Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 68 (Season 2)


__ADS_3

“eh, eh Nona” Andre terkejut melihat Thalia yang langsung masuk begitu saja, dan dia menyusul perempuan itu masuk kedalam.


Tiga orang yang ada di ruangan itu seketika langsung terkejut saat pintu ruangan terbuka dan melihat perempuan lain masuk kedalam ruangan itu.


“Andre siapa perempuan ini, kenapa kau mengijinkannya masuk” tukas Pria berseragam kemeja putih yang duduk di balik meja sedang mengetikan sesuatu di laptop.


Hardi yang berdiri disebelah pria itu terkejut melihat istri dari rendi masuk kedalam ruang pemeriksaan saat ini.


“Ada apa perempuan ini kesini?” batin Hardi sambil melihat kearah Thalia.


“Ini perempuan itu,.” ucap Thalia melihat perempuan yang duduk di kursi depannya sedang ditanyai oleh orang yang duduk di balik meja.


“Andre, kena kau diam saja bawa dia pergi” perintah pria kemeja putih itu.


“Diem deh berisik” dengus Thalia dan dia langsung menarik rambut perempuan di depannya.


“Arkhh, Arkkkh sakit, lo siapa sih datang-datang main tarik rambut orang” ucap perempuan itu yang berdiri menatap Thalia yang tengah menarik rambutnya.


“Lo yang siapa perempuan kotor kayak lo bisa-bisanya cium suami gue” marah Thalia, dia menatap penuh kemarahan perempuan tersebut.


“Jaga ya mulut lo, “ bentak perempuan itu tidak terima.


“kenapa nggak terima, kenyataanya begitu kan. Lo murahan,.”tukas Thalia


“Siapa perempuan ini bawa keluar dia,” perintah pria berkemeja itu.


“Dia istri Rendi senior,” jawab Hardi lirih.


“Istri Rendi? Kenapa dia bisa ada disini. Mana Rendi suruh bawa keluar istrinya.” Tegas pria berkemeja itu.


“Nggak usah bawa-bawa suami gue ya” bentak Thalia menatap pria itu.


“Lepasin gue nggak, gue jambak balik nih” ancam perempuan itu pada Thalia.


“Silahkan gue nggak takut” Thalia malah semakin menarik rambut perempuan itu.


Perempuan itu tidak tinggal diam, dia juga menarik rambut Thalia


“LO berani ternyata bales gue, memang dasar perempuan murahan lo. Gue remes mulut lo karena berani cium suami orang” ucap Thalia dan akan meremas bibir perempuan itu dnegan tangannya tetapi perempuan tersebut bisa menghindar.


“Nona-nona sekalian, angan bertengkar disini. Nona istri Rendi, hentikan jangan bertengkar di kantor polisi” ucap Pria berkemeja tersebut mencoba menghentikan apa yang dilakukan dua orang perempuan di depannya.


Tapi sama sekali tidak di dengar oleh mereka berdua,


“Rendi, Rendi, panggil Rendi. Andre panggil Rendi, Pisahkan mereka” perintah pria itu.


“Siap senior” ucap Hardi dan Andre bersamaan. Andre langsung keluar mencari Rendi saat ini, dia harus bisa menemukan Rendi kalau tidak bisa-bisa jadi perang dunia ketiga.


..................................


Rendi sendiri masih mengobrol dengan salah seorang temannya di dekat ruangan absen, dia sedang mengobrol kan sesuatu disitu. karena tidak enak kalau dia pergi begitu saja di depannya merupakan salah seorang seniornya.

__ADS_1


“Wah Ren, kau disini. Ayo ikut aku, maaf senior Rendi saya bawa dulu” ucap Andre saat menemukan Rendi dia menarik Rendi begitu saja.


“Woi Andre, Rendi sedang bicara sama saya main tarik-tarik aja” ucap polisi bertubuh sedikit gemuk itu.


“Sekali lagi saya minta maaf senior, kalau Rendi tidak saya bawa bisa-bisa ada perang duni ketiga di kantor kita. Maaf sekali lagi” ucap Andre sedikit menunduk.


“Ayo Rendi,” ucapnya lagi sambil menarik Rendi.


“Ada apa kau menarik-narik ku begini, aku bisa jalan sendiri”


“Gue tahu lo bisa jalan sendiri, tapi kalau lo nggak cepat istri bisa buat masalah di kantor ini” pungkas Andre berjalan dengan menarik Rendi.


Rendi yang mendengar sebutan istri terlihat terkejut dengan itu,


“Istri ku kenapa?” ucapnya penasaran dan sedikit khawatir mengenai Thalia.


“gila istri lo, ayo lah buruan nanti lo juga tahu sendiri” ucap Andre mengajak Rendi untuk segera buru-buru.


Rendi semakin bingung saja saat rekannya itu mengajak dia seperti ini sebenarnya apa yang terjadi dengan Thalia.


.......................


“Nona, Nona lepaskan dulu. kalian berdua berhentilah” tukas Hardi yang mencoba memisahkan mereka berdua.


Pintu ruangan itu sudah di ke rumuni oleh polisi yang bertugas saat ini, mereka bingung mau melakukan apa dan diantara mereka juga tahu soal siapa Thalia.


“kenapa kalian menonton disini, pergi sekarang” ucap pria kemeja putih itu dan dia langsung berjalan menutup pintu ruangannya karena yang melihat bukan polisi saja tetapi juga warga yang kebetulan melapor ke kantor polisi.


“Lo perempuan sinting ya,” bentak perempuan tersebut kesakitan karena apa yang dilakukan Thalia.


