
Rendi baru saja pulang kerumahnya, dini hari dia baru pulang. Ia melangkah masuk ke kamarnya yang gelap dan hanya remang-remang saja karena lampu meja, melangkah secara perlahan agar istrinya tidak terbangun. Karena bisa dipastikan Thalia saat ini sudah tidur.
Namun dugaannya salah, Thalia malah terbangun dan langsung menyalakan lampu besar yang ada di nakas membuat kamar sedikit terang.
“Kamu sudah pulang, aku kira pagi pulangnya” ucap Thalia yang masih berbaring ditempat tidur menatap suaminya.
“Ini sudah pagi sayang, hampir jam dua malahan” ucap Rendi yang berjalan ke pojok kamar untuk menaruh sepatu dinasnya.
“Kamu kok bangun?” lanjut Rendi melihat sekilas sang istri.
“Iya, aku kira siapa yang masuk” jawab Thalia.
“Relia dimana?” tanya Rendi menanyakan keberadaan anak mereka.
“Sama bunda, dia”
“Oh, Mama sama Papa Aryo pulang ke rumah mereka?” tanya Rendi sambil berjalan kearah sang istri yang mulai duduk.
“Iya katanya mbak Naya sendirian, jadi mereka pulan ke rumah”
“emm,”
Rendi langsung membuka seragam dinasnya saat ini, menyisakan kaos dalamnya yang berwana abu-abu. Ia lalu berjalan ke arah keranjang cucian kotor.
“Kamu tidur lagi aja sayang, aku mandi dulu” pinta Rendi pada sang istri.
“Kamu kelihatan beda hari ini” tukas Thalia menatap suaminya.
“Beda gimana?” heran Rendi.
“Ya kayak ada masalah, kamu ada masalah?”
“Nggak ada” jawab Rendi singkat.
“Bisa nggak sih jujur sama istri sendiri, aku bukan perempuan yang bisa kamu bodohi” tegas Thalia seakan memaksa Rendi untuk berkata jujur.
Rendi menghela nafasnya lebih dulu, dia memperhatikan istrinya yang meminta jawaban padanya.
“besok pagi aku ceritakan, kamu tidur lagi aja. Aku mau mandi dulu sayang” Rendi malah berjalan ke kamar mandi padahal Thalia sudah siap untuk mendengarkan cerita suaminya.
“Ya udah terserah, yang pusing bukan aku” ucap Thalia dan langsung merebahkan dirinya kembali di kasur. Tapi meskipun dia mengatakan seperti itu pada sang suami dirinya juga kepikiran. Rasanya cemas saja melihat Rendi seperti itu.
Rendi setelah melihat Thalia kembali tidur, dia segera berjalan ke kamar mandi saat ini. mengguyur kepalanya sepertinya akan segar dan terasa plong.
................................
Burung-burung yang ada di pohon sudah bersenandung saling bersahutan satu sama lain, mengusik tidur Thalia saat ini. dia masih begitu mengantuk tetapi mendengar sura burung membuatnya terbangun. Apalagi saat ini dibarengi pintu yang diketuk dari luar.
“Iya sebentar” jawab Thalia sambil turun dari tempat tidur. Dia melihat sekilas kasur disebelahnya dimana Rendi masih tidur.
“Dia pasti masih capek karena pulang jam dua” gumam Thalia langsung berdiri tanpa membangunkan Rendi lebih dulu. biarkan saja suaminya tidur, pria itu tapak kelelahan saat ini jadi kasihan kalau harus di bangunkan.
‘Thalia bunda boleh masuk” terdengar suara dari luar memanggil Thalia.
“bentar bun, pintunya aku kunci”
“Oh kamu kunci, ini Relia nangis mungkin dia haus coba kamu kasih asi dulu” pungkas Vani dari luar kamar Thalia saat ini.
“Iya bun” jawab Thalia bergegas menghampiri bundanya yang ada di luar.
__ADS_1
Dia perlahan membuka pintu kamar itu dan mendapati Vani sudah berdiri didepannya sambil berusaha menenangkan Relia yang menangis.
“Kamu bisa kan gendongnya?” ucap vani sebelum menyerahkan Relia pada Thalia.
“Bisa bun” Thalia langsung mengambil alih sang anak dari gendongan mertuanya saat ini.
“Rendi masih tidur?” tanya Vani pada menantunya.
“Iya, semalam dia pulang hampir pagi”
“Oh ya sudah bunda mau kebawah dulu ya, nyiapin makanan buat kalian” ucap Vani yang langsung pamit untuk turun ke bawah membantu asisten rumah tangga Thalia membuatkan sarapan untuk mereka semua.
“Iya” jawab Thalia singkat.
Vani langsung pergi tetapi sebelum itu dia mengusap lembut kepala cucunya sambil tersenyum baru setelah itu dia pergi dari hadapan Thalia.
Relia terus saja menangis, Thalia tampak bingung sendiri. perlahan dia menutup pintu kamarnya sambil menggendong sang anak.
“Cup, Cup anak mama jangan nangis ya. Haus ya bentar ya sayang” Thalia tampak gugup sendiri berjalan kearah ranjangnya untuk segera menyusui sang anak.
Rendi yang mendengar suara bayi menangis perlahan mengerjakan matanya, sambil melihat istrinya sama-samar duduk di tempat tidur.
“Relia kenapa sayang?” tanya Rendi sambil menegakan tubuhnya perlahan.
