Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 58 (Season 2)


__ADS_3

Rendra sudah sampai di rumah orang tua Melody, dia keluar dari mobilnya buru-buru karena ingin segera bertemu dengan sang istri dan meminta maaf soal tadi yang telah lakukan pada Thalia meninggalkan perempuan itu.


Rendi membunyikan bel rumah, menunggu seseorang yang membukakan pintu untuknya sekarang. Tak lama kemudian pintu pun terbuka, seorang asisten rumah tangga yang membuka pintu untuknya.


“Den Rendi,” ucapnya sambil sedikit menyisihkan diri agar tuan muda suami dari majikannya bisa masuk.


“Silahkan masuk den,” ucap perempuan paruh baya tersebut.


“Thalia ada disini?” tanya Rendi pada sang art.


“Ada den, dia di kamarnya sekarang” jawab perempuan tersebut.


Rendi langsung masuk kedalam rumah besar itu, dia langsung melangkah dengan lebar agar segera sampai di kamar Thalia. Rumah ini terlihat sepi tidak seperti biasanya, kira-kira kemana mertuanya dan yang lainnya pergi batin Rendi.


“Kalau mereka pergi syukur, mereka tidak tahu kalau Thalia sedang marah padaku” ucap Rendi lirih merasa lega. Jika memang mertuanya dan kakak iparnya tidak ada di rumah. Karena dia takut nanti Thalia malah yang disalahkan soal hal ini.


Rendi langsung menaiki tangga menuju kamar Thalia yang berada di atas,


“Semoga saja kamu mau bicara denganku” harap Rendi, karena dari tabiat Thalia ketika marah pasti perempuan itu tidak mau bicara sama sekali.


..................


Tok,


Tok,


Terdengar ketukan dari dalam kamar membuat Thalia yang tadi merebahkan dirinya sambil menutupi wajahnya dengan bantal langsung melihat kearah pintu.


“Siapa itu? apa mama? Tapi kan mama sama Papa nggak di rumah” herannya


“Kalau sih David atau mbak Naya nggak mungkin. Mereka kan nggak disini juga” ucapnya bingung dengan siapa yang tengah mengetuk pintu kamarnya saat ini.


Lagi suara ketukan itu berbunyi lagi mengetuk pintu kamarnya.


“Siapa sih, nggak ada suara main ketuk-ketuk aja” kesalnya dan mulai turun dari tempat tidur untuk membukakan pintu itu.


“Nyebelin banget sih ini orang, siapa sih main ketuk-ketuk kamar orang” gerutu Thalia sambil berjalan dan dia sudah memegang gagang pintu tersebut.


“Siapa sih,.” Kesal Thalia sambil membuka pintu kamarnya dan dia tampak terkejut saat melihat Rendi yang ada didepannya menatap kearahnya dnegan wajah datar yang menyebalkan.


Thalia langsung menutup pintu kamarnya tersebut tetapi ditahan oleh Rendi, dia menahan dnegan tangannya dan sedikit mendorong.


“Thalia, aku ingin bicara denganmu. Aku tahu aku salah, aku minta maaf” ucap rendi berusaha menahan pintu itu agar tidak tertutup.

__ADS_1


“Sudahlah, jangan bicara sama gue. Gue lagi males lihat wajah lo. Pergi lo dari sini” ucap Thalia mengusir Rendi, dan kata-kata lo gue kembali ia ucapkan pada Rendi.


“Sayang aku bohong dengerin akau dulu, aku minta maaf soal tadi” ucap rendi dan mendorong pintu itu dnegan cukup kuat agar dia bisa masuk.


Karena dorongan Rendi yang cukup kuat membuat Thalia terdorong dan hampir terjatuh sekarang kalau Rendi tidak menangkapnya kemungkinan Thalia sudah terjatuh kelantai.


“Aku minta maaf karena mendorongmu, kalau aku tidka melakukannya kamu pasti tetap akan menutupnya” pungkas Rendi sambil menahan tubuh Thalia.


Thalia sendiri langsung berdiri tegap menatap Rendi,


“kenapa kau kemari?” tukasnya tajam.


“tentu saja menjemput istriku, sayang ayo pulang kita bicara di rumah kita” ucap Rendi memegang lengan Thalia.


Thalia langsung menghempasnya,


“jangan pegang-pegang gue,” ketusnya pada Rendi.


“Oke, kamu boleh marah sama aku. Tapi ayo kita pulang ke rumah kita. Aku mohon sama kamu,” ucap Rendi mengajak Thalia untuk pulang ke apartemen mereka.


“Nggak mau, gue mau tinggal disini. Gue nggak mau tinggal sama lo lagi, untuk apa gue tinggal sam apria buaya seperti lo” ucap Thalia dengan lantang mengutarakan penolakan tersebut


Rendi terdiam karena kata ketus nan asing untuk dirinya, Thalia seperti menjadi Thalia yang dulu sebelum mengenalnya bedanya sekarang perempuan didepannya tidak sedang mengejar-ngejar dirinya.


“Maksud kamu apa sih sayang, kita suami istri. Kenapa kamu nggak mau tinggal sama aku, aku tahu akau tadi sa..”


“Bilang saya pada perempuan lain tapi hatinya masih milik yang dulu. kau pikir aku robot atau boneka kamu di ranjang” pungkas Thalia menatap manik mata Rendi.


“Jangan asal kalau bicara, kamu bukan robot atau boneka aku. kamu istri aku, ayo pulang sayang” ucap rendi dan menggandeng tangan Thalia tetapi kembali di tepis oleh sang istri.


