
Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih dua jam, pesawat sudah mendarat di bandara yang ada di Padang.
Sepasang suami istri itu saat ini sedang berada di luar bandara, mereka mencari taksi yang akan membawa keduanya ke rumah orang tua Rendi.
“kita naik taksi tidak apa-apa kan?” tanya Rendi melihat sang istri yang berdiri di sampingnya.
“Ya tidak apa-apalah, memang mau naik apa kalau tidak naik taksi” ucap Thalia menatap aneh suaminya.
“Ya siapa tahu kamu mikirnya bakal di jemput mobil pribadi” jawab Rendi.
“nggaklah, ngapain juga aku mikir begitu. Kamu sudah menikah denganku kayaknya belum paham banget denganku ya, seaneh nya aku sea sombongnya diriku. Aku bukan yang harus manja di jemput mobil pribadi.” Tukas Thalia tidak senang dnegan Rendi, dia merasa suaminya belum terlalu mengerti dirinya setelah beberapa bulan mereka menikah.
“Itu taksinya” ucap Thalia lagi dan langsung berjalan sendiri meninggalkan rendi, bahkan dia mengambil paksa koper miliknya sendiri dan menyeretnya pergi.
Rendi merasa bersalah karena ucapannya itu Thalia menjadi kesal, dia akui memang dia menilai Thalia seperti itu tapi dia tidak bermaksud apa-apa dan saat ini dia merasa menyesal dan merasa bersalah karena tidak mengerti istrinya sendiri.
“Sayang, aku minta maaf karena membuatmu kesal. “ ucap rendi yang berhasil menyusul Thalia yang akan memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.
“Kau tidak salah kenapa minta maf” ucap Thalia cuek, dan tidak terlalu melihat kearah Rendi.
Rendi diam melihat Thalia, dan dia langsung mengambil koper Thalia yang akan di masukkan ke bagasi.
“Biar aku saja, kopernya berat. Nggak baik ibu hamil angkat koper” ucap Rendi ambil mengambil alih koper tersebut.
Thalia dengan diam sembari menyerahkan koper miliknya pada Rendi, ia lalu meninggalkan Rendi masuk kedalam mobil.
Rendi yang melihat itu menghela nafas panjang, dia tidak habis pikir kalau Thalia akan marah begitu dengannya. Mungkin ini juga faktor kehamilannya, makanya dia sering naik turun emosi.
Rendi memasukkan koper miliknya dan juga koper milik Thalia ke dalam bagasi taksi dibantu oleh sopir taksi saat ini.
“Makasih ya pak” ucap rendi setelah selesai memasukkan koper tersebut.
“Iya sama-sama, silahkan masuk pak” ucap sang supir taksi meminta Rendi masuk dan dia langsung berlari ke depan untuk mengemudikan taksi itu.
Rendi segera masuk kedalam, dimana Thalia menatap kearah lain bukan melihat kerahnya. Rendi tiba-tiba saja menggenggam tangan Thalia, dia melihat kearah istrinya itu yang melihatnya sekarang.
__ADS_1
“Aku minta maaf sama kamu,” lirih Rendi menatap manik mata Thalia yang memperhatikan dirinya.
“Apaan sih minta maaf terus, kau tidak salahkan” ucap Thalia dan memalingkan wajahnya lagi.
..............................
Revan saat ini sedang berada di rumah sakit, dia semakin bersemangat untuk terus datang ke rumah sakit saat ini karena Melody menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan sadar. Dia sendiri saat ini duduk disebelah Melody di rawat, dia terus memegang tangan melody yang sedari waktu itu sudah bisa bergerak meskipun perempuan itu belum membuka matanya.
Saat revan sedang asik memegang tangan melody, ponsel miliknya yang berada di saku celananya saat ini bergetar membuat dia langsung mengangkatnya siapa tahu itu Rendi yang menelpon dirinya. Namun ternyata bukan, itu bukan Rendi melainkan mamanya.
“kenapa lagi ini orang?” kesal Revan saat melihat nama Mamanya di layar ponsel miliknya itu.
Revan langsung melepas genggaman tangannya pada Melody dan dia berjalan keluar dari ruangan itu saat ini.
Ruangan tersebut memang kosong hanya ada dirinya ayng menjaga Melody karena orang tua Melody sedang kembali ke apartemen untuk mengambil baju bersih mereka. Dan dia diijinkan untuk menemani Melody selagi mereka pulang ke rumah.
“Ada apa, menelpon ku lagi?” ketus Revan saat mengangkat panggilan tersebut.
