
“Udah kenyang?” tanya rendi pada Thalia yang duduk di depannya saat ini, mereka berdua sedang berada di kantin rumah sakit setelah melihat Lita yang habis melahirkan. Thalia tadi bilang lapar dan ingin makan bakso untung saja di kantin rumah sakit ini ada penjual baksonya.
“belum, tapi satu mangkuk lagi” uap Thalia yang sudah habis satu mangkok. Sedangkan Rendi yang sudah selesai makan hanya melihat istrinya saja.
“Kamu belum kenyang?” heran Rendi menatap istrinya itu.
“Belum” jawab Thalia sambil menggeleng.
“Satu mangku lagi ya,” tukas Thalia yang sedikit merengek pada suaminya.
“Boleh nggak aku nambah, mau aku maafin soal kamu tadi nggak?” ucap Thalia mengingatkan Rendi soal perdebatan mereka tadi di ruangan Lita.
“Nggak salah sayang, yang minta maaf duluan siapa? Kamu kan?” tanya Rendi pada istrinya.
Thalia diam dan sedikit mengingat, memang dirinya sih tadi yang meminta maaf lebih dulu. karena dia menyadari sikap Rendi yang terlalu karena Nicholas tadi. Sebenarnya maksud Rendi baik dengannya. Mungkin suaminya itu masih trauma atau belum bisa percaya dengan Nicholas yang hampir memperkosanya dulu.
“Ingat sayang siapa yang meminta maaf dulu” pungkas Rendi menatap istrinya dengan puas, karena Thalia yang diam tidak berkutik.
“Ya aku meminta maaf duluan, puas, ya sudah ayo pulang kalau tidak boleh tambah satu lagi” ucap Thalia pada Rendi, dia langsung berdiri dari duduknya sekarang.
“Kamu laper atau laper sih, tumben mau makan ditempat begini sampai pengen nambah” pungkas Rendi sedikit menggoda istrinya.
“anak kamu yang pengen lagi, bukan aku ya” elak Thalia.
“Ya udah nambah lagi, padahal aku sudah janjian dengan dokter kandungan untuk memeriksa mu”
“Serius,” Thalia langsung girang mendengar ucapan Rendi barusan dan dia langsung duduk lagi.
“Iya, mau tambah lagi kan” ucap Rendi sambil tersenyum melihat istrinya itu.
“Mbak minta baksonya satu lagi ya?” seru Rendi sambil melambaikan tangannya pada pelayan perempuan yang kebetulan sedang menyajikan bakso pada pelanggan yang lain.
“Iya mas, tunggu sebentar ya.” Sahut pelayan tersebut.
“Terimakasih” ucap Thalia girang, dia seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.
“Sama-sama” jawab Rendi tersenyum melihat istrinya yang senang begitu.
........................................
“bagaimana dok kandungan istri saya” tanya rendi saat dokter memeriksa kandungan Thalia saat ini.
Mereka berdua selesai makan, langsung menemui dokter kandungan yang sudah ada janji dnegan Rendi. Dokter perempuan itu merupakan dokter yang direkomendasikan oleh Fahri, karena dokter kandungan Thalia yaitu istri Rey sedang berada di luar Negeri membuatnya tidak bisa memeriksakan kandungan istrinya saat ini. dimana dia ingin melihat jenis kelamin anaknya agar dia bisa mempersiapkan kamar untuk calon bayinya nanti.
__ADS_1
“Kandungannya sehat kok, ibunya juga sehat. Tadi, masnya pengen lihat jenis kelamin kan, ini di layar bisa kelihatan ya mas kalau anaknya laki-laki ya” ucap sang dokter memperlihatkan janin diperut Thalia.
“laki-laki,” ucap Thalia dan melihat monitor disebelahnya.
“Iya anaknya laki-laki mbak” ucap sang dokter.
“Berarti mama sama Papa dapat cucu laki-laki lagi dong, aku kan anak cewek” ucap Thalia melihat ke sebelah diman suaminya berdiri sambil menggenggam tangannya.
“Nggak pa-pa cewek cowok sama saja, mungkin memang takdir Papa sama mama kamu cucunya laki-laki semua. Udah disyukuri,” ucap rendi pada istrinya.
“hemm,” ucap Thalia sambil cemberut.
“Ini udah kan dok?” tukas Thalia melihat sang dokter yang ada disebelahnya.
“Iya udah kok mbak, perutnya juga boleh ditutup. Saya kembali ke meja dulu ya” ucap dokter itu ramah.
Dan dia segera meninggalkan sepasang suami istri itu untuk ke tempat duduknya mengisi informasi soal Thalia.
“habis ini mau kemana?” tanya Thalia pada Rendi yang tengah membantunya turun dari ranjang.
“Kita pulang, ini udah malem soalnya. Badan kamu juga capek kan pasti sedari kit pulang dari Bali tadi pagi” ucap Rendi
“Pulang ya?” ucap Thalia yang sepertinya sedikit keberatan.
“Iya kalau nggak pulang mau kemana? Kamu nggak capek.” Heran Rendi melihat Thalia.
“yang mana sih?” tanya Rendi yang tidak tahu apa yang dimaksud Thalia.
