
David duduk di luar rumah keluarga Dira, dia menatap Hpnya tampak puas semoga setelah ini adiknya itu akan terbebas dari pria brengsek bernama Fahri.
"Kak David,." panggilan serta tepukan di bahunya membuat David melihat kebelakang. Didapatinya Willy yang tengah menatapnya saat ini.
"Ada Apa Willy?" ucap David sembari memasukkan Hpnya kedalam saku jaket saat ini. Dia tengah mengenakan jaket karena Belanda sedang musim dingin.
"Kak David yang kenapa? dingin-dingin duduk di luar" pungkas Willy yang juga ikut mendudukkan dirinya di sebelah David saat ini.
"Aku sedang menghubungi rekan bisnisku" ucap David berbohong.
Willy menatap David seksama, menaruh rasa curiga yang tiba-tiba merasuk saja kedalam pikirannya.
"Kenapa menatapku begitu?" David menyadari kalau Willy menatapnya tak percaya.
"Tidak" Willy menggeleng dan mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Kak David tahu sesuatu soal kak Lita?" tanya Willy tak menatap David yang menatapnya kini.
"Maksudmu?"
"Aku menangkap sesuatu yang aneh dengan kak Lita ada yang membuatnya sedih sekarang" ucap Willy terus menatap ke depan tanpa menatap David yang sudah menatap ke depan juga.
"Aku tidak tahu, kau tahu sendiri Lita bagaimana denganku. Apalagi setelah kepergian kakakmu, dia semakin menutup diri" ucap David berpura-pura tidak tahu masalah Lita. Karena tidak mungkin dia bilang apa yang sebenarnya terjadi.
Willy hanya mengangguk saja tapi dia masih melihat keraguan itu. Apa yang terjadi pada perempuan yang sudah ia anggap kakaknya sendiri.
………………
Fahri menuruni tangga dengan tertatih-tatih, ia memutuskan keluar dari kamar saja saat ini daripada dia terus berada di dalam kamar rasanya begitu sumpek dan membosankan hanya berbaring saja seperti itu.
"Ini sudah Sore, perempuan itu pulang atau tidak hari ini. Sampai dia belum pulang juga lihat apa yang akan ku perbuat, aku kali ini serius dengan ucapan ku" ucap Fahri dingin.
"Mbok Jum, Mbok Jum,.." teriaknya saat sudah turun dari tangga.
"I..iya Den Fahri" Mbok Jum berlari kecil mendekati Fahri yang berada di depan tangga.
"Buatkan aku teh hangat dan taruh di ruang tengah" ucapnya pada Mbok Jum.
"Iya Den,." Mbok Jum langsung berlari ke dapur untuk membuatkan minuman sang majikan.
Fahri sendiri langsung berjalan keruang tengah, dia akan duduk bersantai di situ sambil menonton tv.
Baru beberapa langkah, ia berhenti karena ada seorang yang berjalan mendekat padanya saat ini.
__ADS_1
"Papa?" herannya saat melihat sang mertua yang datang kerumahnya.
"Kenapa denganmu Fahri?" ucap Aryo saat melihat menantunya yang wajahnya habis dipukuli seseorang.
"Aku tidak apa-apa Pa, duduk Pa" bohong Fahri.
"Tapi wajahmu?"
"Oh ini, hanya kecelakaan kecil Pa" pungkas Fahri.
"Papa ada perlu apa kemari?"
"Papa kemari hanya ingin memberitahumu dan Lita untuk datang ke perayaan ulang tahun perusahaan kita. Dimana istrimu kenapa tidak kelihatan?" ucap Aryo.
"Dia sedang pergi bertemu temannya Pa" jawab Fahri berbohong.
"Oh, Kalau begitu Papa pulang dulu ya"
Fahri terkejut dengan mertuanya yang tiba-tiba akan pamit pulang padahal baru saja datang.
"Kenapa buru-buru pulang Pa?"
"Papa kemarin cuman memberitahukan pada kalian soal ulang tahun perusahaan dua hari lagi dan sebenarnya Papa ingin bertemu Lita tapi dia tidak ada"
"Papa hanya ingin memeluknya saja, Papa merasa sedih dengan hidupnya ini semua salah Papa. Karena Papa dia menderita, Bahkan Mama kandungnya saja tidak menginginkan dirinya saat ini, Dia pasti sedih sekarang soal Mama kandungnya itu"
"Memang Lita bertemu dan tahu soal ibu kandungnya?"
