
“Aku tadi serius nggak nyakitin kamu sama anak kita?” tanya Rendi yang berbaring disebelah Thalia dengan tidak mengenakan sehelai benangpun di dibalik selimut begitu juga dnegan Thalia. Mereka berdua habis melakukan pergulatan di atas tempat tidur cukup lama. Dan saat ini mereka tengah kelelahan satu sama lain.
“Nggak, santai aja sih” pungkas Thalia melihat sekilas suaminya.
“Kalau kamu benar-benar nggak pa-pa, aku mulai lagi bagaimana?” ucap rendi yang siap akan naik ke tubuh Thalia.
“capek,” ucap Thalia polos.
“bercanda,” ucap Rendi sambil tersenyum dan tangannya bergerak di buah dada Thalia memegangnya dan sedikit meremas pelan.
“Arggh, kamu mulai jahil sekarang” tukas Thalia yang terkejut dengan apa yang dilakukan Rendi padanya.
“Hehehe maaf salah pegang, aku tadi mau pegang perut kamu. tapi tangan aku nakal malah pegang gunung kemar punya kamu” canda Rendi pada istrinya.
“Modus aja kamu” sungut Thalia pada suaminya.
“Modus sama kamu kan nggak pa-pa, kamu istri aku. kalau modus sama perempuan lain baru aneh” ucap Rendi pada sang istri.
“terserah kamu” tukas thalia.
“Kita pulang besok atau nanti?” tanya Thalia menatap rendi yang memeluknya.
“besok aja gimana? Nanti malam kan kakakmu mau kesini” jawab Rendi.
“Ya sudah, kalau besok”
“Kita pulang besok sekaligus cari perlengkapan bayi di mall”
“Perlengkapan bayi buat apa?” taya Thalia karena kandungannya saja baru enam bulan lebih beberapa hari.
“Ya buat anak kita, buat siapa lagi.”
“Tapi kan baru enam bulan, masih lama lahirannya”
“Ya nggak pa-pa beli sedikit aja, mumpung aku cuti. Nanti kalau aku ada cuti lagi kamu gimana belinya”
“Ya sudah terserah kamu saja”
“Kamu sudah ada rekomendasi nama buat anak kita?” tanya Rendi menatap istrinya.
“Belum ada, bingung mau diberi nama siapa”
“Masa belum ada sayang, kalau kamu nggak ada rekomendasi nama, aku semua loh yang kasih namanya.”
“Ngikut aja aku, terserah kamu. kamu ayahnya”
“Kalau kita kasih nama Rehan sebagai nama depannya gimana mau nggak, terus nama belakangnya pakai namaku” ucap rendi meminta pendapat pada istrinya soal nama anak mereka.
__ADS_1
“Bagus, kalau kamu mau kasih nama itu aku nggak pa-pa”
“Setuju ya, kalau aku kasih nama itu”
“hemm”
“Boleh aku minta tolong pegang terus perutku sambil di usap, aku mau tidur” ucap Thalia menatap suaminya.
“Boleh dong, apa yang nggak”
“kamu sekarang menghangat ya, manis banget kalau ngomong, udah nggak dingin dan nggak cuek lagi. Kenapa?” heran Thalia menatap manik mata Rendi.
“Ya kenapa lagi kalau bukan karena kamu, nanti kalau aku seperti dulu kamu bosen dan pindah ke lain hati” ucap Rendi.
“Gombal terus” pungkas thalia.
“udah, nggak usah tanya lagi. Katanya ngantuk, buruan tidur nanti saat makan malam nggak ngantuk” pinta Rendi pada sang istri.
Thalia langsung perlahan memejamkan matanya, sambil menikmati usapan hangat tangan Rendi di perutnya. Rasanya begitu nyaman dan menenangkan dirinya saat ini.
Dirinya juga merasa gembira karena kemungkinan rumah tangganya akan baik-baik saja karena Rendi benar-benar mencintainya dan memilih dirinya. Dan kebahagiannya nanti akan terasa lengkap saat anak mereka lahir ke dunia rasanya tidak sabar menunggu waktu itu yang tinggal beberapa bulan lagi tetapi begitu terasa lama saat di nanti seperti sekarang.
...............................................
Selesai makan malam Rendi dan David duduk di kursi depan Resort yang ditempati Thalia dan juga Rendi mereka tampak membicarakan hal terlihat serius saat ini.
“bagaimana kau tahu hal itu kak?” pungkas Rendi menatap sang kakak ipar.
“Aku tahu kebusukannya, kau tidak perlu tahu lagi soal aku tahu dari mana. Yang jelas terus ingat ucapan ku jangan mudah terpancing dengan pria itu”
“Iya, aku usahakan tidak terpancing dengannya”
“Tapi waktu itu dia mengancam ku juga soal untuk tidak memberitahu padamu. Kalau aku memberitahu padamu maka rahasia mu pada Lita akan di bongkar olehnya. Memangnya kau punya rahasia apa kak tentang Lita?” tanya Rendi penasaran.
“Sebenarnya bukan rahasia sih, tapi hanya Lita saja yang belum tahu soal aku yang membuat Fahri salah paham padanya dulu. yang secara tidak langsung aku yang memisahkan dia dengan suaminya waktu itu. kau pasti tahu kan soal hal ini” ucap David lirih.
