
Lita saat ini dalam perawatan Rey di puskesmas desa tersebut tempat dia melakukan sosialisasi tadi.
Perempuan cantik itu masih belum sadarkan diri juga, Rey sendiri masih setia disitu meskipun rekan-rekannya sesama dokter sudah kembali ke Jakarta. Dia masih stay di tempat ini karena menunggu David yang akan datang menemui mereka berdua.
Pintu ruangan terbuka begitu keras,.
"David,." ucap Rey saat melihat David yang membuka ruang rawat itu dengan kuat.
Pria yang seumuran dengannya tersebut berjalan tergesa-gesa menghampiri adiknya yang terbaring tak sadarkan diri.
"Lita, Lita bangunlah. Kakak disini, aku mohon bangun Lita" ucap David mengguncang tubuh Lita.
"David, David. Lita baru istirahat biarkan dia. Kau tenanglah dia tidak apa-apa" ucap Rey memegang bahu David.
"Kau sudah memeriksanya? kau sudah memastikannya" ucap David.
"Sudah aku sudah memeriksanya, dia tidak apa-apa. Hanya saja tadi dia sempat menelan air sungai" pungkas Rey.
"Kau memang bodoh Lita, kakak sudah menyuruhmu sedari dulu pergi dari pria brengsek itu. Tapi kau masih saja keras kepala dan apa ini? kau menyerah dengan cara seperti ini" ucap David menatap adiknya pilu.
"Fahri, awas kau. Kau sudah membuat adikku menderita lihat apa yang akan aku lakukan padamu" ucap David dengan nada menakutkan.
"David tenanglah, redam emosimu"
"Aku akan membuat pelajaran pada pria itu, gara-gara dia adikku sampai nekat seperti ini" ucap David mengepalkan tangannya kuat dia begitu tidak terima.
………………
Fahri masuk kedalam rumahnya dengan cepat. Dia berharap memang Lita ada di rumah. Semoga harapannya benar-benar terjadi,
Dibelakang Fahri Kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Lita mengikuti Fahri masuk kedalam rumah.
"Mbok, Mbok Jum" teriak Fahri memanggil-manggil mbok Jum.
"I..iya den" ucap Mbok Jum, dia menundukkan kepala saat melihat Aryo dan juga Nafa.
"Mbok Jum tahu Lita, dimana dia? apa dia pulang mengambil baju-bajunya" ucap Fahri.
"Lita? Lita nggak di rumah den.Bukannya tadi Lita pergi dengan Den Fahri" ucap Mbok Jum bingung.
Deg
"Dia pasti ada di kamarnya" ucap Fahri dan langsung menuju kamar Lita.
Orang-orang yang ada disitu melihat Fahri dengan berbeda ekspresi.
"Fahri, Fahri, sadarlah nak. Lita tidak ada di rumah" ucap Wulan menghampiri anaknya yang masuk kedalam kamar milik Lita.
"Ma ini nggak benarkan? bilang kalau ini nggak benar nggak mungkin Lita terjun ke sungai tadi Ma" ucap Fahri terduduk di lantai.
"Ini benar Fahri, istrimu..istrimu loncat ke sungai" ucap Wulan tak kuasa menahan air matanya.
__ADS_1
Kenyataan kembali menghantam Fahri, hatinya terasa kacau, seharusnya dia senang tapi dia begitu terpukul dengan ini.
"Tidak.." Fahri terisak memeluk mamanya.
Wulan sendiri tidak bisa membendung air matanya saat ini.
"Mama juga tidak percaya Fahri, apa kau bertengkar sebelumnya dengan Lita. Sampai-sampai dia melompat ke sungai begitu" ucap Wulan mengusap lembut bahu putranya.
Fahri tidak bisa menjawabnya, dia menangis begitu teriris.
"Aku minta maaf pada Mama, a..aku selama ini masih bersikap kasar pada Lita bahkan masih ada keinginan diriku untuk membalas dendam padanya" ucap Fahri dengan lemah perlahan melepas pelukan sang Mama.
"Apa?" Mendengar itu Wulan benar-benar terkejut. Dia langsung berdiri menatap anaknya,.
"Ma, maaf maafkan aku. Karena aku bersandiwara didepan Mama" ucap Fahri ikut berdiri.
"Kau memang pria terjahat Fahri, tega sekali kau ingin balas dendam pada Lita yang tulus mencintaimu. Syukurlah dia memilih jalan ini daripada harus terus hidup bersama pria brengsek sepertimu."
