Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 128 (Season 2)


__ADS_3

Thalia melangkah berat kedalam umah, rumahnya sepi sekarang suaminya pergi untuk beberapa hari saat ini.


“Mau ngapain sekarang, kenapa jadi sepi begini” batinnya sambil melangkah masuk keruang tengah.


“Non Thalia, mau sarapan apa? biar bibi buatkan?” ucap Bi Warsih saat datang menghampiri majikannya tersebut.


“Apa aja bi, terserah bibi aja. Jangan banyak-banyak ya buatnya. Kan cuman kita berdua di rumah. Eh banyak juga nggak pa-pa dengan sekalian buat yang jaga didepan aja nanti” pungkas Thalia yang duduk di sofa sambil mengusap perutnya.


“Iya non, kalau begitu Bibi masak tumis cumi saja ya”


“Iya nggak pa-pa, oh iya bi sekalian aku minta tolong buatkan susu ya” pinta Thalia pada sang asisten rumah tangganya itu.


“Siap non Thalia, kalau begitu bibi ke dapur dulu ya” pamit Bi Warsih.


“hemm,”


Thalia langsung menyalakan tv-nya saat ini, dia merasa malas mau melakukan apa-apa. rasanya tidak ada Rendi di rumah membuatnya lemas tak bersemangat sama sekali sekarang. Mampukah ia biasa saja dalam seminggu, satu hari ditinggal saja sudah tak semangat begini apalagi harus seminggu.


“Dia kenapa sih, aku suruh keluar dari Polisi nggak mau. aku jadi sendiri sekarang kan” Thalia menggerutu sendiri di sofa, dia bukannya tidak suka dengan pekerjaan Rendi tapi dia benci di tinggal begini.


“Ah, ngapain juga aku kesal ya. Aturan aku bangga punya suami Polisi. Malah asik orang kaya punya suami polisi.” Ucap Thalia terus berbicara sendiri di sofa.


“Semangat Thalia, kamu bisa. Kau kan perempuan strong” lanjut thalia menyemangati dirinya sendiri. dia langsung berdiri lebih baik dia berendam saja sekarang kayaknya asik berendam pagi-pagi.


“BI, nanti anterin ke kamar aja ya susunya” seru Thalia sambil berjalan pergi menuju kamarnya.


“Iya non” sahut Bi Warsih.


..........................................


Rendi saat ini berada di mobil dalam perjalanan menuju kantor polisi dia tidak sendiri tetapi diantar oleh Fahri yang memang dia suruh untuk mengantarnya.


Sedari tadi Rendi hanya diam melihat keluar jendela, tidak ada pembicaraan di antara keduanya kini.


“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Fahri yangs sesekali melihat pada Rendi yang diam menatap jendela.


“Mikirin Thalia?” tanya Fahri lagi.


“Nggak,” sangkal Rendi.

__ADS_1


“Kalau mikirin istrimu yang kenapa? Kau khawatir dengannya. udah nggak usah khawatir, i ada Lita dan diriku.”


“Iya, titip ya, jaga istriku dan calon anakku. Aku minta tolong padamu” pungkas Rendi pada akhirnya, ia melihat temannya itu penuh harap.


“pastilah, kan ada Papa sama Mamaku juga. mereka pasti bakal nemenin Thalia” tutur Fahri.


“aku ucapkan terima kasih, dirimu dan keluargamu selalu membantuku” pungkas Rendi merasa bersyukur.


“santai saja sih, kau juga sudah dinggap anak oleh orang tuaku. Bukan itu saja selama ini aku juga sudah menganggap mu seperti saudara sendiri. jadi santai aja” ucap Fahri sambil menepuk pelan dengan tangannya.


“Sekali lagi terimakasih.”


“Sama-sama, Ren nanti titip salam untuk Faldo ya. Kau bertugas di sana dengan Faldo kan?”


“Dari jadwal tugas yang di keluarkan sih iya, tapi sekarang Faldo malah belu pulang dari luar negeri” tukas Rendi.


“Dia di Luar negeri, ngapain?”


“Kerjasama dengan interpol Amerika”


“Oh, baguslah, kalau dia mau nerima itu. bakatnya kan sebelas dua belas sam lu Ren.”


