Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 107 (Season 2)


__ADS_3

“Mau apa lagi?” tukas Rendi sambil menghempas tangan Melody kasar.


Seketika Melody terpaku akan sikap kasar Rendi tersebut, dia termenung ditempat menatap Rendi tak percaya.


“Aku bicara baik-baik denganmu, kau menanggapi ku diriku seperti itu. begitu tidak berartinya kah diriku sekarang bagimu ren?” lirih Melody begitu kecewa dengan sikap Rendi sekarang padanya.


“Memang kau siapa harus berhati bagiku, jangan menggangguku lagi mengerti” ucap rendi dan akan pergi.


“Aku tahu aku salah, ya aku memang menyelingkuhi mu tapi itu karena dirimu yang tidak ada waktu bagiku. Dan sekarang aku mohon, aku minta maaf, mau..”


“Kau memang perempuan licik ternyata, kemarin kau pura-pura tidak tahu apa kesalahanmu. Dan sekarang kau mengakuinya sendiri, ciih..” ucap Rendi begitu sinis menatap jijik perempuan didepannya.


“Jangan ganggu rumah tanggaku mengerti, pergi dari hidupku. Kau bukan siapa-siapaku lagi” ucap Rendi dan dia langsung pergi meninggalkan Melody,


Melody lagi-lagi begitu syok mendengar ucapan Rendi barusan hatinya begitu sakit dengan kenyataan ini. dia ingin kembali lagi pada Rendi tapi pria itu begitu membencinya saat ini. tangannya yang begitu lemas membuat es krim yang dia pegang saat ini terjatuh ke tanah menatap nanar pria yang dia khianati masuk kedalam sebuah mobil di mobil itu juga dia bisa melihat ada seorang perempuan yang tengah menatap kearahnya saat ini.


.........................................


Thalia melihat kearah Rendi yang masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamannya saat ini.


“Ngobrol apa sama mantan?” tanya Thalia memperhatikan suaminya.


Rendi langsung melihat kearah Thalia saat ini,


“Nggak ngomong apa-apa,” jawab Rendi singkat.


“Kalau nggak ngomong apa-apa nggak mungkin tuh cewek masih lihatin kamu” ucap Thalia dan melihat ke depan menatap Melody.


“Nggak usah dipikirin, dia memang stres, kita pulang ya” ucap Rendi dan mulai menyalakan mesin mobil.


“Es krim ku mana?” tanya Thalia pada suaminya yang sudah siap menjalankan mobil.


“Es krim?” rendi terlihat bingung, dan dia lupa dia tidak jadi beli es krim.


“Kita beli ditempat lain saja ya, jangan disini” ucap Rendi pada Thalia.


“Terserah kau saja”


“Kamu tidak marah kan?” pungkas Rendi.


“Nggak” lirih Thalia dan sebelum Rendi menjalankan mobil miliknya dia mencium singkat kening Thalia saat ini dan dia kembali fokus untuk menjalankan mobil.


..........................................


“Kenapa es krim enak begini anda buang nona cantik” ucap seorang pria yang tiba-tiba berdiri di sebelah Melody.


Dan perempuan itu tersadar kalau mobil yang dikemudikan Rendi sudah pergi, membuatnya langsung menoleh kesamping nya. Melody tampak mengerutkan dahinya menatap pria asing disebelahnya.

__ADS_1


“Maaf, anda siapa?” ucap Melody lirih dan dia seperti pernah melihat pria disebelahnya tapi dimana.


“Perkenalkan saya Nicholas, kau Melody kan?” ucap Nicholas mengulurkan tangannya pada Melody.


“Nicholas? Kita pernah bertemu sebelumnya ya?” tanya Melody.


“Iya, kita bertemu diruang rawat mu dulu. aku menemui mu waktu itu. kau ingat denganku kan, mau ngobrol sebentar?” tanya Nicholas menatap Melody berharap kalau perempuan di depannya mau bicara dengannya saat ini.


Melody tampak berpikir, dia terasa enggan untuk mengiyakan ucapan itu.


“Ayolah, kita bicara sebentar saja” ucap Nicholas berusaha membujuk.


“Ya sudah mari” ucap melody dan masuk kedalam cafe lebih dulu sedangkan nicholas tampak senang karena harapannya untuk bicara dengan perempuan itu terwujud.


Tak butuh waktu lama untuk mereka berdua sampai di dalam cafe, keduanya saat ini sudah duduk di meja saling berhadapan satu sama lain.


“Kenapa ya anda mengajak saya bicara, kita tidak saling kenal satu sama lain” ucap Melody membuka suara lebih dulu.


“Tak saling kenal tapi saling kerja sama bagaimana?”


“Maksud anda?” tanya Melody tak mengerti.


“Kau tunangan Rendi suami Thalia kan? mau kerja sama denganku?” tanya Nicholas.


“Kerjasama apa maksudmu?”


“Kerjasama untuk memisahkan Rendi dan Thalia, kau mencintai Rendi dan aku mencintai Thalia. Mau bekerja sama denganku?” ucap Nicholas memberi tawaran menggiurkan untuk Melody. Dia mengulurkan tangannya untuk memulai kesepakatan.


“Maaf aku pergi dulu, aku tidak mengerti maksudmu” ucap melody yang langsung berdiri dari duduknya.


