
Lita dan David serius pergi ke Amerika, David benar-benar bertekad akan menyembunyikan adiknya itu dari siapapun. Lita sendiri juga berpikiran begitu, dia ingin menghilang dari hidup mereka semua meskipun rasanya begitu sakit saat ini.
Karena tekadnya itu dia mengubah penampilannya sendiri dia yang begitu menyukai rambut panjang kini terpaksa harus memangkas rambutnya menjadi pendek dengan gaya higlight lembut dengan perpaduan dua warna, hitam dan putih abu-abu serta rambutnya yang ia buat sedikit ikal. Dia memakai kacamata hitam, baju seksi di atas lutut serta tangannya yang ia kenakan gelang tangan. Penampilannya begitu swag dan jauh berbeda dari Lita yang dulu.
*Kira-kira begitu ya semua rambutnya Lita sekarang.*
"Kak,.." ucap Lita menghentikan langkahnya.
"Iya, ada apa?" otomatis langkah David juga ikut berhenti dia menatap sang adik.
"Aku tidak apa berpenampilan seperti ini?" ucap Lita.
"Tidak, ayo kita masuk sebelum ada orang yang mengenali diriku atau dirimu" ucap David menarik pelan Lita masuk ke area bording.
"Kak David kenapa harus menemaniku ke Amerika, aku bisa sendiri kak. Aku bisa jaga diri" ucap Lita saat mereka sudah duduk di ruang tunggu.
"Kakak tidak bisa membiarkanmu sendiri Lita, Kamu sudahlah tidak usah banyak bertanya. Kamu harus janji mulai hidupmu yang baru di Amerika, kakak akan ada dan akan selalu mendukungmu. Kamu adik kakak" ucap David mengecup lembut kening sang adik.
Mata Lita berkaca-kaca, kakaknya yang dulu kejam padanya kini begitu baik dengannya. Dia langsung memeluk David.
"Kak David maafin aku, maafin aku. Seharusnya aku mendengarkan apa katamu menyerah dari dulu. Mungkin kalau aku menyerah dari dulu aku tidak akan merepotkan mu begini" Lita menangis di pelukan sang Kakak.
"Sudahlah, hal itu tidak usah dibahas. Pesawat kita sudah ada. Ayo kita memulai hidup baru" ucap David memegang tangan adiknya dan mengajaknya berjalan menuju pesawat yang akan membawa mereka ke Amerika.
………………
Fahri kembali ke sungai, dia tidak bisa diam saja. Dia harus mencari Lita, ia yakin Lita benar-benar masih hidup dia akan mencarinya sendiri sampai jasad perempuan itu benar-benar ada di depannya. Kalau dia belum melihat sendiri dia tidak akan percaya kalau Lita sudah tiada.
Fahri berjalan terseok-seok karena kerikil-kerikil kecil yang ada di sungai. Dia kembali teringat ucapan Rendi soal foto yang bukan Lita dan ingatan dia pada Lita saat melihat foto itu dulu. Ia melukai Lita secara batin memperkosa perempuan itu dan menyebut nama Dira.
"Lita.. munculah, jangan bersembunyi kau masih hidupkan, kau hanya tidak mau bertemu denganku kan. Kenapa kau nekat begitu.." ucap Fahri begitu keras lantang. Dia terduduk di tanah pinggir sungai menatap gelapnya tempat itu arus sungai yang juga begitu deras.
"Apa aku masih bisa memiliki harapan kalau kau masih hidup" ucap Fahri begitu getir.
Inikah penyesalan yang dibilang orang tuanya, hatinya benar-benar hancur sekarang terasa kosong karena Lita benar-benar menghilang dari hidupnya sesuai keinginan yang selalu dia ucapkan dulu.
"Baru sehari kau tidak terlihat olehku kenapa aku jadi frustasi Lita,..hiks hiks, aku memang bodoh. Seharusnya aku tidak begini, bodoh, bodoh" Fahri memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Litaa..." teriaknya begitu keras, dia seakan frustasi. Harapannya begitu besar untuk Lita selama tapi melihat kenyataan didepannya seakan ragu. Dia ragu karena Lita tidak bisa berenang dan arus sungai ini begitu deras.
__ADS_1
°°°°°
Sudah hampir satu minggu sejak kepergian Lita, Aryo dan Nafa sudah putus asa dan mereka sudah ikhlas kalau Lita sudah tiada dan jasadnya belum ditemukan.
Nafa terus menangis disaat pengajian di gelar di rumah Lita dan Fahri., dia benar-benar hancur putrinya sudah tiada.
"Ma sudahlah, kak Lita sudah tenang di sana. Kalau mama menangis begini dia bisa sedih" ucap Thalia yang duduk disebelah Nafa.
"Mama bukan sedih dan tidak ikhlas dia tiada Thalia, Mama sedih karena jasadnya belum ditemukan dan tim pencari sudah hampir menyerah batas akhirnya besok bagaimana kalau Lita tidak ditemukan," ucap Nafa sambil menangis memeluk Thalia,
"Sudah Ma sudah mau bagaimana lagi," ucap Thalia mengusap lembut bahu sang Mama.
"Kakakmu David kemana sudah hampir seminggu juga dia tidak ada kabar. Dia juga tidak bisa dihubungi, dia pasti terpukul mengetahui Lita tidak ada" ucap Nafa lagi.
