
Revan keluar dari apartemennya saat ini, dia akan pergi menemui Rendi dan akan berpamitan pada adiknya tersebut karena dia akan kembali Ke Amerika. Karena untuk apa juga dia masih di Negara ini jika perempuan yang dulu katanya mencintai dia dan ingin bersama dengannya malah mempermainkan dirinya dan membuat dirinya bertengkar dengan adiknya sendiri.
Kali ini dia benar-benar rela untuk pergi dan meninggalkan perempuan tersebut yang sudah begitu egois dengannya. Baru saja dia menungunci pintu apartemennya dia di tabrak oleh seseorang dan membuat kunci apartemen dan juga ponselnya jatuh.
“Maaf, maaf. Aku tidak sengaja” ucap Nicholas yang ternyata menabrak Revan, dia membantu Revan mengambil kunci serta ponselnya. Dia yang tadi terburu-buru dan sekarang sedikit terkejut melihat pria yang dia lihat di amerika dulu satu gedung apartemen dengannya saat ini.
Revan juga terkejut melihat pria misterius yang selalu dia curiga berdiri didepannya, dia menatap seksama pria itu yang tampak tergesa-gesa.
“Ini punyamu” ucap Nicholas dan langsung memberikan barang milik Revan.
“Terimakasih sudah membantuku” ucap revan sembari menerima itu.
“Sama-sama, saya pergi dulu” Nicholas langsung pergi menuju apartemen miliknya dia tidak ingin berlama-lama dengan orang terdekat Rendi dan juga Thalia bisa-bisa dia dalam masalah. Tujuannya saat ini hanya kabur dari kejaran david, dia akan mencoba menghubungi Thalia untuk membantunya keluar dari negara ini. dia tidak perduli lagi untuk mendapatkan Thalia rencananya sudah gagal total untuk mengajak tunangan Rendi kerja sama dengannya.
Revan terus memperhatikan Nicholas hingga pria itu masuk kedalam apartemen,
“Aku yakin dia pria yang tidak beres, nanti aku akan bilang pada Rendi soal pria itu” batin Revan dan langsung pergi dari situ.
.......................................................
“Kamu buat apa sih dari tadi sibuk di dapur” ucap rendi yang menaruh kepalanya di pundak sang istri sambil memeluknya dari belakang.
“Omlet, kamu mau?” jawab Thalia dan menawarkan pada suaminya juga barangkali dia juga mau.
“memang kamu bisa buatnya?”
“Bisalah cuman begini doang masa nggak bisa. Kamu menghina aku ya, mentang-mentang aku nggak bisa masak kamu kira aku nggak bisa buat yang simple begini” sungut Thalia yang sedikit kesal karena menurutnya dia di remehkan suaminya sendiri.
“nggak, bukan begitu maksudku, kalau nggak bisa biar aku aja yang buatin” pungkas Rendi sambil tangannya bergerak terus di perut Thalia.
“Udah nggak usah, aku bisa buat sendiri kok. Aku buat agak besar untuk kita makan berdua kalau begitu”
Ting
Tong,
“ada tamu, rekan kamu mau datang?” tanya Thalia setelah mendengar bunyi bel apartemennya.
“Nggak ada yang mau dateng.” Jawab Rendi yang bingung kira-kira siapa yang membunyikan bel apartemen mereka di pagi hari.
“Terus siapa yang kesini?” heran Thalia.
“Aku nggak tahu, kala begitu aku bukain pintu dulu. kamu disini saja jangan kemana-mana” ucap Rendi dan langsung berjalan pergi setelah berpesan pada istrinya untuk tidak kemana-mana.
“hemm,” jawab Thalia.
Rendi berjalan kearah pintu apartemennya, dia juga bingung siapa yang datang ke apartemen mereka sepagi ini.
__ADS_1
Saat dia sudah berada di depan pintu tersebut dia segera membukanya, saat melihat orang yang berdiri didepan pintu apartemen miliknya membuat dia terpaku. Didepannya saat ini berdiri kakaknya yang menatap kearahnya sambil tersenyum ramah.
