
“Kayaknya lo beneran menikmati jadi ibu rumah tangga ya, dari yang gue lihat lo beda banget sekarang” ucap Putri yang membuka suaranya sambil memberikan tatapan menilai pada Thalia.
“Bukan menikmati sih tapi menjalani aja, jalan gue kan memang udah begini” jawab Thalia sambil meminum jusnya saat ini.
“Diminum jusnya” pintanya pada kedua temannya tersebut.
“Bagus kalau begitu, jangan terlalu liar. Jaga martabat suamimu juga, bisa-bisa Rendi malu gara-gara punya istri seperti kamu” tukas Jane yang sependapat dengan Putri.
“Ngarang, suami nggak pernah malu ya punya istri macem gue.” Sungut Thalia yang tak terima.
“Ya siapa tahu” pungkas Jane.
“Udahlah nggak usah bahas gue, kalian kesini selain mau lihat anak gue mau ngapain?” ucap Thalia menanyakan maksud kedatangan sang teman yang menurutnya aneh saja tiba-tiba datang berkunjung.
“Ya kita mau lihat kondisi lo, kata sepupunya Putri lo..” ucap Jane terhenti sambil melihat wajah Thalia dia merasa tak enak kalau harus meneruskan ucapannya saat ini.
“Gue kenapa” tanya Thalia bingung karena tiba-tiba temannya tersebut tak jadi bicara.
“maaf ya sebelumnya,” Jane tampak ragu dan sesekali melihat kearah putri yang juga menatapnya ragu.
“Gue denger anak lo yang satunya nggak selamat makanya kita kesini buat menghibur lo”Jane berbicara secara hati-hati dia takut membuat Thalia kembali sedih akan hal itu.
“Telat kalian kesini, ini udah hampir sebulan. Gue udah baik-baik aja sekarang” tukas Thalia yang awalnya diam saat ini mulai menatap mantap kearah kedua temannya itu.
‘Lo serius udah nggak pa-pa?” tanya Putri seperti tak yakin dengan jawaban Thalia.
“Iya gue udah nggak pa-pa, hal sedih harus dilupakan untuk membangun masa depan yang lebih bahagia lagi” ucap Thalia begitu bijaknya, meskipun sebenarnya dia masih sedikit sedih saat kembali kejadian waktu itu.
“baguslah kalau begitu, gue suka sekaligus senang kalau teman gue ini nggak begitu terlarut dalam kesedihan. Iya nggak put” pungkas Jane meminta pendapat Putri.
“Iya lah, bagus Thalia semangat untuk masa depan” tukas Putri memberikan semangat untuk sang teman.
“Pastilah” balas Thalia sambil tersenyum kearah dua temannya.
“Dimakan cemilannya, nggak menghargai banget suguhan di rumah gue” pungkas Thalia meminta keduanya untuk makan cemilan dirumahnya itu.
“Iya, satu-satu lah makannya masa sekaligus dimakan.” Ucap Putri.
.....................................................
Rendi sibuk melihat kertas yang tertempel didinding saat ini, itu merupakan jadwal semua polisi yang melaksanakan patroli dan jadwalnya dirubah membuat dirinya sedikit merasa senang dengan hal itu karena dirinya tak banyak ikut Patroli kebanyakan junior-juniornya yang ikut bukan dirinya.
“kenapa nih senyum begini?” ucap Jouvan yang berdiri disebelah Rendi yang tengah melihat kertas di tembok itu.
Rendi langsung menoleh melihat yang mengajaknya bicara, matanya sedikit berbinar dan mulutnya sedikit terbuka menatap tak percaya orang didepannya.
“Jouvan, kau disini” tukas Rendi menatap seorang polisi yang bernama Jouvan itu. Jouvan adalah rekan Rendi sewaktu mereka di amerika dulu dan kenapa Jouvan bisa ada di kantornya saat ini.
“Yas, aku tugas disini sekarang. Kita satu kantor lagi bro” ucap Jouvan yang menjabat tangan Rendi.
“Serius?”
“Iyalah, surat pemindahan juga udah turun.” Jawab Jouvan.
“pantes jadwalnya ganti ada petugas baru.” Ucap Rendi sedikit tersenyum.
“duduk yok ngobrol” ajak Jouvan pada Rendi.
“Ya udah ayok, kita ngobrol di luar atau dimana?” ucap Rendi pada temannya itu.
