
Lita terbaring di tempat tidur dalam kondisi tidak sadarkan diri, Fahri tadi langsung mengangkat Lita keatas tempat tidur saat melihat perempuan itu yang jatuh tak sadarkan diri didepannya.
Sungguh dia benar terkejut dengan itu, entah seketika rasa bersalah menusuk di relung hatinya melihat Lita yang begitu.
Fahri sendiri saat ini sedang berada di luar kamarnya, dia tidak berani masuk kedalam melihat Lita yang sedang diperiksa oleh dokter ditemani oleh Mamanya yang bersama Lita didalam.
Dia berdiri di dekat tembok, dengan dua tangan terlipat di dadanya. Asli sekarang dia mengingat dengan jelas apa yang ia lakukan pada Lita semalam.
“Kenapa aku bisa brutal begitu padanya tadi malam, semua gara-gara foto itu” kesalnya meninju didinding dengan kuat.
Terdengar pintu terbuka membuat Fahri langsung melihat kearah pintu, seorang dokter yang belum terlihat tua keluar dari dalam kamarnya. Dia menghampiri Fahri saat ini.
“Bagaimana kondisi istri saya?” tanya Fahri begitu penasaran dan penuh kekhawatiran.
“Istri anda tidak apa-apa, dia hanya lelah dan sedikit demam” ucap sang Dokter pada Fahri.
“Demam? Berapa lama dia dikamar mandi?” gumamnya.
“Kalau begitu saya permisi dulu” pria berseragam putih dengan menenteng tas berwarna coklat itu langsung berlalu dari hadapan Fahri saat ini.
Tak Lama setelah dokter itu pergi, kamarnya kembali terbuka menampakkan sang Mama yang menatap dirinya sesaat setelah menutup pintu.
“Kenapa Mama menatapku begitu?” herannya.
“Kamu apakan istrimu?”
“Maksudnya?” kernyitan di dahi membuat Fahri tergagap sekaligus.
“Kamu selama ini melakukan kekerasan padanya?” Wulan asal menebak menatap anaknya menyelidik.
“Kenapa Mama asal menuduhku begitu?” dengan berusaha menutupi kegelisahannya fahri menatap sang Mama.
“Mama lihat tangan Lita memar-memar dan ada bekas..” ucapan Wulan terhenti dia tidak mungkin mengatakannya.
“Bekas apa Ma?”
__ADS_1
“Tidak,”
“Mama ingatkan sama kamu, kamu jangan melukai istrimu Fahri. Cintai dia seperti kamu mencintai Dira dulu. Jangan sampai kamu menyesal setelah kehilangan Lita nantinya” ucap Wulan menasehati Fahri.
Fahri hanya diam saja, kalau bicara apa yang dia bicarakan. Tidak mungkin dia membantah Mamanya saat ini, Mamanya kan sedang sakit dia tidak mau Mamanya terlalu banyak beban pikiran gara-gara dirinya.
“Kamu jaga istrimu, Mama sama Papa mau pulang hari ini.” Pinta Wulan menatap Fahri yang diam.
“Kenapa buru-buru, bukannya kalian bilang mau menginap disini lama.” Fahri menatap sang Mama.
“Sudah sana masuk, nanti istri bangun tidak ada orang. Tubuhnya lemas sekali dan panas sekali. Kamu jaga menantu Mama baik-baik, dan seminggu lagi tujuh bulanan kakak kamu ajak istrimu juga” ucap Wulan pada anak laki-lakinya tersebut.
“Ya.” Singkat Fahri
Wulan langsung berlalu meninggalkan Fahri yang terus menatapnya hingga menuruni tangga.
.......................
Fahri membuka laptopnya di sofa kamarnya sambil sesekali matanya melihat kearah tempat tidur dimana Lita masih belum sadarkan diri. Padahal saat ini sudah hampir siang perempuan itu juga belum sadar, walaupun sedari tadi Fahri sibuk dengan pekerjaannya tapi pikirannya begitu tidak fokus karena Lita.
“Talita,..” ucapnya lirih
Talita tidak bangun juga, fahri duduk di pinggir tempat tidur berniat membangunkan Lita dengan menepuk pipi perempuan itu. Tapi seketika dia terkejut saat merasakan suhu tubuh Lita yang begitu panas.
“Badannya panas sekali,.” Kagetnya
“Apa yang ahrus aku lakukan,” Fahri benar-benar bingung sekarang.