“Apa sih, aku biasa saja”


Rendi hanya mengangguk dan dia sesekali melihat ponselnya sekarang yang sudah jam tujuh pagi. Dia harus sampai di kantor sebelum jam delapan.


...........................................................


Revan saat ini datang ke kodim untuk bertemu dengan Papanya, dan juga bundanya dia ingin berpamitan untuk pergi ke Sumatra Selatan. Dia pergi ke sana untuk menemui Rendi sekaligus melihat lokasi untuk pembukaan usahanya di bidang tambang berupa minyak bumi. Kalau ia cocok dengan tempat itu dan hasilnya kemungkinan ada. Nanti bakal ia usahakan untuk meminjam uang terlebih dahulu untuk membuka lahan tersebut.


Saat dia akan masuk kedalam kodim kebetulan ia bertemu dengan Caca yang mengendarai motor dinas besar keluar dari Kodim.


Perempuan itu tampak gagah meskipun dia seorang perempuan, dia tampak tangguh dan tidak lemah dengan seragam yang dikenakannya saat ini.


Ia yang mengendari motor gedenya melihat Revan yang aan berjalan masuk kedalam Kodim membuat dia menghentikan motornya saat ini.


“Eh bang Revan, mau ketemu bapak ya?” sapa Caca.


“Iya Ca, Papa sama Bunda ada?”

__ADS_1


“Ada bang, di rumah dinas. Tapi masih ada tamu dari koramil, kalau boleh tahu ada perlu apa ya bang?”


“Saya mau bicara sebentar sama Papa”


“Kalau begitu masuk saja bang nggak pa-pa, kalau begitu saya permisi ya bang” ucap Caca mempersilahkan Revan masuk dan dia langsung undur diri..


“Kalau boleh tahu kamu mau kemana Ca,” tanya Revan pada Caca.


“Mau ada perlu bang, saya permisi bang” jawab Caca sambil tersenyum.


“”Bentar Ca, saya mau ngomong sebentar sama kamu” Revan terlihat terasa kikuk, saat dia ingin membahas soal beberapa waktu lalu.


“Ada apa ya bang?” Caca yang tadinya mau menyalakan mesin motonya langsung tidak jadi dan kembali melihat kearah Revan.


“Mmm, begini Ca. Saya mau minta maaf soal beberapa hari lalu. Asli saya waktu itu kepepet ca. Saya jadi nggak enak sama kamu,” ucap revan meskipun ragu.


“Soal apa yang?” Caca tampak bingung dengan maksud Revan tersebut.


“Soal saya yang bilang kalau kamu calon istri saya, saya minta maaf ya”


“Oh itu, santai aja bang. Aku nggak masalah kok.”


“Tapi saya yang nggak enak sama kamu, kamu banyak bantu saya. Ini saya mau ke daerah Sumatera Selatan, kamu mau apa? sebagai balas budi saya”


“Aduh nggak usah bang, nggak pa-pa kok. Itu sudah jadi kewajiban saya sebagai manusia yang memang harus saling menolong satu sama lain”


“Maaf ya bang, saya harus permisi dulu, ada urusan penting. Bang revan masuk aja kedalam bang,” lanjut Caca dan langsung menyalakan mesin motornya.


“mari bang” ucapnya lagi yang tampak terburu-buru saat ini.


Revan hanya diam melihatnya saja, dia malah jadi merasa semakin tidak enak karena perempuan itu tidak mau ia belikan apa-apa.


“Ah sudahlah. Dia sendiri yang tidak mau kenapa aku yang jadi pusing begini” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. Dia langsung berjalan pergi masuk kedalam Kodim menuju rumah dinas Papanya.


Tapi tiba-tiba saja Revan menghentikan langkahnya dan melihat kebelakang, dimana Caca sudah tidak terlihat.


“Aku belikan oleh-oleh sajalah, sebagai balas budiku” pungkas Revan, dan dia melangkah kembali untuk menemui sang Papa.


°°°

__ADS_1


T.B.C


note: Maaf ya kk semua sudah nunggu" up, author lagi sakit mata jadinya menghindari penggunaan gadget, jadi maklum ya kalai upnya jarang beberapa hari ini


__ADS_2