
Fahri terbengong sendiri setelah mendengar Rendi meminta nomor Thalia, apa dia barusan tidak salah dengar. Fahri masih diam di tempatnya sambil sesekali menggenggam ponsel miliknya. Hingga sebuah tepukan di bahunya mengalihkan perhatian dirinya saat ini.
“Sayang, kenapa melamun?” tanya Lita melihat suaminya yang diam seperti melamun.
“Hah, nggak. Aku hanya heran dengan Rendi. Beberapa waktu lalu dia menyuruhku untuk tidak memberikan nomornya pada Thalia tapi sekarang dia sendiri malah yang meminta nomor Thalia” jelas fahri kebingungan sendiri.
“kamu serius, masa Rendi yang minta nomor Thalia?” Lita juga tidak mempercayai hal itu.
“Iya aku serius, ini baru saja dia meneleponku.” Ucap Fahri,
“Oh iya tadi kamu bilang Thalia mau menikah? Menikah dengan siapa dia? Dengan Nicholas?” tanya Fahri pada Lita.
“Dia bilangnya sih bukan dengan Rey atau dengan Nicholas, entah dengan siapa dia akan menikah” tukas Lita.
“tadi kamu bilang Rendi minta nomor Thalia, tidak kamu kirim. Buruan Rendi menyuruh mengirimkannya kan?” ucap Lita mengingatkan sang suami.
“Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya?” pungkas Fahri mengutarakan hatinya yang tiba-tiba saja gelisah.
“tidak enak kenapa?” Lita menjadi penasaran dengan ucapan suaminya tersebut.
“Rendi minta nomor Thalia, dan Thalia bilang akan menikah. Tapi tidak dengan Rey ataupun Nicholas dan beberapa hari ini dia selalu mengejar Rendi. Jangan-jangan dia melakukan sesuatu dengan Rendi?” Entah kenapa Fahri menaruh kecurigaan tersebut. Karena merasa ada yang aneh dengan semua ini.
“Jangan berpikiran begitu pada Thalia, dia adikku. Mana mungkin dia melakukan sesuatu pada Rendi?” ucap Lita memperingati suaminya.
Fahri langsung diam, memang benar Thalia adik Lita, seharusnya dia tidak membicarakan hal ini pada Lita. Karena pasti Lita tidak terima adiknya di bicarakan.
“Lebih baik aku diam saja, tapi kenapa aku menaruh curiga soal hal ini” batin Fahri sesekali melihat Lita yang memperhatikan dirinya.
__ADS_1
“kenapa melihatku begitu sayang, aku percaya kok dengan adikmu. Ayo kita ke kamarmu saja, aku belum pernah tidur di kamarmu” ajak Fahri langsung merangkul Lita mengajak istrinya tersebut berjalan.
........................
Thalia baru saja selesai mandi, dia sekarang memakai celana pendek serta kaos polos berwarna putih dnegan rambut basah terbungkus handuk. Berjalan kearah nakas meja mengambil ponselnya di situ.
Dia mendudukkan dirinya terlebih dahulu di tempat tidur sembari melihat ponsel miliknya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat banyak notifikasi pesan dan juga panggilan di sana.
“Nomor siapa ini?” ucapnya sambil membuka pesan dari nomor itu.
“Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku? Kemana dirimu? Kau akan menikah dengan orang lain. Dan menjadikan orang itu ayah anakku, tidak bisa, kau tidak bisa begitu. Angkat panggilanku” pesan bertubi-tubi itu tentunya datang dari Rendi siapa lagi kalau bukan orang tersebut.
Senyum kemenangan muncul di wajah Thalia,
“Wow, akhirnya lo yang nelpon gue duluan kan. Masuk ke perangkap gue lo,” ucapnya senang.
Tapi Thalia langsung terdiam seketika, dia melihat pesan dari Rendi soal anak yang dia kandung.
Dia hanya menginginkan Rendi sekarang, karena pria itu yang sepertinya tulus dengannya nanti meskipun mungkin akan ada prahara besar dalam kehidupannya dengan Rendi. Dia sadar itu bahwa semua ini licik dan akan ada akibatnya.
