Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 93 (Season 2)


__ADS_3

Thalia bangun dari tidur siangnya, dia melihat kesamping tetapi Rendi tidak ada dan dia menelisik ke seluruh penjuru kamar tetapi tidak ada tanda-tanda Rendi berada di dalam kamar.


“Kemana dia?” tanyanya bingung dan perlahan menyibak selimut untuk berjalan keluar mencari Rendi kemungkinan suaminya itu diruang tengah saat ini.


Perlahan Thalia membuka pintu kamar tersebut dan melihat keluar, tidak ada orang hanya kesunyian yang ada membuat dirinya semakin bingung kemana perginya Rendi saat ini.


“Dia kemana sih kenapa tidak bilang kalau mau keluar” keluhnya sambil mengusap perut besarnya dan perlahan duduk di sofa.


Baru saja dia duduk pintu apartemen berbunyi seperti ada orang yang membukanya membuat dia segera berdiri dan melihat siapa yang masuk. Yang pasti itu Rendi siapa lagi yang tahu kode apartemen.


Benar saja itu Rendi yang sudah berjalan ke ruang tengah dan tepat berdiri didepan Thalia yang akan ke depan. Langkahnya langsung berhenti, dia terkejut melihat istrinya yang sudah bangun.


Thalia yang berdiri didepan Rendi mendongak menatap pria itu, matanya langsung melebar. Dia terkejut melihat suaminya yang terluka dan terdapat sedikit lebam di wajahnya.


“Ada apa wajahmu?” tanya Thalia yang langsung cemas melihat keadaan suaminya tersebut, dia memegang perlahan wajah tampan sang suami.


“Tidak apa-apa, kamu sudah bangun? Sejak kapan?” rendi balik bertanya pada Thalia yang sudah bangun tidur.


“Barusan, jawab akau kamu kenapa bisa begini wajahmu” tuntut Thalia agar Rendi bicara jujur dengannya.


“Tidak ada apa-apa sayang, sudah ayo duduk” pungkas Rendi mengajak Thalia untuk duduk di sofa.


Thalia menatap tidak percaya kearah suaminya itu, tidak mungkin tidak ada apa-apa jelas-jelas wajah Rendi seperti saat ini sekarang


“kau duduk disini dulu, aku ke dapur sebentar” ucap Thalia setelah memperhatikan wajah Rendi dan pria itu juga terlihat sedikit aneh.


“kamu mau kemana?” tanya Rendi pada Thalia yang sudah berdiri.


“Kan aku bilang mau ke dapur, telingamu ada masalah?” pungkas Thalia menatap cemas suaminya.


“Maksudku mau apa ke dapur, duduk disini saja temani aku” ucap rendi memegang tangan sang istri.


“Aku mau ambil pengompres, sudah kamu disini saja sebentar”


“Tidak usah diambil, wajahku tidak apa-pa. Ini nanti sembuh sendiri. kamu disini saja temani aku, duduk sini” ucap rendi dan malah menarik Thalia duduk di pangkuannya. Dia memeluk Thalia erat seakan mencairkan emosinya yang sedari tadi dia tahan.


Dia tadi bertengkar dnegan Nicholas, mereka berdua saling pukul satu sama lain dan akibatnya seperti inilah yang terjadi diwajahnya. Tapi ia lebih menang dari pada Nicholas yang lebih babak belur darinya.


“Kamu tadi habis meringkus maling atau apa? kenapa wajah begini” tanya Thalia yang masih penasaran.


“Tapi kan hari ini kamu cuti tidak bekerja, lalu kenapa wajahmu begini” tukas Thalia lagi.


Rendi hanya diam saja tidak menjawab ucapan sang istri yang begitu penasaran. Dia diam sambil memeluk istrinya tersebut.


................................................


Di Kantor polisi, Andre dan juga Hardi tengah sibuk mendata kasus apa saja yang masuk hari ini. dan Andre menggantikan tugas Rendi yang biasa mendatanya.


“Enak banget jadi polisi berprestasi seperti rendi, dia ditugaskan kemana saja sekaligus liburan dan bisa ambil cuti seenak sendiri begini. kapan gue begitu” ucap Andre yang mengetik data di komputer sambil mengeluh tentang Rendi, dia iri dengan rekannya tersebut.


“Salahmu sendiri, dulu waktu ada promosi jabatan dan syaratnya harus jadi interpol di Amerika kau tidak mau. Kalau kau mau mungkin bukan Rendi yang enak seperti saat ini, tapi dirimu. Kau bisa jadi pimpinan seperti Rendi” tukas Hardi yang duduk di meja sebelah Andre.


“Memang nasib gue mungkin ya, kesempatan gue buang” ucap Andre menyesali dirinya dulu yang menolak tugas di Amerika dan Rendi mengiyakan makanya sekarang jabatannya di bawah Rendi.

__ADS_1


“Andre, hardi tolong keruangan saya sekarang” seru komandan mereka yang berdiri didepan mereka berdua saat ini.


“Siapa ndan” merea yang tadinya tidka menyadari kehadiran sang komandan langsung berdiri dan memberi hormat.


“kenapa komandan memanggil kita, apa ada yang salah” heran hardi karena komandan mereka yang langsung pergi setelah memanggil keduanya.


“Entah, ayo buruan kita ke ruangannya” pungkas Andre segera mengajak Hardi untuk menghadap sang komandan.


Mereka berdua langsung berjalan kearah ruangan komandan mereka yang tidak jauh dari meja tempat dimana mereka duduk tadi.


Perlahan tapi pasti mereka berdua membuka pintu ruangan dan berdiri didepan sang atasan.


“Siapa, ada apa ya Ndan?” tanya Hardi pada atasannya.


‘”Telpon Inspektur Rendi sekarang juga, dan suruh dia menghadap saya sekarang” perintah sang komandan.


