
Rendi duduk diam di kamarnya sambil memperhatikan sepatu Thalia yang memang berada di Apartemennya. Entah perempuan itu sengaja meninggalkannya di situ atau bagaimana. Dan dia heran bagaimana bisa perempuan itu mendapatkan sepatu kets, apa dia memesannya melalui online shop.
“Dia selalu membuat kepalaku pecah,” desis rendi sambil memperhatikan sepatu milik Thalia
“tapi apa benar aku melakukan hubungan badan dengan dia?”ucapnya lagi masih memikirkan kebenaran soal hal itu. Dilihat dari bukti yang perempuan itu beri memang sepertinya dia melakukannya tapi hatinya seakan menolak.
“benar, CCTV” gumamnya langsung berdiri saat sadar kalau diruang tengah dia memasang cctv.
Rendi segera saja berlalu dari kamarnya, ia menuju ruangan khusus untuk melihat cctv di apartemen miliknya itu.
Dia masuk kedalam ruangan tersebut dan langsung duduk di kursi depan laptop yang memantau cctv, dia mencari file kemarin yang terekam.
“kenapa jadi buram begini” herannya saat sudah memutar rekaman cctv itu yang tak bisa diputar.
“Ah, sial. Tidak ada bukti yang bisa membuktikannya” kesalnya mukul keras meja tersebut.
“Apa aku memang harus bertanggung jawab nantinya,” ucapnya terdengar pasrah akan hal tersebut.
“bagaimana jika dia hamil nanti,” dia terduduk sambil mengusap wajahnya kasar. Ia tidak bisa membayangkan hal tersebut.
“Dia apa tidak akan ke tempatku lagi? Tapi tidak mungkin pasti dia akan lagi wanita psiko itu tidak mungkin menyerah” sinis rendi, meskipun katanya terdengar sini tapi dan sebuah pengharapan.
...........................
Thalia masuk kedalam kamarnya sekarang, dia sedikit lega karena di rumah tidak ada kakaknya. kalau ada David ia pasti akan kena masalah pria itu pasti akan memarahinya habis-habisan saat tahu dia tidak ada di rumah dari kemarin.
“Sebenarnya sedang apa pria itu kenapa belum menghubungiku juga, cepatlah tuan sombong hubungi aku” gumamnya penuh harap kalau rendi akan menelpon dirinya saat ini.
Karena dia yakin pria itu pasti akan menelpon dirinya, karena dia merasa Fahri telah jatuh cinta terhadapnya meskipun pria tersebut berusaha untuk terus menyangkalnya.
Thalia mengambil sapu tangan milik Rendi dari dalam laci,
“Kau tidak bisa membohongi hatimu, kalau sebenarnya kau sudah mencintaiku kan” ucap Thaila berbicara pada sapu tangan tersebut seolah itu Rendi.
Thalia langsung merebahkan dirinya di kasur, dia tampak terdiam mengingat ciuman dari rendi semalam. Dan apa yang pria itu lakukan kepadanya.
“Andai aku membiarkan dirimu membobol ku semalam, apa kau mau bertanggung jawab?” ucapnya lirih seakan menyesal menolak rendi.
“kenapa aku jadi menyesal menolak mu begini,” lirihnya.
“nggak, gue semalam sudah benar menolak pria itu. Pria yang menyebut nama perempuan lain selain diriku cih, aku sudah benar melakukannya semalam menolak hal tersebut untuk apa aku menyesalinya, aku tidak ingin rugi sendiri karena hal itu.” Pungkasnya dengan keyakinan yang sangat serius.
Tok
__ADS_1
Tok,.
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar Thalia sekarang, membuat perempuan itu langsung duduk melihat kearah pintu.
“masuk”ucapnya mempersilahkan orang tersebut untuk masuk.
Pintu langsung terbuka, menampakkan wajah Nafa mamanya, yang melihat padanya kini.
“ada apa ma?” tanyanya pada sang mama.
“Semalam kamu darimana saja? Kenapa tidak pulang ke rumah?” tanya Nafa berdiri melihat putrinya tersebut.
“Aku di tempat Jane,” jawab thalia berbohong.
“kau serius?” Nafa terlihat tidak percaya dengan ucapan putrinya.
“Serius Lah, untuk apa aku berbohong” tukas Thalia malas
“Untung Papa dan kakakmu tidak di rumah semalam, kalau mereka tahu kamu tidak pulang ke rumah. Mama tidak tahu apa yang terjadi padamu Thalia, mama mohon padamu berubah lah jangan seperti ini” ucap nafa tampak sedih.
