
Thalia baru saja selesai memasak, dia tapak kelelahan keringat bahkan bercucuran di pelipis nya, dia melihat hasil masakannya sendiri. ini pertama kalinya dia memasak. Entah rasanya seperti apa yang jelas dia melakukan apa yang disuruh Lita padanya membuatkan makanan untuk Rendi.
Ngomong-ngomong soal rendi dari siang tadi dia tidak keluar-keluar dari kamar, membuat dirinya kesal saja. Setelah melecehkan dirinya pria itu samai sekarang belum keluar juga padahal sudah sore.
Thalia menaruh serbet dengan kasar di atas meja, dia langsung berjalan kearah kamar memanggil Rendi.
Thalia langsung membuka pintunya begitu saja dan rendi yang sedang berada di atas tempat tidur membaca koran langsung melihat kearahnya tapi hanya seperkian detik saja lalu pria tersebut memalingkan wajah darinya.
“kau ini malu atau apa padaku, malu sendiri karena ulah mu tadi padaku.” Ucap Thalia berjalan mendekati Rendi yang langsung menatap kearahnya.
“Siapa yang malu” tukasnya dengan tegas.
“Kalau tidak malu kenapa kau sedari tadi terkesan menghindari ku?’ taya Thalia menatap rendi.
“Ada apa kau masuk ke kamar?” Rendi malah balik bertanya
“Kau dari tadi belum makan kan? Aku sudah masakan makanan untukmu” ucap Thalia dengan nada lebih lembut lagi.
Rendi menatap Thalia tak percaya, dia barusan tidak salah dengarkan kalau perempuan itu habis memasak. Dia langsung berdiri berjalan melewati thalia yang menatapnya bingung.
“kau mau kemana?” tanya Thalia pada rendi.
“Bukannya kau yang bilang memasakkan makanan untukku, lalu mau kemana lagi aku kalau bukan makan” ucap Rendi.
Thalia langsung berlari kecil mengikuti rendi yang sudah berjalan keluar kamar.
......................
Rendi duduk di bar dapur, didepannya hidangan makanan sudah tersaji di situ. Apartemennya memang tidak terdapat meja makan hanya ada bar saja yang langsung terhubung dengan dapur.
Rendi melihat masakan Thalia, dia tidak habis pikir perempuan itu memasakkan dirinya di hari kedua menjadi istrinya.
Thalia sendiri duduk disebelah rendi, ia melihat pria itu yang memandang masakannya.
“kenapa diam saja? Tidak mau makan masakan ku. Tenang saja aku tidak memasukkan sesuatu kedalamnya. Kalau aku memasukkan racun disitu rugi sendiri diriku yang menjadi janda nantinya” ucap Thalia
__ADS_1
Rendi mengambil sendok yang berada di atas piringnya untuk mencicipi masakan Thalia. Tapi dia langsung mengurungkan niatnya dan menatap kearah Thalia yang sudah sangat berharap Rendi akan memakan masakannya itu. Dan karena rendi mengurungkan niatnya membuat Thalia menatap kecewa pria itu.
“Ambilkan untukku” ucap rendi sambil menggeser piringnya.
Thalia langsung mengambilkan makanan untuk Rendi dengan begitu semangat.
“Ini,” ucapnya setelah mengambilkan nasi dan juga sayur serta lauk pauknya. Itu sayur sop kaki ayam kesukaan Rendi kata Fahri.
Rendi langsung mengambil sendok nya, dia menyicipi kuah tersebut. Tapi raut wajahnya langsung berubah dan dia melihat Thalia yang begitu antusias menunggu pendapatnya.
“bagaimana enak atau tidak?” tanya Thalia pada rendi.
“Enak” jawabnya singkat dan dia melanjutkan makannya. Meskipun dia menjawab enak tapi wajahnya seakan tidak bisa berbohong.
“Serius, aku berhasil berarti. Ah tidak susah ternyata memasak seperti ini” ucap Thalia begitu bangga dnegan dirinya sendiri.
Rendi hanya diam memakan makanannya, tanpa bicara.
Thalia segera mengambil piring untuk dirinya. Dia juga akan makan, karena dia lapar sedari tadi belum makan juga.