“Di meja lo juga nggak pa, kantor juga sepi” pungkas Jouvan.
“Ya udah yok ke..”
__ADS_1
“Inspektur Rendi,.” Panggil seseorang yang membuat ucapan Rendi terhenti.
Rendi langsung melihat kearah orang yang memanggilnya begitu juga Jouvan yang melihat kearah orang itu.
“Kenapa vin?” tanya Rendi pada polisi dengan nama kevin yang tertempel di dadanya.
“maaf Ndan, itu di luar ada yang ingin ketemu komandan”
“Siapa?”
“cewek Ndan..”
“Istri saya?”
“Bukan Ndan” jawab Kevin.
“Ya sudah suruh tunggu sebentar, saya ke sana” ucap Rendi pada Kevin.
“siap ndan” balas Kevin memberi hormat lebih dulu baru pergi dari hadapan kedua pria yang memiliki kedudukan lebih tinggi darinya.
“Kamu temui saja tamu mu Ren, aku keliling kantor dulu lihat-lihat” ucap Jouvan yang sambil memegang bahu Rendi.
“Ya sudah aku temui orang itu lagi, nanti atau kala aku tidak sibuk kita ngobrol-ngobrol” pungkas Rendi sebelum berlalu meninggalkan Jouvan yang menggangguk sepakat.
Jouvan juga langsung pergi dari situ, dia ingin melihat-lihat sekeliling tempat dinasnya yang baru.
Rendi berjalan ke depan, dia merasa penasaran sebenarnya siapa yang ingin menemuinya saat ini. dan siapa wanita itu, rekannya tadi bilang bukan istrinya lalu siapa, pikir Rendi sambil berjalan ke depan.
“kevin,” panggil rendi lirih saat melihat rekannya itu duduk didekat pintu masuk.
“ndan,” kevin langsung berdiri dari duduknya saat melihat Rendi.
“Dimana tamuku yang kau bilang?”
Rendi mengernyitkan dahinya, dia tidak tahu siapa yang ingin bertemu dengannya.
“Ya sudah aku ke sana dulu” pungkas Rendi dan berjalan mendekati perempuan tersebut.
“maaf siapa?” tanya Rendi saat jaraknya sudah sangat dekat dnegan wanita itu.
Perempuan yang duduk membelakangi Rendi saat ini langsung membalikan badannya.
Rendi langsung terdiam saat melihat siapa perempuan tersebut.
“Ada apa kau kemari?” tukasnya tak bersahabat.
“apa kabar Ren?” ucap perempuan itu sambil tersenyum pada Rendi.
“Kenapa kau ingin menemui ku mel?” tanya Rendi lagi.
“Maaf kalau aku mengganggumu, aku cuman ingin memberi mu ini” ucap melody sambil membuka tas kecil yang dia pegang.
“Ini Ren, aku datang hanya ingin memberikanmu undangan pernikahanku” ucap Melody lagi sambil menyerahkan sebuah undangan berwana krim.
“Bukannya kau sudah menikah dua minggu lalu kan, ini undangan apa?” tukas Rendi sambil melihat undangan tersebut tetapi tak membukanya.
“Iya memang aku menikah dua minggu lalu, tapi belum resepsi, jadi resepnya baru kita adakan seminggu lagi” lirih Melody.
“Oh,”
“Ini juga untuk Revan, tolong berikan padanya” ucap Melody dan menyerahkan sat lagi undangan.
“Kau berikan sendiri padanya, dia tidak di Jakarta sekarang. Dia sudah kembali ke Padang”
__ADS_1
“Kalau kau tidak bisa tidak apa, tapi tolong kau saja yang bawa undangannya” pungkas Melody.
“Oh iya, waktu aku akad nikah kemarin. Lebih tepatnya dua minggu lalu Revan ke Jakarta atau tidak?” ucap melody lagi.
“Ke Jakarta”
“lalu kenapa dia tidak datang ke akad ku kemarin?” pungkas Melody.
“Dia datang tapi tidak melakukan apa yang kau suruh, kenapa kau bisa memiliki pikiran gila menyuruhnya menggagalkan pernikahanmu” tukas rendi.
“ka..kau tahu kalau aku menyuruhnya”
Rendi hanya diam saja tak menjawab, karena dia sudah tidak respek dengan Melody.