"Mama tidak habis pikir Fahri, mama kecewa padamu, mama kecewa" lanjut Wulan.
"Ma, Mama aku minta maaf maafkan aku ma. Aku..aku tidak menyangka Li.."
PLAKKK.
Wulan menampar kuat wajah Fahri,
"Bukan minta maaf pada Mama, tapi pada istrimu Fahri. Dia istrimu tapi kau akh sudahlah, kau puas sekarang kau puas dia yang ingin kau bunuh telah tiada saat ini sesuai keinginanmu. Berpesta Lah sana, Mama tidak perduli lagi Padamu, Mama kecewa Fahri.
"Ternyata selama ini kau membuat putriku tersiksa Fahri" ucap Aryo yang mendengarnya.
"Pa.. papa Aryo aku.."
"Papa benar-benar kecewa padamu Fahri, " ucap Aryo tak habis pikir dengan menantunya tersebut.
"Ayo Ma kita Pulang," ucap Aryo yang langsung menarik tangan Nafa istrinya.
"Tunggu Pa," ucap Nafa dan dia berjalan kearah Fahri.
"Mama kecewa padamu Fahri, Mama kecewa padamu karena kau orang yang membuat Lita semakin menderita"
Plakkk
Nafa menampar Fahri seperti Wulan menampar Fahri tadi.
"Mama Nafa aku,"
"Sudah diam, kau telah membuat anakku tiada. Kau lah penyebabnya" ucap Nafa pilu, dia menangis.
"Ma sudahlah ayo kita pulang, Kalau disini Papa tidak bisa menahan emosi Papa nantinya. Papa ingin sekali membunuh pria ini karena membuat Lita kita menderita" sinis Aryo dan mendekap istrinya mengajak wanita itu pulang.
"Pa, Papa Aryo" ucap Fahri mengejar Aryo.
__ADS_1
Sasongko memperhatikan anaknya itu, dia begitu miris dengan Fahri, sifat darimana yang dimiliki Fahri ini.
"Papa mendidik mu menjadi pria yang bertanggung jawab pada keluarga tapi nyatanya apa Fahri, Dan kau mantan polisi tapi kenapa bodoh sekali" ucap Sasongko pada anaknya yang terdiam.
"Aku, aku .." ucap Fahri seakan tak bisa berkata-kata.
"Kau sekarang istirahatlah, besok kita cari Lita lagi semoga saja jasadnya ketemu dan kita bisa mengebumikannya dengan layak" ucap Sasongko dan langsung meninggalkan Fahri sendirian dikamar yang biasa ditempati Lita.
Fahri terduduk dilantai, ingatan Lita saat menjatuhkan diri ke sungai tadi begitu jelas terbayang di kepalanya saat ini.
"Lita..." histerisnya setelah membuka mata membayangkan hal itu.
"Kau bahagia? kau bahagia karena telah terbebas dariku" ucap Fahri pilu,
"Ini salahmu Fahri, Ini salahmu" ucap Fahri memukul-mukul kan tangannya ke lantai.
Ditengah kekalutannya akan kepergian Lita Hp Fahri yang ada di saku celananya bergetar.
Dia mengambil Hp itu dengan perlahan, melihat siapa yang menelponnya.
"Rendi,"
"Ada apa?"
"Aku ada berita untukmu Fahri,"
"Berita, berita apa? jika bukan hal penting tutup saja. Aku sedang tidak ingin diganggu" tukas Fahri.
"Ini soal Lita,.."
"Lita? Apa dia sudah ketemu? dia baik-baik saja kan?" ucap Fahri.
"Apa maksudmu, kenapa kau tanya begitu padaku memang istrimu kemana?" heran Rendi.
"Aku ingin bilang mengenai foto Lita yang diserahkan oleh pria asing padamu waktu itu" ucap Rendi.
"Apa?"
"Istrimu kenapa? kenapa kau menanyakan sudah ketemu?"
"Ada apa dengan foto itu" bukannya menjawab Fahri malah balik bertanya.
"Itu foto Palsu, itu bukan Lita tapi diedit oleh seseorang yang ada di Belanda" ucap Rendi memberitahukan temuannya itu.
"Apa, apa kau bilang"
"Aku tidak bisa menjelaskannya lewat panggilan kau datang saja ke kantor polisi temui aku disitu" ucap Rendi.
"Baiklah aku ke sana" dengan terburu-buru Fahri memasukkan Hpnya kedalam saku celana kembali dan dia langsung berdiri dengan cepat.
°°°
__ADS_1
T.B.C