
Fahri kembali kerumahnya bersama beberapa pekerja dan membawa perabotan dan juga properti untuk kamar Bayi. Dia memerintahkan orang-orang itu untuk masuk kedalam dan membuat kamar bayi didalam rumahnya. Mulai saat ini dia bertekad untuk kembali ke rumah ini yang sudah lama dia tinggalkan. Dia akan tinggal disini bersama Lita, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukan Lita dan anaknya.
Mbok Jum yang ada didalam rumah kebingungan dengan kedatangan banyak orang membawa perabotan dan seperti tukang bangunan. Dia melihat Fahri di pintu rumah sedang menyuruh mereka membawa masuk barang-barang besar itu dengan perlahan.
“den Fahri, kamu kembali pulang kesini den.?” Ucap Mbok Jum saat berada disebelah fahri.
Fahri melihat kearah mbok Jum, dia tersenyum dan memeluk perempuan paruh baya itu.
“Iya mbok, aku akan tinggal disini lagi bersama Lita dan aku mbok. Terimakasih sudah menjaga rumah ini” ucapnya sambil memeluk mbok Jum bahagia.
Mbok Jum yang membalas pelukan Fahri terdiam dia tidak mengerti dengan ucapan Fahri barusan, maksudnya majikannya ini tinggal disini lagi bersama Lita? Lita Kan sudah tidak ada.
“Den, Lita sudah meninggal den” ucap Mbok Jum pelan melihat Fahri.
“Nggak mbok, Lita masih hidup mbok. Dia sekarang hanya hilang saja, aku pasti akan menemukannya mbok. Dia hamil sekarang” ucap Fahri memegang bahu mbok Jum sambil tersenyum.
“Sudah dulu mbok, aku harus menata kamar anakku. Aku akan membuat dua kamar karena aku tidak tahu anakku perempuan atau laki-laki nantinya” Fahri begitu bersemangat dengan senyum yang mereka dia langsung berlalu meninggalkan mbok Jum masuk kedalam mengarahkan para pekerja.
Mbok Jum menatapnya miris, dia sedih masih mengira Fahri belum mengikhlaskan Lita pergi.
“Den sadar, Lita sudah meninggal,” lirih mbok Jum menatap fahri tak tega.
......................
Enam bulan berlalu dengan sangat cepat, Kandungan Lita juga sudah memasuki bulan ke delapan. Tentu saja perutnya semakin membesar bahkan karena kandungannya yang besar itu membuatnya susah untu jalan. Baru jalan beberapa langkah saja dia sudah kelelahan tapi dia terus memaksakannya agar dia menjadi sehat dan siap untuk melahirkan sebulan lagi.
Saat ini contohnya dia sedang berjalan di jalanan depan Vila yang enam bulan ini dia tempati bersama kakaknya dan juga kakak iparnya. Benar mereka telah pindah tempat yang tadinya di rumah yang dibeli David saat ini pindah ke Vila yang ada disebuah tempat yang indah pandangan yang menuju pantai membuat nyam dalam dirinya.
Alasan mereka pindah tentu saja, David menginginkan adiknya itu merasakan alam yang indah agar pikirannya tenang di kehamilan Lita. Sebenarnya alasan David bukan itu saja tapi karena Papanya dan juga Fahri yang mulai curiga dengan Lita yang masih hidup mereka menyuruh orang untuk menemukan Lita.
Tentu saja dia tidak bisa membiarkan adiknya diketahui oleh Fahri, Lita sudah sekuat tenaga selama ini untuk pulih dan melupakan masa lalunya itu. Jadi dia tidak ingin adiknya terpuruk lagi dalam masa lalu.
“kak David, aku mau makan cumi bakar boleh tidak?” ucap Lita yang berjalan kearah kakaknya yang sedang duduk berdua dengan Naya di teras Villa.
“Kamu mau cumi bakar?” tanya Naya pada Lita.
“iya mbak” jawab Lita perlahan mengambil duduk di dekat mereka.
“Lita ingin cumi bakar, tolong carikan dulu sana” ucap Naya menyuruh David untuk mencarikan cumi.
“Iya sebentar kakak carikan buatmu. Kamu disini dulu sama mbak Naya” ucap David berdiri dan meminta adiknya untuk menunggu.
“ya,” jawab Lita.
__ADS_1
David langsung pergi meninggalkan dua perempuan itu didepan Vila mereka.