“Ada perlu apa kau kemari?” tanya Rendi
“Boleh aku masuk dulu, dan beri aku sarapan pagi” ucap Revan yang langsung nyelonong masuk begitu saja.
“Tidak tahu diri bertamu ke rumah orang dan masuk begitu saja sebelu disuruh masuk” cibir Rendi tersenyum sinis menatap revan yang berjalan masuk.
“Siapa sayang..” seru Thalia sambil membawa piring yang sudah terisi omlet dan juga daun selada.
“Aku adik ipar” jawab Revan sambil melambaikan tangannya pada thalia saat dia sudah sampai keruang tengah.
“Itu sarapan pagi untukku” ucap Revan dan akan mengambilnya dari tangan Thalia.
“enak saja, ini punya suamiku ya, kenapa kau kesini” ketus Thalia dan sedikit menjauhkan piring omlet tersebut.
“Minta sarapan pada kalian, untukku saja ya. Kalau aku tidak sarapan sekarang bisa-bisa nanti aku tidak sempat untuk sarapan” pungkas Revan dan mengambil piring itu saat Thalia lengah.
“Kurang ajar ya, itu punyaku” ucap Thalia dan akan mengambilnya lagi dari Revan yang langsung duduk di sofa.
“Sayang, sudah biarkan” ucap rendi yang sudah bergabung dengan mereka berdua.
“Ada apa kau pagi-pagi begini bertamu dan meminta makan seperti orang yang tidak pernah makan” pungkas Rendi sedikit mencibir Revan, dia segera mengambil duduk di depan Revan saat ini.
“Sudah sayang, sini duduk” ucap rendi lagi sambil menepuk sofa sebelahnya, dia meminta Thalia yang tengah menatap kesal revan.
“Sudah tidak usah marah begitu denganku, nanti aku buatkan lagi untuk kalian. Anggap saja ini kenangan terakhir denganku selagi aku Indonesia” ucap revan sambil mengunyah makanan di mulutnya.
“Kau mau kemana dan apa maksudmu?” ucap Rendi menatap aneh revan.
“sebentar, aku makan dulu, baru aku jawab. Ada minuman apa di kulkas, aku ambil minuman dulu” ucap Revan dan langsung berdiri membuat sepasang suami istri tersebut menatapnya aneh.
“Ada apa dengan kakakmu, dia seperti aneh begitu” ucap Thalia sedikit berbisik di telinga suaminya.
“entah” jawab Rendi singkat.
....................................................
“Aku kesini karena aku ingin bilang pada kalian, kalau aku akan kembali ke Amerika besok” ucap revan membuka suaranya.
Karena ucapannya itu langsung mendapat tatapan dari rendi, Rendi sungguh tidak mengerti kenapa Revan tiba-tiba bilang ingin kembali ke Amerika. Jelas-jelas dia bilang tidak ingin kembali ke negara itu dan tidak ingin satu negara dengan ibunya lagi.
“Kenapa kau ingin kembali ke Amerika, bukannya kau bilang tidak ingin di perbudak oleh Mamamu dan suaminya” tukas Rendi heran pada pria tersebut.
“Untuk apa juga aku disini, tak ada lagi yang menginginkanku di Negara ini. kau saja tidak menganggap ku kakak, lebih baik aku kembali ke Amerika meskipun aku menjadi kaki tangan suami mama setidaknya aku di anggap anak di sana” pungkas Revan begitu miris dengan dirinya sendiri. benar dia memang dia Amerika menjadi kaki tangan suami Mamanya, dia banyak disuruh melakukan pekerjaan kantor tanpa henti dan selalu menggantikan ayah tirinya bekerja.
“Kau tidak serius dengan ucapan mu kan, bukannya kau cinta mati dengan perempuan itu” ucap Thalia menatap aneh kakak iparnya
__ADS_1
“Aku jawab tidak ya, tapi kalau aku jawab ada yang bakal was-was atau tidak” ucap revan dan membuat Thalia mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan ucapan Revan.
