Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
14


__ADS_3

Lita hari ini sudah di perbolehkan untuk pulang, perban yang ada di tangannya juga sudah dibuka. Tinggal perban yang ada di kakinya yang belum dibuka karena lukanya masih belum pulih saat ini.


Rey ada di ruangan Lita saat ini, tidak hanya berdua disitu tetapi juga Fahri yang berdiri agak jauh dari mereka hanya melihat saja.


“Kau puas sudah boleh pulang sekarang? Gara-gara dirimu beberapa hari ini aku tidak tidur karena kakakmu yang meneror ku terus” ucap Rey sambil tersenyum duduk di ranjang Lita saat ini.


Lita sendiri duduk sambil tersenyum melihat teman dari kakaknya itu.


“Terima kasih,” ucapnya.


“Ayo aku antar” Rey berdiri dan mengulurkan tangannya pada Lita membantu perempuan itu turun dari tempat tidur. Rey tidak perduli pada Fahri yang hanya melihat saja.


Fahri sendiri yang duduk di sofa merasa tidak terima jika Lita dibantu pria berseragam dokter tersebut.


“Kau mau mengantarku pulang,?” ucap Lita melihat Rey yang akan menuntunnya turun dari ranjang rumah sakit.


“Tentu,” ucap Rey tersenyum manis.


Sungguh muak Fahri saat ini melihat dua orang didepannya yang saling melemparkan senyum satu sama lain. Sudah cukup melihat itu semua. Dia berdiri dari duduknya saat ini segera menghampiri dua orang itu.


“Minggir, istriku tidak perlu bantuan mu” Fahri menggeser kuat tubuh Rey dan menekankan kata istri.


“Kenapa kau harus minta tolong orang lain, suamimu ada disini” tukas Fahri membantu Lita untuk turun dari tempat tidur.


Lita yang mendengar itu tidak percaya saat ini, bagaimana bisa Fahri berkata begitu. Dan kenapa pria tersebut terlihat kesal saat ini.


........................


Lita akhirnya pulang dengan suaminya tanpa Rey diantara mereka saat ini. Mobil Fahri sudah berhenti didepan rumah mereka saat ini. Fahri menatap sekilas Lita yang duduk disebelahnya dalam diam, baru dia turun dari dalam mobil dan berjalan mengitari mobil tersebut untuk membukakan pintu.


“Turun,” ketusnya saat membukakan pintu untuk Lita.


“Sepertinya kau tidak ikhlas, lebih baik tidak usah membukakan untukku” Lita perlahan turun dari mobil menginjakkan kakinya ketanah dengan berjinjit menahan sakit. Lalu dia berjalan pelan mengabaikan Fahri yang hanya diam menatapnya.


Fahri menutup pintu mobil dengan keras, dia memperhatikan cara berjalan Lita. Dia tahu perempuan itu pasti sedang menahan sakit,

__ADS_1


“Arkhh,” Lita mengaduh sakit saat kakinya tersandung kerikil.


Fahri dengan sigap langsung memegang tangan Lita yang tidak sakit agar perempuan itu tidak terjatuh.


“Kau kalau butuh bantuan bilang jangan diam saja,” ucap Fahri dingin, walaupun dia berkata begitu tiba-tiba saja dia menggendong Lita saat ini membuat mata Lita melebar karena terkejut dengan aksi tiba-tiba dari Fahri yang menggendong dirinya. Dia terus memperhatikan Fahri yang begitu tampan seta gagah, dengan dagu yang terlihat begitu tegas.


“Jangan salah paham, aku baik padamu karena balas budi” ketus Fahri saat menyadari Lita tengah menatapnya.


Rasa nyaman serta kagum yang sempat ia rasakan tadi langsung sirna ketika suara dingin Fahri masuk ke gendang telinganya kini. Rasa sakit kembali terasa dari dalam hatinya, seolah-olah dia telah dihempaskan ke tanah.


“Turunkan aku, aku tidak perlu bantuan mu” ucap Lita tak kalah dingin, dia bisa sendiri tanpa bantuan dari Fahri.


“Ciih terlalu sombong” Fahri tersenyum sini, dia tidak mengindahkan perkataan Lita dia terus membawa Lita masuk kedalam rumah mereka saat ini.


........................


