
Fahri menaruh Axel yang sudah tertidur di gendongannya dengan perlahan, dia juga dengan hati-hati menaruh anaknya tersebut agar tidak mengganggu Lita yang membelakangi dirinya saat ini. dia tidak ingin istrinya terbangun karena hal ini.
Sebenarnya Lita belum tidur, dia hanya pura-pura tidur. Dia merasakan Fahri yang sedang menaruh Axel disebelahnya. Merasakan hal itu membuat Lita sedih, dia sedih karena kenapa Fahri tidak baik dari dulu kepadanya kenapa baru sekarang pria itu bersikap baik padanya setelah menorehkan luka di dalam hatinya.
Fahri menaikkan kakinya keatas tempat tidur perlahan, dia sungguh senang dengan semua ini. yang sudah dia tunggu selama ini akhirnya terwujud, dia bisa tinggal dengan istri dan anaknya meskipun kondisi rumah tangga mereka masih tidak baik tapi setidaknya Lita sudah bisa menerima dirinya.
Lita merasa, tidak sebaiknya dia membelakangi anaknya, dia memutuskan untuk berbalik badan bertepatan dengan itu Fahri Fahri sendiri menatap kearahnya. Membuat mereka berdua saling tatap satu sama lain.
“Axel sudah tidur, kalau kau tidak nyaman berbagi tempat tidur denganku. Aku tidur di sofa yang ada di sana saja” Fahri mendudukkan dirinya dan berbicara sembari menunjuk sofa yang ada di kamar itu. Dia bersikap begini karena berusaha memahami Lita, dia akan menghargai keputusan perempuan itu. Dia tidak ingin membuat Lita tidak nyaman dengannya, ia ingin mendapat maaf dari Lita secara bertahap karena ia saat ini benar-benar menghargai istrinya dan mencintai perempuan itu.
“terserah kau saja” ucap Lita singkat dan dia mendekatkan dirinya pada Axel, mengusap lembut bayi kecil itu.
“kalau begitu aku ke sana” dengan langkah berat Fahri bangkit dari kasur dia berjalan mengarah ke sofa, dia akan tidur di kamar yang sama tapi tempat tidur yang berbeda dengan istrinya.
“Andai kau begini dari pertama kita menikah dulu, aku tidak akan sedingin ini denganmu” batin Lita menatap Fahri pilu.
........................
Lita bangun dari tidurnya dan dia langsung melihat anaknya yang berada di sebelahnya tapi matanya langsung terperanjat saat tidak mendapati Axel yang ada di sebelahnya. Dia langsung terduduk, melihat ke arah sofa Fahri juga tidak ada.
“Axel, Axel,” teriaknya ketakutan. Dia takut kalau anaknya dibawa pergi oleh Fahri.
“Axel, kamu dimana Axel,.” Teriak Lita histeris saat tidak mendapati Axel dan juga Fahri di dalam kamar.
“kemana pria bregse...” belum saja Lita selesai berprasangka buruk Fahri tiba-tiba saja keluar dari arah balkon. Meskipun mereka tinggal di Apartement tapi kamar Fahri memiliki Balkon.
“kamu sudah bangun?” ucap Fahri sambil menggendong Axel dia menatap Lita, yang terlihat ketakutan dan khawatir.
“kemari kan anakku,” Lita langsung mengambil Axel begitu saja dari gendongan Fahri saat ini.
“Maaf membuatmu khawatir, aku tadi hanya membawa Axel ke balkon menjemurnya” ucap Fahri menatap Lita yang melihat kearah Axel memastikan bayi itu tidak kenapa-kenapa.
“kamu mandilah, biar Axel aku yang gendong” ucap fahri lagi.
“Nanti,.” Jawab Lita singkat dan berjalan kearah tempat tidur sambil menggendong anaknya.
“Kamu mau makan apa biar aku yang buatkan?” ucap fahri tidak habis akal untuk terus berbicara dengan Lita, karena dengan dia bicara maka akan semakin mengikis ketidak nyamanan diantara mereka..
__ADS_1
“tidak usah, aku buat sendiri saja” ucap Lita menaruh anaknya di tempat tidur.
Fahri diam sebentar sambil memperhatikan Lita yang melepas baju yang dikenakan anak mereka. Ia berjalan mendekati Lita saat ini.
“kamu mau memandikan Axel, aku hangatkan airnya dulu ya.” Ucap Fahri dan langsung berjalan ke luar kamar. Dia akan mengambil bak khusus untuk memandikan bayi.
Lita sendiri menatap heran Fahri kenapa pria itu malah keluar, dan astaga dia baru ingat kalau lupa membawa bak mandi milik Axel dan keperluan mandi lainnya. Terus bagaimana anaknya mau mandi. Lita menepuk jidatnya sendiri merasa bodoh,
Tak lama kemudian fahri masuk membawa handuk bayi dan juga bak bayi. Dia begitu kerepotan karena membawa semua itu sendiri.
Lita terpaku di tempatnya, dia melihat Fahri yang membawa keperluan mandi untuk bayi. Darimana Fahri mendapatkan semua itu,
“Kamu menunggu lama ya, maaf” ucap Fahri sambil menaruh bak bayi tersebut didepan pintu kamar mandi saat ini dan dia segera menggantung handuk di gantungan baju yang tidak jauh dari situ. Ia juga segera bergegas kedalam kamar mandi mengambil air untuk di taruh di dalam bak.
