
Revan datang ke rumah Melody tetapi dia tidak menampakkan diri di pintu utama, kedatangannya sendiri saat ini ingin memastikan benar tidaknya Melody akan menikah dengan orang lain sesuai ucapan perempuan itu saat menelponnya beberapa waktu lalu.
Ternyata benar rumah perempuan itu kini sudah dihias oleh beberapa bunga dan tempat resepsi serta tempat untuk ijab qobul nya. Revan melihat dari jauh diantara orang-orang yang berdiri menunggu mempelai perempuan dan juga mempelai pria datang.
“Aku kira yang menikah dengan Melody sekarang tunangannya yang dulu ternyata bukan, ko bisa sama orang baru ya?” ucap seseorang yang berada didekat Revan berdiri, dan Revan mendengar itu semua.
“Kamu nggak tahu ya? Melody kan ditinggalin gitu aja sama tunangannya” sahut perempuan yang lain.
“Jangan asal bicara Denia,” tegur seorang pria yang bersama dengan dua perempuan tersebut.
“Aku nggak asal bicara memang benarkan Melody ditinggalin sama tunangannya dulu karena lebih milih nikah sama anak konglomerat” ucap perempuan yang bernama Denia itu.
“Masa sih, tega banget tuh cowok ninggalin cewek yang lagi koma” ucap Maya teman dari Denia.
“Udahlah kalian berdua nggak usah ngomongin orang dan belum tentu yang kalian omongin itu bener” ucap pria yang satu lagi.
“benar kata Junior, kalian jangan membicarakan orang lain. Yang kalian omongin itu salah, aku tahu siapa tunangan Melody sebelumnya dia teman SD ku dulu waktu di Bali. Nama tunangannya dulu Rendi dan sekarang sudah menikah dengan anak konglomerat keluarga Ravero. Bukan Rendi yang meninggalkan Melody tapi Melody lebih dulu yang berselingkuh dengan orang lain” jelas Tristan.
“Serius tan, masa sih. Lo nggak bohong?” ucap Junior
“nggaklah ngapain juga gue bohong”
“masa sih Melody begitu,..” ucap yang lainnya tak percaya.
Revan yang sedari tadi mendengarkan hanya diam dan sedikit menunduk. Akibat ulahnya dan Melody dulu bukan dirinya atau Melody saja yang mendapat omongan tapi Rendi juga.
Revan langsung pergi menjauh tetapi langkahnya terhenti dan dia langsung bersembunyi saat melihat Melody yang keluar bersama dengan kedua orang tuanya.
Dia bisa melihat Melody terlihat sedih berjalan dengan sesekali menunduk ke bawah, melihat itu membuat Revan juga ikut sedih tapi dia bisa apa karena hubungannya dengan Melody memanglah tak harus di lanjut.
“Selamat menempuh hidup baru Mel, maaf aku tidak bisa menuruti apa yang kau suruh. Jalan kita sudah berbeda dan tidak mungkin kita untuk bersama kembali yang kemungkinan akan mengingatkan kita akan masa lalu yang buruk buat ku dan buatmu. Bahagia Lah selalu dengan pasanganmu,.” Batin Revan sambil melihat kearah melody yang mulai duduk di depan seorang penghulu. Tak lama kemudian juga mempelai pria datang dan bergabung di meja tersebut.
Revan langsung pergi saat pria itu sudah menjabat tangan sang penghulu, dia tak ingin melihat prosesi ijab qobul didepannya. Rasanya hatinya belum siap, membuat Revan langsung pergi.
...........................................................
__ADS_1
“Kamu disini, aku kira kamu kemana?”ucap Thalia yang berjalan mendekat kearah suaminya yang tengah menggendong Relia di pinggir kolam renang.
Rendi langsung berbalik melihat kearah Thalia yang mengenakan celana pendek serta kaos dinas abu-abu milik Rendi membuat Rendi mengernyitkan dahinya saat melihat itu.
“kamu ngapain pakai kaos ku sayang?” ucap Rendi sambil tersenyum melihat istrinya.
“Nggak pa-pa, males ngambil bajuku. Ada bajumu aku pakai aja” jawab Thalia.
