
Fahri didalam kamarnya saat ini, dia masih memikirkan nomor telpon yang selalu mengiriminya foto-foto mesra Lita dengan seorang pria. Dia curiga sekarang, jangan-jangan ada seseorang yang memang sengaja mengirimkan itu padanya. Agar dia terus curiga pada Lita tapi kenapa orang itu melakukannya.
Saat Fahri fokus dengan pikirannya pintunya ada yang membukanya saat ini, sehingga mengalihkan pandangan dirinya. Itu Lita yang menatapnya saat ini.
“Ada perlu apa?” tanya Fahri menatap Lita.
“Jadi tidak ke rumah orang tuamu, kalau tidak jadi aku pergi” ucap Lita dingin.
“Jadi,.” Pungkas Fahri dan langsung berdiri. Dia lupa kalau hari ini harus ke ?rumah orang tuanya, Mama dan Papanya menyuruh ia dan Lita untuk datang di acara tujuh bulanan kakaknya. ini pertama kalinya ia mengajak Lita bertemu keluarganya, sebenarnya dia tidak ingin mengajak Lita.
Tapi karena Mamanya terpaksa ia akan mengajak perempuan itu menemui mereka semua,
“Cepatlah berganti pakaian membuang waktuku saja kau dan keluargamu” sinis Lita, Fahri tertegun mendengar perkataan Lita barusan.
“Kenapa sekarang jadi kau yang berbicara begitu padaku, kau balas dendam padaku?” sergah Fahri menatap Lita.
Bukannya menjawab Lita malah membanting pintu Fahri dan pergi begitu saja, dia sudah muak dengan sikap Fahri selama ini. Ini kesempatan dirinya untuk kabur dari hidup Fahri benar dia harus kabur dari hidup pria tak tahu diri itu.
Cintanya saat ini sudah berganti benci, tak ada cinta dihatinya. Cintanya telah mati, baginya Fahri yang ia cintai sudah mati.
“Sampai kapan perempuan itu begini padaku, aku lembuti malah semakin kurang ajar” tukas Fahri merasa tidak terima.
Dia membuka kancing bajunya kasar, dia sedari sore kemarin belum berganti baju sama sekali setelah plang dari kantor bahkan dia mandi saja tidak. Pikirannya begitu penuh menebak-nebak siapa pemilik nomor yang mengirimi dirinya foto Lita terus-terusan.
..................
Di dalam mobil yang dikemudikan Fahri saat ini hanya ada keheningan semata, tidak ada yang berbasa-basi untuk bicara. Sedari tadi juga Lita memalingkan wajahnya, ia lebih memilih melihat pemandangan diluar mobil ketimbang melihat kearah Fahri.
Fahri sendiri yang malah merasa terabaikan, padahal sebelumnya dia tidak pernah begini, tapi kenapa dia merasa aneh saat tidak berbicara didalam mobil. Dia sesekali menatap kearah Lita yang tidak melihatnya sama sekali perempuan itu lebih memilih menatap di luar mobil ketimbang dirinya.
“Apa diluar mobil lebih menarik daripada aku” entah mulutnya berbicara begitu tanpa bisa dia kontrol. Dia sudah geram karena hampir setengah perjalanan Lita hanya diam saja.
Hening, tida ada jawaban dari Lita. Perempuan itu mengabaikan Fahri, dia dia saja tidak menjawab.
Fahri menatap dingin Lita yang tidak menyantapnya,
__ADS_1
“Kali ini ku biarkan dirimu. Tapi jaga sikapmu didepan orang tua ku nanti mengerti” ucap Fahri dengan penuh penekanan.
Ucapan itu sama sekali tidak mempengaruhi Lita, dia malah tersenyum sinis. Seakan sudah paham sosok Fahri yang selalu emosian,.
“Kau dengar apa yang kukatakan barusan” lirih Fahri, mencoba mengontrol emosinya.
“Aku punya telinga tentu saja aku mendengarnya” jawab Lita ketus.
“bagus,” singkat Fahri dan kembali Fokus menyetir, dia harus bisa menahan kekesalan karena di ambaikan begini. daripada nanti malah menambah masalah untuknya saat berada di rumah kakaknya.
Meskipun begitu Fahri tetap tidak bisa mengendalikan dirinya, dia berkali-kali merutuki dirinya yang bodoh. Kenapa dia terus memperhatikan Lita sekarang.
“kenapa kau menjadi aneh begini Fahri, ingat cintamu hanya Dira. Dan ingat juga perempuan yang membuatmu risau itu adalah pembunuh tunangan mu” ucap Fahri didalam hatinya, tapi pandangannya tidak lepas dari punggung Lita yang membelakanginya.
.......................
