
Thalia bangun dari tidurnya dia merasa tidak nyaman dnegan lehernya saat ini yang terlalu miring kesamping dan posisi tidurnya juga tidak enak. Perlahan dia membuka matanya dan dia baru menyadari saat ini kalau dia tengah tertidur di dalam mobil. Perlahan ia menegakkan tubuhnya dan melihat kesamping dirinya saat ini dimana Rendi tengah tertidur dan dia melihat tubuhnya sendiri yang terbalut jaket milik Rendi.
Dia langsung mengambil jaket yang ada di tubuhnya dan ia pindahkan ke Rendi yang tengah tidur sambil bersedekap dada. Pria itu pasti kedinginan saat ini, kenapa juga Rendi tidak membangunkannya. Saat ini kan malah semakin larut dan mereka masih didalam mobil.
Rendi yang merasakan pergerakan ditubuhnya langsung terbangun dan melihat dimana Thalia tengah memakaikan jaketnya saat ini.
“Kau sudah bangun?” ucapnya dengan suara serak sambil meluruskan tubuhnya menatap sang istri yang ada didepannya dan sedikit menjauhkan diri memberi ruang dia untuk duduk tegak.
“Sudah, kenapa kamu tidak membangunkan ku saja tadi?” jawab Thalia dan dia sekaligus bertanya pada sang suami.
“Kamu kelihatan lelah, aku tidak tega untuk membangunkan mu” jawab Rendi terus terang.
Thalia hanya diam mendengarnya, dia sedikit terharu sih mendengar ucapan Rendi itu. Rendi benar-benar memikirkan serta mengkhawatirkan dirinya.
“Kalau begitu ayo kita ke apartemen. Dingin disini?” ajak Rendi pada Thalia.
“Ayo,” jawab Thalia
“Oh iya bentar, martabaknya “ ucap Rendi sambil mengambil kantung kresek yang ada di kursi belakang. Thalia sendiri yang tadinya akan membuka pintu langsung melihat kebelakang dimana Rendi mengambil barang yang dikatakan martabak itu.
“Aku lupa, kamu nggak bangunin aku sih. Aku pengen makan itu” ucap Thalia yang teringat kalau dia menginginkan martabak tadi.
“Kan aku udah bilang sayang, kamu kelelahan, aku tega buat bangunin kamu” jawab Rendi pada Thalia.
“Aturan bangunin aja, itu jadi dinginkan” ucap Thalia sambil cemberut.
“Udah nggak pa-pa dingin, nanti aku panaskan di rice cooker. Ayo ke apartemen, kamu sama anak kita nanti kedinginan. Ini udah malem nggak baik buat ibu hamil diluar rumah” pungkas Rendi meminta Thalia untuk keluar dari mobil.
“Ya,.” Thalia langsung membuka pintu mobilnya dan dia berjalan keluar lebih dulu. begitu juga dengan Rendi yang langsung mengikuti Thalia keluar sambil menenteng sekantung kresek martabak.
.............................................
Rendi sudah bangun lebih awal, saat ini dia baru saja selesai melakukan olahraga pagi di dalam apartemen dengan mengankat barbel dan sebagainya. Dia memang harus menjaga kebugaran tubuhnya, karena instansinya melarang untuk memiliki berat badan berlebih karena dia juga termasuk garda terdepan di kantornya. Kalau kelebihan brat bisa-bisa dia tidak bisa berlari mengejar para penjahat nantinya.
Dia sibuk melihat ponsel untuk memesan sarapan pagi daripada membiarkan Thalia memasak lebih baik dia membelinya. Thalia pasti lelah dan makanan di kulkas juga tidak ada saat ini.
Saat dia tengah sibuk untuk memilih menu makanan mana yang akan dia pesan untuk diantarkan nantinya ponselnya sendiri saat ini malah berdering dan tertera nama Revan di layar ponselnya.
“kenapa orang ini pagi-pagi sekali menelpon” gumam Rendi yang terlihat enggan mengangkatnya.
Tapi dengan berat hati, terpaksa dia menggeser tombol hijau ke samping dan segera mendekatkan ponselnya tersebut.
__ADS_1
“Halo, ada apa pagi-pagi begini menelpon?” tanya Rendi pada Revan yang berada di seberang sana.
“Kau dimana sekarang?” tanya Revan pada Rendi.
“Dia apartemen, kenapa?”
“Hari ini aku dan Melody tidak jadi pulang tetapi diundur dua besok” Ucap Revan mengatakan soal itu.
“Terus kenapa? Bukan urusanku” ketus Rendi.
“jangan sensi dulu, aku cuman bilang. Kamu harus hati-hati, aku mencurigai seseorang” ucap revan pada Rendi.
“Maksudmu apa?” mendengar ucapan Revan itu membuat Rendi tidak mengerti.
