Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
36


__ADS_3

"Besok kita ke Amerika," ucap David berdiri disebelah adiknya yang duduk di ranjang perawatan memeluk lututnya. Pandangannya kosong menunduk kebawah, dia begitu hancur melarikan diri dengan cara ini tapi tak ada cara lain selain ini.


"Kamu dengar apa yang kakak bicarakan tidak? kenapa kau? memikirkan pria brengsek itu kau masih bo.." ucapan David terhenti karena Rey memotong ucapan David.


"David sudahlah, Lita baru saja sadar. Jangan berkata keras begitu padanya" ucap Rey memegang lengan temannya itu.


David melihat sekilas kearah Rey dan melihat adiknya.


"Tidurlah, besok pagi-pagi sekali kita pergi ke Amerika" ucap David dan akan pergi.


"Kenapa harus ke Amerika? aku tidak bisa disini saja" ucap Lita akhirnya dia mendongak kakaknya dengan tatapan berkaca-kaca.


"Kau mau tertangkap oleh pria brengsek itu, kau masih mencintainya kau bodoh sekali. Kalau kau bukan adikku aku tidak sudi mengurus mu" ucap David yang sudah terlalu kesal dengan Lita.


"David,." sekali lagi Rey menegur David.


"Diam lah Rey, ini urusanku dengan adikku" ucap David mendekat pada Lita.


"Bilang padaku, kau masih mencintai pria.."


"Tidak kak, aku tidak mencintainya. Aku membencinya sangat membencinya" ucap Lita mantap menatap kakaknya.


"Lalu kenapa kau bilang masih ingin disini hah"


"Aku tidak bilang apa bisa disini saja aku sembunyi, aku..aku masih ingin melihat wajah Mama dan Thalia"


"Mama Nafa pasti begitu terpukul dengan kepergian ku.." ucap Lita terbata, dia tak kuat menahan air matanya.


David langsung memeluk adiknya, dia ikut sedih juga pasti Mamanya memikirkan Lita. Walaupun Lita hanya anak tiri dari Mamanya tapi Mamanya itu menyayangi Lita.


"Mau bagaimana lagi, kau harus pergi ke Amerika bersembunyi lah di sana. Kakak juga akan ikut ke Amerika kakak akan di sana bersamamu" ucap David memeluk adiknya penuh kasih.


Lita menangis dalam pelukan sang kakak, dia begitu tersiksa dengan hal ini. Semua gara-gara Fahri karena dia, ia harus menghilang dari hidup keluarga yang ia sayangi.


"Sudah kau sekarang tidurlah, besok kita berangkat." ucap David menidurkan adiknya itu.


Dia mengusap lembut kening Lita layaknya sedang menidurkan seorang anak kecil. Dia sedih melihat Lita, dan sikapnya ini untuk menebus perilakunya dulu pada Lita. Dia dulu sangat jahat pada adiknya ini. Tapi kenapa ada lagi orang yang jahat pada Lita sungguh malah adiknya, dia harus membuat adiknya bahagia saat ini bagaimanapun caranya.


"Rey,." lirih David saat sudah memastikan Lita tidur.


"Ada apa?" ucap Rey menatap David.


David berdiri perlahan berjalan mendekati Rey.


"Kau ikutlah denganku dan Lita ke Amerika" ucap David.

__ADS_1


"Apa?"


"Ikutlah denganku, temani adikku. Dia tidak punya teman, temani dia di sana" pinta David pada Rey.


"Aku tidak bisa David, aku punya kewajiban di Indonesia" ucap Rey merasa tidak enak.


"Ayolah, Lita sudah sangat dekat denganmu dan dalam kondisinya seperti ini dia butuh teman Rey. Kau temannya" ucap David.


Rey terdiam sesekali memperhatikan Lita yang tidur, tapi dia melihat dalam tidur perempuan itu seperti tidak nyaman.


"Aku minta maaf David bukannya aku tidak mau. Aku disini saja mengurus semua rencana mu, tapi aku janji aku akan sering ke Amerika untuk menemui kalian" ucap Rey begitu menyesal mengatakannya.


"Ya sudah kalau itu memang keputusanmu, sampai ketemu lain kali kalau begitu" ucap David.


"Tapi kau serius ingin menyembunyikan Lita untuk selamanya dari Keluargamu?"


"Aku serius, jadi aku mohon padamu jangan bilang pada siapapun kalau Lita masih hidup dan aku mohon bantu aku carikan mayat yang tidak ada keluarganya"


"Hah, untuk apa?" kaget Rey mendengar perintah David.


"Untuk mengelabui mereka semua"


"David jangan bercanda, ini melawan hukum. Dan bagaimana bisa menggunakan tubuh orang lain untuk memanipulasi. Mereka jelas mengetahuinya, mayat orang tenggelam dan tidak begitu berbeda dan sangat dikenali bagaimana bisa kita memalsukannya"


"Tunggu sampai beberapa minggu, jadi mereka pikir tubuh Lita sudah membusuk." ucap David.