Lita turun terlebih dulu dari mobil Fahri saat mobil itu telah berhenti didepan rumah berwarna putih berlantai dua. Lita menatap rumah itu, menerka-nerka ini rumah siapa, rumah orang tua Fahri, rumah kakak pria itu atau rumah sewaan seperti dulu untuk menipunya.
“Ini rumah orang tuaku, rumah kakakku juga. Ayo masuk” ucap Fahri yang seperti bisa menebak pikiran Lita saat ini. Dia menggandeng tangan Lita mengajak perempuan itu untuk masuk.
“Lepas, aku bisa jalan sendiri” Lita melepas paksa tangannya yang tergenggam tangan fahri.
“Aku bukan boneka mu, jangan lakukan sesuka yang kamu mau. Biarkan saja mereka tahu,” ucap Lita tak perduli dan dia akan berjalan lebih dahulu.
“Kau memang semakin bertingkah karena aku beri kelonggaran. Kau mau Mamaku sakitnya kambuh karena dirimu hah,” ucap Fahri menahan tangan lita dan menarik kuat tangan itu hingga tubuh Lita membentur tubuhnya. Dia mendekatkan tubuh Lita padanya, menatap tajam tepat di manik mata perempuan itu yang seperti tidak takut padanya saat ini.
Lita terdiam, sebenarnya dia tidak ingin dibeginikan terus. Tapi kalau dia memberontak, situasinya tidak mendukung. Bagaimana kalau Mama Fahri melihat pertikaian mereka ini dan apa kata pria itu terjadi. Jujur dia tidak ingin Mama mertuanya sakitnya kambuh, entah mengapa dia menganggap Mamanya Fahri sudah seperti Mamanya sendiri. Perempuan itu sangat baik padanya, meskipun dia sempat ditipu oleh keluarga ini.
Fahri kembali menggandeng tanag Lita menarik paksa perempuan itu, Lita sendiri hanya menerima begitu saja. Mau bagaimana lagi, dia terpaksa melakukannya.
“Saat didalam, aku harap kau menjaga sikapmu. Kalau tidak awas dan lihat apa yang akan aku lakukan padamu nanti” ancam Fahri setengah berbisik ditelinga Lita saat ini.
Lita hanya diam, bodo amat dengan ancaman itu. Dia tidak takut dan tidak perduli sama sekali.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah dengan bergandengan tangan saat ini, didalam rumah sendiri sudah banyak orang. Terutama ibu-ibu tetangga yang datang untuk pengajian tujuh bulanan.
__ADS_1
“Eh Lita, fahri kalian sudah datang” ucap Wulan yang melihat anaknya dan menantunya berjalan mendekat padanya saat ini.
Fahri tersenyum dia juga sekilas melihat Lita, melihat respon perempuan itu. Lita juga ikut tersenyum saat melihat Mama mertuanya yang antusias dengan kedatangan mereka.
“Dia jago akting juga ternya” batin Fahri melihat Lita yang ada disebelahnya.
“Apa kabar Ma,.” Ucap Fahri langsung mencium tangan Mamanya.
Begitu juga Lita yang melakukan hal yang sama,
“mama baik fahri Lita. Kalian sendiri bagaimana?”
“Alhamdulilah kita juga baik Ma” sahut Lita tersenyum ramah.
“Baguslah,.” Ucap Wulan begitu lega.
“Dimana papa ma?” ucap fahri menanyakan keberadaan papanya.
“Dia sedang bersama dengan Jefri” ucap Wulan. Jefri adalah kakak ipar dari Fahri.
“Oh, lalu kak Shela dimana?” ucap Fahri.
“Shela ada di kamarnya, kam mau menemui kakakmu” pungkas Wulan.
“Iya,”
“Kalau begitu ajak Lita sekalian kenalkan pada Shela. Diakan belum pernah bertemu dengannya”
“Iya, kalau begitu kita permisi dulu Ma” pungkas fahri dan langsung menarik Lita setelah di angguki oleh sang Mama.
"Kau saja yang menemui kakakmu, aku tidak sudi dekat dengan keluargamu" ucap Lita sinis dan melepas gandengan Fahri saat mereka akan menuju kamar kakak dari Fahri itu.
"Syukurlah, aku juga tidak sudi mengenalkan mu pada kakakku. Ya sudah sana jangan sampai terlihat Mamaku" ucap Fahri tak kalah sinis.
Fahri langsung pergi begitu saja meninggalkan Lita disitu, Lita sendiri menatap curiga pada Fahri sebenarnya apa yang ingin pria itu katakan pada kakaknya yang bernama Shela. dia harus menguping pembicaraan itu batin Lita.
__ADS_1
°°°
T.B.C