
Thalia bangun dari tidurnya, saat matahari menerobos masuk kedalam kamarnya saat ini mengenai wajah cantiknya itu, dia membuka matanya sambil meregangkan tubuhnya sendiri. Sedetik kemudian dia teringat sesuatu, teringat kalau dia semalam baru saja menikah dan ia langsung melihat ke samping.
Kosong tak ada orang disampingnya saat ini, dia tersenyum miring dnegan hal itu perlahan dia mendudukkan dirinya. Senyum miring tercipta di wajah cantiknya itu dia melihat ke sebelahnya lagi dengan tatapan miris.
“kau ternyata benar-benar kabur dnegan kesempatan yang ku berikan semalam” ucapnya lirih.
Rendi tidak ada disebelahnya, pasti pria itu sudah pergi sesuai apa yang dia inginkan semalam saat memberikan kesempatan pada pria itu.
“Kalau diriku seorang selebriti mungkin ini akan menjadi berita trending pernikahan tersingkat sepanjang abad” ucapnya
Thalia langsung berdiri dari duduknya berjalan kearah lemari pakainnya untuk mengambil baju ganti. Dia akan mengganti bajunya sekarang. Ini baju yang tidak mungkin dia pakai untuk keluar dari ruangan.
Baru saja dia membuka lemari pakaiannya pintu kamarnya sudah terbuka membuat dirinya melihat kesal kearah pintu karena tidak sopa masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Namun niat Thalia untuk memaki orang itu terhenti saat dia melihat siapa yang ada di depannya saat ini. itu rendi yang abru saja pulang setelah semalaman tidak pulang ke rumah.
“kau? Kenapa kemari lagi?” ucap Thalia dengan datar.
“Bereskan pakainmu sekarang, kita pergi ke apartemenku” perintah Rendi sambil berjalan mendekat kearah Thalia.
Thalia melihat aneh pada rendi yang mengeluarkan kopernya dari dalam lemari,
“kenapa pria ini kembali, dia tidak pergi?” batin Thalia sambil melihat kearah Rendi yang kini sudah menatapnya.
“kau tuli atau bagaimana, masukkan bajumu di koper. Kita pergi sekarang” tegas Rendi.
“Kenapa kau kembali bukannya aku semalam sudah bilang padamu soal diriku yang tidak hamil dan aku memberikan kesempatan padamu untuk pergi”” ucap Thalia menatap heran Rendi.
“Kau pikir pernikahan ini mainan, aku tidak akan membiarkan perempuan sepertimu yang mempermainkan hidup serta sebuah ikatan suci bahagia” ucap rendi sambil tersenyum sinis pada Thalia. Dia langsung menggeser Thalia, mengambil baju di lemari pakaian perempuan yang sudah menjadi istrinya tersebut.
“Pakai ini,” ucap rendi sambil melempar baju yang abru saja dia ambil ke wajah Thalia.
“Aku menunggumu di bawah” ucapnya sebelum Thalia mengomel.
__ADS_1
Thalia yang membuang baju yang baru saja Rendi lempar ke wajahnya sudah siap membuka mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata pedas ria itu keluar lebih dulu sebelum dia bicara.
“Kau akan menyiksaku untuk balas dendam atau bagaimana? Tapi jangan harap aku akan lemah dengan itu. Justru aku akan membuatmu jatuh cinta padaku” ucap Thalia penuh tekat, dia melihat pintu kamarnya yang kembali tertutup.
................................
Rendi sedang berada di bawah, dia duduk bersama dnegan Nafa dan juga Aryo. Dia sedang membicarakan untuk membawa Thalia ke Apartemennya karena tidak mungkin dia akan tinggal di rumah ini. dia seorang pria yang memiliki tanggung jawab tersendiri harus memberikan tempat tinggal untuk perempuan.
“Rendi kamu serius akan membawa Thalia ke apartemen mu kenapa kalian tidak tinggal disini saja” ucap Nafa seakan tidak rela anaknya akan ikut dnegan Rendi.
“Aku serius ma, ini pilihanku dan Thalia sudah menjadi istriku.” Jawab rendi.
“Ma sudahlah, Thalia sudah menjadi hak Rendi jadi dia harus ikut suaminya kemanapun dia pergi” ucap Aryo pada istrinya.
