
“Aku minta maaf telah membuat mu khawatir,” pungkas Rendi sambil memeluk Thalia yang tengah memeluknya.
Thalia langsung melepaskan pelukannya saat ini dia berdiri melihat Rendi yang masih berbaring sambil melihatnya.
“kamu jahat, kamu bodoh, kamu polisi robot, aku kesal denganmu yang membuatku khawatir seperti ini” ucap Thalia sambil memukul lengan Rendi yang sakit.
“Aughh,” rendi seketika langsung merintih kesakitan karena lukanya yang berada di bahu sebelah kiri di pukul oleh Thalia.
Rey yang berada di situ langsung mendekati pasangan suami istri itu, dia sedikit khawatir karena Rendi merintih kesakitan.
“Thalia jangan gila, suamimu baru saja tertembak, kenapa kau pukul” tukasnya memperingati Thalia.
“Bukan urusan, ini urusanku dengannya. Aku kesal pada pria bodoh ini, katanya polisi tapi bodoh tidka jauh beda dengan suami Lita sama-sama bodoh” ketus Thalia, dia tidka merasa bersalah sama sekali dengan apa yang dia lakukan pada Rendi.
Rendi perlahan mendudukkan dirinya sambil menahan rasa sakit, dia menegakkan tubuh sambil melihat kearah Thalia yang seperti habis menangis matanya begitu merah dan berair.
“Kamu begitu mengkhawatirkan ku,?” tanya rendi mencoba meraih tangan Thalia yang malah menghempas tangannya.
“kau pikir saja sendiri, aku kesal denganmu” ucap Thalia, dia malah meneteskan air matanya dan dia usap sendiri dengan tangannya saat ini.
“Dokter Rey, bisa minta tolong?” ucap Rendi pada Rey.
“Iya,” Rey langsung mendekat pada Rendi.
“tolong belikan Thalia sandal dan juga tolong belikan dia baju yang sedikit longgar. Aku rasa pakaiannya sekarang tidak pantas dipakai” ucap rendi mengabaikan Thalia yang langsung melihatnya.
“kenapa kau jadi memperhatikanku, seharusnya kau perhatikan dirimu yang sekarang. Kamu akan aku pukul lagi karena membuatku seperti orang gila” ketus Thalia mendekati Rendi.
“Aku akan belikan, kalau begitu aku keluar dulu” ucap rey langsung pamit pergi, dia rasa suami istri itu memang perlu waktu untuk berdua saja.
Rey senang melihat Thalia dan juga Rendi, akhirnya Thalia menemukan pria yang pas yang bisa membimbing perempuan itu menjadi lebih baik lagi.
“kenapa kemari lah?” ucap Rendi saat Rey sudah pergi.
Thalia masih diam di tempat, sambil memperhatikan rendi yang menyuruhnya untuk mendekat.
“Kamu tidak ingin memeluk suamimu yangs edang sakit begini” ucap Rendi karena Thalia hanya diam di tempatnya sambil meneteskan air mata.
Dia tahu perempuan itu begitu mencemaskan dirinya saat ini,
“Aku ingin memukulmu sekarang, aku kesal denganmu.. huhu hikss” Thalia menangis tersedu sambil mendekati Rendi .
“Pukul lah jika kamu memang ingin memukulku, aku salah telah membuatmu khawatir” ucap rendi ada Thalia yang sudah duduk di tepi ranjangnya.
“Sudah jangan menangis, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka ringan,” ucap rendi sambil mengusap air mata Thalia.
__ADS_1
“Luka ringan-luka ringan, kalau kamu mati gimana?” tukas Thalia.
“Dia tidak akan mati nona, Rendi merupakan anggota saya yang berbakat” ucap suara tegas yang masuk kedalam ruangan Rendi saat ini.
Tiga orang polisi masuk kedalam ruangan Rendi,
“Oh Ndan,” pungkas Rendi sedikit menunduk memberi hormat meskipun dia kesusahan melakukannya.
“Anda bisa jamin apa hah” bentak Thalia dia langsung berdiri menatap atasan polisi itu.
“Thalia,.” Tegur Rendi pelan, dia menarik pelan tangan istrinya agar duduk.
“Tidak apa Inspektur Rendi, saya malah senang melihat istri anda yang marah begitu. Itu tandanya dia takut kehilangan kamu,” ucap atasan Rendi.
“Anda kenapa sebenarnya, biasanya anda selalu tenang dalam setiap melakukan razia diam-diam. Tapi kenapa saya terima info dari tim dua anada terlihat tidak fokus. Anada sedang ada masalah?” tanya sang atasan.
Rendi yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa diam, dan dia mencoba mengingat sesuatu yang membuatnya tidak fokus sehingga tertembak saat akan mengamankan terduga pelaku.
Sesuatu itu tentu saja mamanya yang kembali lagi ke Indonesia dnegan membawa anak selingkuhan. Benar hal itu yang membuatnya tidak fokus tadi karena salah satu terduga pelaku hampir memiliki kisah seperti dirinya. Pelaku itu menceritakan kisah hidupnya pada Rendi agar tidak di tangkap karena dia ada sebab melakukan seperti ini.