"Dia sudah tahu, sebulan lalu sebelum dia kecelakaan dia bertemu dengan Mama kandungnya dan Papa baru tahu soal itu" ucap Aryo sedih.
"Jadi perempuan itu sudah bertemu ibu kandungnya, sebulan lalu. Kapan dia bertemu?" batin Fahri.
"Papa pulang dulu ya, kenapa malah jadi curhat denganmu" ucap Aryo dengan tersenyum.
"Tidak apa Pa" pungkas Fahri ikut tersenyum.
°°°°°
Akhirnya Lita pulang juga setelah beberapa hari dia ada di Belanda, dia masuk kedalam rumahnya dengan terburu-buru karena tidak sabar ingin bertemu dengan Fahri dia benar-benar merindukan pria itu. Dan ia ingin tahu bagaimana kondisi Fahri setelah keluar dari rumah sakit empat hari lalu.
Dia tahu itu semua dari mertuanya yang memberitahukan semuanya soal Fahri.
Kenapa mertuanya memberitahukannya itu, karena dia dulu yang menghubungi. Ia mencoba menghubungi Fahri tapi tidak bisa alhasil dia memutuskan menghubungi Mama dari pria itu.
__ADS_1
"Mau kemana kamu?" langkah Lita yang cepat akan menaiki tangga terhenti saat melihat Fahri yang berbicara padanya.
"Mas,.." ucap Lita senang dan langsung berlari memeluk Fahri saat ini.
Fahri tentu saja terkejut menerima pelukan itu, dia reflek membalas pelukan dari Lita. Entah mengapa rasanya dia merasa hangat dan tenang setelah melihat perempuan yang beberapa hari ini tidak ia lihat.
Tapi seketika dia tersadar dan kembali dikuasai oleh egonya seperti dulu.
Fahri melepaskan pelukan Lita dengan paksa,.
"Lepaskan, berhenti menyentuhku perempuan pembunuh dan tukang selingkuh sepertimu" ucap Fahri menghempas Lita membuatnya terdorong kuat ke belakang.
"Mas, kamu ngomong apa sih. Siapa yang selingkuh,"
"Tidak usah pura-pura bodoh begitu, kau beberapa hari ini pergi kan dengan pacarmu itu. Darimana saja kau, menghabiskan malam dengannya"
"Kamu ngomong apa sih mas, jangan asal nuduh"
"Aku tidak asal menuduh mengerti, aku ada bukti kau kencan dengan pacarmu yang dokter itu"
"Jangan asal bicara deh mas, aku tidak pergi dengan Rey. Aku pergi dengan Kak David mengerti"
"Jangan berbohong dan jangan bawa-bawa nama kakakmu yang menyebalkan itu"
"Aku tidak bohong, aku bicara jujur padamu. Kau mau minta bukti apa dariku mas"
"Kau berisik sekali, kau mau aku sumpal mulutmu untuk selamanya."
"Kamu bisa tidak sih baik sedikit padaku, aku sudah bilang kalau aku mencintaimu. Apa itu masih belum cukup untuk menyentuh hatimu mas" Lita berjalan mendekati Fahri dan menyentuh wajah pria itu lembut.
"Aku benar-benar mencintaimu. Bahkan aku menentang kakakku demi dirimu mas, tolong balas cintai aku juga" ucap Lita lagi didepan Fahri.
Fahri terdiam melihat wanita itu yang berkaca-kaca bicara padanya. Sungguh hatinya tersentuh dengan semua ini tapi egonya menentang dirinya.
Dia mendorong Lita kuat,.
"Aku tidak akan pernah mencintai perempuan pembunuh sepertimu mengerti"
"Jangan banyak Drama cepat mandi sana, dan pakai bajumu yang rapi kita akan ke perusahaan Papamu mengerti." tukas Fahri pada Lita dan dia langsung pergi begitu saja meninggalkan Lita yang menitihkan air matanya.
"Sampai kapan kamu akan benci padaku begini mas?" ucap Lita menatap kepergian Fahri.
°°°
__ADS_1
T.B.C