"Rey percayalah padaku, rencana ku ini pasti berjalan sesuai yang ku inginkan. Kau tidak bisa membantuku dengan cara ikut ke Amerika kan, maka dengan cara ini bantu aku untuk menyembunyikan adikku" ucap David memegang kedua bahu Rey meyakinkan pria tinggi putih berjas dokter itu.


Rey menatap mata David,


"Baiklah, ini demi dirimu yang sudah banyak membantuku dan keluargaku dan ini demi Lita yang sudah seperti adikku sendiri" ucap Rey menatap Lita yang tidur.


………………


"Kamu serius itu bukan Lita," ucap Fahri menatap Rendi didepannya saat ini.


"Iya aku bisa jamin itu bukan istrimu. Aku sudah memeriksanya dengan alat canggih dan foto ini rekayasa. Dia bukan Lita Fahri"


Mereka berdua saat ini berada disebuah cafe yang tidak jauh dari tempat tinggal Fahri.


Deg


Sebuah kenyataan membuat hati Fahri begitu terpukul,


"Jangan main-main denganku Rendi, bilang kalau ini benar foto Lita" ucap Fahri mencengkram kuat kerah Rendi.

__ADS_1


"Fahri aku tidak main-main, ini bukan foto Lita. Kenapa kamu malah terlihat marah seharusnya kau senang ini bukan istrimu" bingung Rendi menatap Fahri.


"Kau lagi-lagi bodoh Fahri, kau brengsek, kau memang brengsek Fahri" ucap Fahri memukul kepalanya terus-terusan sembari mengucapkan sumpah serapah pada dirinya.


"Hei Fahri, kau kenapa. Tenanglah, Fahri" ucap Rendi memegang kuat tangan Fahri.


"Aku membuat istriku menderita, aku..aku memperkosanya malam itu. Malam disaat aku mendapat foto ini dan, dan dia bunuh diri tadi tepat didepan ku.." ucap Fahri pilu air matanya menetes.


"Apa..? Jangan bercanda Fahri kau bilang Lita bu..bunuh diri di depanmu"


"Ini semua salahku, ini semua salahku. Aku begitu jahat padanya. Aku menyiksanya terus-terusan, aku memang pria terbodoh. Hanya karena dendam aku menyakiti perempuan yang mencintaiku"ucap Fahri menangis. Hatinya terasa sesak saat mengingat Lita tadi..


"Lalu, lalu Lita bagaimana sekarang. Apa sia baik-baik saja" ucap Rendi melihat sedih temannya yang seakan teramat menyesal.


"Tu...tubuhnya belum ditemukan, Rendi apa yang bisa kulakukan hah. Hatiku terasa sakit sangat sakit melebihi waktu kehilangan Dira dulu. Ini..Ini rasanya" Fahri seakan tak kuat untuk melanjutkan ucapannya.


"Hei Fahri tenanglah," ucap Rendi.


"A..aku takut dia tiada, aku memang bodoh kenapa aku begini hanya karena dendam. Seharusnya aku senang kan dia tiada karena itu keinginanku. Tapi kenapa, hatiku tidak terima.."


"Fahri tenanglah, berdoa saja. Semoga dia selamat, semoga dia tidak apa-apa" ucap Rendi berusaha menenangkan Fahri tapi dia merasa meragukan hal itu karena tidak mungkin akan selamat setelah terjun dari jembatan.


"Dia tidak bisa berenang, apa..apa mungkin dia selamat." ucap Fahri mendongak menatap temannya itu.


"Yakinlah, tidak ada yang tahu kuasa tuhan" ucap Rendi.


"Kamu menyelidiki lagi soal kematian Dira atau tidak. Aku rasa tidak usah lagi Fahri karena memang bukan Lita pembunuhnya. Lebih baik kau menyelidiki soal siapa yang mengirimi foto palsu ini, kemungkinan ada yang sengaja melakukannya" lanjut Rendi.


Tangis Fahri terhenti, menatap Rendi.


"Maksudmu?"


"Maksudku ada yang sengaja membuat hubunganmu dengan Lita rusak"


"Kau waktu itu pernah bilang padaku kan kalau kau selalu dikirimi foto lewat nomer yang tidak kamu kenal" ucap Rendi.


"Ya,."


"Aku selediki yang mengirimi mu foto ini berasal dari Belanda. Dan soal nomor itu apa perlu aku selidiki" ucap Rendi.


"Silahkan," lirih Fahri yang tidak berdaya.


"Belanda, kenapa familiar sekali negara itu" gumam Fahri seperti pernah mendengar negara itu disebutkan.


Ah sudahlah, dia saat ini harus berdoa memikirkan Lita terlebih dahulu. Harapannya sangat tinggi Lita akan selamat.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2