
kedalam ruangan dokter saat ini karena sebelumnya dia sudah membuat janji terlebih dahulu dengan dokter tersebut dimana dokter itu merupakan teman Fahri dan Rendi.
“Wah bapak dokter gagah sekali” seru Rendi saat melihat Vano yang duduk dimeja kerjanya.
Benar dokter itu bernama Vano, Vano sendiri langsung mendongak melihat kedua temannya yang sudah datang.
“Kalian sudah datang? Silahkan duduk” ucapnya mempersilahkan kedua pria yang masuk keruangan nya untuk duduk.
“Ada apa dengamu fahri? Kau sakit apa?” tukas Vano bertanya pada Fahri yang terlihat pucat.
“Kalau aku tahu diriku sakit apa tidak mungkin aku datang kesini” ketus fahri menatap jengah pria didepannya, dia sedang tidak ingin bicara karena dia benar-benar lemas.
“Haha benar juga ya, ayo ikut aku. Baringkan dirimu di sana” ucap Vano menyuruh Fahri untuk berbaring di ranjang yang ada di ruangannya karena ia kan memeriksa Fahri.
Fahri mengikuti saja, dia idak banyak protes karena tubuhnya begitu tak bisa diajak kerja sama.
“Sejak kapan kau begini?” ucap Vano saat memeriksa Fahri.
“hampir sebulan”
“Selain lemas apa saja yang kau rasakan?”
“Mual muntah setiap pagi”
“Hanya pagi saja? Atau hampir seharian?”
“Hanya pagi saja aku selalu seperti ini. Setelahnya baik-baik saja”
“Oh, silahkan. Kembali, aku sudah memeriksa mu” ucap Vano setelah memeriksa Fahri serta memberi pertanyaan untuk pria itu.
Fahri langsung turun kembali ketempat duduknya disebelah Rendi
“Dia sakit apa?” tanya Rendi penasaran.
“Dari yang aku periksa dia tidak sakit apa-apa, mungkin hanya kelelahan atau istrimu sedang hamil makanya kau mengalami muntah-muntah di pagi hari. Itu dinamakan Morning sickness yang biasa di alami oleh ibu hamil muda” jelas Vano menatap kedua orang didepannya.
Fahri terbelalak, begitu juga Rendi yang sudah menduganya tapi Lita Kan sudah tiada. Apa Fahri menghamili perempuan lain.
“Jangan bercanda, kau mau aku bunuh” Fahri menjadi emosi mencengkram kuat jas dokter vano.
“Hey Fahri apa yang salah dari perkataan ku,” Vano yang tak mengerti mencoba melepaskan cengkraman Fahri pada dirinya.
“Kau menuduhku menghamili perempuan lain begitu? Kau tahu sendiri istriku sudah tiada kan?” ucap Fahri emosional.
Vano menghempas tangan fahri, dan dia baru sadar kalau memang istri Fahri sudah tiada.
“Ah maaf, aku.aku salah. Aku lupa kalau istrimu” ucap Vano merasa tidak enak, dia melihat Fahri yang tampak sedih saat ini. Sungguh dia benar-benar lupa soal itu padahal dua bulan lalu sudah diberitakan dimana-mana soal istri Fahri.
“Fahri sudahlah, aku menduganya memang ini gejala perempuan hamil. Tapi siapa yang sedang mengandung anakmu Fahri, ingatlah siapa yang kau hamili”
“Kau menuduhku juga,”
__ADS_1
“Fahri aku tidak menuduh mu, mungkin kau lelah atau memang dalam kondisi tidak bagus. Aku resep kan vitamin saja untukmu, semoga kamu merasa enakan dengan vitamin yang ku berikan” ucap Vano langsung menuliskan resep untuk Fahri.
“Tidak Vano, aku yakin ini ada perempuan yang sedang hamil anaknya. Badannya selalu sehat tapi dia sering mual di pagi hari dan beberapa hari ini saat bertemu denganku dia selalu menginginkan makan-makanan yang tak masuk akal” tukas Rendi masih yakin dengan pendapatnya kalau Fahri memang menghamili seseorang.
“Kau mau aku habisi disini rendi, jangan menuduhku sembarangan. Sejahat-jahatnya aku, aku tidak akan menyentuh perempuan lain selain istriku apalagi menebar benih pada perempuan tidak jelas” Fahri benar-benar tidak terima dengan ucapan Rendi barusan.
“Aku berani bersumpah, aku tidak melakukannya dengan wanita lain selain Lita istriku” tegas Fahri menatap yakin kedua temannya secara bergantian.
“Tapi kalau kau memang hanya melakukannya dengan Lita, kau tidak mungkin begini Fahri. Lita sudah tiada jadi tidak mungkin dia hamil sekarang” ucap Rendi.
“Jangan-jangan istrimu itu masih hidup” sahut Vano dan langsung mendapat tatap dari fahri dan juga Rendi.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Istrimu mungkin masih hidup fahri dan kemungkinan saat ini dia tengah hamil makanya kau mengalami hal ini seperti seorang yang ngidam”
“Mana mungkin,” ucap fahri lemah karena tidak mungkin Lia masih hidup jelas-jelas dia sudah tiada meniadakan diri dengan melompat dari jembatan tepat didepannya. Dan yang memilukan lagi perempuan itu tidak bisa berenang jadi kemungkinan selama tidak mungkin.
“Tidak ada yang tidak mungkin selagi tuhan memberikan keajaiban” ucap Rendi meyakinkan temannya.
