
Thalia sedang duduk di sofa sendirian, dia sedari tadi menunggu Rendi yang belum keluar juga dari kamar mandi. dia merasa bosan sendiri menunggu sang suami,
Ponsel milik Rendi yang ada di atas meja depan Thalia bergetar membuat pandangan Thalia beralih menatap ponsel tersebut.
“Siapa yang menelponnya,?” gumam Thalia, dia mengambil ponsel milik Rendi dan melihat nomor tanpa nama di layar ponsel itu.
“nomor siapa ini? kenapa tidak diberi nama oleh dia?” Thalia bertanya-tanya tentang hal itu.
Daripada pusing sendiri lebih baik dia angkat saja panggilan tersebut, Thalia langsung mengangkat panggilan itu.
“Kau dimana? Kenapa kau tinggalkan apartemen mu aku tidak menginginkannya, jika kau tidak ingin aku tinggal di apartemen mu, aku akan pergi. Kembali lah, Melody pasti sedih apartemennya kau tinggalkan” ucap Revan di seberang sana.
“Suamiku tidak perduli apartemen itu ambil saja apartemennya, kita tidak membutuhkannya” ketus Thalia.
“Kau, kenapa kau mengangkat telpon adikku. Berikan padanya aku ingin bicara” sewot suara di seberang sana.
“terserah diriku, aku istrinya.” Pungkas Thalia.
“Siapa?” terdengar suara Rendi yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia melihat kearah Thalia yangs edang bicara di ponsel.
Thalia melihat sekilas Rendi,
“Orang yang nggak jelas” jawabnya.
“enak saja tidak jelas, kau yang tidak jelas. Kau pergi sana dari adikku, dia milik Melody dirimu hanya pelampiasan”
Karena Thalia tidak menjawab pertanyaannya membuat rendi langsung berjalan mendekati Thalia dan mengambil ponsel miliknya. Dia melihat nomor tersebut dan dia tahu nomor sia[pa itu meskipun dia tidak menyimpannya tapi dia hapal nomor itu.
“Ada apa menghubungiku? “ tukas rendi dengan tajam.
“Slow kenapa bro, gue kakak lo. Bisa santai tidak” ucap Revan dnegan santainya.
“Tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, kalau tidak ada aku matikan” pungkas Rendi dan akan mematikannya. Tapi Revan menghentikannya dnegan sebuah ucapan,
“Tunggu dulu, aku ingin bertanya soal Melody?” ucap revan membuat Rendi tidak jadi mematikan panggilannya begitu saja.
“Ada apa kau menanyakan tunangan ku Melody?” sinis rendi.
Thalia yang berada di situ tentu saja mendengar ucapan rendi barusan, suaminya menyebut tunangan ku. Dia masih menganggap perempuan bernama Melody tunangannya disaat dia sudah menikah seperti ini.
Thalia langsung berdiri dari duduknya di saat rendi tengah bicara dengan revan, Rendi tentu saja melihat kepergian Thalia membuat dia sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Kamu mau kemana?” tanya Rendi pada Thalia yang akan berjalan.
__ADS_1
“Aku mau ke kamar” jawab Thalia melihat sekilas kearah Rendi,.
“Ya sudah tunggu aku di kamar, aku bicara dulu dnegan orang ini” ucap Rendi.
Thalia tidak menanggapi, dia langsung melenggang pergi setelah mendengar ucapan Rendi barusan.
Rendi kembali mendekatkan ponsel miliknya ke telinga,
“Kau yakin Melody masih tunangan mu, lalu perempuan yang kau bilang bahwa dia istrimu mau kau kemanakan” terdengar pertanyaan tersebut terlontar dari mulut Revan.
“Bukan urusanmu, bilang ada apa kau menanyakan Melody?” tanya rendi dnegan penekanan.
“Melody pernah bilang sesuatu padamu?” tanya Revan
“tidak” Rendi menjawabnya dengan singkat dia tidak terlalu ingin menanggapi pertanyaan tersebut.
“kenapa kau bertanya begitu padaku?” tanya Rendi terlihat penasaran.
“Kita bertemu dan bicarakan hubungan kita, tidak mungkin kita bicarakan di telpon” tukas revan di seberang sana.
Rendi diam sebentar memikirkan hal itu, haruskah dia bertemu dnegan kakaknya, pikirnya.
Ditengah dia berpikir pintu kamar terbuka memperlihatkan Thalia yang mengenakan rok pendek berwarna coklat serta sepatu high heels nya sambil menenteng tas.
“Kamu mau kemana?” tanya Rendi pada Thalia.
“aku mau keluar sebentar” jawab Thalia datar.
“kemana? Kenapa kamu malah pergi sedangkan tadi kamu menyuruhku untuk tidak bekerja” Rendi tak mengerti dnegan jalan pikiran Thalia yang malah ingin pergi keluar.
