
“Apa?” kaget Lita, dia merasa heran kenapa juga Fahri harus mengajaknya ke kantor.
“Kamu jangan bercanda, kenapa juga mengajakku ke kantormu” lanjut Lita lagi sambil berdiri menggendong Axel.
“Aku tidak bercanda sayang, aku memang ingin mengajakmu ke kantor.” Tukas Fahri menegaskan kalau dia sekarang sedang tidak bercanda.
“kalau aku ikut dirimu ke kantor, bagaimana dengan Axel”
“Axel kita titipkan ke Mamamu atau ke Mamaku, dia punya kakek dan nenek” pungkas fahri.
“Aku nggak enak kalau menitipkan Axel pada Mama” Lita memang merasa tidak enak kalau dia menyerahkan anaknya pada Mama Nafa ditambah dia ingat perkataan Thalia semalam. Dia tidak ingin adiknya itu beranggapan mengambil Mamanya. Dia sebagai anak tiri sadar diri kalau itu buka Mamanya.
“kenapa kamu tampak sedih begitu, ada masalah” ucap Fahri yang menyadari raut wajah Lita yang berubah sedih.
“Nggak,” Lita menggeleng, dia masih tidak ingin menceritakan sebenarnya pada Fahri.
“Kalau kamu nggak mau menitipkan Axel ke mamamu titipkan saja ke mamaku bagaimana, dia sedang ada di Jakarta bukan di Bogor” ucap fahri membeli pilihan pada Lita.
“mama Wulan di Jakarta?” ucap Lita langsung menatap kearah Fahri.
“Iya Mamaku di Jakarta, bukan di rumah kakakku. Kamu masih tidak mau kan bertemu dengan kak Shela kan?” Fahri menatap Lita yang langsung mengangguk. Bukannya Lita tidak suka dengan kakak Fahri tapi dia masih enggan bertemu orang itu, karena seingatnya dulu perempuan itu tidak menyukainya.
“Maafkan kakakku yang dulu ya, kalau kamu sudah siap bertemu dengannya. Aku akan meminta dia untuk minta maaf padamu” Fahri memegang bahu Lita memberikan kenyamanan disitu dan meyakinkannya.
“Iya,.” Lirih perempuan tersebut.
“lalu bagaimana, mau menitipkan Axel pada Mama” ucap Fahri pada Lita.
“Baiklah, kita titipkan Axel pada mama Wulan” Lita akhirnya menyetujui saran fahri untuk menitipkan anak mereka pada Mamanya Fahri.
“pakaikan aku dasi dulu, baru kita berangkat ke kantor” Fahri menyerahkan dasinya kearah Lita.
“Sebentar, aku taruh Axel di kasur dulu” ucap Lita sambil berjalan kearah tempat tidur untuk menaruh anaknya di situ agar dia bisa memakaikan dasi untuk Fahri.
__ADS_1
“Kamu ini manja sekali, harus aku pakaikan dasi. Padahal kamu bisa memakainya sendiri” ucap Lita sambil mengalungkan dasi tersebut di leher Fahri.
“kan aku memang ingin dimanja oleh istriku, sudah berbulan-bulan aku tidak dimanja oleh istri” ucap Fahri menatap Lita dengan lekat.
“dasar,.” Lita memasangkan dasi tersebut sambil tersenyum begitu juga Fahri yang tersenyum melihat Lita.
....................................
Fahri menggandeng Lita berjalan di lorong kantornya, dia menggenggam erat tangan istrinya tersebut.
“Apa lagi sekarang alasanmu, mengajakku ke kantor. Dulu kamu mengajakku karena biar mereka tahu kalau kamu dan aku tidak jadi bercerai lalu sekarang apa alasannya” ucap Lita sambil melihat kearah fahri yang menggandengnya berjalan.
“Alasanku tentu saja agar, mereka tahu kalau kamu istriku yang cantik dan juga yang paling aku cinta” tukas Fahri menghentikan langkahnya sambil memegang wajah Lita agak menggembungkan pipi perempuan itu.
“kamu gemukkan sayang?” heran Fahri saat menyadari kedua pipi istrinya agak berisi.
“Sedikit, kenapa? Kamu tidak suka. Aku jadi jelek begitu” Lita seketika melepaskan tangan Fahri dari wajahnya dan dia memalingkan wajah dari Fahri.
“Augh, kamu apa-apaan sih. Malu dilihat para karyawan kamu” pungkas Lita wajahnya langsung memerah menahan malu dan dia melihat ke sekitar takut kalau para pegawai Fahri yang bekerja di kantor ini melihat kearah mereka.
