
"Lita.." Fahri berjalan mendekati Lita yang membuat muka darinya. Tangan Lita terkepal bergetar menahan segala sakit yang ia dapatkan selama ini berusaha untuk tetap kuat agar tidak takut.
David melihat tangan adiknya yang sedikit bergetar saat Fahri berusaha mendekat. David menarik tangan Fahri dan berdiri didepan Lita saat ini.
"Jangan dekati adikku, kau tidak lihat. Dia tidak sudi melihatmu" ketus David menatap tajam Fahri.
"Kak aku mohon, biarkan aku bicara dengannya. Aku..aku akan.." ucapan terbata Fahri seketika berhenti saat Lita menggeser kakaknya dan berdiri didepannya saat ini.
"Untuk apa lagi kau ingin bicara padaku, aku tidak sudi lagi untuk bicara pada pria brengsek sepertimu. Pergi, pergi dari hadapanku" ucap Lita menguatkan dirinya menghadapi Fahri dia mendorong keras tubuh pria itu untuk menjauh dari dirinya saat ini. Fahri langsung terdorong seketika melihat wajah Lita yang marah padanya.
"Lita aku mohon, beri aku kesempatan. Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan padamu selama ini. Aku mohon, beri aku.."
"Tidak ada kesempatan lagi untukmu, aku membencimu. Aku benci padamu" teriak Lita cukup keras.
Pandangan Lita langsung beralih menatap Papanya,
"Sekarang Papa pilih, aku kembali ke Indonesia atau Papa pilih pria brengsek itu. Kalau Papa pilih dia aku tidak akan pernah kembali ke Indonesia dan anggap aku sudah tiada" ucap Lita dengan mantap.
Nafa yang mendengar itu langsung berjalan kearah suaminya memegang lengan suaminya tersebut.
"Pa, Pa Mama mohon. Lita Pa, Lita Mama ingin dengan Lita Pa" ucap Nafa memohon pada suaminya.
Aryo terdiam dia bingung mana yang harus ia pilih.
"Thalita aku mohon, percayalah padaku. Aku minta maaf, aku mohon kembalilah demi anak kita aku akan menebus kesalahanku. Aku mohon" ucap Fahri sangat memohon dihadapan Lita.
"Ayo kak, kita pergi. Aku tidak ingin disini lagi" ajak Lita pada David. Dia mengabaikan Fahri yang menghadang langkahnya saat ini.
"Rey, Naya ayo kita pergi" ucap David pada dua orang yang berdiri di depan pintu ruangan Lita.
__ADS_1
"Pa, Papa lebih memilih pria bodoh itu ketimbang kak Lita yang anak Papa" tukas Thalia kesal saat melihat Papanya yang malah diam.
"Kalian berhentilah, untuk apa kalian yang pergi dari keluarga kalian. Baiklah aku menyerah Lita, kau tidak harus pergi dengan luka yang kau bawa karena meninggalkan keluargamu. Aku,..aku yang akan pergi. Kau pulanglah ke rumah orang tuamu. Aku akan memberimu waktu untuk menyembuhkan luka yang pernah aku torehkan padamu. Aku tidak akan menemui mu lagi" Fahri mengeratkan tangannya di kedua sisi. Sesekali memejamkan mata mencoba menetralkan dirinya. Dia harus mengalah saat ini, dia akan memberi jeda penyembuhan bagi Lita yang terluka karnanya. Dia akan menghilang untuk sementara dari hidup Lita membiarkan perempuan itu hidup tenang tanpanya.
"Pa, Terimakasih karena sudah membelaku dan selalu menganggap ku menantu mu selama ini. Papa tidak usah bingung lagi Pa, lebih baik aku yang pergi daripada Papa dan Mama kehilangan anak kalian." ucap Fahri berjalan kearah Aryo dan memeluk pria paruh baya tersebut menahan gejolak sedih karena dia harus menyerah saat ini.
"Maafin Papa Fahri" ucap Aryo membalas pelukan Fahri menepuk lembut pundak pria itu.
"Tidak apa Pa," jawab Fahri melepaskan pelukan sembari tersenyum getir. Dia beralih akan memeluk Nafa tapi Nafa menghindar.