“Tapi pa, Thalia putri bungsu kita, dia harus tinggal di rumah ini” ucap Nafa pada suaminya.
“biarlah ma, memang kenapa kalau di putri bungsu. Dia sudah menikah biar dia ikut dengan suaminya” ucap Aryo.
“bagaimana pa, papa setuju aku membawa putri mu ke apartemenku?” tanya Rendi.
“tapi satu pesan papa, jaga dia. Papa titipkan dia padamu ya, jangan pernah buat dia menangis” ucap Aryo berpesan pada Rendi.
Rendi hanya diam sambil mengngguk kecil menanggapi ucapan dari Aryo tersebut.
“Jaga anak Mama ya Ren,” ucap Nafa pada Rendi.
“iya ma” jawab pria itu singkat.
.............................
Thalia dan rendi sudah berada di dalam mobil, mereka sedari tadi hanya diam tidak ada yang bicara satu sama lain. Rendi fokus dengan menyetir tanpa memperdulikan Thalia di sebelahnya.
“Kau pikir aku patung yang menemani dirimu di mobil begitu” ketus Thalia sambil bersedekap menatap kearah Rendi.
__ADS_1
“Diam dan jangan ganggu aku menyetir” ucap Rendi dengan dingin. Dia tidak melihat kearah Thalia sama sekali, dia masih fokus menatap jalanan didepannya.
Thalia tersenyum miring dnegan jawaban Rendi barusan.
“Kau marah dengan ku? Kau benci denganku? Silahkan. Aku tidak perduli tapi jangan pernah anggap aku lemah jika kau menyakitiku nantinya. Aku bukan perempuan lemah mengerti. Justru aku yang akan membuatmu lemah” ucap Thalia penuh keyakinan.
Rendi tidak menanggapinya lagi dia hanya diam saja, entah apa yang sedang pria itu pikirkan sekarang.
Saat mobil sedang berjalan tiba-tiba rendi menghentikannya begitu saja di pinggir jalan, karena mobil berhenti tiba-tiba membuat Thalia sedikit terdorong ke depan. Dan ia langsung menatap sinis pada Rendi yang melihat kearahnya.
“Turun,” pinta Rendi pada Thalia.
“Apa? Kau gila menyuruhku turun dari mobil?” ucap Thalia sedikit terkejut
Rendi tidak menjawabnya, dia malah turun sendiri dari mobil sekarang. meninggalkan Thalia yang keheranan, dia pikir tadi Rendi mengusirnya dari dalam mobil tapi ternyata tidak pria itu malah keluar sendiri menuju kearah seorang penjual di pinggir jalan.
“Untuk apa pria itu turun,” ucap Thalia penasaran. Karena penasarannya dia memutuskan untuk turun dari dalam mobil menyusul rendi yang sudah masuk kedalam tenda warung nasi.
Dengan sepatu hak tingginya Thalia sedikit kesusahan berjalan di jalan yang tidak rata, membuat dirinya kesal dan terus memaki tidak jelas.
Dia masuk kedalam tenda menyusul rendi, betapa terkejutnya dia saat masuk kedalam tenda itu banyak orang yang duduk sambil makan. Dia tak habis pikir dnegan apa yang dia lihat sekarang.
“kau kenapa mengajakku kesini?” tanya Thalia saat dia sudah berjalan mendekati rendi yang duduk di sebelah seorang pria yang sedang makan di pojok menyisakan satu tempat untuk Thalia duduk.
“tinggal duduk saja tidak usah banyak tanya” ketus Rendi dan langsung menarik tangan thalia kuat agar perempuan itu duduk.
“Augh, kau gila. Sakit bodoh” sungut Thalia sambil memegangi tangannya yang sakit.
Sekali lagi rendi hanya mengabaikannya, membuat Thalia kesal sendiri. tak menunggu lama, sebuah piring nasi disajikan didepannya hanya ada nasi serta sambal kerupuk dan juga tempe goreng di atas dalam piring itu.
“Ini apa? Kau memberiku makan begini?” bisik Thalia ditelinga Rendi.
“makan itu, kita belum sarapan pagi tadi. Cepat makan dan kita pergi dari sini” perintah rendi dengan tegas, dia langsung memakan nasi uduk yang baru saja datang. Thalia sekali lagi dibuat tak menyangka dengan perlakuan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
__ADS_1
°°°
T.B.C