
“Ada apa Mama mertua?” ucap Thalia yang baru keluar dari dalam menatap ibu mertuanya yang tadi duduk langsung melihat kearahnya.
“mana Rendi, aku ingin bertemu dengannya” jawab Mama endi dan berdiri melihat kearah Thalia yang tengah menatapnya.
“Bukannya tadi bibi ku sudah bilang Rendi tidak di rumah, kenapa sih tidak percaya juga” kesal Thalia.
“kau jangan bohong menantu, kalau dia tidak di rumah kenapa mobil nya di rumah. aku lihat di luar tadi ada mobil di cuci” Mama Rendi begitu ngeyel tak percaya dengan ucapan Thalia.
“”Iih kenapa sih Rendi punya Mama sepertimu, ngeyel banget sudah tua ngeyel lagi” ketus Thalia.
“Kau kurang ajar ya, bagaimanapun aku mama mertuamu tidak sebaiknya kau bicara begitu denganku”
“Iya kau Mama mertuaku yang tak dianggap oleh anakmu, jadi untuk apa aku sopan denganmu. Lebih baik kau pergi saja Mama mertua, aku capek” usir Thalia pada perempuan itu.
“Aku tidak akan pergi sebelum Rendi menemui ku,”
“Asli udah tua ngeyel pula, sudah aku bilang kan suamiku tidak di rumah. pulang gih, dia di Sumatera sekarang” kesal Thalia yang sudah sampai ubun-ubun berdebat dnegan mertuanya, sesekali dia menghirup nafas dalam-dalam dia merasa engap saat bicara saat ini.
“Haduh sabar, sabar” ucapnya sambil mengusap perutnya sendiri.
“Tolonglah aku hanya butuh anakku untuk memberitahuku dimana Revan, ini sudah seminggu tapi kalian tak kunjung memberitahuku dimana Revan”
“Bi suruh dia pergi, aku engap melihatnya” sinis Thalia menatap mertuanya tak suka.
“Kau mengusirku,”
“Ya mama mertua, kau tidak lihat aku sedang hamil tapi kau membuat ku emosi pergi sana. Tolong mengertilah”
Mama Rendi hanay diam memperhatikan Thalia yang tampak lelah meladeni dirinya.
“Oke aku keluar tapi aku pinjam mobilmu, kau tidak tahu biaya yang aku keluarkan untuk ke sana kemari dengan taksi banyak yang sudah ku keluarkan. Pinjami aku mobilmu maka aku akan pergi”
Mendengar itu membuat Thalia terperangah menatap tak percaya pada mertuanya yang tak tau diri. Bahkan Bi Warsi sampai menganga melihat kelakuan mama dari Rendi.
‘Tidak tahu malu ya non” bisik Bi warsih ditelinga Thalia.
“enak saja mau pinjam mobil, nggak sudah sana pergi” ucap Thalia sambil berjalan mendekati mertuanya dia akan mengusir mertuanya itu dia sudah kesal.
Bi Warsi ayng melihat kekesalan Thalia langsung mengikuti majikannya dia khawatir kalau Thalia akan kenapa-kenapa.
“Pergi, sana pergi” usir Thalia sambil mendorong pelan Mama mertuanya.
“Kamu apa-apaan sih menantu tidak ada rasa hormatnya, Mamamu tidak pernah mengajarimu hah.” Kesal Mama Rendi.
“Pergi,” kesal Thalia mendorong Mama Rendi lagi agar keluar.
__ADS_1
“Sepertinya tidak, Mamamu mungkin liar sepertimu makanya Papamu selingkuh dan melahirkan kakakmu itu cih ternyata buah jatuh tak jauh dari pohonnya” cibir Mama Rendi menatap sinis Thalia.
Thalia mengepalkan tangannya, dia begitu marah saat ini bisa-bisanya Mama Rendi berbicara seperti itu soal Mamanya.
“Kau tahu apa hah,” kesal Thalia dan langsung menarik rambut mertuanya sendiri dia sudah teramat kesal serta marah mladeni mertuanya yang menyebalkan.
“Non, non sudah non” ucap Bi Warsih yang semakin takut melihat pertikaian di depannya.
“Lepasin saya, Thalia lepas,” perempuan paruh baya itu berusaha melepaskan tangan menantunya dari kepalanya.
“Ada hak apa anda menghujat Mama saya, kau sendiri apa berkaca dengan dirimu. Kau istri matre tak becus mengurus suami dan anak bisa-bisanya mengatai Mamaku” geram Thalia dan terus menarik kuat rambut mertuanya.
“Lepasin saya, saya bilang lepas” ucap Mama Rendi berusaha melepaskan diri dari Thalia yang menarik rambutnya. Tak bisa melakukan apa-apa membuat Mama Rendi langsung mendorong kuat Thalia saat ini.