Sangking bingungnya Fahri terus memegang-megang wajah Lita dengan percaya tidak percaya kalau perempuan didepannya sedang demam.
Karena sentuhan Fahri itu membuat Lita terlonjak kaget, entah kenapa dia langsung terbangun. Dia terus menatap Fahri yang menatapnya lega karena Lita telah sadar sedari pagi tadi, tapi ia merasa aneh karena Lita tiba-tiba menjauh darinya. Dengan keras juga menepis tangannya.
“Pergi kau, Pergi” teriaknya histeris pada Fahri.
Mendengar itu Fahri lagi-lagi dibuat terkejut, dia benar-benar terkejut dengan Lita yang berteriak ketakutan didepannya.
__ADS_1
“Hei kau kenapa? Ini aku” ucap Fahri mencoba mendekat lagi.
“Aku bilang pergi, pergi diri hadapanku” ucap Lita semakin histeris ketika Fahri mendekatinya.
“Lita, Lita kau kenapa. Kau sudah gila ya, ini aku” ucap Fahri masih berusaha memegang tangan Lita yang terus mundur.
“Aku benci dirimu, aku benci pergi dari hadapanku. Aku mohon pergi, PERGI!!!” teriak Lita histeris. Fahri langsung tertegun begitu saja saat melihat Lita yang ketakutan menatapnya perempuan itu juga terus menjauh darinya saat ini.
Sebenarnya ada apa dengan Lita, apa perkataan perempuan itu benar-benar serius saat ini. Apa batinnya benar-benar terguncang karena perbuatannya semalam. Tatapan mata Lita juga berubah, dulu saat mengatakan benci padanya tatapan itu mengatakan hal lain tapi kenapa saat ini tatapan itu seakan sama dengan apa yang perempuan itu ucapkan.
Tatapan penuh kebencian Lita berikan untuknya saat ini, kenapa hatinya merasa gelisah dan tidak terima atas tatapan kebencian itu. Kenapa dia begitu sakit melihat tatapan Lita yang benci padanya.
“PERGI, PERGI DARI HADAPANKU. Aku mohon pergi” ucap Lita histeris.
Fahri seketika tersadar, dari lamunannya.
“Baiklah, aku pergi..” lirihnya sambil melangkah berjalan tatapannya sesekali melihat Lita yang menatapnya dingin. Hatinya kenapa sakit melihat tatapan itu.
..............................
Fahri duduk merenung di kursi yang ada di samping kolam renang rumahnya saat ini, dia masih membayangkan kejadian semalam. Semua gara-gara foto yang entah siapa yang mengirimkan padanya, dan bodohnya dia langsung menuduh Lita tidur dengan pria lain. Menganggap perempuan itu kotor ternyata malah dirinya yang telah mengotori perempuan itu merebut paksa kesuciannya. Meskipun itu haknya tapi dia benar-benar bejat memang melakukan hal itu dengan paksa.
“Kenapa disini sakit sekali, saat Lita bilang benci padaku” ucap Fahri menyentuh Dadanya.
“Dia bilang benci padaku tadi, ini bukan yang pertama tapi saat ini kenapa aku terpengaruh dengan ucapannya. Apa yang harus aku lakukan, ah kenapa aku terus memikirkannya.” Ucap Fahri dan berusaha mengelak rasa yang muncul dalam hatinya kini.
Fahri memejamkan matanya bermaksud menghilangkan pikiran-pikiran yang memenuhi kepalanya saat ini. Tapi bukannya mereda malah semakin menjadi, dia terus terbayang-bayang akan darah diseprei itu. Dia sendiri yang memperawani Lita ternyata. Berarti dia telah salah menuduh Lita.
“Kenapa pikiranku semakin berkelut begini, akhh memang aku brengsek. Bisa-bisanya aku melukai harga diri perempuan itu bukan itu saja. Aku malah menyebut nama Dira saat melakukannya dengan Lita, bagaimana perasaan perempuan itu” rasa gelisah begitu mengganggu pikiran Fahri saat ini dia terus-terusan memikirkan Lita.
Bahkan ini bukan seperti dirinya yang merasa menyesal telah menyakiti Lita, biasanya dia tidak pernah memiliki rasa menyesal seperti ini. Tapi kenapa kali ini dia begitu menyesal dan perasaan takut akan ucapan Mamanya benar-benar terjadi bagaimana kalau Lita benar-benar pergi meninggalkannya.
°°°
T.B.C
__ADS_1