“kamu berbohong padaku, kamu bilang enak masakan ku. Asin begini kamu bilang enak” heran thalia menatap rendi yang berusaha tetap biasa saja.
“tidak asin, ini biasa saja di lidah ku” ucap rendi berbohong.
“Lidahmu aneh, tidak usah dimakan.” Ucap thalia langsung menarik piring rendi.
“kau apa-apaan. Kau tidak lihat aku sedang makan” tegur Rendi pada Thalia yang menarik piringnya begitu saja.
“aku tidak ingin kamu makan ini, ayo keluar cari makan” pinta Thalia pada Rendi.
“kenapa kau ahrus berbohong soal masakan ku yang asin. Seharusnya kau bilang ini tidak enak bukannya malah diam dan bilang ini enak” lanjut Thalia mengomeli rendi yang berbohong.
“Kau baru memasak untuk pertama kalinya kan? Mana mungkin aku bilang ini tidak enak.” Tukas Rendi melihat Thalia
“kenapa kau jadi seperti suami yang seakan perduli dengan perasaan istrinya, kau kan tidak suka denganku kenapa jadi manis begini seolah rumah tangga kita yang dijalani dengan baik” heran Thalia menelisik wajah rendi mencari maksud di balik ucapan pria itu tadi.
__ADS_1
“Bukannya aku sudah bilang pernikahan ini tidak main, main” Rendi langsung berdiri menarik Thalia agar ikut berdiri juga.
Rendi langsung menarik pinggang Thalia sehingga perempuan itu begitu dekat dengan dirinya saat ini
“menikah bagiku bukan sebuah permainan nona Thalia, meskipun kau membohongi diriku sola kehamilan mu tapi aku tidak membencimu saat ini. seharusnya kau bersyukur akan hal itu” pungkas Rendi.
“Kenapa kau tidak membenciku? Ada alasan lain darimu?” tantang Thalia pada Rendi.
“Kenapa kau seolah-olah menjadi perempuan bodoh yang tidak tahu hal seperti ini, kau bilang sendiri tidak ada pria yang menolak pesona mu kan lalu kenapa kau sekarang menjadi orang yang bodoh” ucap rendi dnegan sinis.
“jadi maksudmu kau sudah terpesona denganku sekarang tuan Rendi si pria sombong yang sok jual mahal” tebak Thalia melihat wajah rendi.
Rendi langsung melepaskan rengkuhan di pinggang Thalia,
“Kau ingin makan diluar kan ayo kita keluar” ucapnya mengalihkan pertanyaan. Dan tidak membahas hal tersebut.
“Setelah menjadi pria sombong sekarang kau ingin menjadi pria yang gengsi begitu” ucap Thalia menahan tangan Rendi yang akan berjalan pergi meninggalkan dirinya lebih dahulu..
“terserah dirimu menyebutku apa, ayo tidak usah banyak bicara sebentar lagi malam. Tidak mungkin kau tidak akan makan sekarang” pungkas Rendi mengajak Thalia keluar mencari makanan.
Rendi yang lagi-lagi akan berjalan pergi kembali di tarik oleh Thalia sehingga membuat mereka berdua memiliki jarak yang cukup dekat.
Thalia langsung mencium Rendi lebih dulu, dia ******* bibir suaminya. Rendi tidak diam saja dia membalas ciuman dari Thalia.
Mereka berdua berciuman cukup lama, dan begitu panas bahkan Rendi sedikit mendorong Thalia sehingga tubuh perempuan itu sedikit membentur ke Bar.
Saat mereka berdua sama-sama saling menikmati ciuman tersebut tiba-tiba saja terdengar suara bel pintu yang berbunyi. Mereka sedikit mengabaikannya meskipun mendengar hal itu Rendi malah sudah menggerakkan tangannya ke baju Thalia siap melepas baju dari istrinya tersebut.
Tapi pintu apartemen kembali berbunyi, bukan sekali tapi berkali-kali. Thalia mendorong rendi yang padahal sudah siap membuka bajunya.
“Siapa sih ganggu kita aja,” kesal thalia yang dimana dia sudah menikmati ciuman itu tapi terganggu oleh suara pintu yang berbunyi cukup keras.
“Biar aku saja, “ ucap Rendi melihat sekilas Thalia sebelum pergi untuk membukakan pintu.
°°°
__ADS_1
T.B.C