“Beberapa hari lalu, ada pria datang keruangan Melody tiba-tiba dia tanya kenalan dengan Thalia atau tidak. Melody tentu saja menggeleng dia tidak tahu siapa Thalia. Pria itu bilang untuk Melody segera pulang ke Indonesia dan cepat menemui mu. Dan dia akan bilang sesuatu tetapi aku sudah masuk duluan, dia langsung pergi sambil tersenyum padaku. Kau harus hati-hati, pria itu sepertinya mencurigakan” jelas Revan pada Rendi menceritakan kejadian tersebut.
“siapa pria itu, kau tahu siapa dia?”
“Kalau aku tahu tidka mungkin aku menyebutnya pria itu, yang jelas dia tinggi putih dan parasnya agak seperti orang asing blasteran” jelas Revan
“Karena aku sempat mendengar dia menyuruh Melody untuk segera pulang, makanya aku tunda kepulangan kita. Aku takut dia merencanakan sesuatu pada dirimu atau istrimu” pungkas Revan lagi.
“Kalau begitu sudah dulu, disini masih malam. Aku tidur dulu, besok kalau ada sesuatu yang aku tahu. Aku beritahu dirimu” ucap revan diseberang sana.
“hemmm”
“Aku tahu kau masih marah denganku, tapi aku tulus menyayangi dirimu karena kau adikku. Aku akan melakukan apapun untuk melindungi keluarga kecilmu nantinya. Aku minta maaf soal masa lalu ku” ucap revan yang terdengar menyesali apa yang dirinya dulu lakukan. Makanya untuk menebus itu dia akan melindungi adiknya dan keluarga kecil adiknya nanti.
“Kau jaga istrimu, jangan biarkan kesalahpahaman merusak hubungan kalian nantinya” pungkas Revan menasehati Rendi.
“Tidak kau ajari pun aku juga akan menjaga istriku. Sudah, aku sibuk” ucap rendi yang kesal dan langsung mematikan panggilan sepihak.
Rendi menyandarkan dirinya di sofa sambil melihat ponsel yang ada di genggamannya. Dia memikirkan siapa yang dimaksud Revan siapa orang itu dan apa motifnya bilang begitu pada Melody.
Dan kenapa pria itu mengenal Thalia, siapa sebenarnya orang tersebut. Batin Rendi berpikir keras mengenai itu.
“Kau melamun kan apa?” tanya Thalia tiba-tiba keluar dari kamar saat ini dan melihat suaminya yang diam seperti melamun di sofa.
“Apa?” Rendi langsung melihat kearah Thalia yang menutup pintu perlahan.
“Aku tanya kamu melamun kan apa?” tukas Thalia sedikit menahan kesal karena sepertinya Rendi tidak terlalu mendengarkan dirinya.
__ADS_1
“Tidak, aku tidak melamun kan apa-apa. Kau sudah bangun, duduk disini saja jangan kemana-mana” ucap rendi meminta Thalia untuk duduk di sofa bersamanya.
“Aku mau ke dapur dulu, kau belum sarapan kan. Aku masak kan makanan dulu untukmu” ucap Thalia menolak permintaan Rendi.
“Tidak usah masak, kita pesan saja makanannya. Di kulkas juga tidak ada sayuran kan” ucap Rendi pada Thalia.
“Oh iya, kita kan kemarin di Bali hampir tiga hari” ucap Thalia baru ingat.
“Aku mau spaghetti boleh,” ucap Thalia perlahan duduk disebelah rendi sambil memegangi perutnya.
“Boleh, apa yang nggak boleh buat kamu.” ucap rendi sambil mengusap perut Thalia dimana tangan Thalia juga berada di atas perut itu.
“Kenapa wajahmu begini, kamu capek atau kenapa? Kelihatan makin tidak ber eskpersi” ucap Thalia perlahan terulur tangannya memegang wajah Rendi yang menatap dirinya saat ini.
“Sedikit,” jawab Rendi singkat, dia sebenarnya tidak lelah hanya bingung memikirkan siapa pria yang dimaksud Revan tadi.
“Nanti ke supermarket ya?” ucap Thalia pada Rendi.
“Mau beli apa?”
“Ya beli makanan, sayuran atau apa. Jalan-jalan, bete di rumah. Aku juga ingin ketemu dengan Jane dan Putri juga.” ucap Thalia.
“Ya sudah, kita nanti keluar tapi agak siangan ya. Sarapan dulu, sama aku mau laporan melihat anak buah ku sebentar soal operasi mereka di club kemarin” ucap Rendi pada Thalia.
“ya, aku ikut saja. Tapi janji loh nanti pergi,” ucap Thalia yang seperti anak kecil.
Rendi pun merasakan begitu, di kehamilan Thalia yang semakin membesar ini, istrinya itu semakin manja dan seperti anak kecil tidak seperti Thalia yang biasanya yang selalu bar-bar baginya.
“kamu tadi mau apa? Mau spageti ya?” tanya Rendi sambil membuka ponselnya.
“hemm”
“udah itu aja, ada yang lain nggak” ucap rendi.
Thalia menggeleng, tanda dia tidak ingin yang lainnya selain spageti.
“Ya sudah, aku pesan dulu” ucap rendi dan langsung memesan dua spageti untuk dirinya dan juga Thalia.
°°°
T.B.C
__ADS_1