Sangking kuatnya dorongan dari mertuanya itu membuat Thalia terjatuh dengan perut yang membentur lantai terlebih dulu.
“Non Thalia, “ teriak Bi Warsih yang sedari tadi berusaha memisahkan keduanya namun tak berhasil dan malah membuat Thalia saat terdorong.
“Arkhh, Arkkh sakit Bi” erang Thalia yang memegangi perutnya akibat terlempar ke lantai barusan.
Bi Warsih berlari tergopoh-gopoh menghampiri majikannya saat ini. dia takut majikannya kenapa-kenapa karena mengerang kesakitan yang teramat.
Mama Rendi hanya melihatnya terperangah, dia tampak syok melihat Thalia yang kesakitan dia merasa cemas dengan hal itu.
“Bi, sakit, Sakit BI, arkkh, sakit Bi to..tolong aku bi” rintih Thalia.
“A..ayo non kita ke rumah saki” Bi Warsih langsung membantu Thalia berdiri dan mama rendi menghampiri berniat membantu juga dia merasa menyesal dan ketakutan sendiri.
“Bi,..sakit,.” lirih Thalia menahan sakit saat berdiri.
Melihat itu membuat Bi Warsih merasa tak tega dia begitu cemas saat ini sembari berjalan memapah Thalia dengan di bantu Mama Rendi.
“Tha..Thalia, Ma..Mama minta maaf” gemetar Mama Rendi.
Thalia diam saja dan terus merintih sakit,
“a..ada darah non, ayo buruan non” ucap Bi Warsih semakin cemas saat dia melihat darah yang keluar di bawah Thalia.
“Darah,” Thalia langsung menunduk begitu juga Mamanya Rendi.
“Darah Bi, a..anakku nggak pa-pa kan Bi, ayo Bi buruan, aku takut anakku bi, anakku nggak papakan” ucapnya sedikit terisak dia begitu takut anaknya akan kenapa-kenapa sembari menahan sakit dia berjalan tertatih dengan BI Warsi dan juga mertuanya yang menyebalkan.
.................................
Rendi saat ini menatap empat orang tersangka yang sudah berhasil di keluarkan dari rumah kosong salah satu dari mereka tertembak di lengannya karena adu tembak dengan Rendi dan juga Rekannya yang lain.
__ADS_1
Karena adu tempat itu membuat lengan Rendi terserempet pluru dan terluka kecil, tapi itu terlihat jelas dan harus di hentikan darahnya sehingga ada baju salah satu Rekannya yang digunakan untuk membalut luka Rendi.
Mereka berkumpul didekat mobil, mengelilingi para penjahat itu.
“Kau sih melawan kita tadi, lihat kaki dan lenganmu terluka kan. Makanya menurut dengan kami” tukas salah satu rekan Rendi yang mengobati luka penjahat tersebut.
Penjahat itu hanya diam saja tidak menjawab dan yang lainnya tampak menunduk takut melihat para polisi didepan mereka.
“barangnya kalian sembunyikan dimana?” tanya Rendi membuka suaranya.
“Ada pak di..”
“Dimana jawab” tukas Rio.
“Di rumah itu pak”
“Mana ada, kita sudah mencarinya dimana-mana tidak ada juga barang yang kau edarkan itu, kau taruh dimana hah” tegas Rendi.
“Jawab” sahut Sofyan.
“Kalau kalian tidak menjawabnya, hukuman kalian bisa lebih berat mengerti” ucap rendi lagi.
“Di..dibawah keramik rumah itu pak” jawab salah satunya.
“Dibawah keramik mana?” tukas Rendi lagi.
“Di dekat kamar mandi pak” jawab mereka.
“Sofyan suruh yang lain mengeceknya lagi, dan pastikan barangnya benar-benar ada disitu” perintah Rendi pada Sofyan.
“Siapa Ndan,” Sofyan segera menghubungi rekan-rekannya yang lain untuk mengecek apakah barang yang mereka cari ada di tempat yang di sebutkan para pengedar itu..
“Rio interogasi mereka sebentar,” pinta Rendi pada rekannya, dia sedikit mundur kebelakang sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba pusing.
“kenapa Ndan?” tanya Rio yang ada disebelahnya.
“Nggak tahu kepalaku tiba-tiba pusing, dan hatiku tiba-tiba gelisah” lirih Rendi setengah berbisik sambil memegangi dadanya yang terasa gelisah.
“kenapa denganku, perasaan ini luka kecil tapi kenapa rasanya malah sakit begini” batin Rendi.
“Kenapa aku juga jadi gelisah begini, Thalia kamu di rumah baik-baik saja kan sayang” batinnya dan tiba-tiba dia terbayang wajah istrinya memikirkan itu membuatnya semakin cemas saja tangannya mengusap kasar wajahnya yang terlihat kegelisahan disitu
°°°
T.B.C
__ADS_1