“kau menolak ajakan ku” ucap Nicholas mendongak menatap perempuan itu yang sudah berdiri.


“Maaf aku tidak kenal anda jadi untuk apa aku menerima ajakan anda itu. saya permisi” melody langsung pergi begitu saja meninggalkan Nicholas yang merasa kesal dengan mengepalkan tangannya. Rencananya gagal untuk memberi pelajaran pada Rendi dengan merebut Thalia, padahal ini rencana bagus dan mudah untuknya tapi perempuan itu tak sesuai harapannya sepertinya saat ini.


“Gagal, rencana gue. Sok banget perempuan itu” ketus Nicholas menatap Melody yang berjalan keluar dengan buru-buru.


......................................................


Rendi bergabung dnegan istrinya duduk di sofa ruang tengah apartemen mereka, dia tampak lelah saat ini membuat dirinya langsung membaringkan kepalanya di paha sang istri.


“kamu capek? Tanya Thalia sambil mengusap kepala Rendi yang berada di pahanya saat ini.


“Iya,”


“Mau aku buatkan minuman, biar nggak capek” ucap Thalia dan akan meminta Rendi untuk bangun dulu.


“Nggak usah, kamu disini saja. Hanya dirimu yang bisa membuatku baik-baik saja”

__ADS_1


“Lagu memang, kamu nyanyi sayang” ucap Thalia menanggapi ucapan Rendi.


“Kok nyanyi sih, aku serius. Kalau kamu disini lelahku hilang” jawab Rendi


“Barang-barang tadi sudah aku taruh di calon kamar ank kita nanti, aku lihat-lihat kurang besar ya. Kalau misalkan kita pindah rumah kamu mau nggak?” tanya Rendi menatap Thalia yang langsung menunduk melihatnya.


“Pindah rumah? Kenapa?”


“Aku rasa apartemen nggak cocok buat anak kecil sayang, kita butuh rumah yang besar buat anak kita. Selain lebih aman dan juga pastinya lebih nyaman juga bagi dia. kalau disini dia terlalu terbatasi mau kemana-mana” jelas rendi.


“Tapi apartemen ini kan besar, kita kalau mau pindah kemana?” tanya Thalia menatap aneh Rendi yang tiba-tiba ingin pindah rumah. padahal dulu pria tersebut yang bilang tidak suka tinggal disebuah rumah tapi nyamannya di apartemen tapi sekarang kenapa dia ingin pindah.


“Ya walaupun besar tapi lingkungannya sayang kurang pas buat anak kecil, anak-anak suka bermain ke tempat yang bebas bergaul dengan orang lain. Kalau disini, mereka jarang keluar kan” ucap rendi.


“Tapi kamu kan nggak nyaman kalau tinggal di rumah,”


“Aku nanti bakal nyaman sendiri kalau ada anak kita, yang penting tumbuh kembang anak kita yang disini nantinya baik dan bagus” ucap rendi sambil memegang perut Thalia dan dia mengecup perut besar istirnya tersebut.


“Ya udah aku ikut saja, kamu memang sudah mencari rumah yang akan kita tempati” ucap Thalia.


“sudah, tapi aku belum menemuka rumah yang pas untuk kita bertiga nanti. Sayang, aku mau bilang sesuatu tapi kamu nggak bakal kecewa padaku kan?”


“Apa?” Thalia mendengar ucapan tersebut merasa was - was sendiri takut Rendi berbicara aneh.


“Misalkan apartemen ini aku jual bagaimana?” ucap Rendi berhati-hati saat bicara.


“kenapa di jual?”


“Aku jual untuk tambah beli rumah, aku ingin beli rumah yang layak buat kamu sama nak kita nanti. Tapi uangku kurang kalau apartemen ini tidak di jual, dan kemungkinan aku hutang bank.”


“Kenapa harus hutang bank, pinjam kak David atau Papaku saja, jangan berhutang begitu” larang thalia.


“Aku tidak enak dengan Papa sama kak David, aku merasa bersalah pada mereka kalau aku berhutang padanya”


“kenapa mereka keluargamu juga, pinjam mereka saja dan jangan jual apartemen ini” ucap Thalia.


“Nggak sayang, aku nggak mau pinjam sama mereka. Aku ingin usaha sendiri, kalau memang kamu nggak mau apartemen ini di jual, aku ijin hutang ke bank ya aku gadaikan SK milikku”


“Ya sudah jual saja apartemennya, daripada kamu pinjam bank dengan menggadaikan SK. Aku ijinin kamu jual apartemen ini” ucap Thalia terasa berat karena apartemen yang mereka tinggali saat ini begitu banyak menyimpan kenangan mereka.


“terimakasih sudah sepakat dengan keputusanku,” ucap rendi dan langsung duduk tegap menatap istrinya yang begitu mengerti keinginannya sekarang. Dia senang Thalia yang anak orang kaya bisa mengerti kondisinya.


“Sama-sama, bukannya kamu juga pernah bilang padaku dulu diawal-awal menikah. Kalau istri harus mensuport semua keputusan suami” ucap Thalia mengingat ucapan Rendi yang pernah menceramahi dirinya begitu.


Rendi langsung mengusap kepala Thalia, dia merasa bangga Thalia mendengarkan apa yang dia katakan dulu.


“Aku mencintai begitu begitu besar” ucap rendi dan memberikan kecupan di pipi kanan istrinya tersebut.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2