Lita sedang sendiri di kamarnya kini, dia memegang Hpnya ingin bertanya pada kakaknya apakah kakaknya David sudah menemukan informasi soal Fahri siapa dia sebenarnya. Namun niatnya itu terhenti ketika sebuah panggilan masuk kedalam Hpnya.


“Willy,” gumamnya melihat nama yang tertera di layar Hp.


“Halo kak, aku sudah lulus SMA disini, kenapa kau tidak menemui ku?” tukas Willy langsung terkesan mengintrogasi.


Lita terdiam mendengar apa yang dikatakan Willy barusan, dia ingat dulu pernah janji dengan pria itu kalau ia akan datang ke acara kelulusannya. Sebenarnya dia ingin ke sana waktu itu sebelum dia kecelakaan.


“Aku minta maaf padamu, aku tidak bisa datang ke Belanda saat ini”


‘Kenapa?”


“Aku sedang sibuk di rumah,” bohong Lita, dia bingung apa lagi yang harus dia ucapkan.


“Luangkanlah waktumu, dan pergi ke Belanda. Mama dan Papa ku juga sudah merindukan dirimu mereka menanyakan mu terus mengerti. Semenjak kak Dira tiada mereka menganggap mu anak sendiri”


Lita lagi-lagi terdiam, dia merasa bersalah karena tidak menemui mereka, memang benar orang tua Dira telah menganggapnya anak sendiri.


“Aku minta maaf, bilang pada mereka kalau aku tidak sibuk aku akan mengunjungi kalian” dengan raut wajah sedih Lita mengucapkan hal itu.

__ADS_1


“Kau sedang telponan dengan siapa? Ini makan” ucap Fahri yang tiba-tiba masuk kedalam kamar lita sambil membawakan sepiring nasi beserta lauknya.


“Aku janji padamu kapan-kapan kalau aku sempat aku menemui kalian, sudah ya aku sibuk” ucap Lita langsung mematikan panggilan telponnya begitu saja dan dia melihat Fahri yang menatapnya curiga.


“Kau telponan dengan siapa?”


“Dengan pacarku. Kenapa kau masuk kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu mengganggu saja” ucap Lita pura-pura ketus dan bersikap dingin pada Fahri, karena ini yang di mau pria itu padanya kan.


“Sudah terang-terangan ternyata, sifat busuk mu sudah kelihatan sekarang” sinis Fahri.


“Ini makan mu, di makan. Awas kalau tidak kau makan” ucap Fahri lagi menaruh dengan keras makanan itu di meja dan dia segera pergi dari hadapan Lita saat ini.


“Aku masih tidak percaya jika kau membenciku Fahri, apa alasanmu bersikap begini padaku. Jika memang kau membenciku kenapa tidak langsung kau bunuh saja diriku” gumam Lita melihat kepergian Fahri yang keluar dari kamarnya.


...........................


Fahri duduk termenung di ranjang tempat tidurnya, di menatap ke depan sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Kau gila Fahri, buang rasa itu. Hatimu hanya milik Dira seorang, perlu kau ingat dia pembunuh orang yang kau cintai” ucapnya berkali-kali.


“Akh, kenapa aku terus memikirkan perempuan itu” kesalnya dan langsung berdiri menyerahkan barang-barang yang ada di meja saat ini.


“Jangan bodoh mengerti, jangan bodoh” ucapnya sambil memukul-mukul kan tangannya sendiri ke dinding kamar.


“Fokus Fahri, fokus, kau saat ini hanya perlu mencari keluarga Dira. Setelah keluarga Dira ketemu maka kau habisi Lita” ucap Fahri lagi pada dirinya sendiri.


Benar Fahri memang ada niat untuk menghabisi Lita, baginya nyawa harus dibayar dengan nyawa dia tidak perduli kalau nantinya dia akan berurusan dengan hukum. Sungguh sama sekali dia tidak perduli.


Harapannya saat ini hanya menemukan keluarga kekasihnya yang disembunyikan oleh keluarga Ravero. Setelah itu maka akan ia habisi putri kesayangan di keluarga itu. Tunggu tanggal mainnya.


Kalimat itulah yang berkali-kali ditekankan di hati Fahri saat ini, dia juga akan menghabisi Lita dan itu pasti akan terlaksana.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2