“Aku ada urusan,” Thalia benar-benar berbicara dnegan singkat dia seakan tidak ingin bicara banyak dengan Rendi saat ini mendengar ucapan pria itu tadi membuat dirinya merasa sedikit kecewa saja.
“Urusan apa yang membuatmu keluar sekarang disaat suamimu d irumah” heran rendi
“Sudah jangan banyak tanya, aku mau pergi teman-temanku sudah menunggu” Thalia berjalan mengabaikan Rendi yang melihat dirinya.
Rendi tentu saja tidak diam di tempat dia langsung berlari mengejar Thalia, dia mencengkram tangan perempuan itu.
“Ada apa sih denganmu, kau aneh mengerti. Kau bilang ingin menghabiskan waktu denganku maka di rumah saja” ucap Rendi dengan sedikit memaksa.
“Aku bilang tidak bisa, temanku sudah menunggu” Thalia melepaskan tangan rendi yang mencengkram pergelangan tangannya. Rendi hanya bisa diam saja saat Thalia melepaskan tangannya dia melihat perempuan itu yang melangkah pergi keluar dari apartemen.
Kelakuan Thalia itu membuat dirinya merasa heran sendiri, sebenarnya kenapa perempuan itu seakan dingin sekali tadi.
__ADS_1
...........................
Thalia duduk di kursi cafe, sambil meminum esspereso di gelasnya, dia terdiam sambil sesekali melamun di tempatnya. Kata-kata Rendi yang mengucapkan tunangan ku begitu terngiang di kepalanya. Dia seakan sedikit nyeri mendengar itu, dia juga bingung sendiri sekarang. Kenapa keraguan muncul di kepalanya saat ini, dan seakan bayang-bayang penyesalan ada di kepalanya.
Ini pertama kalinya dia berpikir seperti ini biasanya ia tidka pernah memikirkan hal ini, dia orang yang bodo amat tapi kenapa saat ini dia memikirkannya.
“Dia apa masih mencintai perempuan itu, sebenarnya siapa perempuan bernama Melody itu. Aku ingin menemuinya” ucapnya, dia menjadi berkeinginan untuk menemui Melody.
“Hoi, pengantin baru . ngapain melamun terus” ucap Putri yang mengibaskan tangannya di depan Thalia.
Jane dan juga Putri baru saja datang mereka menarik kursi tepat di depan Thalia membuat Thalia yang tadi sedikit duduk tertunduk langsung mendongak melihat kedua sahabatnya yang sudah ada di depannya saat ini.
“Kok lo tahu gue pengantin baru, gue belum bilang” heran Thalia karena seingatnya dia belum bilang kalau telah menikah.
“Lita yang memberitahuku” jawab Jane yang duduk disebelah putri.
“Oh,.” Ucap Thalia dia kembali menyeruput esspreso miliknya.
“kenapa lo ngajak kita bertemu? Bukannya seharusnya lo menghabiskan waktu sama suami lo menikmati suasana jadi pengantin baru” pungkas Jane.
“menikmati apanya, dua hari lalu kita memang menikmatinya, itu saja aku yang mulai dulu menggodanya. Kalau tidak dia tidak akan melakukan haknya. Dan hari ini dia menyebalkan membuat hatiku nyeri” tutur Thalia membuat kedua temannya menatap bingung dnegan ucapannya tersebut.
“maksudmu?” tanya Jane dan Putri bersamaan.
“Aku tidak tahu dia sudah mencintaiku atau mencintai perempuan lain” thalia semakin bicara melantur menurut temannya karena dia tidka mengerti maksud ucapan Thalia.
“Apa sih maksudmu, yang ejlas kalau bicara” ucap Putri.
“Entahlah, aku juga bingung dengan diriku sendiri, tidak usah membicarakan urusan rumah tanggaku. Kita bersenang-senang saja saat ini. habis ini kalian mau kemana? Aku ikut” ucap Thalia mengalikan pembicaraannya, dia malas untuk membahas rumah tangganya sendiri.
“ Kita mau ketemu sama cowok kita, kenapa? Masa lo mau ikut juga. lo udah ada suami” jelas Jane
“Kalian terlalu bucin, ketempat lain saja. Ke bar atau apa kita dugem” tukas Thalia
“wah, lo nggak nyadar lo yang bucin duluan cowok, dulu sama kak rey sekarang sama siapa itu sampai lo kejar-kejar dan setelah jadi suami lo, lo galau sendiri” ucap Putri tidak terima dnegan perkataan Thalia.
“Ah, tidak usah menyebut nama Rendi. Aku sedang tidak ingin mendengarnya hari ini” kesal Thalia kembali menyeruput espresonya dengan kasar.
Kedua temannya hanya menatap Thalia, mereka berdua merasa aneh dnegan sahabatnya itu tapi Thalia juga bukan tipe orang yang mudah bercerita kalau tidak di desak. Terpaksa mereka diam saja jika tidak ingin membuat perempuan tersebut marah.
°°°
T.B.C
__ADS_1