“Tapi bukannya Rendi saat ini mengambil cuti Ndan” heran Andre menatap sang atasan.


“Iya saya tahu, tapi dia sudah membuat masalah sekarang”


“masalah” ucap keduanya berbarengan.


“sudah tidak usah banyak pertanyaan, Hardi cepat hubungi dia suruh ke kantor sekarang”


“Tapi maaf ndan, masalah apa yang dia perbuat?” tanya Andre penasaran.


“Dia baru saja memukul warga negara asing, dan orang yang dipukuli Rendi melapor ke saya kalau dia dipukuli oleh anak buah saya”


“Masa sih Ndan, tapi kenapa saya tidak percaya kalau Rendi memukuli orang asing” ucap hardi yang berhenti untuk menelpon Rendi saat mendengar itu.d ia menatap sang atasan tak percaya.


“Siap Ndan” ucap hardi dan langsung menelpon Rendi saat ini.


Andre yang berdiri disebelah Hardi, terkesan tidak percaya kalau Rendi melakukan hal itu. apalagi tidak mungkin memukul orang berkewarganegaraan asing kalau tidak ada yang mendasarinya terlebih dahulu.


....................................


Rendi sedang berbaring di sofa sambil menutup matanya dengan lengannya, sedang kan Thalia tengah berada di dapur dia menyiapkan air es untuk mengompres luka pada wajah Rendi dan sudut bibir Rendi. Rasanya tidak tega dia melihat suaminya begitu. Dia juga akan mengorek informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Rendi sehingga bisa terluka begitu.


Drrttt


Ponsel yang berada di saku celana Rendi saat ini bergetar membuat dirinya langsung mendudukkan dirinya dan mengambil ponsel tersebut.


“Hardi..” gumamnya saat melihat nama Rekannya tersebut tertera di layar ponselnya saat ini.


“Halo, kenapa?” tanyanya saat mengangkat panggilan itu.


“Kau disuruh ke kantor oleh atasan sekarang” tukas Hardi dari seberang sana.


“Ada apa?”


“Kata komandan tadi kau terlibat masalah dengan warga negara asing. memang benar, dan sekarang komandan menyuruhmu untuk datang ke kantor sekarang” ucap Hardi pada Rendi.


Rendi terdiam mendengar itu ternyata Nicholas tidak membiarkannya begitu saja, pria itu benar-benar ingin cari masalah dengannya.

__ADS_1


“Halo ren, kau dengar aku kan?” ucap hardi di seberang sana.


“Iya, aku dengar. Katakan pada Komandan sebentar lagi aku ke sana” ucap Rendi.


“Oke, kalau bisa cepat kesini” pungkas Hardi.


“hemmm”


Panggilan langsung berkahir dan bertepatan dnegan Thalia yang datang sambil membawa kantung pengompres. Dia melihat suaminya yang tengah memegang ponsel.


“Siapa yang menelpon?” tanya Thalia saat melihat suaminya diam sambil memegangi telpon.


“Dari kantor” jawab Rendi


“kemari” ucap rendi menarik Thalia dan kembali menempatkan perempuan itu duduk di pangkuannya.


Perlahan dia mengambil pengompres di tangan istrinya dan menaruhnya di atas meja.


“kenapa kau ambil, aku mau mengompres lukamu” ucap Thalia dan akan mengambil kantung kompres itu tapi dihentikan Rendi oleh sebuah ciuman di bibirnya.


Rendi mencium Thalia dan ciumannya terkesan menuntut agar perempuan itu membalasnya. Mau tidak mau Thalia membalas ciuman tesebut.


Ciuman rendi semakin panas, bahkan turun ke leher memberikan tanda kissmark disitu,


“Argghh” seketika Thalia sedikit menggigit bibirnya menahan ******* ketika Rendi menggigit lehernya.


Tangan rendi juga aktif di bagian dada Thalia, dan dia melepaskan ciumannya itu menatap sang istri dnegan begitu intens.


“Apa kau mau?” tukas Thalia melihat aura nafsu Dimata suaminya.


“Inginnya sih begitu, tapi nanti saja kita lanjut. Aku mau pergi sebentar ya?” ucap rendi sambil tersenyum.


“kemana? Kau sengaja memancing hormon ku. Dan kau mau pergi begitu” kesal Thalia.


“bukannya aku mau memancing hormon mu, aku melakukannya untuk mengurangi kegelisahan dalam diriku. Aku ijin pergi sebentar ya, kamu di rumah saja” ucap Rendi pada sang istri.


“pergi kemana? Kau baru saja pulang sudah mau pergi lagi” kesal Thalia.


“Aku disuruh menghadap atasan, bentar kok. Nanti aku pulang, atau kau mau ikut, tapi kau tunggu di mobil mau” ucap rendi pada sang istri.


“mau, tapi nanti kita cari makan. Aku pengen makan sesuatu yang agak pedas”


“Ya sudah kalau kamu mau ikut, tapi tunggu di Mobil”


“Iya, iya, kuatir banget kalau aku ikut masuk kedalam. Ngapain juga aku ikut masuk, rekan-rekanmu nanti meledekku singa betina Rendi” tukas Thalia sambil terlihat kesal jika mengingat rekan-rekan suaminya yang memanggil singa betina.


“Ya kan kau memang singa betinaku”


“Nggak usah mula” ucap Thalia memasang wajah tidak senang.


“Bercanda sayang, ayo” ucap rendi langsung berdiri dan mencium singkat pipi kanan Thalia, dia langsung mengulurkan tangannya pada sang istri yang duduk di sofa.


Thalia menerima uluran tangan itu, dan dia berdiri perlahan karena dia sedikit susah sekarang untuk berdiri jika tidak ada yang membantunya.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2