan suasana.
“Iya,”
“anakmu dimana? Kado yang aku berikan sudah di buka” ucap rey.
“Belum, anakku masih bayi belum bisa memainkan boneka yang kau kirim. Tapi terimakasih atas kado mu” pungkas Thalia mengucapkan terimakasihnya pada sang manta yang sudah mengirimi kado untuk anaknya.
“Kabar istrimu bagaimana?” tanya Thalia.
“Baik, tapi ya itu karena hamil jadi kondisinya lemas”
“Oh”
Rey langsung meminum minuman didepannya sambil mengamati rumah Thalia yang besar itu.
°°°
T.B.C
__ADS_1