“hanya soal ini tidak ada yang lain, kenapa kalau hanya soal ini kak David tidak bilang langsung pada Lita. Fahri kan sudah tahu soal hal ini jadi Fahri bisa membantumu jika Lita marah nantinya” ucap Rendi antara percaya dan tidak percaya dengan kakak iparnya karena iparnya cukup pintar menyimpan sebuah rahasia besar.
“kenapa kau menatapku seakan tidak percaya begitu” ucap David sambil menyesap kopinya
“bukannya aku tidak percaya padamu kak, tapi sepertinya kau lebih banyak memiliki rahasia” ucap Rendi dengan jujur.
“Tidak ada yang ku sembunyikan selain itu” ucap David.
“oh,” Rendi mencoba untuk percaya saja dnegan kakak iparnya.
“Soal kak David yang mengirimi foto palsu ke Fahri bilang saja pada Lita kalau kakak yang melakukannya. Lebih baik dia tahu dari mulut kak David daripada dia tahu dari mulut Nicholas. Bisa-bisa Lita bukan hanya marah dnegan kak david nantinya tapi ke Fahri juga karena sudah diam saja mengetahui ini. kakak tidak mau rumah tangga mereka kenapa-kenapa kan? kau sangat menyayangi Lita pasti kau juga tidak ingin dia terluka lagi kan” lanjut Rendi menatap sang kakak ipar yang tampak mempertimbangkan ucapannya.
__ADS_1
“benar juga katamu, besok setelah pulang dari sini aku bicara dengannya” ucap david pada akhirnya, benar juga kata Rendi lebih baik dia bilang langsung pada Lita sebelum orang lain yang bilang padanya.
Bukan itu saja yang akan dia katakan pada adiknya tetapi ada juga satu rahasia yang akan dia bilang pada Lita. Soal akibat yang kan dia dapatkan dia akan menghadapi itu, ia siap menerima kebencian dari Lita.
................................................
Matahari sudah bersinar, dan masuk kedalam kamar Thalia dan juga Rendi. Cahaya masuk melalui jendela yang sudah terbuka lebar karena Rendi yang membukanya. Dia bangun lebih awal dari sang istri dan memang sengaja membuka tirai jendela agar sinar mentari pagi yang sehat itu masuk kedalam kamarnya.
Thalia yang terkena sinar mentari pagi langsung terbangun menatap kearah jendela sama-samar. Dia perlahan mulai duduk sambil menutupi matanya agar tidak terkena sinar mentari.
“Kok udah dibuka sih jendelanya” protesnya manja.
“Ini udah pagi sayang, kamu buruan bangun kita pulang sekarang” ucap Rendi berjalan mendekati Thalia yang duduk di temat tidur.
Dia langsung mengecup kening Thalia dan beralih ke bibir sang istri, mengecupnya dan sedikit memberikan *******.
“kenapa buru-buru sih, nanti aja” ucap Thalia yang akan tidur lagi tapi di tahan oleh Rendi.
“Jangan tidur lagi, kamu bangun jalan sebentar keliling kamar. Biar anak kita sehat, habis itu kita pergi katanya mau ke mall beli perlengkapan bayi” ucap rendi dan mengingatkan istrinya soal rencana mereka yang akan pergi ke mall.
“Oh iya, aku hampir lupa” ucap Thalia dan langsung mengingat hal tersebut.
“Kita nanti ketempat kak David dulu ya, aku mau tanya-tanya sama mbak Naya” ucap Thalia lagi pada suaminya.
“Kak david sudah pulang dari tadi subuh, nanti saja kalau kita sampai di rumah mereka kita suruh ke rumah” ucap Rendi.
“mereka sudah pulang, kok nggak bilang sama aku”
“mereka ada urusan kak david juga ada urusan dia mau ketemu Fahri sama Lita” ucap Rendi.
“kenapa ketemu fahri sama Lita?” tanya Thalia penasaran.
“Dia mau bilang masalah dulu soal foto rekayasa dirimu dan nicholas. Lita kan belum tahu kalau yang membuat Fahri salah paham dulu itu ulah kakakmu”
“Apa? dia mau bilang itu. dia tidak takut kalau Lita marah dengannya. Kenapa dia harus bilang rumah tangga Lita sekarang kan baik-baik saja”
“Dia ingin mendahului Nicholas, karena Nicholas mengancam kakakmu kalau dia aan memberitahu Lita semuanya makanya dia memilih memberitahunya dulu. sebelum Lita mendengar dari orang lain”
“Nicholas lagi biang masalah, lihat tunggu aku melahirkan pria itu habis di tanganku” geram Thalia terhadap Nicholas.
“Kamu nggak usah ikut-ikutan, ngapain ketemu Nicholas. Udah biarkan kak David yang melakukannya” ucap rendi melarang sang istri.
“hemmm” jawab Thalia dengan berat hati dia harus mengikuti apa kata suaminya tersebut.
“Udah buruan bangun, habis ini kita pulang” ucap rendi sambil memegang tangan istrinya membantu Thalia turun dari tempat tidur.
°°°
__ADS_1
T.B.C