“Istri, kau bilang aku istrimu. Kalau aku istrimu nggak mungkin kamu tinggalin aku gitu aja di tempat kosong tadi. Dan dirimu malas begitu cemas dengan perempuan bernama Melody itu. sana kejar perempuan itu, atau jangan-jangan kamu sudah mengejarnya dan menemukan dia. Bagaimana kondisinya sudah sadar, kamu mau menikah dengannya silahkan aku setuju kok. Tunggu surat ce..” oceh Thalia cukup panjang sedang Rendi hanya mendengarkannya tetapi setelah itu dia membungkam mulut Thalia dnegan bibirnya dia ******* bibir sang istri begitu dalam Bahkan dia merengkuh tubuh istrinya tersebut.


Thalia mendorong Rendi dan membuat ciuman itu terlepas,


“Ini apa buktinya kalau aku bukan boneka ranjang mu. Kau menciumiku seenaknya sendiri disaat aku membicarakan perempuan itu. kau menjadikanku fantasi mu mengganggap diriku sebagi dia” kesal Thalia sambil mengusap bibirnya kasar. Dia menatap Rendi yang menatap kearahnya.


“Aku bilang kamu bukan boneka ku mengerti, kamu istriku. Aku mencintaimu” tegas Rendi.


“Sudahlah aku pusing, keluar dari kamarku sekarang.” Usir Thalia pada Rendi.


“Aku tidak akan pergi kalau kamu tidak mau aku ajak pulang ke apartemen,” pungkas Rendi menatap Thalia serius.


“Soal aku yang meninggalkanmu tadi aku minta maaf, aku hanya syok sayang kenapa tidak ada Melody disitu. Tapi aku jujur aku tidak mencintai dia lagi, aku mencintaimu. Tolong percaya padaku. Tolong maafkan aku juga soal tadi, aku akui aku salah” tukas rendi berjalan mendekati Thalia lagi.

__ADS_1


“Cinta, Cinta, Cinta terus yang kamu bilang buktinya apa tadi kamu ninggalin aku gitu aja. Kamu pikir aku bakal percaya begitu. Terserah dirimu kalau kau mau disini” ketus Thalia dan akan berjalan pergi melewati rendi.


“kau mau kemana?” tanya Rendi menahan tangan Thalia.


“Bukan urusanmu” ketus Thalia dan akan melepaskan tangan Rendi tetapi dia tidak bisa karena pria itu menggenggamnya dengan cukup kuat.


“lepasin nggak” ucap Thalia meminta dilepaskan.


“Tidak akan aku lepaskan kalau kamu tidak bilang mau kemana”


“Aku mau kemana juga bukan urusanmu” ucap Thalia.


“jelas urusanku, aku suamimu” tukas rendi penuh penekanan.


“lepasin,” Thalia berusaha memaksa untuk dilepaskan karena dia akan pergi dari kamarnya.


Rendi menatap Thalia dan dia langsung menggendong sang istri membawa istrinya ke tempat tidur. Dan dia menjatuhkan istrinya di situ.


Rendi langsung melepas jaketnya dan membuangnya ke lantai,


“Kan-kan, aku hanya kamu jadikan boneka di ranjang” ucap Thalia sinis saat melihat Rendi yang melepaskan jaket.


Rendi sendiri hanya diam dan dia langsung naik keatas tempat tidur dan berbaring disebelah Thalia, dia langsung memeluk sang istri dnegan cukup erat meskipun Thalia terus memberontak.


“Sudah tidur jangan banyak bicara. Ini sudah siang, kau tidur siang lah dulu. aku lelah nanti kita bicarakan lagi” ucap rendi memeluk dnegan cukup erat istrinya itu.


“Dasar gila,” cibir Thalia


Rendi mengabaikannya, dia hanya memeluk erat Thalia agar tidak pergi kemana-mana. Dia sudah berusaha meminta maaf dan bicara dengan sang istri tapi Thalia tetap marah dengannya. Jadi dia lebih memilih diam seperti ini, dia tahu tipe orang seperti Thalia. Semakin dia menyangkal dan melakukan hal yang kemungkinan terkesan pura-pura untuknya perempuan itu akan semakin tidak percaya.


Jujur, dia mencintai Thalia bukan Melody. Soal hal tadi dia memang terkejut mengetahui Melody di pindahkan begitu saja dari rumah sakit tapi bukan artinya dia masih mencintai perempuan itu hatinya benar-benar sudah berpindah pada Thalia saat ini.


Rendi memejamkan matanya lebih dulu dari Thalia yang sedari diam tidak bergerak karena tubuhnya kaku karena pelukan Rendi yang begitu erat. Perlahan pelukan itu mengendur membuat Thalia bisa bergerak dan dia bisa memiringkan tubuhnya melihat Rendi.


“Tidur orang ini,” gumam Thalia.


“gue bingung sama lo. Gue kesal sama lo. Tapi gue kepincut sama lo, bodoh memang diriku” ucapnya dan diakhir kalimat dia merutuki dirinya sendiri.


Tangan Thalia perlahan memegang alis Rendi dan beralih ke hidungnya.


“Hidung lo mancung banget sih,” ucap Thalia mengagumi hidung Rendi


“Haruskah gue maafin lo yang labil begini. memang benar hati lo udah nggak ada nama si Melody?” ucap Thalia sambil memandangi wajah Rendi yang tertidur pulas disebelahnya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2