Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 25 (Season 2)


__ADS_3

Rendi melepaskan pelukan Thalia, dia melihat perempuan tersebut.


“kenapa menatapku begitu, ada yang salah dnegan ucapan ku?” pungkas Thalia saat Rendi melihatnya.


Rendi langsung memalingkan wajahnya tidak menatap kearah Thalia, dia langsung pergi melewati perempuan itu. Tapi Thalia sudah menahannya lebih dulu.


“Lagi dan lagi, bisa tidak kau tidak pergi saat aku bertanya padamu” ucap Thalia melihat kearah Rendi.


“Aku ada urusan, kau disini saja” ucap pria itu sambil melepaskan tangan Thalia dari lengannya.


“urusan apa? Kau meninggalkan istrimu lagi seperti semalam, kau tidak menyesal meninggalkanku terus” tukas Thalia pada Rendi.


“Bisa tidak kau jangan banyak bicara” ucap Rendi tajam.


“Aku punya mulut jadi terserah diriku” pungkas Thalia tidak mau diam.


“Kau tidak boleh pergi sebelum menjawab pertanyaan ku tadi, apa alasanmu masih mempertahankan pernikahan ini padahal aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu?” tekan Thalia, dia butuh jawaban dari Rendi.


“bukannya kau sudah menebaknya, aku ingin balas dendam padamu. Puas” tegas Rendi dan melepas kembali tangan. Dia langsung pergi dari apartemennya meninggalkan Thalia yang diam melihat padanya saat ini.


Rendi membuka pintu apartemen miliknya, dia melihat sekilas kearah Thalia sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan perempuan tersebut.


“jawaban umum bagi orang yang melarikan diri” lirih Thalia, dia langsung melenggang pergi menuju kamar yang dia tempati.


..............................


Rendi pergi ke rumah orang tua Fahri yang berada di daerah bogor, itu sebenarnya bukan rumah orang tua Fahri melainkan rumah kakak perempuan Fahri. Kedua orang tua Fahri memang sesekali tinggal di situ. Dan sekarang mereka sedang berada di sana membuat dirinya terpaksa harus datang ke Bogor menemui mereka.


“Rendi sebentar ya, Papa sama Mama masih di pasar. Kamu minum tehnya dulu” ucap Shela kakak dari Fahri.


“Iya mbak,” jawab Rendi.


“Papa Sasongko sama Mama Wulan berarti kemarin malam langsung pulang kesini mbak” tanya Rendi pada Shela.


“Iya semalem mereka kesini. Karena anak mbak nangis pengen ketemu akung sama utynya” jawab Shela.


Shela yang duduk di kursi sebelah Rendi mengamati wajah pria itu, teman adiknya yang juga sudah ia anggap adiknya sendiri tampaknya sedang murung lesuh. Apa ada alasannya dia menikah secara terburu-buru semalam batin Shela.


“Kamu ada masalah Ren, kalau ada cerita sama mbak. Mbak dengar dari Mama sama Papa semalam kamu menikah ya? Selamat ya Ren” ucap Shela pada Rendi.

__ADS_1


Rendi yang tadinya menggenggam kedua tangannya mendongak melihat kearah Shela.


“Iya mbak terimakasih” jawab Rendi.


“Eh Rend, kamu disini” ucap Seorang pria paruh baya yang baru saja masuk kedalam rumah bersama dengan istrinya.


Rendi dan juga Shela langsung menoleh kearah pintu melihat Sasongko dan juga Wulan yang baru saja berbelanja ke pasar.


“Pa, Ma” ucap rendi langsung berdiri dari duduknya menyalimi kedua orang itu.


“Shela tolong bawa yang dibawa Mama mu itu kebelakang” perintah Sasongko ada putrinya.


“Iya pa,” Shela langsung berdiri mengambil belanjaan yang di beli kedua orang tuanya.


Sasongko dan Wulan langsung duduk di depan rendi duduk sekarang, keduanya menengok ke sana-kemari seperti sedang mencari seseorang lal keduanya saling bertatapan. Baru menatap Rendi yang duduk didepan mereka.


“Mana Thalia?” tanya Sasongko pada Rendi.


“Tidak aku ajak” jawab Rendi singkat.


“Kenapa kamu tidak mengajaknya kesini Ren, pengantin baru seharusnya kemana-mana berdua” pungkas Wulan heran dnegan Rendi sekarang.


“ya sudah Mama ke tinggal ke dapur dulu” Wulan menuruti apa yang dikatakan suaminya barusan.


“Bilang ada apa sebenarnya?” tanya Sasongko yang seakan tahu ada masalah dan yang aneh dengan Rendi.


“Aku harus bagaimana sekarang pa..” lirih rendi terdengar sendu.


“kenapa?”


“Thalia ternyata membohongiku, dia tidak hamil Pa. Aku harus apa sekarang,” ucap rendi.


“Apa? Dia tidak hamil anakmu” Sasongko cukup terkejut mendengar hal tersebut.


Rendi mengangguk lemah, sambil menunduk.