“Perempuan itu tidak mencintaiku, aku memang bodoh dulu mengorbankan persaudaraan hanya demi seorang wanita. Dan gara-gara itu adikku sendiri sekarang tidak menganggap ku kakak” ucap Revan dan melihat sekilas Rendi yang tampak biasa saja terlihat enggan untuk merespon ucapan Revan.
“Apa maksudmu, perempuan tidak tahu diri itu tidak mencintaimu. Kasihan, bodoh juga dirimu sudah menunggu lama perempuan itu nyatanya masih menyukai suamiku sampai sekarang. Kasihan” ucap Thalia
“Kau meledek diriku,” sungut revan.
“Kenyataan kan?” ucap Thalia dengan wajah meledek pada Revan.
“Sayang kenapa diam saja, respon kenapa ucapan kakakmu yang menyedihkan itu. jangan bilang kamu memikirkan untuk kembali pada perempuan itu karena kakakmu sudah menyerah” ucap Thalia yang melihat Rendi diam tidak ikut berkomentar.
Seketika Rendi langsung menatap Thalia dengan wajah kerasnya,
“jangan asal bicara, bukannya kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal itu lagi” ucap rendi dengan wajah marahnya. Seketika suasana berubah menjadi hening, revan menatap adiknya yang marah dan kecewa, dia juga merasa bersalah karena membahas masalah Melody pada suami istri didepannya.
“Aku cuman bercanda, apa salahnya. Kenapa kamu marah begini” ucap Thalia.
“bercanda mu tidak lucu” pungkas Rendi.
“Iya aku minta maaf” ucap Thalia meminta maaf pada sang suami.
Rendi tidak menjawab dan dia berbalik menatap revan,
“Kau menyerah begitu saja setelah apa yang kau lakukan selama ini padanya, tidak gentle sama sekali”
“Terserah kau mau bilang apa, aku sudah berjuang cukup lama tapi ternyata dia masih sama seperti dulu. dan sepertinya sekarang dia egois, jadi untuk apa aku memperjuangkan orang seperti itu” ucap revan tidak perduli lagi jika dia di bilang menyerah atau apalah.
“Ya sudah terserah dirimu, tapi aku sarankan kau jangan kembali ke Amerika. Lebih baik kau temui Papa, dia terus menanyakan dirimu.” Ucap rendi memberi saran.
“Aku malu untuk bertemu Papa, aku anak yang tidak tahu diri karena pergi meninggalkan kalian dulu”
“kau akan terus malu jika tidak melakukannya,”
“Aku pikirkan lagi kalau begitu, btw kau sudah memaafkan kakakmu ini. kenapa ucapan mu sedari tadi enak didengar di telingaku” ucap revan sambil sedikit tersenyum.
“Terserah dirimu berpendapat apa,” ucap Rendi dan membuang mukanya.
“Kalian berdua memang cocok jadi suami istri, kau perempuan badas nan sombong serta tukang gengsi dan lihat adikku gengsinya begitu besar., cocok sekali kalian berdua, aku doakan semoga keluarga kalian harmonis saja. Dan semakin bahagia dengan kelahiran ponakan ku nanti. Aku numpang berbaring sebentar disini oke” ucap revan dan membaringkan dirinya di sofa panjang depan Thalia dan juga Rendi.
“Dasar kakak ipar menyebalkan, mengatai pemilik rumah. Numpang lagi sekarang” cibir Thalia ada Revan.
Rendi hanya diam saja memperhatikan istri dan saudara kembarnya berdebat kecil, dia melihat Revan antara sedih dan kasihan. Dia tahu perjuangan kakaknya untuk Melody sangat banyak dan dia juga sedih soal kakaknya yang selama ini dipaksa bekerja di perusahaan bak kerja rodi di Amerika meskipun itu perusahaan ayah tiri mereka. Semoga saja Revan memikirkan sarannya untuk ke Padang saja menemui Papa kandung mereka daripada dia harus kembali ke Amerika.
°°°
T.B.C
__ADS_1