
Mobil Fahri sudah berhenti di sebuah gedung Apartemen, Lita terdiam kenapa Fahri mengajaknya kesini. Bukan ke rumah yang dulu mereka tempati. Tapi rasa penasarannya itu tidak bisa membuat dirinya luluh untuk sekedar berbicara pada Fahri dia masih belum mau untuk bicara pada Fahri meskipun dia telah mau untuk kembali serumah dengan pria itu.
Fahri menatap Lita disebelahnya yang tampak kebingungan kenapa di ajak ke tempat ini. dia tahu itu bahwa istrinya bingung soal hal ini.
“Mulai sekarang kita tinggal disini sambil menunggu rumah yang aku buat jadi, kita mulai hal baru memulai keluarga kecil kita” ucap Fahri sambil memegang tangan Lita tapi Lita buru-buru melepaskan tangannya dan dia berjalan keluar mobil sambil menggendong anaknya.
Fahri yang mendapat perlakuan seperti itu hanya menghela nafas panjang, dia harus bersabar dengan Lita yang belum bisa memaafkannya.
Fahri langsung keluar dari mobil juga menyusul Lita yang sudah berada di luar mobil saat ini.
“Tunggu aku sebentar ya, aku ambil barang-barang mu dan Axel dulu” lirih Fahri berjalan ke belakang mobil mengambil barang-barang milik istrinya dan juga anaknya.
Ada dua koper dan satu tas ransel disitu, dia mengeluarkannya dari dalam mobil menatap ketiga barang itu. Dia terdiam bingung cara membawanya bagaimana.
Lita yang melihat itu entah mengapa dia merasa iba melihat kebingungan Fahri untuk membawa barang-barang sebanyak itu.
“Biar aku bawa sendiri koperku” pungkas Lita mengambil koper abu-abu dan menariknya. Satu tangan ia gunakan untuk menggendong Axel satu tangan ia gunakan untuk menarik koper miliknya.
“tidak usah sayang, biar aku saja. Kemari kan” ucap Fahri akan mengambil kembali Koper yang dipegang Lita.
“tidak usah, katakan dimana Apartemen mu? Nomor berapa” ketus Lita.
“Nomor 50, sayang sudahlah aku saja yang..” Lita langsung meninggalkan Fahri yang akan bicara lagi.
“sabar Fahri, kau harus berjuang lagi untuk mendapat maaf dari istrimu” ucap Fahri menatap kepergian Lita dengan nanar.
....................
Fahri masuk kedalam kamar saat ini, tapi langkahnya langsung berhenti saat dia membuka pintu kamarnya. Dia terkejut terpaku di tempatnya saat melihat Lita yang sedang menyusui anak mereka.
“maaf” lirihnya.
“Meskipun ini Apartemen mu bisakah kau mengetuk pintu” sinis Lita buru-buru menutup bajunya yang terbuka di bagian dada agar Fahri tidak melihatnya.
“Aku minta maaf soal itu, kalau begitu lanjutkan saja menyusui Axel” Fahri langsung berbalik menutup pintu kamarnya lagi. Dia harus menghargai Lita saat ini, perempuan itu belum memaafkannya jadi dia harus menghargainya meskipun ini Apartemen miliknya.
__ADS_1
Fahri sendiri langsung berjalan kearah sofa yang tergabung sebagai ruang tamu juga. Apartemennya hanya terdiri sat kamar dan ruang tengah bergabung dengan ruang tamu serta dapur dan dua kamar mandi. Satu di luar kamar dan satu di kamarnya.
Dia duduk di sofa menghela nafasnya, sembari memikirkan sesuatu disitu.
“Lebih baik aku tidur disini, Lita pasti belum mau tidur denganku” ucapnya dan langsung berdiri setelah memikirkan sesuatu. Dia langsung berjalan kembali ke kamarnya tetapi dia mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu.
“Ya.” Terdengar sahutan dari dalam kamar membuat fahri perlahan membukakan pintu tersebut. Dia melihat Lita yang berdiri memperhatikan kearahnya saat ini.
“Maaf kalau aku mengganggumu, aku..aku hanya ingin mengambil bantal dan juga selimut. Kau tidurlah disini dengan Axel” ucap Fahri sedikit merasa tidak enak.
Lita diam saja tidak menanggapi perkataan Fahri dia malah pergi kearah kamar mandi meninggalkan Fahri yang terdiam di tempatnya sambil memperhatikan Lita yang mengabaikan dirinya saat ini.
Fahri menghela nafas ringan sambil berjalan kearah lemari dan membuka lemari itu dengan hati-hati agar anaknya tidak terganggu. Sesekali dia juga melihat kearah Axel memastikan bayi itu masih tidur.