Tak berselang lama, seorang pria berjalan mendekati mereka berdua. Itu Rey dia datang ke Amerika saat ini.
“Lita,.” Serunya saat sudah dekat dengan dua perempuan tersebut.
Lita dan Naya melihat kedatangan Rey, rona binar kebahagian nampak pada wajahnya.
“Kak Rey,.” Ucap Lita begitu senang melihat Rey yang sudah lama tidak ia lihat. Mungkin sekitar empat bulan lalu Rey datang ke Amerika tapi itu hanya sebentar.
Lita berlari kecil menghampiri Rey, dia sungguh senang temannya itu datang saat ini.
“hey pelan-pelan, kau hamil” pungkas Rey memperingatkan Lita dia berjalan mendekati Lita sambil tersenyum.
“Hay Nay,..” sapa Rey pada Naya yang berjalan menghampiri dirinya.
“hay juga, lama sekali kau tidak kemari” ucap Naya.
“maklum sibuk”
“kak Rey sibuk apa? Sibuk dapetin hati Thalia lagi” ucap Lita menggoda Rey.
“kamu bisa saja, aku sudah tidak menyukai adikmu lagi. Udah move On” ucap Rey sambil tersenyum melihat Lita.
“Eh iya aku lupa”
“ayo duduk kak” ucap Lita mengajak Rey untuk duduk.
“Duduk Rey” naya mempersilahkan Rey untuk duduk juga.
“David dimana?” ucap Rey yang sudah duduk sambil melihat sekitar mencari keberadaan David.
“Dia sedang membelikan Lita cumi bakar” jawab Naya.
“Kenapa kau minta pada kakakmu, kenapa tidak meminta padaku hah.” Ucap Rey menatap David.
“minta pada kak Rey? Memang kak Rey dimana?”
“Aku disini” ucap Rey menunjuk dirinya sendiri.
“ya tahu, tapi kan aku nggak tahu kalau kak Rey mau kesini” ucap Lita sedikit manja dengan Rey.
“Sekarang aku sudah disini, kau mau minta apa padaku. Anak Daddy mau minta apa biar Daddy yang belikan” ucap rey yang tiba-tiba saja memegang perut Lita dan berbicara didepan perut itu.
__ADS_1
Seketika Lita terkejut dengan apa yang dilakukan Rey itu, matanya terperanjat tak percaya menatap Rey.
“Kak,.” Ucap Lita pada rey.
“Ah maaf,” Rey langsung menyingkirkan tangannya diperut besar Lita.
“Tidak apa”
“Aku buatkan minum untukmu dulu Rey. Kemari kan tas mu” ucap Naya pada rey.
“tidak usah Nay, biar aku saja yang membawanya masuk nanti” pungkas Rey menolak.
“Tidak apa, mana” ucap Naya kembali
Dengan terpaksa Rey menyerahkan ranselnya pada Naya untuk dibawa masuk kedalam.
Setelah itu dia melihat Lita yang tampak canggung karena ulahnya tadi.
“Maaf ya, kak Rey hany gemas dengan perutmu tadi.” Ucap Rey berusaha mencairkan suasana.
“Kau mau apa? Biar aku belikan” lanjut Rey bertanya pada Lita.
“Tidak usah ragu Lita, terakhir kali aku menemui mu waktu itu kan aku bilang kalau anakmu itu anakku juga. Jadi jangan sungkan untuk bilang padaku kau mau apa, karena aku daddy-nya” jelas Rey menatap Lita.
Lita juga menatap Rey, mengingat perkataan terakhir kali dari pria didepannya kalau dia akan menganggap anaknya.
“Aku mau es krim kak” ucap Lita setelah diam.
Rey tersenyum mendengar hal tersebut, akhirnya Lita memberikan permintaan padanya. Sudah hampir empat bulan dia tidak bertemu Lita dan saat ini saat ia melihat perempuan itu perutnya sudah besar saja.
“Es krim, oke. Aku belikan, mau ikut atau tetap disini” ucap Rey.
“Aku ikut ya,” ucap Lita bersemangat dan langsung berdiri.
“Siap, ayo. Nanti mau es krim apa? Stroberi atau cokelat.” Tanya Rey pada Lita.
“Cokelat,.” Sungguh Lita benar-benar antusias.
“ayo, cuss kita beli buatmu” ucap rey langsung menggandeng tangan Lita berjalan pergi dari Villa.
°°°
T.B.C
__ADS_1