“memang kenapa, biarkan saja mereka. Mungkin juga mereka iri dengan kita” ucap fahri tidak ambil pusing dengan hal itu.
“Sudahlah, ayo keruangan mu. Jangan menjadi disini. Kamu membuatku merasa malu” pungkas Lita menarik tangan fahri agar pria itu tidak menggodanya di tempat yang banyak lalu-lalang orang bekerja.
“Akhirnya kamu banyak bicara juga sayang, aku sengaja menggoda mu barusan agar dirimu tidak merasa sedih lagi. Kamu sedang sedih karena ucapan Thalia kan?” tanya Fahri saat Lita menariknya pergi dari lorong perusahaannya.
“Nggak, udah ayok kita keruangan mu saja” Lita masih saja mengelak karena dia ingin membereskan masalahnya sendiri tanpa melibatkan Fahri. Tapi dia bersyukur Fahri tadi sedikit menghiburnya.
.....................
“kamu duduk di sofa dulu sayang, aku ke kamar mandi sebentar” ucap fahri menyuruh Lita saat sudah sampai di ruangannya. Menyuruh istrinya tersebut untuk duduk sebentar disitu. Sementara dirinya akan ke kamar mandi.
“Kenapa kam tiba-tiba ingin ke kamar mandi. Padahal tadi sedari tadi kamu tidak mengeluh ingin ke kamar mandi”
__ADS_1
“namanya faktor alam sayang, kamu apa mau ikut aku ke kamar mandi. Aku cuman sebentar kok, lagi pula ini di ruanganku tidak ada orang yang akan masuk kesini kamu tidak perlu takut” pungkas Fahri pada Lita sambil tersenyum.
Lita melihat-lihat ruangan besar Fahri yang sepi, ini kedua kalinya dia kesini tapi dia masih merasa riskan dengan ruangan ini.
“ya sudah kalau kamu ingin ke kamar mandi, jangan lama-lama. Aku takut kalau sekertaris mu atau siapa kesini” ucap Lita pada Fahri.
“oke sayang, aku ke kamar mandi sebentar” fahri langsung berjalan kearah kamar mandi yang ada di ruangannya itu.
Dia ke kamar mandi bukan karena ingin buang air kecil ataupun besar. Dia hanya ingin menghubungi kakak iparnya supaya David memberitahu Thalia agar tidak membuat istrinya sedih seperti ini. jujur dia tidak suka dengan apa yang dikatakan Thalia pada istrinya. Dia ingin adik iparnya itu mendapat balasan karena telah membuat istrinya sedih.
Fahri masuk kedalam kamar mandi secara hati-hati sambil melihat kearah Lita yang duduk di sofa agak jauh darinya.
Ia menutup pintu kamar mandi tersebut dan segera mengambil Hp miliknya yang ada di saku celananya saat ini.
Ia menekan nomor David, tidak perlu menunggu lebih lama. Panggilan itu langsung tersambung seketika.
“Ada apa kau meneleponku?” terdengar nada tidak suka dari David terhadapnya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu, tidak perlu diriku untuk basa-basi. Aku hanya minta tolong kau ceramahi adikmu Tahlia, bisa-bisanya dia marah-marah dengan istriku dan menuduh dirinya menyembunyikan Rey. Bukan itu saja dia mengatakan kata-kata tidak enak pada istriku. Aku tidak terima dengan itu meskipun dia adik Lita juga” jelas fahri, mengungkapkan ketidakterimaan dirinya karena istrinya telah di marahi oleh Thalia tanpa sebab yang jelas.
“kau bicara apa? Kenapa Thalia bisa marah dengan Lita.”
“Entahlah aku tidak tahu, kamu sebagai kakak tertua darinya tolong beritahu dia. Bagaimanapun Lita kakaknya, tidak pantas dia mengatakan hal seperti itu pada istriku” ucap Fahri.
“Anak itu, dia sudah gila atau apa. Kemarin juga memaki Naya sekarang Lita” gumam David dari seberang sana dan itu bisa didengar oleh Fahri.
“Kalau begitu sudah dulu kak, hanya itu yang ingin ku katakan. Maaf mengganggu liburanmu. Dan tolong lain kali ramah sedikit denganku, aku bukan Fahri yang dulu” tukas Fajri dan langsung mematikan panggilannya. Bukannya dia tidak sopan dengan kakak iparnya tapi agar kakak iparnya itu berpikir kalau perbuatannya telah salah padanya.
Fahri langsung kembali memasukkan Hp miliknya kedalam saku celana dan dia keluar dari kamar mandi menemui istrinya yang sudah menunggu dirinya.
°°°
T.B.C
__ADS_1