Tapi sangking rendi terlalu larut dalam kenangan itu membuatnya lengah dan terbayang tentang keluarganya sendiri sehingga terjadilah hal seperti ini
“kenapa malah diam Inspektur rendi?” tanya sang atasan.
“Ah tidak apa Ndan, ini mungkin hanya musibah dan keteledoran kecil dari saya” pungkas rendi pada sang atasan.
“Sudah tidak ada yang akan ditanyakan lagi kan polisi yang katanya atasan tapi membiarkan anak buahnya tertembak. Anda bisa pergi sekarang suami saya harus istirahat” pungkas Thalia mengusir rekan-rekan Rendi dan juga atasannya dari kamar sang suami.
“thalia, dia atasanku. Jaga sikapmu” ucap rendi menasehati sang istri.
“Tidak apa inspektur Rendi, saya tidak marah dnegan istri anda. Persis seperti anda ya, anda singa jantan dan istri anada singa betinanya. Saya harap kalian tidak akan pernah terpisahkan” ucap sang atasan sambil melempar senyum
“kalau begitu kita permisi dulu” pamit atasan tersebut mengajak dua anak buahnya yang lain untuk keluar.
Mereka bertiga langsung pergi meninggalkan Thalia dan juga Rendi hanya berdua saja di ruang rawat tersebut.
“Apa yang membuatmu tidak fokus?” tanya Thalia pada rendi saat pintu ruangan itu sudah tertutup kembali.
“Tidak ada, aku hanya lengah saja” bohong rendi.
“kemari,” ucapnya sambil menarik pelan tangan Thalia.
“Aku membuatmu sangat khawatir ya, sampai kamu kesini hanya mengenakan pakaian ini. tidka kedinginan keluar dnegan celana pendek dan baju tipis seperti ini. dan kakimu apa tidak sakit?” lirih rendi sambil menatap Thalia yang sudah duduk di tepi tempat tidur.
“nggak, tidak ada kata sakit di otakku hanya ada kata takut. Aku takut kamu kenapa-kenapa” ucap Thalia sambil berkaca-kaca.
__ADS_1
“jangan menangis lagi, aku tidak apa-apa” ucap rendi menggenggam tangan Thalia saat ini.
“kamu pindah sebelah sini,” pinta Rendi sambil menepuk sebelah kanannya.
“kenapa menyuruhku pindah sebelah situ? Kamu tdiak mau aku disini?”
“Bukan begitu, aku ingin memelukmu puas. Kalau kamu disini aku susah untuk melakukannya” tukas Rendi.
“langsung senyum, aku bilang begitu. Tadi marah-marah dengan suami dan dnegan atasanku” goda Rendi pada Thalia yang langsung tersenyum mendengar ucapannya tadi.
“Nggak biasa aja” elak Thalia sambil berdiri dan mengitari tempat tidur untuk berpindah tempat.
Thalia langsung duduk disebelah kanan Rendi sekarang, dia melihat pria itu yang sedikit mendekatkan diri padanya dan Rendi langsung mencium bibir Thalia.
“aku mencintaimu istriku, jangan pernah menangis lagi karena diriku. Aku tidak tega melihatmu menangis oke” ucap rendi setelah mengecup Thalia.
Thalia terdiam sambil mengangguk melihat Rendi yaang menatap dirinya,
“Aku juga mencintaimu, dan kamu hanya milikku. “ Thalia langsung memeluk Rendi.
“Iya aku milikmu, aku jamin itu” sahut rendi sambil tersenyum.
“Oh iya, aku tadi samar-sama mendengar dirimu mau memberiku hadiah? Hadiah apa?” tanya Rendi saat ingat itu.
“Kamu bagaimana sih, kenapa lupa?” tanya Thalia yang langsung cemberut.
“Serius aku lupa”
“Tapi kamu sedang sakit mana bisa kita melakukannya, sudahlah tunggu kamu sembuh saja.tapi kamu pasti menyesal sendiri sih karena tertunda lagi”
“kamu ngomong apa sih sayang, aku nggak ngerti” ucap rendi memanggil Thalia sayang karena dia gemas dengan istrinya.
Dan Rendi pura-pura tidak tahu apa yang dimaksud Thalia, padahal dia sudah tahu apa itu. Thalia akan memberikan miliknya dan mereka akan membuat anak yang tertunda beberapa waktu lalu karena Thalia sedang datang bulan.
Dan saat ini malah dirinya terluka, jadi semakin tertunda keinginan dirinya dan Thalia.
“tahu lah males, ngomong lagi” kesal Thalia, karena Rendi yang tidak ngeh.
“Kamu kalau marah makin cantik” goda Rendi dan tiba-tiba saja menggigit pipi Thalia.
“Augh sakit, kau gila ya” tukas Thalia sambil menjauh dari rendi. Rendi sendiri malah tersenyum melihat Thalia yang menatapnya kesal.
°°°
T.B.C
__ADS_1