“Aku waktu itu pusing, bingung harus apa. aku berharap Revan datang dan menggagalkannya tapi dia malah tak melakukannya. Dan itu menunjukkan dia memang tidak ingin bersama ku lagi”
“Memang dia tidak ingin bersamamu lagi, dia sudah ada calon istri yang lebih baik darimu. Jelas dia tidak mau menuruti perintah mu” pungkas Rendi.
“Kau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan kan? kalau tidak ada, aku pergi dulu. tugasku hari ini banyak” lanjut Rendi dan mengusir Melody secara halus.
Melody tampak menelan Saliva nya saat melihat tatapan dingin Rendi, dulu rendi tak pernah begini padanya. Sudahlah itu waktu yang lampau dia tak perlu mengingat kenangan kakak adik itu.
“Ya sudah aku pergi dulu, maaf kalau aku mengganggumu. Titip salam juga untuk istrimu Ren” pungkas Melody dan berlalu pergi saat Rendi hanya diam saja dan sedikit memberi senyum yang dipaksakan.
Rendi hanya diam melihat kepergian Melody yang berjalan semakin jauh, dia hanya menghembuskan nafasnya berat.
“Kau berubah drastis mel, dulu kau perempuan yang begitu di puja tapi kini kau seakan tak menarik. Itulah kesalahanmu dan mungkin hal ini yang harus kau jalani” batin Rendi sambil melihat melody nanar.
Setelah Melody keluar dari area kantor polisi, rendi langsung berbalik masuk kedalam saat ini. Dia tengah banyak pekerjaan dan harus menyelesaikannya sekarang juga, selagi dia tidak ada tugas malam hari ini dia bisa pulang lebih awal untuk menemui anak dan istrinya.
...................................................
“Maksud kamu apa ingin menikah denganku” tukas Revan yang baru saja sampai langsung menatap Chaca yang baru keluar dari rumahnya.
Chaca gelagapan sendiri dan dia melihat kebelakang memastikan kalau ibunya tak mendengar pembicaraan mereka berdua.
“bang, Bang revan jangan bicara disini kita ke taman depan dulu” gugup Chaca dan langsung menarik Revan menjauh dari pintu rumahnya
Revan hanya menurut saja, dia mengikuti Chaca yang menariknya saat ini.
“sudah di taman depan rumahkan lepas’ tegas Revan dan menarik tangannya dnegan kuat.
“bang aku tahu aku salah tapi aku minta maaf,” pungkas Chaca terkesan memohon pada pria didepannya.
“Minta maaf untuk apa, intinya aku tidak mau menikah dengan orang yang jelas-jelas akan menikah dengan orang lain”
“Itu dulu bang, aku sudah tidak ada hubungan dengan mantanku. Dia sudah pergi dan aku mohon sama bang Revan tolong mau menikah denganku bang. Ibu ku sakit bang dan dia ingin aku menikah” pinta Chaca.
Revan malah tersenyum sinis dnegan ucapan Chaca yang menurutnya gampang sekali ia katakan.
“Oke kalau kau ingin menikah denganku, tapi jangan salahkan aku kalau aku tidak akan pernah menganggap mu siapa-siapaku. Karena kau menyebut demi ibu oke aku kabulkan untuk menikah” pungkas revan ayng entah mengapa dia setuju dengan hal itu. melihat Chaca yang sepertinya tampak frustasi meskipun tak terlihat dia menyanggupi saja hal ini. perempuan itu terlihat kuat dan tak menunjukkan kesedihannya tapi dia tahu ada rasa sedikit frustasi dari nada bicaranya.
Chaca melebarkan matanya tak percaya kalau revan tak terlalu marah dengannya. Ia pikir Revan akan begitu marah dengannya saat ini.
“makasih bang, makasih, terserah abang kalau tidak mau mengaggap ku istri nantinya. Yang penting bang revan mau menikah denganku bang” ucap Chaca sambil memegang tangan revan penuh kegembiraan.
Dia tak perduli jika Revan tak menganggapnya istri yang terpenting ibunya sudah melihat dirinya menikah dengan orang yang disepakati ayahnya dulu.
Revan hanya diam saja melihat Chaca yang begitu senang dan tampak bahagia padahal jelas-jelas dia bilang tak akan menganggap perempuan itu istrinya nanti.
°°°
T.B.C
__ADS_1