
Revan sedang kedatangan tamu saat ini, mereka duduk di teras rumah orang tuanya. Tampak beberapa kali Revan di suruh untuk menandatangani beberapa kertas yang ada di atas meja.
Tentu saja Revan melakukannya, itu dia lakukan untuk melengkapi persyaratan pembelian mobil. Benar Revan tengah membeli mobil baru saat ini,. tabungannya sudah cukup untuk membeli mobil, dia membelinya karena agar memudahkan dirinya untuk pergi kemana-mana. tak mungkin kan dia memakai motor ataupun mobil dinas milik Papanya. Jelas itu melanggar aturan.
“Sudah kan, mana lagi yang harus aku tandatangani?” tanya Revan saat dia sudah menandatangani semuanya.
“sudah tidak ada lagi, kalau begitu terimakasih atas waktunya tuan” ucap dua orang itu sambil memasukkan berkas-berkas yang ditandatangani Revan barusan.
“Sama-sama” jawab Revan.
“Lalu kapan mobilnya bisa diantar kesini?” tanya Revan lagi.
“hari ini juga pak, kemungkinan sebentar lagi sampai. Kita juga akan menunggu disini sampai mobilnya datang” ucap dua orang itu hampir bersamaan.
“Oh,.” Jawab revan.
Ponsel Revan yang berada di atas meja tiba-tiba saja berbunyi membuat Revan langsung melihat kearah layar tersebut. Nama Rendi yang tertera disitu saat ini.
“Maaf saya permisi dulu” ucap revan dan berjalan agak menjauh dari orang tersebut.
“Halo ren, ada apa?” tanya Revan saat sudah mengangkat panggilan itu.
“Mamamu menemui mu tidak?” tanya Rendi di seberang sana.
“Mama? Mama kan di penjara bagaimana bisa menemui ku” heran Revan saat mendengar itu.
“hampir seminggu lalu dia sudah bebas, kau serius dia tidak menemui mu”
“Dia bebas seminggu lalu? Siapa yang membebaskannya? Kau mencabut tuntutan mu”
“suami dan anaknya yang membebaskannya”
“Jessy dan Joe, kau serius bukannya mereka tidak ingin ada hubungan dengan mama”
“Entah” jawab Rendi.
“Kau melakukan sesuatu agar mereka mau menjamin Mama”
Bukannya menjawab Rendi hanya diam saja, dia malas untuk mengatakan hal itu.
Revan tentu saja tahu, kalau Rendi diam berarti iya.
“Ya sudah kalau kau memang tidak ingin mengatakannya, ada yang ingin kau katakan lagi?”
“Tidak ada, aku hanya ingin bilang begitu”
“ya sudah kalau gitu aku matikan” ucap rendi agi dari seberang sana.
__ADS_1
“Iya,” jawab revan.
Panggilan langsung terputus, dan revan kembali berjalan kearah dua orang tamunya tadi. Tapi saat dia berbalik dan akan melangkah mendekati tamunya dia melihat Chaca yang mengendarai motor lewat depan rumahnya saat ini. perempuan itu bahkan tak menoleh sedikitpun kearah rumahnya saat ini.
“Dia mau kemana? Apa dia masih marah denganku gara-gara waktu itu” gumam Revan.
Flashback ON
Revan saat ini sedang bersama dengan Sindy rekannya dan rekan Deo. Sindy teman Revan dulu saat mereka sekolah di Luar Negeri dan sekarang menjadi rekan bisnis Revan dalam bidang batu bara dan juga minyak yang tengah Revan jalankan. Mereka berdua berjalan kearah kodim karena Revan harus menemui ayahnya yang baru saja pulang dari Jakarta sekaligus untuk pamit ke Kalimantan.
Saat mereka berdua akan masuk kedalam tanpa sengaja revan melihat kearah Chaca yang sedang berbicara dengan seorang pria yang sama mengenakan seragam loreng seperti Chaca. Mereka berbicara agak jauh dari pos tepatnya sedikit kebelakang dibawah pohon mangga.
“Sindy gue ke sana dulu” ucap revan, dia berniat untuk menghampiri Chaca dan juga pria itu karena dia juga ada sesuatu yang akan dia bicarakan dnegan Chaca.
“Ya sudah gue tunggu di post” ucap sindy.
Revan hanya mengangguk dan berjalan mendekat kearah dua orang yang tengah berbicara itu tapi niatnya untuk mendekat terpaksa harus terhenti karena ucapan yang dia dengar dari dua orang itu.
“Kamu percaya kenapa sama aku. aku nggak mungkin nikah sama anak ibu, aku ngga cinta sama dia. kamu tahu sendiri aku cinta sama kamu Dika” ucap Chaca meyakinkan pria didepannya.
“Tapi kamu di jodohkan sama dia Cha, iya kan?”
“iTu perjodohan konyol, aku nggak mau Dik. Kamu bisa percaya sama aku nggak, tolong percaya kenapa. Jangan begini persiapan kita buat serius juga bentar lagi kesampaian” pungkas Chaca sambil mencoba memegang tangan Dika.
“Tapi kenapa aku ragu ya kalau kamu nikah sama aku, kayaknya susah gitu.”
“Kalau kamu nganggap dia cuman abang lalu kemarin apa waktu aku lihat kamu cium dia”
Chaca yang mendengar itu hanya bisa diam, memang dia mencium Revan beberapa hari lalu. Karena dia terpaksa melakukannya untuk membuat ibunya percaya kalau dirinya memang ada hubungan dengan Revan.
