
Fahri mengajak Lita liburan seperti apa yang dia bilang pada istrinya tempo hari. Dia tidak tega melihat istrinya tersebut terpuruk dalam kesedihan. Sehingga dia memboyong anak dan istrinya dan juga mbok Jum untuk berlibur.
Fahri sendiri memutuskan untuk berlibur ke Bali, pulau dewata yang memiliki keindahan serta mampu memikat wisatawan manca negara. Wisatawan manca negara saja bisa terpikat apalagi mereka yang orang dalam negeri tentu saja begitu sangat memikat mampu membuat pikiran fresh saat berlibur di tempat itu. Menjadikan sebagai healing.
Mereka sendiri saat ini sudah mendarat di Bali dan sudah berada di resort tempat mereka menginap nantinya.
“Mbok Jum istirahat saja mbok, biar aku saja yang merapikan baju-bajuku.” Ucap Lita pada perempuan paruh baya yang sudah seperti ibunya sendiri.
“tapi Lita, kamu juga capek biar mbok saja yang merapikannya.” Tolak Mbok Jum.
“nggak pa-pa mbok, mbok istirahat aja” ucap Lita menyuruh mbok jum untuk istirahat. Dia kasihan pada mbok Jum, dia pasti lelah di usianya yang tidak muda. Jadi biarkan saja mbok Jum istirahat.
“Kalau gitu mbok ke kamar dulu ya,” ucap Mbok Jum hendak menuju ke kamarnya yang berada di satu resort yang sama dnegan Lita dan juga Fahri. Karena Resort yang disewa Fahri cukup besar sehingga terdapat dua kamar disitu.
Setelah mbok Jum pergi Lita langsung membongkar kopernya saat ini didalam kamar itu, memang pembicaraan mereka tadi di dalam kamar. Sedangkan Fahri tidak ada disitu, pria itu sedang menggendong anaknya berjalan-jalan di sekeliling resort.
Tak Lama kemudian Fahri masuk kedalam kamarnya, dia melihat istrinya itu yang sedang menaruh koper di pojok kamar,
“Sayang Axel tidur,” lirih fahri dengan suara pelannya agar anaknya yang berada di gendongan dirinya tidak terbangun.
Lita langsung berjalan mendekati Fahri dan mengambil alih Axel dari tangan suaminya secara hati-hati.
“Tadi kemana saja?” tanya Lita sembari berjalan kearah tempat tidur untuk menaruh Axel.
“Cuman keliling resort, sama lihat-lihat sekitar” jawab Fahri yang duduk di kursi yang ada di kamar itu.
Lita selesai menaruh Axel di tempat tidur berjalan menghampiri Fahri yang duduk di kursi,
“Sana kamu mandi atau bagaimana? Nanti bajunya aku siapin” ucap Lita berjalan mendekat kearah sang suami.
“Nanti aja mandinya” jawab Fahri. Dia langsung menarik sang istri membuat Lita langsung terduduk di pangkuan dirinya saat ini.
“Apa sih? Main tarik-tarik aja” ucap Lita sambil melihat wajah suaminya yang berada sangat dekat dengannya.
Fahri bukannya menjawab malah melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, memeluk pinggang ramping istrinya tersebut.
“kamu suka tidak dengan tempat ini?” tanya Fahri mendongak melihat istrinya yang menatap dirinya.
“iya aku suka, terimakasih karena sudah membawa diriku kesini” ucap Lita pada suaminya.
“kenapa harus berterima kasih? Itu sudah kewajiban ku untuk membawamu kesini membuat dirimu bahagia” pungkas Fahri tersenyum kearah istrinya tersebut.
Lita memeluk suaminya dengan haru, dia bersyukur memiliki suami seperti Fahri yang begitu mengerti dirinya.
“Udah dong, kita liburan buat senang-senang kamu nya malah nangis begini” Fahri merenggangkan pelukannya pada Lita melihat istrinya yang malah meneteskan air matanya.
Tangannya secara refleks langsung terulur mengusap air mata Lita, mengusap dengan begitu lembut wajah sang istri.
Fahri kemudian mendekatkan dirinya, dia mengecup dahi sang istri berpindah ke hidung dan kedua mata istrinya tersebut.
Ia menatap istrinya dengan begitu lekat, baru setelah itu dia memberikan kecupan manis pada sang istri.
.....................
Entah Thalia mendengarkan apa yang dikatakan David kemarin atau tidak, dia saat ini malah asik minum di sebuah Club ternama. Bahkan dia sudah tampak mabuk karena pengaruh sebotol minuman keras yang sudah dia habiskan.