“Iih, kamu gimana sih. Itu loh yang ada dipinggir jalan, apa ya namanya” kesal Thalia
“Tauk lah” kesal Thalia dan langsung pergi.
“Makasih dok,” tukas Thalia dan langsung berjalan pergi meninggalkan Rendi yang kebingungan dengan apa yang dimaksud istrinya itu.
“Loh, mbak Thalia sudah keluar duluan mas. Kalau begitu ini buku untuk cek bulanannya mas.” Ucap dokter perempuan itu sambil menyerahkan buku tersebut kepada Rendi.
“Maaf dok, saya mau tanya makanan yang dipinggir jalan seperti pancake itu apa ya. Yang bisa ada selai kacangnya” Rendi memaksakan dirinya bertanya ada dokter itu.
“Kayaknya sih martabak mas” jawab dokter tersebut.
“Kenapa aku tidak kepikiran, tapi Thalia serius ingin makan itu. tidak biasanya dia minta makanan pinggir jalan” heran Rendi sekali lagi.
“Saya permisi dulu dok” ucapnya sambil mengambil buku tersebut dari tangan sang dokter dan dia langsung keluar dari ruangan itu untuk mengejar Thalia yang sudah keluar duluan.
__ADS_1
“Thalia, Thalia,..” panggil Rendi saat dia sudah keluar dari ruangan sang dokter berharap Thalia masih ada disitu.
“Apa?” pungkas Thalia yang duduk di kursi belakang Rendi. Rendi langsung berbalik dan dia tampak senang karena Thalia masih ada di situ menunggunya.
“Aku kira kamu sudah pergi, ternyata masih nunggu aku disini”
“Iyalah, nunggu orang nggak peka. Masa aku suruh pergi sendiri, sudah tahu apa yang aku maksud” ucap Thalia.
“Kamu mau martabak, ya udah ayo aku belikan. Makanya sayang kalau ngomong yang jelas, aku kan tidak tahu maksudmu apa?”
“Ya aku mana tahu itu namanya martabak. Aku belum pernah makan itu”
“Kalau belum pernah makan kenapa tahu ada kacangnya?”
“Sih Putri sering pamer makan itu, katanya enak. Entah kenapa aku kepikiran itu pengen makan juga” jelas Thalia.
“Kamu belum kenyang, tadi habis dua mangkuk bakso loh masih mau makan martabak”
“belum”
“Ayo buruan, boleh nggak sih aku makan itu” ucap Thalia segera mengajak Rendi pergi.
“Iya boleh, ayo kita cari martabak terus pulang. Nanti dihabiskan, aku tidak mau kamu suruh menghabiskannya”
“Ya kenapa tidak mau, kamu kan suamiku. Malas bekas ku begitu”
“Bukan begitu, udah deh ayo. Kamu nanti malah ngajak debat” ucap Rendi mengajak Thalia untuk segera pergi untuk membeli martabak dan langsung pulang ke rumah.
“Ayo,” ucap Thalia langsung melingkarkan tangannya di lengan Rendi. Rendi sendiri tersenyum dengan apa yang dilakukan Thalia, dia selalu gemas sendiri dengan istrinya dan dengan hubungan rumah tangganya ini yang kerap berantem-berantem gemas dan akhirnya balikan kembali. Itu membuat mereka saling mesra saja setiap harinya.
......................................
Mobil Rendi sudah sampai di basement apartemen mereka, setelah sempat mampir membeli martabak dan di bawa pulang ke rumah. Dia melihat sekilas kearah Thalia yang tengah tertidur pulas dan dia melihat martabak yang dia taruh belakang membuat dirinya menggeleng sambil tersenyum.
Tadi yang bersikeras untu beli martabak Thalia, saat ini orangnya malah tidur. Rasanya tidak tega dia untuk membangunkan sang istri yang tampak kelelahan sedari tadi hanya istirahat sebentar terus mereka langsung ke rumah sakit melihat Lita. Dan sekarang mereka baru pulang, jadi membuat dirinya tidak tega membangunkan Thalia.
Perlahan Rendi menggerakkan tangannya untuk membenarkan rambut Thalia yang menutupi wajah cantiknya.
“Kamu cinta kedua ku tetapi seperti cinta pertamaku, membuatku begitu jatuh cinta padamu.” Lirih Rendi sambil mengusap lembut wajah Thalia yang begitu dama i saat tidur.
“Aku mohon padamu ke depannya teruslah bersamaku, meski apapun yang terjadi kedepannya. Aku tidak bisa lepas dari mu, kamu cintaku tidak ada yang lain tolong percayalah padaku nanti” ucap Rendi menatap sendu istrinya itu. entah mengapa dia risau dan takut Thalia suatu saat akan pergi meninggalkan dirinya, sungguh dia tidak menginginkan itu karena cinta sejatinya Thalia bukan yang lain.
Rendi yang sedari tadi mengenakan jaket langsung melepas jaketnya tersebut dan menutupkan ke tubuh Thalia menjadikannya sebagi selimut. Dia akan menunggu sampai Thalia bangun baru dia akan masuk ke apartemen, karena dia takut kalau menggendong istrinya perempuan itu terbangun dan nanti malah tidak bisa tidur lagi. Ia kasihan dnegan Thalia yang kelelahan seperti itu.
__ADS_1
°°°
T.B.C