Selesai mengambil bantal dan juga selimut Fahri berjalan kearah Axel dia perlahan menunduk mencium kening anaknya.
Bertepatan dengan itu Lita keluar dari kamar mandi, dia melihat Fahri mencium Axel penuh kasih sayang. Melihat itu hatinya bergetar tapi segera ia tepis, dia tidak boleh luluh hanya dengan seperti itu. Soal Fahri yang akan tidur di luar, itu bukan urusannya batin Lita.
Selesai mencium anaknya Fahri langsung berdiri tegak dan akan berjalan keluar tapi langkahnya terhenti saat melihat Lita yang menatapnya saat ini.
“Aku tahu dirimu belum siap tinggal bersamaku dan tidur satu tempat tidur denganku, tapi aku tidak pa-pa yang penting dirimu ada bersama ku sekarang. Selamat malam, tidur yang nyenyak ya” ucap fahri sambil memegang kepala Lita mengusapnya lembut dan dia segera berlalu pergi meninggalkan Lita yang terpaku gara-gara apa yang dilakukan Fahri barusan.
.................................
Malam sudah semakin larut, tiba-tiba saja Axel menangis ditengah malam. Tangisnya yang begitu keras membuat Fahri yang tidur di luar terbangun dan dia sedikit kebingungan terduduk di sofa sambil mendengarkan suara bayi yang entah berasal darimana.
Seketika matanya langsung melebar saat dia tersadar kalau itu suara anaknya, dia langsung berdiri membuang selimutnya begitu saja dan berjalan cepat menuju ke dalam kamarnya. Dia membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Dia masuk kedalam kamar melihat Lita yang berdiri ke sana-kemari sambil mencoba menenangkan Axel yang menangis dengan histeris.
“sayang, berhenti ya menangis nya. Axel anak pinter kok, cup-cup anak mama” ucap Lita pada anaknya, di berdiri menggendong putranya tersebut berusaha untuk tenang.
“Axel kenapa?” tanya Fahri yang masuk kedalam kamar, membuat Lita sedikit terperanjat menatap fahri.
Fahri tidak melihat keterkejutan dalam diri Lita, fokusnya tertuju pada sang anak. Dia berjalan mendekati Lita saat ini,
__ADS_1
“Cup-cup anak papa jangan nangis ya” ucapnya memegang lembut kepala Axel.
“Berikan padaku sebentar,” lirih Fahri pada Lita yang memperhatikan dirinya.
Lita diam masih melihat kearah Fahri, dia merasa sedikit takut entah mengapa perasaan takut melihat Fahri apalagi pria itu yang tadi masuk kedalam kamar membuka pintu keras.
“Lita,” ucap fahri menyadarkan Lita.
“i..iya,”
“berikan sebentar Axel padaku, biar aku yang menggendongnya siapa tahu dia diam saat aku gendong” ucap Fahri memperhatikan Lita yang tampak ragu menyerahkan anaknya.
Meskipun terlihat ragu Lita perlahan menyerahkan Axel pada Fahri, fahri menggendong anaknya dengan lembut penuh kasih sayang.
“Anak Papa pinter kan, diem ya sayang. Papa sama Mama disini,” ucap fahri menggendong Axel.
Baru beberapa menit digendong oleh Fahri Axel langsung terdiam, dia berhenti menangis membuat Lita ikut terdiam. Sedari tadi dia mencoba menenangkan Axel agar tidak menangis tapi anaknya tak kunjung berhenti menangis. Tapi saat ini saat Fahri menggendongnya Axel langsung berhenti menangis bahkan bayi itu langsung tertidur di gendongan Fahri.
“Kamu istirahatlah, biar aku yang menggendong Axel” pungkas Fahri meminta Lita untuk istirahat saja.
“tidak, aku saja” Lita akan mengambil anaknya kembali.
“kamu mau Axel nangis lagi, sudah kamu tidur saja. Aku yang akan menggendongnya.” Ucap Fahri.
“Tidurkan saja Axel di tempat tidur, kau..kau tidurlah juga disebelahnya” lirih Lita menatap Fahri yang langsung melebarkan matanya. Apa Lita serius mengatakan hal itu padanya, apa perempuan itu sudah tidak takut lagi dengannya.
“Kau tidak takut lagi berdekatan denganku?”
“jangan salah sangka, aku melakukannya hanya demi anakku” lirih Lita dan langsung berlalu, Fahri hanya terdiam melihat Lita yang berjalan ke arah tempat tidur.
°°°
T.B.C
*Maaf ya kk semua, kemarin tiga hari mata author sakit jadi terpaksa nggak bisa up. Karena harus mengurangi penggunaan gudget. Maaf ya sudah membuat kalian menunggu kelanjutannya.
__ADS_1
Selamat menikmati membacanya