“HENTIKAN MUSIKNYA” sura lantang menggema serta tembakan ke udara membuat semua orang yang berada disitu langsung berhamburan tapi niat mereka gagal saat akan pergi karena Club itu sudah dikepung oleh para personil kepolisian..
Musik di Club tersebut juga seketika berhenti, para polisi mengumpulkan semuanya di tengah-tengah dan yang lainnya masih menyuruh pengunjung yang lain untuk ke tengah juga.
__ADS_1
Thalia yang sedang mabuk berat tidak ngeh kalau club yang dia kunjungi sekarang sedang di razia oleh para polisi. Dia masih santai duduk di bar itu,
“KALIAN SEMUA CEPAT BERKUMPUL KE TENGAH - TENGAH JANGAN SAMPAI ADA YANG MELARIKAN DIRI” ucapan lantang keluar dari mulut seorang pria berjaket hitam sambil memegang pistol ditangannya.
“PRAS, jangan sampai ada satupun yang kabur.” Ucap pria itu yang tak lain adalah Rendy yang memimpin penggerebekan di club ini.
“Siap Ndan” seru pria yang bernama Pras tersebut.
“lapor ndan, ada satu perempuan yang tidak mau disuruh kesini. Dia mabuk berat ndan” lapor seorang polisi pada Rendy.
“Biar saya saja” ucap rendy dan langsung menghampiri bawahannya tersebut. Dan dia mengikuti anggotanya kearah meja bar yang tidak jauh dari tengah-tengah club.
Dia bisa melihat seorang perempuan yang mabuk berat menunduk di meja,
“hey, Nona bangun dan berdiri.” Perintah Rendy pada Thalia yang menunduk di meja.
Thalia tidak mendengarkan sama sekali, membuat rendy mendekat dan menarik sedikit kuat tangan Thalia, karena Rendy beranggapan seorang perempuan abuk harus dikasari agar dia patuh pada aturan.
“Apa sih, main pegang-pegang segala” ucap Thalia dengan kondisi mabuknya, dia sekilas melihat kearah rendy.
Rendy langsung terdiam saat melihat wajah perempuan itu, entah ingatannya yang terlalu tajam atau bagaimana. Dia bisa mengenali perempuan tersebut. Dia tahu wanita didepannya dari dompet yang ia temukan ada wajah wanita itu. Berarti wanita didepannya adalah adik dari Thalita istri fahri.
“Maaf Nona, bisa ikut saya, anda saya tahan dengan teman-teman anda yang lainya” ucap Rendy akan menarik tangan Thalia lagi tapi segera ditepis oleh perempuan itu.
“Lo siapa main tarik-tarik gue, lo tahu siapa gue” ucap Thalia menatap tidak suka pada Rendy.
“Borgol dia” pinta Rendy pada anggotanya. Dia tida ambil pusing dengan wanita mabuk seperti Thalia. Dan dia tidak pandang bulu memperkarakan para konglomerat ke dalam jeruji besi.
Tangan Thalia langsung diborgol oleh anggota Rendy, sementara Rendy langsung melenggang pergi dari situ. Karena urusannya bukan hanya dengan satu orang.
“Siapa kalian berani-beraninya memborgol ku, kalian tidak tahu siapa aku” teriak Thalia histeris mengiringi langkah Rendy yang kian menjauh.
Fahri dan juga Lita dinner hanya berdua saja, meja makan yang terhias romantis Fahri persiapkan hanya untuk Lita seorang di dalam kamar mereka yang luas. Di dalam kamar tidak ada Axel karena anak mereka di ajak oleh mbok Jum tidur di kamar perempuan paruh baya tersebut. Sehingga kesempatan fahri mempersiapkan makan malam romantis untuk sang istri.
“kamu suka, maaf hanya kejutan sederhana yang bisa aku buat” ucap fahri memperhatikan Lita dengan menopang dagunya.
“Iya aku menyukainya,” jawab Lita sambil tersenyum memperhatikan kamar mereka yang juga dihias dengan begitu romantisnya bak pengantin baru. Bahkan tertulis for Nyonya Atmaja di tempat tidur. Tulisan itu dirangkai dengan kelopak bunga mawar.
“Ini luar biasa meskipun hanya sederhana. Terimakasih” ucap Lita lagi.
“aku makan ya,” ucap Lita pada sang suami.
Fahri malah berdiri menghampiri Lita,
“Sayang tapi ini tidak gratis” ucap fahri membuat Lita langsung mendongak menatapnya.
“maksudmu?” tanya Lita tidak mengerti.
Fahri tiba-tiba saja mencium Lita, membuat Lita sedikit terdorong karena Fahri yang menciumnya membuat dia bersandar di sandaran kursi dan Fahri terus mencium dirinya saat ini.