“Aku harus bagaimana a, aku sudah terlanjur menikahinya. Lalu aku apakan pernikahan ini sedangkan alasanku menikahinya karena dia hamil anakku tapi nyatanya” perkataan rendi terdengar begitu teriris dan penuh kebingungan.


Sasongko menghela nafasnya lebih dulu sebelum berbicara, dia melihat kearah anak angkatnya itu.

__ADS_1


“jalani saja pernikahan ini, malah bagus dia tidak hamil di luar nikah. Kamu bisa menjadi wali dari anakmu nanti” ucap Sasongko


“Tapi jika kamu tidak menginginkannya, ceraikan saja istrimu. Daripada nantinya kamu benci padanya malah kamu akan menyakiti dia. Papa mohon padamu jangan ulangi hal yang sama seperti Fahri karena Papa tidak ingin melihat kehancuran dua anak Papa” ucap Sasongko memberi nasehat pada Rendi.


“Tapi ini pernikahan pa, tidak mungkin aku mempermainkan pernikahan ini. bagiku menikah satu kali seumur hidup Pa” pungkas Rendi.


“Ya sudah kalau begitu jalani saja pernikahan ini, dan itu tandanya kamu memang sudah yakin pada Thalia. Kamu sudah mencintainya kan?” ucap Sasongko membuat Rendi melebarkan kedua matanya mendengar ucapan Sasongko barusan.


Dia mencintai Thalia, tidak mungkin. Tapi hatinya sebagian mengatakan itu, apa benar dia mencintai Thalia. Kenapa bisa dia mencintai perempuan itu yang jauh dari kriteria sifat yang dia inginkan. Soal wajah perempuan itu cantik sangat malahan tapi untuk sifat bukan idamannya. lalu apa yang membuatnya jatuh cinta jika memang seperti itu.


“Tidak Pa, tidak mungkin. Papa tahu sendirikan aku punya tunangan. Papa tahu melody kan temanku dulu” ucap rendi menyangkalnya


“Iya, tapi bukannya kamu sudah putus dengannya” heran Sasongko karena setahunya Rendi sudah putus dnegan perempuan bernama Melody itu dan dia tahu hal itu dari Fahri.


“Iya kita pernah putus tapi kita bersama lagi Pa. Dan sekarang dia Koma gara-gara diriku,” ucap rendi lemah.


“Bagaimana bisa?”


“Panjang ceritanya”


“Lalu hatimu sekarang memilih siapa? Dan yang sudah masuk dalam kehidupan mu sekarang siapa? Kalau kamu masih ragu dengan pernikahanmu mending putuskan lebih awal. Jangan menunggu sebelum kamu mulai kehilangan,” ucap Sasongko.


Rendi terdiam mendengar ucapan Sasongko barusan, ucapan itu malah membuatnya semakin bingung dan terbebani. Entah mengapa dia memiliki perasaan terbebani saat ini.


“Dari yang papa lihat, hatimu sudah untuk orang lain bukan untuk Melody” tebak Sasongko, setelah mengamati rendi.


Rendi langsung melihat kearah pria paruh baya itu.


“Kenapa Papa bilang begitu,?”


“Dari apa yang Papa lihat makanya Papa bilang begitu, kamu merasakan beban sekarang gara-gara dirimu punya rasa bersalah makanya kamu tidak mengenali hatimu sendiri dan tidak menyadari jika hatimu telah berpaling pada orang lain” ucap Sasongko.


“Kalau kamu menikahi Thalia hanya karena anakmu yang dia kandung, kamu tidak mungkin sebegitu nya tanpa berpikir panjang. Coba pikir kamu hanya tahu Thalia hamil karena dia bilang kemungkinan hamil tanpa adanya tes dan bukti. Dia bilang hal itu tepat setelah kalian menghabiskan waktu semalaman kan. Disitu kamu tidak sadar dan tidak tahu apa yang kamu lakukan. Tiga hari berselang Thalia tidak menghubungi dirimu, tidak mengikuti dirimu seperti biasanya. Kamu langsung gelisah kan dan kamu tanpa sengaja bertemu dengan Thalia bersama dengan pria yang kamu tahan. Kamu disitu marah dan langsung menyeret Thalia keluar. Itu apa tandanya? Itu tandanya kamu cemburu rendi, kamu tidak ingin milikmu bersama dengan orang lain” Jelas Sasongko pada rendi.


Rendi lagi-lagi hanya bisa diam mendengar perkataan dari Sasongko itu, dia juga baru sadar kenapa dia bisa bodoh aturan dia menunggu tes kehamilan sebagai bukti. Tapi kenapa dia terburu-buru ingin bertanggung jawab. Jadi apakah dia ada rasa untuk Thalia, jika memang dia ada rasa untuk Thalia lalu saat Melody sadar dia harus bilang apa pada perempuan itu. Rendi memijat pelipisnya, merasakan pusing yang datang tiba-tiba.


“Pikirkan dengan baik-baik ren, jangan sampai kamu mengalami penyesalan seperti Fahri dulu. yang terlambat menyadari perasaannya” ucap Sasongko pada Rendi.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2