“Ya aku akui, itu salah. Aku salah Dik, tapi itu karena ibu aku. aku cuman memanfaatkan Revan saja tidak lebih” ucap Chaca meyakinkan Dika.
Revan yang mendengar itu sedikit terkejut, dia mengira Chaca kemarin menciumnya karena memang menyukainya ternyata hanya untuk memanfaatkannya saja.
“kamu pikir aku percaya Cha, lebih baik kita udahan aja Cha. Lagi pula aku sebentar lagi pindah tugas. Jadi misalkan kau ingin serius dengan dia aku restui”
“Kamu ini ngomong apa sih Dik, jangan begini kenapa. Aku bisa bilang sama ibu kalau aku sama Revan nggak ada hubungan lagi kita udah putus terus kita langsung nikah sesuai rencana kita” ucap Chaca pada Dika.
“Aku minta maaf Cha, aku nggak percaya sama ucapan kamu. kita batalkan semua rencana kita” ucap Dika melepaskan tangan Chaca dari lengannya dan langsung pergi meninggalkan perempuan itu yang terdiam saat ini. cintanya sudah hancur karena rencana perjodohannya dnegan Revan dan bodohnya dia waktu itu kenapa juga dia mencium Revan didepan orang tuanya. Tapi waktu itu ia terpaksa untuk menyakinkan sang ibu yang tengah sakit kalau ia mencintai Revan. Kenapa ayahnya dulu membuat kesepakatan seperti itu dnegan temannya.
“Chaca..” belum juga Chaca pulih dari kesedihannya sebuah suara membuatnya kaget saat ini. siapa lagi kalau bukan Revan yang datang.
“Ba...bang Revan”
“kenapa terkejut melihatku disini” ketus Revan.
“ternyata kau sama saja dengan kebanyakan perempuan, aku pikir kau orang yang beda.”
__ADS_1
“maksud bang Revan apa?”
“Ciih, tidak usah pura-pura cha. Ternyata kau hanya memanfaatkan ku saja”
“Aku nggak bermaksud begitu bang, tapi aku terpaksa. Abang tahu sendiri ibuku bagaimana kondisinya waktu itu. kenapa bang Revan yang marah, bukannya aku juga sama dnegan bang Revan waktu itu yang menfaatkanku”
“apanya yang sama nggak ada yang sama Cha, gue ngga nyangka perempuan pekerja keras sepertimu bisa begini sikapnya. Aku kira kau beda dengan perempuan lain, aku minta kalung dan yang lain tolong kembalikan lagi padaku. Dan tidak usah lagi membawa makanan ke rumah ku lagi mulai hari ini, oh satu lagi tidak perlu menyapaku” ucap revan mengatakan itu semua didepan wajah Chaca. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yan teramat pada perempuan didepannya saat ini. entah kenapa dia marah sekali dnegan Chaca saat ini.
“nanti aku kembalikan bang, maaf kalau membuat abang marah. Tapi jujur aku nggak bermaksud begitu bang” pungkas Chaca.
‘kalau begitu saya permisi bang. Saya ambilkan dulu apa yang bang revan mau” lanjut Chaca berjalan pergi lebih dulu meninggalkan Revan yang setengah kesal saat ini.
FLASHBACK OFF
........................................
Rendi baru saja masuk kedalam rumahnya tapi dia sudah dikejutkan oleh beberapa tamu yang tengah duduk di dalam rumahnya saat ini.
“Kenapa kalian kesini?” tanyanya ketus saat melihat tiga orang tamu yang duduk di sofa rumahnya.
Di Sana juga ada istri dan mertuanya yang menemani mereka mengobrol.
“rendi duduk dulu dekat istrimu” perintah Aryo pada menantunya yang baru saja pulang dinas.
Rendi berjalan mendekati Thalia yang tengah menggendong anaknya sambil duduk, tapi tatapannya tak lepas dari tiga orang didepannya.
“Mamamu kesini ingin bicara dengan kalian berdua, tadi dia juga sudah mengobrol dengan istrimu” ucap Aryo.
Ya tiga orang itu adalah Mama Rendi dan juga suaminya serta adik tiri Rendi yang datang bertamu saat ini.
“Mereka bicara apa sama kamu?” tanya Rendi pada istrinya.
“ya cuman bicara gitu aja.” Jawab Thalia.
“Kamu ngobrol aja dulu sama Mama, aku udah tadi. Aku keatas dulu” ucap Thalia yang langsung pamit pergi saat ini.
“Ren, Mama minta maaf atas apa yang mama lakukan sama kamu ataupun sama Thalia. Mama nyesel Ren, mama janji nggak bakal begitu lagi” ucap Monariya yang mulai membuka suaranya.
“Dengan minta maaf apa bisa membuat anakku yang satunya kembali?”
“Iya mama tahu anakmu yang satu lagi tidak mungkin kembali. Mama salah ren, seminggu ini mama merenungkan semua kesalahan mama. Daddy Mu juga mau minta maaf karena telah membuat Mama begini” ucap Monariya pada sang anak.
Rendi hanay diam saja mendengarkan setiap ucapan sang mama, yang entah itu serius penyesalan atau kebohongan semata.
Monariya terus meminta maaf, bahkan sesekali dia menangis dan membuat Jessy mengusap bahu sang Mama dan memperhatikan kakaknya yang hanya diam saja melihat mereka. Sedangkan mertua kakaknya tampak takut untuk mencampuri urusan mereka saat ini.
°°°
__ADS_1
T.B.C