“Aku memang kenapa, aku tidak ada masalah. Mama kalau mau sedih-sedih jangan disini deh ma. Aku capek, mau istirahat” ucap Thalia jengah dia langsung kembali berbaring tidak menatap sang mama yang menatapnya penuh kesedihan.
Nafa hanya bisa menghembuskan nafas panjang, dengan langkah berat dia berjalan meninggalkan kamar putrinya. Ia menutup pintu itu pelan, Thalia yang mendengar pintu tertutup langsung melihatnya.
...........................
Sudah dua hari berlalu, dan hidup Rendi seharusnya merasa tentram karena dua hari juga Thalia tidak mengganggu dirinya. Tapi ia justru merasa ada yang aneh seperti ada yang hilang. Benar dia merasa kehilangan dan terasa hampa saat ini, dia sendiri saja bingung kenapa ia bisa merasa seperti sekarang.
“jangan gila rendi, ayo fokus kembali dnegan pekerjaanmu” ucapnya memotivasi diri sendiri untuk fokus.
Rendi tengah disibukan menyusun laporan, hari ini dia tidak ada tugas keluar. Ia hanya berdiam di kantor saja mencatat segala laporan dari masyarakat.
“Akhirnya lo udah berangkat,” ucap Hardi dan juga Andre yang menarik kursi didepan Rendi sekarang.
“ada apa? Kalian berdua jangan menggangguku. Aku sibuk” tekan rendi seakan malas untuk menanggapi kedua rekannya.
Meskipun ucapan Rendi tadi seakan mengusir mereka secara halus tapi mereka tidak perduli. Nyatanya keduanya masih disitu memperhatikan Rendi yang tampak lesu,
“Lo kenapa? Sakit pak bro” tanya Andre pada rekannya itu.
Rendi tidak menanggapinya, dia malah sibuk dengan pekerjaannya tetap mengabaikan keduanya.
“Dua hari lalu, cewek cantik yang nemuin lo beberapa hari lalu kemari?” ucap Andre.
__ADS_1
Rendi mengerti cewek mana yang mereka maksud, siapa lagi kalau bukan Thalia. Dia langsung mendongakkan wajahnya melihat kearah keduanya.
“Kenapa dia kemari?” tanya rendi seakan penasaran.
“Dia nemuin pria yang lo dakwa atas dugaan pelecehan” jawab Hardi.
“untuk apa dia menemuinya?” lagi rendi terus bertanya mengenai hal itu. Ia ingin sekali tahu tujuan Thalia menemui pria yang hampir saja melecehkannya.
“Cewek itu gila bro, dia mukul tuh cowok berkali-kali pakai tas. Tapi setelah itu dia langsung bebasin tuh cowok” pungkas Andre.
“Apa? Maksudnya?” ucap Rendi.
“maksud kalian pria itu di bebaskan?” tambahnya.
“Iya, sudah kita bebaskan” ucap hardi.
“apa?” Rendi berdiri sambil menggebrak meja membuat orang-orang yang berada di situ melihat kearahnya.
“Woi, lo kenapa marah begitu?” heran Hardi dan juga Andre.
“kenapa dia malah membebaskan, apa dia gila. Otaknya dimana, pria yang hampir melecehkannya malah ia bebaskan” gumam Rendi tak habis pikir dengan Thalia yang malah membebaskan pria itu.
Kedua rekan rendi menatap tak mengerti, mereka sama-samar mendengar ucapan Rendi barusan.
“kenapa kau terkesan marah mendengarnya?” tanya Hardi
Bukannya menjawab rendi malah langsung pergi dari hadapan keduanya, membuat keduanya ternganga bingung dengan sikap Rendi barusan.
“mau kemana dia?” tanya hardi pada Andre.
“mana gue tahu, woi lo mau kemana?” seru Andre melihat kearah rendi yang berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Keruang pendataan,” jawabnya sambil berjalan tanpa melihat kearah Andre dan juga Hardi.
“kenapa dia mau keruang pendataan?” lagi-lagi keduanya dibuat heran.
“Har, lo lihat nggak dia kayak orang yang lagi cemburu nggak sih” ucap Andre saat melihat sikap Rendi barusan.
“Udahlah, nggak usah ikut campur urusan orang” Hardi langsung berdiri meninggalkan Andre sendirian di situ.
“ya elah sama aja lu” sungut Andre ada hardi yang berjalan meninggalkannya sendiri di meja Rendi.
°°°°
__ADS_1
T.B.C