Lita terdiam dengan semua kesigapan Fahri saat ini, pria itu benar-benar melakukan tugasnya sebagai seorang ayah dan suami yang baik. Jujur meskipun dia masih belum memaafkan Fahri tapi hatinya terketuk dengan apa yang dilakukan Fahri saat ini.
.......................
Fahri hari ini sengaja tidak kerja, dia sedari tadi dia duduk di sofa di dalam kamarnya pura-pura sibuk dengan Hpnya saat ini. tapi sebenarnya dia sedang curi-curi pandang memperhatikan Lita yang sedang bermain dengan anaknya di tempat tidur. Ingin sekali dia mendekat tapi, dia menghargai Lita. Jadi untuk saat ini dia hanya melihat mereka saja dari jauh.
Lita sendiri juga begitu, walaupun dia sibuk dengan Axel tapi dia sesekali melihat juga ke arah Fahri. Pria itu hanya sibuk dengan Hpnya saja tanpa memperdulikan mereka. Tak ada niat dari pria itu untuk mendekat, apakah Fahri memang tidak sepenuhnya perduli dengan dirinya atau Axel atau pria itu hanya berpura-pura baik saja. Batin Lita tersu bertanya-tanya pikiran negatif begitu terasa bersarang saat ini.
Lita langsung menoleh kebelakang melihat Hpnya yang berada di nakas meja. matanya langsung berbinar saat melihat siapa yang menelponnya.
Fahri yang juga mendengar itu ikut penasaran, dia terus memperhatikan kearah Lita. Dia begitu penasaran siapa yang menelpon Lita sampai membuat perempuan itu tampak begitu senang.
“Kau sudah ada dimana?” tanya Lita bertanya pada orang yang berada di seberang sana.
“Serius kau sudah ada di lift, oke aku tunggu.” pungkas Lita lalu menaruh Hp miliknya pada tempatnya kembali.
Lita langsung berdiri menggendong Axel, dan itu tidak lepas dari perhatian Fahri. Dia semakin penasaran kira-kira siapa yang baru saja menelpon istrinya tersebut dan kenapa Lita tampak antuasias sekali.
“Aku keluar sebentar” pungkas Lita sedikit melihat kearah Fahri.
Fahri langsung berdiri saat diajak bicara.
“kamu mau kemana?” tanyanya menatap Lita.
__ADS_1
“Aku mau membukakan pintu untuk kak Alvin” jawab Lita jujur tapi dia sedikit ragu untuk mengatakannya.
Fahri yang mendengar nama Alvin disebut membuat dirinya merasa tidak suka tapi dia menutupi ketidak sukaannya itu.
“Ayo, aku yang bukakan” ucap Fahri langsung mendahului Lita.
Lita melihat Fahri, pria itu tampak biasa saja. Membuat Lita sedikit merasa kecewa.
........................
Fahri membuka pintu apartemennya saat ini dan benar saja Alvin sudah berdiri didepan pintu. rey yang tadinya tersenyum antusias langsung terdiam saat melihat didepannya bukan Lita yang membukakan pintu.
“Mau menemui Lita kan? Silahkan masuk’ ucap Fahri dingin. Dia mencoba bersikap biasa saja.
“Maaf, kalau aku kemari menemui istrimu. Aku hanya ingin melihat Axel saja, apa boleh aku masuk” ucap Rey hati-hati, jujur dia sedikit merasa tidak enak.
“Tidak apa, masuk saja” Fahri mempersilahkan Rey untuk masuk. Fahri sendiri segera memberi jalan untuk Rey agar bisa masuk kedalam.
“Kamu sudah datang,” ucap Lita yang baru saja muncul.
“iya, Axel. Daddy datang” lirih Rey sambil berseru berjalan mendekati Lita yang sedang menggendong Axel.
Mendengar kata Dady keluar dari mulut Rey seketika membuat fahri terpaku, apalagi melihat Lita yang tersenyum saat melihat Rey yang menggendong anaknya. Lita tampak senang dan tidak masalah dengan hal itu.
Seketika tangan Fahri terkepal menahan gejolak iri dalam hatinya, jujur dia tidak terima jika anaknya memanggil orang lain sebagai daddy nantinya. Dan rasa posesifnya pada Lita saat melihatnya dekat dengan pria lain seakan tidak bisa ia bendung. Tangannya benar-benar terkepal kuat menahan diri agar tidak ia luapkan.
Kalau dia menunjukkan marahnya bisa-bisa Lita semakin membencinya saat ini.
“Kalian mengobrol lah, aku pergi sebentar” ucap Fahri sedikit bergetar menahan amarahnya.
Lita dan Rey yang tadinya tidak melihat kearah Fahri langsung menatap pria itu.
“kenapa kau malah ingin keluar,” heran Rey.
“tidak apa, kalian bicara saja . temanku datang dan ingin bicara denganku di bawah” tukas Fahri.
Dia langsung pergi keluar apartemennya meninggalkan Lita dan rey berdua saja. Lebih baik dia keluar dari pada dia masih didalam satu tempat dengan Lita dan juga Rey. Hatinya terasa panas melihat mereka berdua.
__ADS_1
°°°
T.B.C