“Haus kayaknya” jawab Thalia dan langsung sedikit menurunkan bajunya untuk menyusui sang anak. Dan benar saja saat anaknya sudah menyusu.
“Sepertinya iya, buktinya diem sekarang” ucap Rendi sambil mendekatkan dirinya pada sang istri yang duduk membelakanginya sambil menyusui anak mereka.
Rendi menaruh dagunya di bahu Thalia sambil melihat sang anak,
“Gemes banget kamu nak,” gumamnya sambil melihat sang anak yang kuat menyusu.
“dinas tapi agak siang, jam sepuluh”
“Nggak libur? Kan semalem kamu pulang hampir pagi”
“Nggak, tapi nanti pulang agak awal. Kenapa?”
“Kamu kayaknya capek, semalem juga kamu kayak banyak pikiran. Kamu mikirin soal apa?”
Rendi langsung menegakkan tubuhnya,s ambil sesekali mengusap wajahnya melihat kearah sang istri.
“Aku boleh minta pendapat kamu nggak?” tanya Rendi sambil mengamati istrinya.
“Pendapat? Pendapat tentang apa?”
Rendi diam saja dia bingung harus bilang bagaimana pada istrinya. Dia takut membuka luka yang sudah mulai kering saat ini.
“Apa? malah diem” tukas Thalia.
“Aku bingung sekarang sayang, banyak orang yang seakan menekan ku. Tapi mereka tidak tahu apa yang aku rasakan. Bukan aku saja dengan tai keluarga kecil kita”
Thalia mengernyitkan dahinya, dia tak mengerti ucapan suaminya menjurus soal apa
“aku nggak ngerti?” ucapnya.
“Ini soal mama ku” ucap Rendi lirih sambil melihat ekspresi yang diberikan Thalia.
“kenapa?”
__ADS_1
“Kamu kalau jadi aku, dia dibebaskan atau biarkan saja mendekam selama beberapa tahun di penjara” ucap Rendi memperhatikan istrinya.
Thalia yang ditanya begitu diam saja, jujur dia tidak terima jika perempuan itu dibebaskan. Tapi kalau dia melihat dari sisi Rendi, suaminya tersebut seperti banyak tekanan.
Kalau dia menghukum mamanya sendiri pasti rendi banyak yang membicarakannya, dia juga bingung soal ini.
“Kalau kamu nggak bisa jawab juga nggak pa-pa sayang,” ucap Rendi yang melihat istrinya hanya dia.
“Terserah kamu, kalau kamu mau membebaskannya juga nggak pa-pa” ucap Thalia setelah sempat diam.
Rendi langsung mendongak menatap istrinya tak percaya,
“Kamu serius?”
“Iya daripada kamu bingung. Kamu pasti banyak tekanan kan?” tanya Thalia yang menebak hal itu.
“Aku sebenarnya tidak ingin membebaskan dia, tapi hanya ingin mengurangi hukumannya saja. Bagaimanapun dia penyebab Reno tidak ada bersama kita sekarang” tukas Rendi.
“Kamu bebaskan Mamamu juga nggak pa-pa aku nggak marah, dalam hal ini mungkin juga salahku. Kalau aku waktu itu mematuhi ucapan mu, mungkin Reno masih ada sama kita” ucap Thalia.
“nggak itu bukan salah kamu”
“Aku nggak mau bebasin mama dari sel, biar anaknya saja yang membebaskannya” ucap Rendi lagi
“maksud kamu?”
“Jessy anak Mama dan pria selingkuhannya yang akan membebaskannya nanti”
“Adik kamu?”
“Iya”
“Ya udah nggak pa-pa, kalau memang mamamu akan bebas. Aku tidak masalah”
“Sebenarnya aku nggak mau dia bebas, kau tahu sendiri mamaku seperti apa. aku takut kalau dia bebas. Dia akan mengganggu keluarga kita lagi, mungkin bukan aku saja yang di ganggu tapi Revan juga. aku takut hal itu terjadi pada kita lagi” jelas rendi sambil memeluk Thalia dari belakang.
Thalia sendiri juga bingung, tapi entah mengapa semenjak jadi seorang ibu dia malah makin lembut saja menurutnya. Mudah melunak dengan hal yang menurutnya menyentuh hatinya saat ini.
“Sebentar aku taruh Relia dulu di tempat tidurnya” ucap Thalia sambil memegang lembut tangan suaminya yang memeluk bahunya saat ini.
Rendi langsung melepaskan pelukannya pada sang istri, dia melihat istrinya itu yang menaruh anak mereka di box bayi.
“Kamu makin ke ibuan sekarang,” ucap Rendi sambil tersenyum.
“masa?” ucap Thalia yang sudah menaruh anaknya di tempat tidur.
“Kamu nggak suka aku begini?” lanjut Thalia sambil berjalan mendekati suaminya.
“Suka, malah makin cinta. Tapi aku juga rindu dengan singa betina ku” Rendi memberikan senyum hangatnya untuk sang istri yang balas tersenyum sambil mendekatinya.
“Serius rindu denganku yang dulu, nanti aku begitu kamu pusing lagi” pungkas Thalia.
“Kenapa harus pusing, aku apa pernah mengeluh saat kamu begitu” rendi bangkit dari tempat tidur mendekati sang istri.
Dia langsung memeluk istrinya saat ini, rasanya ia memang butuh pelukan di pagi hari. Thalia sendiri membalas pelukan Rendi mengusap hangat bahu sang suami
°°°
T.B.C
__ADS_1