“LO yang lebih sinting dasar pelakor” bentak Thalia sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Dia merasa kehabisan udara, tidak biasanya dia sudah lelah begini.


“Kalau gue nggak hamil, udah mampus lo ditangan gue” ucap Thalia.


“Gue nggak takut ya sama perempuan sinting kayak lo, main nuduh segala mana sih suami lo yang katanya gue cium. Dasar perempuan sinting” kesal perempuan tersebut.


“Lo bilang apa,” Thalia mulai tersulut emosi lagi dan akan mendekati perempuan itu yang mundur


Hardi langsung menarik Thalia sedikit mundur dan pria kemeja putih langsung berada ditengah-tenanglah mereka.


“Kalian berdua tolong jangan ribut ini kantor polisi. Dan kau jangan seenaknya sendiri di sini Nona. Kau juga, kau tersangka disini jadi jaga sikapmu jika kau tidak ingin mendapat hukuman yang lebih berat” tutur pria berkemeja itu.


“Hukum yang berat dia, kalau kau bebaskan akan pelakor orang itu” tukas Thalia tajam.


“Nona, diam lah. Kau hamil kan, kau lelah kan, tolong diam saja” ucap Hardi yang lelah melihat pertengkaran sedari tadi


Thalia melihat sekilas Hardi, dia memang lelah saat ini dan dia juga kesal. Emosinya tak terbendung sekarang.


Pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan Rendi dan juga Andre, Rendi terkejut melihat istrinya disitu dengan rambut berantak kan dan juga dia melihat perempuan yang kemarin dia tangkap ada dalam kondisi yang sama juga dengan Thalia dengan rambut berantak kan


“Ada apa ini?” Tanya rendi bingung melihat situasi saat ini yang menurutnya kacau.

__ADS_1


Pria kemeja putih itu membuka kancing bajunya dia tampak lelah dan menatap kearah rendi sekarang.


“Tanya pada istrimu saja, aku capek. Bawa dia keluar sekarang Ren” perintahnya.


“Ada apa memang?” rendi masih penasaran dan melihat sekilas Thalia yang membuang mukanya tidak berani menatap matanya saat ini.


“Perang dunia kedua pokoknya” jawab Hardi yang terlihat lelah juga.


“Ini suamimu, ya mana aku tahu kalau dia sudah ada istri. Kalau gue tahu istrinya lo gue ogah juga cium suami lo, gue oga berurusan sama cewek sinting kayak lo” ucap perempuan itu pada Thalia.


“Lo bilang apa, lo bilang gue sinting. Lo murahan, gue jambak lagi lo” ucap Thalia dan bersiap akan menarik rambut perempuan itu yang sudah ketakutan dulu dengan berlindung di belakang pria berkemeja itu.


“Huh, gitu aja sudah takut cemen lo. Kegeeran juga gue mau ngajak suami gue pergi” ucap Thalia langsung menarik tangan Rendi untuk keluar.


Rendi yang tadinya ingin bicara langsung tidak jadi karena Thalia menariknya lebih dulu.


“Kau buat masalah apa tadi? Kenapa rambutmu begini” tanya Rendi dan menghentikan langkahnya dia merapikan rambut Thalia yang terlihat berantakan.


“melakukan pembalasan, sudah nggak usah banyak tanya. Aku lapar”


“jawab aku dulu, kau baru melakukan apa tadi. Kau berbuat onar?” tegas Rendi ingin istrinya itu menjawab.


“Siapa? Aku. nggak ya. Aku hanya melakukan tugasku sebagai istri yang mempertahankan suaminya apa salah aku begitu. Kalau kau menganggap ku salah ya sudah” ucap Thalia dan langsung melenggang pergi meninggalkan Rendi yang benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.


“Kau mau kemana?” ucap rendi menahan tangan Thalia.


“Pulang,” jawab Thalia


“Katanya lapar kenapa pulang, ayo makan.” Ucap Rendi, dia berusaha bersabar saja menghadap ini, mungkin mood Thalia begini karena sedang hamil.


“Oke rendi, kau harus sabar menghadapi istrimu. Dia butuh bimbingan mu dan maklumi dia sedang hamil” ucap rendi pada dirinya sendiri.


“Sayang berhenti dulu, masa kau mau begini. rapikan dulu rambut, aku minta maaf kalau membuatmu kesal barusan” ucap rendi merapikan rambut Thalia lagi.


“terimakasih juga, kau sudah mempertahankan suamimu dari orang lain,.aku jadi takut untuk macam-macam karena pawang ku yang mengerikan seperti ini” ucap Rendi sambil tersenyum mengusap wajah Thalia.


Thalia melihat Rendi sekilas dan dia berjinjit untuk mengecup suaminya, dia tidak malu sama sekali meskipun itu di tempat umum.


“mau makan apa?” tanya rendi saat Thalia sudah selesai menciumnya.


“Apa ya? Terserah dirimu saja lah. Eh aku makan cumi” ucap Thalia.


“cumi, oke kita makan cumi. Di depan ada yang jual cumi bakar, kau mau?” ucap rendi


“Iya,” jawab Thalia antusias.


Melihat itu Rendi tersenyum karena Thalia tampak antusias, dia memang tadi ingin sedikit menceramahi Thalia tapi dia takut istrinya malah akan marah. Dia akan lebih sabar lagi menghadapi Thalia yangs edang hamil saat ini.Rendi langsung menggandeng tangan Thalia dan berjalan menuju tempat makan yang kebetulan ada di kantor polisi tersebut.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2