“tapi dia tidak bisa berenang, jadi mana mungkin” Fahri kembali tertunduk sedih mengingat kembali mengenai Lita yang dulu pernah tenggelam di Kolam renang. Dia merasa pesimis kalau Lita masih hidup dan selamat.
..........................
Di Amerika,
Dokter yang habis memeriksa Lita berjalan mendekati David, Lita yang habis diperiksa langsung bertanya kepada dokter itu.
“Anda..
“Adik saya sakit apa?” belum menjawab pertanyaan Lita David sudah bertanya lebih dulu sehingga memotong ucapan dokter tersebut.
“Begini, saat ini adik anda tengah mengandung. Jadi wajar jika dia merasa lemas karena ini awal kehamilannya yang memasuki tujuh minggu” ucap sang dokter melihat Lita dan David secara bergantian.
Jedar..
Bagaikan petir disiang bolong bagi Lita matanya langsung melebar, begitu juga David dan Naya yang tampak terkejut mengetahui kenyataan ini.
“Nggak, nggak, ini nggak mungkin, ini nggak mungkin. Mbak, mbak Naya ini nggak mungkin kan aku nggak hamil kan mbak. Aku nggak mungkin mengandung anak dari pria brengsek itu kan mbak” ucap Lita tak percaya memegang tangan Naya.
“aku nggak mau, aku nggak mau” ucap Lita histeris dia memukul-mukul perutnya sendiri.
“nggak mau hamil ini, aku nggak mau, mbak Naya aku nggak mau mbak” ucap terus histeris sambil menangis dia juga tak henti memukul-mukul perutnya sendiri.
“Lita, Lita, sudah jangan begini kamu bisa melukai anakmu” ucap Naya memegang tangan Lita agar perempuan itu tidak memukul perutnya sendiri.
David terlihat khawatir, dia melihat adiknya yang berusaha ditenangkan oleh Naya.
“Dokter terimakasih, silahkan anda pergi” ucap david pada Dokter itu yang menatap Lita heran, dia heran kenapa perempuan yang dia periksa tidak menginginkan kehamilannya.
“iya sama-sama” dokter tersebut langsung pamit pergi setelah bersalaman dengan David.
__ADS_1
Lita sendiri masih histeris dan berusaha memukul-mukul perutnya.
“David bantu aku” ucap Naya yang menahan tangan Lita tampak kewalahan.
“Nggak mbak, pokoknya aku nggak mau anak ini, aku ngga mau mbak” Lita menangis pilu sambil tangannya masih dipegang oleh Naya.
“Kak, Ka David aku nggak mau anak ini, aku nggak mau kak, aku nggak mau mengandung anak pria brengsek itu aku membencinya sangat membencinya” ucap Lita ucap Lita menatap David yang iba melihatnya dia menangis menatap sang kakak.
Perlahan David mendudukkan dirinya disebelah Lita, mengambil alih tangan Lita yang dipegang Naya.
“aku nggak mau kak, aku nggak mau anak ini, aku nggak mau’ ucap Lita menangis dihadapan sang kakak. Dia akan memukul-mukul perutnya lagi tapi cekalan David begitu kuat.
“Lepas kak, lepas, aku mau bunuh anak ini, aku mau membunuhnya” ucap Lita memohon untuk dilepaskan.
David sendiri merasa kasihan pada sang adik, matanya pilu menatap Lita yang menangis.
“Kau mau apa? Kau mau menggugurkan anak ini?” ucap david menatap mata sang adik.
“David,” tegur Naya seakan tahu apa yang akan dilakukan David untuk Lita. Pria itu akan melakukan apapun keinginan Lita saat ini.
“Iya, iya aku mau menggugurkannya, aku nggak mau anak ini kak” ucap Lita.
Plakkk
David menampar Lita keras, seketika Naya dan Lita yang menerima tamparan menatap David terkejut.
David apa yang kau lakukan?” ucap Naya langsung memegang bahu David menarik pria itu untuk berdiri.
“Kenapa kak david menamparku” Lita memegangi pipinya bekas tamparan David barusan.
“Kakak menamparmu agar kau sadar dari kegilaan mu, anak yang kau kandung tidak berdosa kenapa kau ingin menggugurkannya”
“Aku tidak menginginkan nya kak, aku tidak menginginkan anak ini. Aku benci, benci” teriak Lita kembali histeris.
“Sadarlah, kau akan mencontoh Mama kandungmu yang tidak menginginkanmu hah. Kau akan menjadi perempuan jahat seperti dia,”David memegang bahu adiknya kuat.
Lita menggeleng,
“Sejahat-jahatnya dia, dia tidak mau menggugurkan mu dulu. Dan dia melahirkan mu memberikan dirimu ke Papa. Meskipun dia tidak menganggapmu sampai saat ini. Tapi dia tidak sejahat dirimu sekarang yang akan menggugurkan anakmu sendiri” ucap David pada adiknya.
Lita terdiam menatap David.
“Kalau kamu tidak mau mengurusnya nanti berikan pada Ku, kakak dan mbak Naya yang akan menjadi orang tua secara hukum bagi anakmu” ucap David begitu yakin, dia juga menatap Naya meminta persetujuan. Naya mengangguk tanda menyetujuinya.
Lita hanya bisa diam, menangisi nasibnya. Sungguh dia tidak menginginkan anak ini, dia ingin hidup damai tanpa bayang-bayang Fahri tapi kenapa malah dia mengandung anak pria brengsek itu.
David langsung memeluk Lita, memberikan pelukan kenyamanan pada perempuan itu yang saat ini terlihat rapuh.
°°°
T.B.C
__ADS_1