Thalia tidak berniat membalas pesan tersebut, dia menjadi tak bersemangat sendiri sekarang menaruh ponselnya kembali ketempat nya. Tapi baru saja dia taruh ponsel itu kembali berbunyi, dan dengan menampilkan nomor yang sama.
Thalia menghela nafasnya panjang sebelum mengangkat panggilan tersebut. Dia langsung menekan tombol hijau mengangkat panggilannya.
“Kau darimana saja kenapa baru mengangkat panggilanku?” nada tegas dan tampak marah begitu terdengar jelas dari seberang sana.
“kau siapa?” Thalia pura-pura tidak tahu kalau itu Rendi.
__ADS_1
“Kau tidak membaca pesanku? Kau juga tidak hapal dengan suaraku” ucap rendi dnegan nada menginterogasinya.
“memang kau seseorang yang harus ku hafal suaranya. Tidak penting” sini Thalia.
“jangan sampai kau menikah dnegan pria lain, jangan membuat anakku memanggil orang lain dengan sebutan ayah. Aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahi mu saat ini juga” tukas Rendi.
“baiklah, aku tunggu. Sampai lewat hari ini, jangan harap anakku akan memanggilmu ayah nantinya” Thalia langsung mematikan panggilannya.
“aku minta maaf aku memang salah. Tapi, hanya denganmu aku merasa nyaman. Jadi kau harus menjadi milikku Rendi” ucap Thalia setelah panggilannya terputus.
.............................
“Halo, Halo..” ucap Rendi berkali-kali, dia tidak sadar panggilannya sudah di matikan lebih dulu oleh Thalia.
“Arkh,” erangnya kesal, dia mengacak-acak rambutnya sendiri. Saat ini dia benar-benar di buat pusing oleh perempuan itu. Dia tidak bisa diam, hari ini juga dia harus ke rumah Thalia untuk menikahi perempuan itu.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, siapa yang harus ku hubungi untuk menyaksikan ku menikah” ucapnya begitu pusing dengan hal ini. kedua orang tuanya bercerai dan dia tinggal sendiri karena kedua orang tuanya tidak jelas menurutnya.
“terpaksa aku harus mengubungi orang tua Fahri,.” Lirih Rendi, karena memang Rendi tidka memiliki keluarga di Jakarta. Ayahnya ada di Medan karena sudah menikah lagi dengan orang lain. Ibunya entah pergi kemana semenjak bercerai dari ayahnya, ibunya itu tidak ada kabar sama sekali dan keluarganya yang lain juga tidak ada yang dekat. Adik dari ayahnya berada jauh, begitu juga keluarga ibunya. Kalau mereka ia beritahu tidak mungkin hari ini juga akan sampai sedangkan dia harus menikahi Thalia hari ini juga.
Jadi pilihan satu-satunya Rendi menghubungi orang tua Fahri yang sudah ia anggap ayah dan ibunya sendiri. Selain itu sih ada orang tua Melody, jadi tidak mungkin dia menghubungi mereka. Ia saja bingung saat ini. disisi lain tunangannya Melody tapi disisi lain juga dia harus menikahi perempuan lain.
Rendi memegang kepalanya sendiri, rasanya ingin pecah kepalanya sekarang. Kenapa juga beberapa waktu lalu dia harus mabuk. Kalau dia tidka mabuk hal ini tidak mungkin terjadi dan dia tidak mungkin menikahi Thalia sekarang.
Ia langsung menekan nomor ayah dari Fahri, dia akan menghubungi mereka lebih dahulu. Soal Fahri biarlah dia tidak akan menghubunginya pasti Fahri akan tahu sendiri saat dia datang ke rumah Thalia nanti.
“Melody maafkan aku. aku berbuat salah. Aku minta maaf telah mengkhianati ku. Saat kau sadar nanti aku harap kau membenciku selamanya.” Ucap Rendi matanya berkaca-kaca dia begitu pilu dengan kenyataan ini.
__ADS_1
°°°
T.B.C