Fahri terdiam sambil tersenyum kecut, mertua perempuannya memang selama ini membencinya semenjak dia mengetahui ia menyiksa Lita.
"Aku pergi dulu, Pa Ma" pungkas Fahri melangkah, dia melihat Lita yang ada didepannya saat ini berjalan mendekati Lita yang takut memundurkan diri.
"Jaga dirimu, dan jaga Axel anak kita. Kalian berdua akan selalu ada di hatiku" lirih Fahri ditelinga Lita, Lita sendiri memalingkan wajahnya tak melihat kearah Fahri.
Dia hanya melihatnya saja, batinnya menangis melihat anaknya yang digendong orang lain.
Fahri langsung melangkah pergi tanpa mengatakan satu katapun lagi kepada mereka. Dirinya terasa tergores begitu dalam, terpaksa harus menyerah untuk saat ini. Biarlah ia menyerah dulu agar Lita bisa sembuh dari traumanya.
………………
Hari ini Lita akan kembali ke Indonesia persembunyiannya sepertinya memang harus cukup disini. Dia sebenarnya tetap tidak ingin kembali meskipun Fahri sudah pergi dari hidupnya. Tapi karena Mama Nafa yang membuatnya untuk kembali Mamanya itu memohon dengan sangat agar ia kembali ke rumah.
Lita menggendong anaknya di dalam pesawat duduk disebelah Naya yang bersamanya. Sebenarnya Rey yang akan duduk bersamanya tapi dia merasa tidak enak dengan Thalia meskipun Thalia dan Rey sudah tidak memiliki hubungan tapi tetap saja dia merasa tidak enak dengan adiknya.
"Lita biar mbak saja yang menggendong anakmu" ucap Naya akan mengambil alih anka Lita yang digendong perempuan itu.
"Tidak usah mbak, biar aku saja yang menggendongnya. Sedari tadi kan mbak Naya terus yang menggendong" tolak Lita merasa tidak enak karena sedari tadi Naya yang menggendong anaknya.
__ADS_1
"Sudah hampir seminggu, kamu belum memberi nama anakmu ini. Apa setelah kita di Indonesia nanti kau akan memberikan dia nama?" tanya Naya pada Lita. Karena Lita tak kunjung memberikan nama pada anaknya padahal David, Rey dan dirinya sudah memiliki rekomendasi nama untuk bayi yang dilahirkan Lita.
Lita terdiam, dia mengingat kembali waktu beberapa hari lalu dimana Fahri memberikan nama pada anaknya. Menamai anaknya Axel, apa dia harus memakai nama itu sebagai nama anaknya.
Memang dia begitu benci pada Fahri tapi bagaimanapun ini juga anak pria itu. Tentu pria itu memiliki hak untuk memberi nama anaknya. Jadi apa iya dia harus menggunakan nama tersebut untuk bayinya.
"Lita kenapa diam,?" Naya menyenggol lengan Lita pelan.
"Ah, gimana mbak" ucap Lita yang tersadar, dia langsung melihat kearah kakak iparnya tersebut.
"Kamu kenapa diam, mbak tanya apa nanti kamu akan memberikan dia nama. Kau sudah memiliki nama untuk anakmu" tanya Naya kembali.
"Mbak, aku boleh cerita sama mbak Naya" tanya Lita yang terkesan ragu.
"Boleh, cerita saja"
"Waktu aku, aku melahirkan kemarin. Pria itu sudah memberikan nama pada anakku ini, aku pakai nama dari dia atau aku memberikan anakku nama yang lain."
"Dia sudah memberi nama anakmu, bagus kalau begitu. Itu haknya untuk memberikan nama pada anak kalian. Siapa namanya?"
"Dia memberi nama anakku Axel Devino Atmaja, haruskan ku pakai nama itu"
"Pakai saja tidak apa, itu haknya Lita. Bagaimanapun dia tetaplah ayah dari anakmu" pungkas Naya terlihat senang karena bayi yang ada di gendongan Lita sudah memiliki nama.
"Kalau begitu nama itu saja," jawab Lita lirih. Dia walaupun masih membenci Fahri tapi tetap itu hak Fahri untuk menamai anaknya jadi dia pakai saja nama itu.
°°°
T.B.C
__ADS_1