“haduh, istriku kayaknya mulai bar-bar lagi ini hah” ucap Rendi mencubit gemas pipi istrinya
“iih apaan sih,” kesal Thalia dan sedikit menjauh dari Rendi.
“senang aja aku kamu kembali seperti dulu lagi”
“Kok Relia kamu yang gendong, ngapain juga berdiri disini. Mama sama bunda kemana kok rumah sepi?” tanya Thalia karena rumah terlihat sepi dan anaknya Rendi yang menggendong.
“Mama sama bunda ke rumah Mama Nafa terus kalau Papa diajak Papa Aryo entah kemana. Revan juga pergi entah kemana aku nggak tahu” jawab Rendi.
“Lah terus kamu disini ngapain panas tahu”
“Relia ku jemur, kata Mama bayi harus dijemur biar sehat”
“Aku takut dia jatuh” jawab Thalia yang tampak ragu, karena dia memang masih belum bisa menggendong bayi.
“Ngapain takut, masa mamanya nggak pernah gendong anaknya. Sini aku ajari, aku juga awalnya takut tapi Mama maksa terus aku bisa sekarang. Sini sayang” ucap Rendi.
Thalia langsung mendekatkan dirinya, dan menggendong Relia ia taru bayi itu di gendongan Thalia saat ini. ia membantu Thalia dari belakang menahan tangan sang istri yang menggendong anak mereka.
“Nggak pa-pa kan,” ucap Rendi saat dia sudah melepas tangannya.
“Iya, tapi kamu jangan kemana-mana.” tukas Thalia melarang sang suami untuk tidak pergi.
“Iya aku disini kok, kalau masih takut ayo duduk aja.” Ucap Rendi sambil berjalan utuk mengambil kursi agar Thalia bisa duduk saja.
Rendi juga langsung mengambil kursi lain untuk dia duduk, ia akan menemani istrinya menjemur Relia.
__ADS_1
“hari ini jadi nggak kita lihat Reno?” tanya Rendi melihat sang istri yang langsung melihat padanya.
“Mau tapi di rumah lagi nggak ada orang, terus Relia siapa yang mengajaknya”
“Kan adan Bi Warsih, kita titip sebentar saja sama dia” jawab Rendi dan menyarankan Thalia untuk memberikan anak mereka pada bi Warsih untuk beberapa jam ke depan.
“Nggak, aku nggak mau Reli di urus orang lain” tolak Thalia.
“Bi Warsih bukan orang lain sayang, nggak boleh begitu. Dia sudah bantuin kamu dan dia orang kepercayaan Mama yang seperti keluarga sendiri”
“Ya bukan gitu aku pengennya anakku di gendong Mama bukan orang lain” tegas Thalia.
“Ya sudah nanti kita tunggu Mama sama bunda pulang baru kita lihat Reno, gimana?” tanya Rendi pada istrinya
“hemmm,” jawab Thalia dan dia memperhatikan wajah anaknya yang masih begitu merah saat ini.
“Menurutmu Relia mirip siapa sayang?” tambah Thalia menatap pada Rendi.
“Mirip Mamanya lah sama-sama cantik” balas Rendi
“tapi menurutku dia mirip kamu, hidungnya alisnya. Hampir semua mirip kamu, aku nggak di sisain sama-sama sekali” ucap Thalia sambil cemberut.
“Nggak Relia tuh mirip kamu, tapi kan wajah bayi berubah-ubah sayang” ucap Rendi mencoba membuat istrinya tidak sedih. Karena memang dilihat-lihat anak mereka mirip dengannya.
“Masa iya?” tanya Thalia.
“Iya, wajah bayi itu berubah-ubah. Relia tuh mirip kamu, bukan mirip aku” ucap Rendi lagi.
“Oh gitu” ucap Thalia yang tampak percaya dengan ucapan Rendi entah itu benar atau tidak dia percaya saja.
“Ini sudah belum, kan sudah dari tadi kamu jemur Relia?” tanya Thalia.
“Sudah aja yuk, kita masuk.” Ucap Rendi dan dia mulai berdiri mengajak istrinya untuk masuk kedalam rumah.
Thalia juga langsung berdiri dengan dibantu Rendi, dan dia berjalan perlahan masuk kedalam rumah sambil menggendong anaknya.
__ADS_1
°°°
T.B.C