Thalia terdiam, tidak mungkin dia bilang kalau beberapa waktu lalu David pulang ke Indonesia. Tapi kakaknya itu mengancam agar tidak memberitahukan pada orang tua mereka. Dia juga sedih dengan kenyataan ini kakaknya Lita tiada dengan cara tragis meskipun dia tidak terlalu dekat dengan Lita tapi dia juga merasa terpukul.
David bilang padanya akan membalas dendam pada suami Lita jadi tidak bisa ketahuan oleh orang tuanya. Jadi ya sudahlah lebih baik dia diam, memang suami kakaknya itu harus diberi pelajaran.
"Ada acara apa disini?" ucap Fahri lantang dari arah pintu masuk rumah itu.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut langsung melihat kearah pintu.
"Fahri tenanglah,ayo masuk dulu" pungkas Sasongko mengajak anaknya untuk masuk.
"Ayo Fahri" ucap Wulan membantu Sasongko memegang tangan Fahri agar mau masuk ke rumah.
"Tidak Ma, Aku tanya ini acara apa kenapa ramai sekali orang disini" ucap Fahri menatap sang Mama meminta penjelasan.
"Masuk dulu nanti Papa jelaskan" ucap Sasongko menarik Fahri pelan.
"Tidak bilang sekarang" Fahri menghempas tangan Papanya.
"Fahri tenanglah, banyak orang yang melihatmu sekarang" ucap Aryo yang berdiri menghampiri menantunya.
"Papa, Papa jelaskan ini acara apa?" ucap Fahri pada Aryo.
"Ini,..Ini pengajian untuk Lita Fahri. Pengajian tanda kita sudah ikhlas melepas Lita pergi selamanya" ucap Aryo terasa berat untuk berkata.
"Apa? tidak Pa. Lita masih hidup kenapa Papa bilang begitu dan kenapa mengadakan acara begini. Kalian semua keluar dari rumahku, keluar bubar dari sini bubar" Fahri berjalan ketengah orang-orang yang akan membaca doa.
"Kalian tidak mendengar perkataan ku, aku bilang keluar dari rumahku" bentak Fahri mengusir mereka semua dari situ.
__ADS_1
"Tuan Aryo,." ucap seorang tokoh agama atau bisa disebut ustad yang akan memimpin doa.
"Pak Hamzah, aku minta maaf soal ini. Acaranya dibubarkan saja. Menantuku sepertinya masih terpukul" ucap Aryo merasa bersalah.
"Baiklah tidak apa,"
"Semuanya mari kita pergi" ucap ustad Hamzah.
"Fahri tenanglah nak, Lita sudah tiada sudah satu minggu kita mencarinya. Tapi tidak membuahkan hasil, sekarang ikhlaskan dia agar tenang" ucap Aryo memegang bahu Fahri.
Fahri menepisnya begitu saja,
"Papa, Papanya kan..kenapa Papa bilang begitu. Lita masih hidup Pa Lita masih hidup dia hanya bersembunyi saat ini. Dia sembunyi dari diriku Pa" ucap Fahri terisak dan dia seketika terduduk di lantai menangis pilu seakan menyesali.
"Ma..Mama Nafa. Mama percayakan padaku, Mama percayakan kalau Lita masih hidup" ucap Fahri menghampiri Nafa yang menangis di pelukan Thalia.
"Minggir, jangan sentuh aku. Kau bersalah atas ini, kau yang membuat Lita mengakhiri hidupnya" Nafa mendorong Fahri dia tidak ingin disentuh pria itu.
"Gara-gara kamu aku kehilangan satu putriku, kamu pembunuh kamu pembunuh Lita" teriak histeris Nafa didepan Fahri.
Jlebb
Seperti jarum yang menusuk hati Fahri, dia memang pembunuh. Kalau dia tidak kejam pada Lita tidak mungkin dia bunuh diri.
"Ma..Maa sudahlah, jangan begitu" ucap Aryo menenangkan istrinya.
"Papa bilang Mama jangan begitu, hati ibu Mana yang tidak sakit pa anaknya tiada dan penyebabnya pria brengsek itu" ucap Nafa menunjuk-nunjuk Fahri marah.
"Itu bukan salah Fah.."
"Papa, Papa kandungnya Lita kan. Kenapa Papa malah membela pria brengsek itu. Mama yang hanya Mama tiri dari Lita Mama begitu terpukul dan sakit Pa sakit, salah satu putri Mama sudah tiada. Ayo Thalia kita pulang" ucap Nafa berdiri marah sambil menggandeng Thalia yang ada disebelahnya.
"Ma..Mama mau kemana?" ucap Aryo berdiri.
"Tuan Sasongko dan Nyonya Wulan saya permisi dulu. Fahri Papa pulang dulu" ucap Aryo menepuk bahu Fahri yang menatap kosong dia terlihat begitu kacau saat ini duduk dilantai dengan separuh hidupnya terasa hampa.
"Ma, Mama aku pembunuh kan?Aku pembunuh Lita kan" ucap Fahri menatap sang Mama yang duduk disebelahnya mengusap bahunya lembut.
Sang Mama hanya menangis,
"Tapi aku tidak akan percaya kalau Lita tiada sebelum tubuhnya aku temukan. Tidak akan aku tidak akan percaya" ucap Fahri. Dia langsung memeluk Mamanya erat menangis penuh penyesalan dalam dekapan hangat sang Mama.
__ADS_1
°°°
T.B.C