“maksudku ini” ucap Fahri melepaskan ciumannya.
Lita tersenyum, dia maksud apa yang Fahri inginkan. Dan dia langsung mengangguk mengiyakan apa yang diinginkan Fahri.
Fahri senyum Fahri semakin mengembang, dia kembali mencium istrinya bahkan membuat istrinya berdiri dan dia menciumi terus bibir istrinya lebih dalam lagi. Bukan hanya bibir tapi tengkuk Lita juga.
Perlahan mereka mengarah ke tempat tidur, dan Fahri menidurkan Lita di ranjang dengan perlahan. Ia berada tepat di atas tubuh lita saat ini, keduanya tengah dimabuk asmara membuat keduanya sama-sama menginginkan hal yang lebih.
Fahri mulai menaikkan dres milik Lita, begitu juga Lita yang melepas jas yang dipakai Fahri dan kemeja suaminya. Mereka berdua kini sudah tak berbusana satu sama lain dan Fahri mulai memasukkan miliknya kedalam milik Lita dia melakukannya dnegan begitu lembut.
__ADS_1
“Argghh, sayang” rintih Lita menahan sensi dalam dirinya ketika milik ahri masuk kedalamnya.
Fahri meninggalkan kiss mark di leher Lita menandakan kepemilikannya,
“Satu kali lagi mau sayang” ucap fahri.
“Iy..iya”
Fahri kembali melakukannya, dia beberapa kali menyentak miliknya didalam tubuh Lita.
“Sekarang gantian aku dibawa tidak apa, kamu di atasku” ucap Fahri meminta ijin pada sang istri kalau ingin pindah posisi.
“Iya dengan senang hati” jawab Lita sambil tersenyum.
Lita langsung berpindah posisi dengan suaminya, dan dia langsung terdiam saat sudah berada di atas Fahri.
“kenapa sayang,” ucap fahri yang memegang kedua buah dada Lita menatap istrinya yang menatap kosong padanya.
“Ka..kamu pakai pengaman tidak tadi?” ucap Lita terbata.
“tidak,”
“Apa? Kenapa?”
Seketika Lita langsung turun dari tubuh Fahri dan dia segera menutup dirinya dengan selimut berbaring disebelah suaminya. Dia melihat suaminya itu.
“Kenapa kamu tidak memakainya?” lagi Lita mempertegas ucapannya barusan.
“Aku lupa, dan aku tidak membawanya.” Jawab Fahri bingung dengan Lita yang malah tampak kesal saat ini.
“kenapa kamu tadi tidak bilang kalau tidak memakai pengaman, kamu mengeluarkannya di dalam ku?” tanya Lita hati-hati.
Fahri mengangguk pelan sambil melihat sang istri, dia masuk kedalam selimut juga sekarang.
“memang kenapa sih?” heran fahri.
“Kalau kamu nggak pakai pengaman, aku hamil gimana?”
“ya kalau kamu hamil ya syukur alhamdulilah dong sayang. Kok malah tanya gimana?”
“aku belum mau punya anak lagi, kamu ini bagaimana sih. Kan aku sudah pernah bilang sama kamu. Kalau kita melakukannya harus memakai pengaman dulu”
“anak itu rezeki nggak boleh ditolak. Lagi pula kenapa sih kamu mempermasalahkan nya. Kemarin-kemarin saat di rumah aku juga tidak memakai pengaman kamu diam saja”
“Kapan?”
“kemarin sebelum ke Bali,”
“Kamu tidak memakainya? Aku tidak tahu. Kamu ini bagaimana sih, nanti aku hamil gimana?” ucap Lita memukul dada fahri.
“Ya nggak pa-palah, ada suami juga. ini juga bukan anak pertama kita sayang, udah nggak pa-pa kalau kamu hamil lagi. Kalau kamu repot aku yang bantu ngurus bayi kok repot sih kamu. Ayo lanjut lagi” tukas Fahri sambil tersenyum pada Lita dia meminta untuk melakukan hubungan intim lagi.
“kamu ini, kamu enak tidak melahirkan lah aku yang melahirkan. Sakit tahu,” kesal Lita pad Fahri.
“Iya aku tahu. Nanti misalnya kalau kamu beneran hamil lagi aku temani kamu. Terserah kamu kalau mau jambak aku atau pukul aku saat lahiran. aku bakal jagain kamu, oke. Jangan ngambek dong” ucap fahri mendekatkan dirinya pada Lita dan memeluk sang istri yang cemberut itu.
°°°
T.B.C
__ADS_1