“Bisa tidak sih kau tidak ketus dengan mamamu, kau semakin kesini semakin seperti rendi”
“Dimana adikmu, kau tahu tidak. Aku ke rumah nya tidak ada orang, apartemennya kosong” ucap sang mama pada revan.
“Mama ngapain ke rumah Rendi, kau mengganggu dia saja. Dia sudah tidak mau bertemu denganmu, kenapa kau mengganggunya terus”
“mama tidak akan menggangunya kalau dia mau bicara dengan papa kalian, dan juga adikmu.”
“Papa? Siapa yang papa kalian. Papa kita bukan bule itu, papa kita orang Indonesia. Sudahlah ma, Mama tidak usah sok menjadi ibu yang baik. Dia sudah tidak ingin berhubungan dnegan mama setidaknya Mama menghormatinya” pungkas Revan.
“mama tidak bisa, dia anak mama. Kamu juga anak Mama, kenapa kalian meninggalkan mama seperti ini. apa tidak bisa kita hidup rukun layaknya keluarga besar, apa salah Mama meminta kebahagian pada orang lain”
“Terserah kau saja, aku tutup” Revan yang muak dengan mamanya yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu langsung mematikan panggilan begitu saja dan dia akan masuk kedalam ruangan melody tetapi langkahnya terhenti karena dia mendengar dua orang yang berbicara menyebut-nyebut nama istri dari adiknya.
Revan yang penasaran langsung berjalan mendekat kearah belokan yang tidak jauh dari ruangan melody di rawat saat ini.
“Iya semua ini memang Thalia Ravero yang membiayai pengobatan perempuan di kamar Rose 2 itu” ucap sang dokter berkemeja biru laut. Dia berbicara dengan seorang pria yang sepertinya bukan orang Indonesia asli. Pembicaraan mereka tentu saja menggunakan bahasa Inggris.
__ADS_1
“Apa? Jadi benar Thalia yang membiayainya. Bagaimana bisa?”
“tentu bisa, apa yang tidak bisa di lakukan keluarga Ravero. Kau jelas sudah tahu soal itu?”
“Bukan itu maksudku, dia dibantu siapa sehingga bisa mendapat koneksi dirimu?”
“Dari Rey, kau tahu siapa Rey kan. dokter muda mantan kekasih Thalia. Rey itu temanku saat Kuliah kedokteran dulu”
“Kau bisa tahu ini dari siapa?” lanjut dokter tersebut.
“Aku tahu dari berkas yang tidak sengaja kau tinggal di Jerman beberapa waktu lalu, dan disitu aku melihat ada nama penjamin Thalia Ravero” jelas orang tersebut.
“Jadi dua bulan lalu kau membaca berkas milikku,” ucap sang dokter pada pria yang seusia Thalia tersebut.
“Tidak sengaja, salah mu sendiri meninggalkannya di meja rumahku. Aku hanya menyelamatkannya dari keponakanku saja”
“Selain dirimu tidak ada yang tahu soal ini kan Nich, aku mohon padamu jangan sampai ada yang tahu kalau yang membiayai semua ini Thalia. Aku seroang dokter dan ahrus menjaga rahasia dari klienku” pungkas dokter tersebut berpesan pada pria di depannya.
“Untuk apa juga aku memberi tahu orang lain soal ini”
“Ngomong-ngomong darimana kau kenal Thalia Ravero, dan untuk apa kau ke Inggris bahkan ke rumah sakit tempat ku bekerja ini” heran dokter tersebut.
“Dia masa lalu ku James, kupikir Melody itu saudaranya dan dia juga ada di sini makanya aku jauh-jauh datang dari Jerman untuk menemui dia. ternyata dia tidak disini” ucap pria itu yang nampak kecewa.
Revan yang sedari tadi bersembunyi dan mencuri dengar semua itu, sedikit terkejut karena dia tidak menyangka kalau yang membiayai ini semua istri dari adiknya.
“Gila, seorang istri membiayai rumah sakit perempuan yang masih menjadi tunangan suaminya. Hatinya apa tidak sakit melakukan semua ini, dan kenapa dia melakukannya?” lirih Revan yang terkejut dengan kenyataan saat ini.
“Rendi. Sudah mengetahui semua ini atau belum,?” ucapnya terpikirkan soal Rendi yang kemungkinan belum mengetahui soal hal ini.
“Perempuan itu keras, tapi ternyata punya hati yang mulia juga” batin Revan yang masih tidak habis pikir dengan apa yang dia dengar barusan.
°°°
T.B.C
__ADS_1